Perspektif    

   Januari 2007

[ Index Politik ] [[ Home ]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jimmy Carter dan Rezim Zionis

Pemublikasian buku anti Zionis adalah sebuah fenomena yang langka. Apalagi, jika buku semacam itu ditulis oleh seorang tokoh terkenal. Fenomena inilah yang baru-baru ini terjadi di Amerika, yaitu diterbitkannya buku berjudul “Palestina: Perdamaian, Bukan Apartheid” karya mantan Presiden AS, Jimmy Carter.  Buku tersebut mengkritisi kinerja Rezim Zionis Israel di Palestina pendudukan. Di Amerika memang tidak ada larangan resmi untuk mengkritik Rezim Zionis. Namun telah menjadi rahasia umum bahwa orang-orang yang berani mengkritik rezim ini akan menghadapi berbagai kesulitan besar. Karenanya, para politisi  dan media-media massa di AS akan selalu menolak untuk mengkritisi Rezim Zionis Israel.

Jimmy Carter kini  berumur 82 tahun. Ia serius menggeluti dunia politik sejak menjabat sebagai senator negara bagian Georgia pada tahun 1962.  Setelah itu, Carter pernah menjabat sebagai Presiden AS dari tahun 1977 hingga 1981. Setelah pensiun sebagai presiden, karir politik  Carter tak berhenti begitu saja. Dia melanjutkan aktivitasnya dengan membentuk Lembaga Riset Carter di bidang politik. Carter juga berkali-kali menjadi utusan resmi pemerintah AS dan lembaga-lembaga internasional. Saat ini, Carter tak memiliki jabatan resmi di pemerintahan AS sehingga dia tidak perlu mengkhawatirkan apapun atas langkahnya menerbitkan buku yang mengkritik Zionis itu.

Namun demikian, bagi Rezim Zionis, buku terbaru karya Jimmy Carter itu tetap saja memberikan pukulan berat. Pemublikasian buku telah membuat komunitas Zionis naik darah dan mereka segera melakukan propaganda anti Carter. Carter yang pernah menjabat sebagai Presiden AS selama empat tahun pasti sudah mengenal berbagai bentuk infiltrasi dan konspirasi Rezim Zionis, sehingga dia tentunya tidak lagi merasa terkejut atas reaksi mereka. Di antara bentuk reaksi yang ditunjukkan oleh komunitas Zionis adalah, selama beberapa hari pertama penerbitan buku Carter, tak satupun media-media massa terkemuka AS yang memberitakannya. Fenomena ini tak biasanya terjadi, apalagi buku itu ditulis oleh seorang mantan Presiden AS dan tokoh terkenal. Ketika diwawancarai Koran News Week, Carter menyatakan, “Pihak-pihak yang menyerang saya adalah komunitas Zionis pendukung perang, sementara pihak yang mendukung isi buku ini adalah kelompok Yahudi pro-perdamaian.

Komunitas Zionis di AS masih menggunakan metode lamanya dengan menyebut para penentang kebijakan Tel Aviv sebagai orang-orang anti Semit. Mereka juga menuntut agar Carter diseret ke pengadilan karena dianggap berkhianat pada Zionis. Selama ini komunitas Zionis AS telah mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk mendanai para politisi dan media-media massa agar mereka tidak memberikan kritikan apapun terhadap Rezim Zionis. Sungguh sebuah ironi,di AS yang mengaku sebagai negara bebas dan bahkan mengkritik Tuhan pun dibebaskan, ada larangan yang sangat dipatuhi banyak pihak, yaitu larangan untuk mengkritik kebijakan perang dan pendudukan Rezim Zionis. Oleh karena itulah, klaim AS sebagai negara demokratis dan liberal sangat layak dipertanyakan. Kondisi semacam ini yang membuat sejumlah tokoh seperti Noam Chomsky dan Jimmy Carter, menyerukan perubahan sistem di AS.

Ketika diwawancarai mengenai adanya larangan mengkritik Rezim Zionis, Carter  mengatakan, “Di AS, banyak pihak yang sangat takut mengkritik Israel. Ketakutan ini tak hanya membuat para politisi membisu,  namun juga membuat media-media massa memilih bersikap diam.” Menurutnya,  para politisi di AS lebih cenderung mencari aman daripada harus mengorbankan keselamatan pribadi dengan mengkritik kebijakan Rezim Zionis. Carter juga menyatakan, “Mengkritik kebijakan Israel adalah hal yang tak mungkin terjadi di Kongres AS.” Dikatakannya pula, “Bagi para anggota Kongres, sedikit bersikap lunak terhadap Palestina, menuntut Zionis untuk berkomitmen pada undang-undang internasional, dan membicarakan  hak-hak bangsa Palestina, dapat diasosiasikan dengan bunuh diri. Jika mereka berani melakukan hal tersebut,  mereka pasti tak akan terpilih kembali dalam pemilu berikutnya.” Dengan kata lain, kelompok-kelompok lobi Zionis, antara lain Komite Urusan Publik AS-Israel (AIPAC) yang mempunyai pengaruh kuat di AS akan menghalang-halangi terpilihnya anggota Kongres dan Presiden AS yang berani mengkritik Rezim Zionis. 

