|
Pengakuan Olmert, Terkuaknya Rahasia
Nuklir Israel
Ehud
Olmert, Perdana Menteri Rezim Zionis beberapa waktu lalu mengakui bahwa
rezim ini memiliki senjata nuklir. Pengakuan Olmert ini mendapatkan
reaksi besar dari masyarakat dunia dan menimbulkan gejolak politik di
Palestina pendudukan, karena inilah untuk pertama kalinya ada seorang
pemimpin Zionis yang mengakui kepemilikan senjata nuklir. Dalam
kesempatan ini, kami mengajak Anda untuk mengkaji lebih jauh mengenai
masalah ini. Selamat mengikuti.
Dalam
kunjungannya ke Jerman, Perdana Menteri Israel, Ehud Olmert mengeluarkan
pernyataan bahwa negaranya memiliki senjata nuklir. Dalam mereaksi
pernyataan itu, para pejabat Israel segera menepis dugaan bahwa Olmert
telah mengakhiri tradisi Israel untuk bersikap ambigu mengenai program
nuklirnya. Sebagian politisi Israel juga mengkritik pernyataan Olmert.
Yuval Steinitz, anggota Parlemen yang berasal dari partai oposan, Likud,
menyerukan agar Olmert mengundurkan diri karena telah menimbulkan bahaya
keamanan akibat salah bicara. Menurut Steinitz, "Seorang perdana
menteri yang tidak bisa mengontrol pernyataannya mengenai masalah
sensitif keamanan, harus meninggalkan jabatannya."
Menyusul pengakuan Olmert, Simon Perez, Wakil Perdana Menteri Zionis,
juga diwawancarai oleh koran Zionis, Haaretz. Dalam wawancara itu, Perez
secara tersirat juga mengakui keberadaan senjata nuklir di Israel. Perez
yang disebut-sebut sebagai Bapak Atom Israel itu mengatakan, “Dalam
pertemuan dengan Presiden AS waktu itu, John F. Kennedy, saya
menyampaikan mengenai perlunya senjata nuklir bagi Israel.” Ketika
bertemu dengan Presiden Kennedy, Simon Perez menjabat sebagai Menteri
Perang Rezim Zionis.
Pernyataan Olmert tersebut telah mengakhiri kebohongan yang dilakukan
rezim Zionis selama 50 tahun terakhir mengenai proyek senjata nuklirnya.
Sebenarnya, kepemilikan senjata pembunuh massal oleh Israel sudah sejak
lama diberitakan oleh berbagai pihak, namun tidak pernah diakui oleh
pemerintah rezim illegal itu. Seorang teknisi di reaktor nuklir Demona
Israel, Mordechai Vanunu, sejak 20 tahun lalu telah memberitahukan
kepada dunia mengenai rahasia Israel ini. Vanunu bekerja di reaktor
nuklir Demona sejak tahun 1976 hingga 1985. Ketika mengetahui bahwa
reaktor tersebut memproduksi senjata nuklir, hati nurani Vanunu terketuk
dan dia mempertaruhkan nyawanya dengan menceritakan rahasia besar itu
kepada surat kabar Sunday Times terbitan Inggris. Tak lama kemudian,
agen Mossad menculik Vanunu yang sedang berada di Italia. Pada tahun
1988, setelah menjalani pengadilan sepihak, Vanunu dijatuhi penjara 18
tahun atas tuduhan telah membocorkan rahasia negara. Kini, Vanunu telah
dibebaskan dari penjara, namun tetap dikenakan tahanan rumah dan
dilarang keluar dari Israel.
Pengakuan Ehud Olmert telah menimbulkan transformasi penting dalam
politik rezim Ziomis dan mengakhiri era terselubung proyek senjata
nuklir Israel. Data menunjukkan bahwa Rezim Zionis pada tahun 1956
dengan bantuan pemerintah Perancis, telah memulai proyek nuklir
militernya. Pada tahun 1960, hulu ledak nuklir pertama diproduksi oleh
Israel. Meskipun pada tahun 1968 telah disahkan Perjanjian Larangn
Produksi dan Perluasan Senjata Nuklir (NPT), namun Israel hingga kini
menolak menandatangani perjanjian itu. Israel juga tidak pernah
mengizinkan IAEA untuk melakukan inspeksi di reaktor nuklirnya. Rezim
Zionis tetap meneruskan produksi senjata nuklirnya dan menurut perkiraan
para pengamat, rezim ini minimalnya memiliki 200 unit hulu ledak nuklir.
