Perspektif    

   Januari 2007

[ Index Politik ] [[ Home ]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kebanggaan Seorang Penjahat Perang

Manusia dalam jalan menuju kesempurnaannya tidak akan mau dibatasi oleh batasan apapun dan dia akan selalu mencari jalan untuk mencapai kemajuan yang lebih tinggi lagi. Contoh paling jelas tentang hal ini bisa kita lihat dalam kehidupan para Nabi dan awliya Allah. Namun, sebaliknya, ada juga manusia yang melangkah menuju kehancurannya tanpa mau berhenti, hingga sampai ke taraf yang disebut dalam Al Quran sebagai ‘lebih rendah daripada binatang.” Langkah seperti inilah yang diambil oleh para penjahat perang dalam hidupnya. Mereka melakukan kejahatan demi kejahatan tanpa henti. Langkah mereka baru berhenti ketika mereka mati. Hal inilah yang terjadi pada Saddam Hussein, diktator Irak yang akhirnya mati di tiang gantungan.

Bila kita mengamati eksepsi Saddam Hussein dalam pengadilannya di Bagdad, kita bisa menyimpulkan bahwa penjahat perang ini memang telah keluar dari status kemanusiaannya. Di pengadilan, Saddam mengatakan, “Dalam hubungan dengan Iran, jika semua pasukan militer atau pejabat resmi mengakui bahwa Saddam-lah yang memerintah mereka untuk menggunakan senjata kimia, maka saya dengan bangga akan menerima tanggung jawab itu.” Kalimat ini hanya bisa dimaknai satu hal: Saddam sama sekali tidak menyesali kejahatan perang yang dilakukannya, namun bahkan juga merasa bangga dengan apa yang telah dilakukannya.

Pada tahun 1980, Saddam Hussein dengan terlebih dahulu berkoordinasi dengan pemerintah negara-negara Barat, mengeluarkan perintah penyerangan terhadap wilayah Iran. Namun, pasukan Saddam berhadapan dengan kegigihan perlawanan para pejuang Iran yang tak gentar sedikitpun dalam mempertahankan tanah air mereka. Oleh karena itulah, pada tahun-tahun pertama perang, Sadam pun mulai menggunakan senjarta kimia dengan harapan bisa menghentikan perlawanan bangsa Iran. Seiring dengan semakin gigihnya perlawanan pasukan Iran, semakin tinggi pula intensitas penggunaan senjata kimia oleh pasukan Saddam. Korban dari penggunaan senjata kimia ini tidak hanya para tentara Iran, namun juga rakyat sipul, termasuk perempuan dan anak-anak.

Selama perang delapan tahun antara Irak-Iran, banyak sekali desa yang dibombardir senjata kimia oleh Saddam, namun serangan terbesar adalah terhadap kota Sardasht di Barat Iran. Serangan bom kimia itu dilakukan pada tanggal 28 Juni 1987 dan merupakan sebuah pembunuhan massal yang paling mengerikan sepanjang perang Iran-Irak. Sebanyak 350 orang, termasuk anak-anak dan perempuan tewas seketika, dan 7 ribu orang lainnya terluka dan sebagiannya hingga hari ini masih hidup dengan menanggung penyakit akibat senjata kimia itu.

Kekejaman Saddam tidak saja ditunjukkan kepada bangsa Iran, namun juga kepada rakyatnya sendiri. Setahun setelah serangan bom kimia di Sardast Iran, yaitu bulan Maret 1988, Saddam memerintahkan penggunaan senjata kimia di kota Halabche, Irak utara, yang mayoritasnya didiami oleh warga etnis Kurdi. Dalam serangan senjata kimia ke Halabche, 5000 warga sipil menjadi korban kekejaman Saddam.

Hari ini, terdapat sekitar 45.000 orang Iran yang masih hidup dengan menanggung berbagai penyakit akibat terkontaminasi senjata kimia. Setiap tahunnya, pemerintah Iran mengeluarkan dana 37 juta dollar AS untuk merawat para korban senjata kimia itu, namun tiap tahun pula banyak di antara mereka yang akhirnya gugur syahid. Selain menangung penyakit, sebagian korban senjata kimia ini  juga harus menanggung kepedihan karena anak-anak keturunan mereka menderita kelainan fisik atau mental akibat pengaruh dari bahan-bahan kimia berbahaya. Senjata kimia memang juga berdampak pada kerusakan DNA yang diwariskan secara genetik kepada keturunan para korban.

Sepanjang perang delapan tahun Iran-Irak, pasukan Irak telah membombardir Iran dengan senjata kimia sebanyak 350 kali. Berdasarkan laporan investigator PBB, Juan Mack, sepanjang perang Iran-Irak, pasukan Saddam telah menggunakan 1800 ton gas Mustard, 600 ton gas Sarin, dan berbagai jenis senjata kimia lainnya. Bahan kimia yang mematikan ini, terutama gas Mustard akan mengkontaminasi semua permukaan, termasuk tanah. Itulah sebabnya, semburan gas ini menjatuhkan korban yang sangat banyak. Gas ini akan merusak sistem pernafasan, mata, dan kulit. Setiap bagian tubuh yang terkontaminasi gas Mustard ini secara bertahap akan terbakar dan sistem kekebalan tubuh akan rusak. Gas ini juga akan menyebabkan kerusakan DNA dan kemungkinan menyebabkan kanker.

Marilah kita menengok kehidupan Parvin Vahedi, seorang korban senjata kimia, yang masih hidup hingga hari ini. Sore itu, pada tanggal 28  Juni tahun 1987, Parvin yang saat itu masih berusia 19 tahun mendengar suara gemuruh pesawat. Lalu, tiba-tiba terdengar suara jeritan orang-orang dan mereka berusaha menutupi hidung dan mulut dengan kain. Menurut Parvin, saat itu di udara tercium bau bawang putih dan udara terasa manis seperti gula. Tak lama kemudian, Parvin mulai merasakan efek gas Mustard itu, kulitnya terasa terbakar, begitu pula matanya. Parvin dan keluarganya bergegas naik mobil ke rumah sakit, namun rumah sakit kota Sardast sedemikian penuhnya sehingga mereka tidak bisa mendapatkan pertolongan.  Mereka pun kembali mengendarai mobil ke kota lain, yaitu kota Mahabad. Di sana, Parvin pun pingsan dan tiga pekan kemudian dia baru tersadar dan saat itu dia sudah berada di sebuah rumah sakit di Brussel.

Parvin Vahedi kehilangan sebelas anggota keluarganya akibat serangan bom kimia ini, termasuk ayah, ibu, dua saudara laki-laki, dan beberapa keponakan yang masih kecil. Kematian mereka tidak terjadi seketika. Parvin harus menyaksikan orang-orang yang dicintainya itu menderita kesakitan yang mengerikan, sampai akhirnya tubuh mereka tidak bisa menahan sakit dan menghembuskan nafas yang terakhir. Parvin sendiri harus kehilangan satu paru-parunya. Secara berkala, kulitnya melepuh dan hampir semua organ-organ penting di tubuhnya telah kehilangan fungsi.

Kini, hampir dua puluh tahun sejak kejadian mengerikan itu, Parvin masih hidup dengan menangung rasa sakit luar biasa. Dia menjadi saksi sejarah tentang kekejaman seorang penjahat perang  bernama Saddam Husein. Seorang penjahat perang yang menyatakan bahwa dia bangga telah memerintahkan pasukannya untuk menyerang puluhan ribu warga sipil dengan menggunakan senjata kimia. 

 

 

 

[ Index Perspektif ]   [ Home ]