Menyoroti kondisi Palestina adalah bagian terpenting dalam buku berjudul “Palestina: Perdamaian, Bukan Apartheid” ini. Carter dalam buku ini mengkritik keras kondisi bangsa Palestina yang sangat memprihatinkan. Terkait masalah ini, Carter menyatakan, “Saya sengaja memilih kata apartheid untuk judul buku ini, karena kata ini selalu disebut-sebut di Israel dan Eropa setiap harinya. Istilah ini dapat mencerminkan apa yang sedang terjadi di Jalur Gaza.” Carter menekankan bahwa politik apartheid Rezim Zionis sangat mirip dengan politik diskriminasi di Afrika Selatan yang pernah dikenal dengan politik apartheid. Dikatakannya pula, “Apartheid yang diberlakukan oleh Zionis di seluruh kawasan Palestina pendudukan merupakan hal yang sangat menyakitkan bagi bangsa Palestina.”

Dalam buku ini, Carter menjelaskan secara detail praktik diskriminasi dan arogansi Rezim Zionis Israel terhadap bangsa Palestina. Isi buku tersebut juga menyebutkan, “Israel menahan 9.200 tahanan Palestina, termasuk 300 anak-anak yang sebagian besarnya di bawah umur 12 tahun.” Disebutkannya pula, “Setidaknya 100 perempuan ditahan di penjara-penjara Rezim Zionis.”

Carter adalah Ketua Pemantau Internasional dalam pemilu Parlemen Otorita Palestina pada bulan Januari 2006. Carter dalam buku ini menulis, “Sama sekali tak ada pihak yang meragukan keabsahan pemilu Palestina. Pemilu ini murni kehendak bangsa Palestina yang menginginkan keterlibatan Hamas di parlemen.” Karenanya, Carter menilai penghentian bantuan negara-negara asing terhadap bangsa Palestina sebagai bentuk ketidakadilan terhadap bangsa Palestina. Carter juga mengapresiasi Gerakan Perjuangan Palestina Hamas yang menjaga ketetapan gencatan senjata. Padahal, di saat yang sama, Rezim Zionis masih terus membantai bangsa Palestina.

Dalam bukunya itu, mantan Presiden AS ini juga menghimbau ditegakkannya perdamaian di Palestina. Akan tetapi, Carter juga menyatakan bahwa Rezim Zionis dan pemerintahan Presiden AS, George W. Bush, tak menginginkan terealisasinya perdamaian di Palestina. Mengenai kebijakan para pejabat konservatif Gedung Putih dalam masalah perdamaian di Palestina, Carter menulis, “Pemerintahan Bush telah memadamkan lampu perdamaian dalam enam tahun terakhir ini.” Lebih lanjut Carter menulis, “Israel sebagai komunitas minoritas lebih memilih perluasan kawasan ketimbang berdamai.”

Carter dalam sebuah wawancaranya menandaskan, “Infiltrasi AIPAC merupakan salah satu faktor kemandekan upaya AS dalam mengakhiri konflik di Palestina.” Perlu diketahui juga, serangkaian dialog perdamaian telah dilakukan dan beberapa kali bahkan berhasil dicapai kesepakatan antara Tel Aviv dan Otorita Palestina. Namun, para pejabat Tel Aviv selalu saja tak berkomitmen pada isi kesepakatan, dan hanya menjalankan poin-poin yang menguntungkan mereka. Terkait masalah ini, Carter mengatakan, “Di saat pejabat Tel Aviv masih membicarakan penarikan mundur dari sebagian kawasan Palestina pendudukan sambil menduduki sebagian lainnya, sebagian kawasan yang diserahkan oleh Zionis itu malah diblokade dengan pembatas tembok.” Carter dalam bukunya tersebut secara tegas menulis, “Untuk mewujudkan perdamaian, Israel harus keluar dari kawasan Palestina pendudukan. Dan keluarnya Israel tak hanya terbatas dari wilayah yang dikehendaki mereka saja.” Carter juga secara tegas menyatakan, “ Palestina adalah milik bangsa Palestina, bukan Israel.”

Meski buku “Palestina: Perdamaian, bukan Apartheid” adalah sebuah karya yang mengungkapkan kebenaran mengenai konflik Palestina kepada opini dunia, namun kita tentu tidak boleh melupakan fakta bahwa Jimmy Carter sendiri ketika menjabat sebagai Presiden AS juga membukakan pintu pada Rezim Zionis dalam melanjutkan brutalitasnya terhadap bangsa Palestina. Seandainya Carter ketika masih berkuasa menulis buku ini atau melakukan langkah-langkah nyata untuk menyelamatkan bangsa Palestina, tentu hari ini dia akan dikenang sebagai pahlawan pembela kemanusiaan.

 

 

 

[ Index Perspektif ]   [ Home ]