Surat
kabar le Monde Diplomatique terbitan Perancis, beberapa waktu lalu
menurunkan tajuk rencana yang membahas pengakuan Olmert mengenai
kepemilikan senjata nuklir. Harian itu menulis, “Israel menolak untuk
bergabung dalam perjanjian NPT, sementara Iran bersedia menandatangani
perjanjian itu. Namun, Barat sejak tiga tahun lalu selalu berusaha
menghalangi Iran dalam melanjutkan program nuklir sipilnya dan kita
menyatakan bahwa alasannya adalah karena kita mengkhawatirkan Iran akan
membuat senjata nuklir. Sebelum Olmert mengakui keberadaan senjata
nuklir di Israel, Menteri Pertahanan AS, Robert Gates, juga menyatakan
bahwa Israel, Pakistan, dan India adalah tiga kekuatan nuklir yang
mengepung Iran.”
Meskipun Olmert telah mengakui bahwa Israel memiliki senjata nuklir,
anehnya, negara-negara Barat, terutama Amerika, Inggris, dan Perancis,
tidak memberikan reaksi apapun. Di saat yang sama, negara-negara itu
malah meneruskan tekanan mereka terhadap proyek nuklir Iran dan selalu
menuduh Iran sedang berupaya mengembangkan senjata nuklir. Standar
ganda yang ditunjukkan oleh negara-negara adidaya itu memperlihatkan
bahwa di dunia saat ini sedang terjadi diskriminasi dalam bidang nuklir.
Sementara itu, analisis mengenai apakah pengakuan Ehud Olmert mengenai
kepemilikan senjata nuklir adalah pengakuan yang sengaja atau
ketidaksengajaan, bisa dilakukan dengan mengamati sitausi Timur Tengah
dan Teluk Persia akhir-akhir ini. Selama ini, rezim Zionis terus
mengambil sikap diam berkenaan dengan proyek nuklirnya. Rezim ini tidak
mengakui, namun juga tidak menepis dugaan mengenai adanya senjata nuklir
di gudang-gudang senjata rezim ini. Hal ini dilakukan rezim illegal itu
untuk menghindari konflik politik dan dengan cara itu, rezim ini bisa
diam-diam meneruskan produksi senjata nuklirnya.
Namun kini,
sepertinya Israel telah menyusun rencana baru terkait proyek nuklirnya.
Setelah pengakuan Menteri
Pertahanan AS, Robert Gates, mengenai senjata nukliur yang dimiliki
Israel, Olmert dan Perez pun mengeluarkan pengakuan serupa. Kritikan
beberapa anggota parlemen Israel terhadap pengakuan ini, bisa dinilai
sebagai strategi, yang pada dasarnya merupakan bentuk pengakuan pula.
Kejadian ini berlangsung secara susul-menyusul pasca kekalahan telak
Rezim Zionis dalam melawan kekuatan Hizbullah Lebanon. Sebagian pengamat
politik menilai, pengakuan Rezim Zionis ini adalah upaya unjuk gigi atas
kekuatan yang mereka miliki dan usaha untuk mengembalikan citra Israel
sebagai negara militer terkuat di Timur Tengah.
Namun,
apapun juga niat Israel, yang jelas pengakuan Olmert lagi-lagi
membuktikan standar ganda dan diskriminasi yang dilakukan negara-negara
Barat dalam bidang nuklir. Israel yang jelas-jelas memiliki senjata
nuklir dibiarkan bebas, sementara Iran yang mendayagunakan teknologi
nuklir bertujuan damai di bawah pengawasan IAEA malah diembargo dan
dipaksa untuk menghentikan proyek nuklir damainya.
|