|
Dimensi Politik Ibadah Haji
Secara
etimologis, haji berarti pergi menuju tempat yang diagungkan. Secara
terminologis, haji berarti beribadah kepada Allah dengan melaksanakan
manasik haji, yaitu perbuatan tertentu yang dilakukan pada waktu dan
tempat tertentu dengan cara yang tertentu pula. Haji adalah ibadah wajib
bagi setiap muslim yang mampu, sebagaimana firman Allah dalam Al Quran
surat Ali Imran ayat 97, "Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia
terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup melakukan perjalanan ke
Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya
Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam."
Haji
merupakan panggilan Tuhan supaya ummat Islam menjalankan ibadah haji di
waktu yang telah ditentukan dan di tempat yang suci dalam rangka
membersihkan diri dan bermunajat dengan Allah. Seseorang yang mendapat
kehormatan dari Tuhan untuk menjalankan ibadah haji, juga mengemban
banyak tugas dan tanggungjawab. Tugas pertama yang diemban oleh jamaah
haji di Makkah adalah mendekatkan diri kepada Tuhan melalui ibadah atau
manasik haji. Di samping itu juga, para jamaah haji juga mempunyai tugas
dalam memperhatikan kondisi saudara muslim lainnya. Hal itu membuat umat
Islam lebih memerhatikan sisi aspek politik dan sosial dari ibadah haji.
Ibadah
haji tahun ini diwarnai dengan kesulitan yang dihadapi oleh tiga negara
Islam, yaitu Palestina, Irak, dan Afganistan. Bangsa Palestina sejak
enam puluh tahun lalu selalu hidup di bawah agresi dan teror yang
dilancarkan Rezim Zionis Israel terhadap tanah air mereka. Hingga saat
ini, sejumlah besar warga Palestina berada dalam kondisi terlantar dan
mengenaskan di bawah tekanan kaum Zionis. Pada saat yang sama, AS
menduduki Irak dan dengan membabi-buta mereka membunuhi dan melukai
puluhan ribu warga Irak. Hingga kini, AS tidak juga mengumumkan batas
waktu penarikan mundur tentaranya dari Irak. Dengan menduduki Irak, AS
mengeruk kekayaan minyak yang melimpah di negara itu. Sementara itu,
rakyat muslim Afganistan kini masih harus bergelut dengan kemiskinan dan
ketidakberdayaan karena negara mereka terus diduduki oleh AS.
Kondisi
menyedihkan juga dialami oleh kaum minoritas muslim yang hidup di
negara-negara Barat. Saat ini, ketika Barat mengumandangkan yel-yel
pembelaan atas hak-hak asasi manusia dan kebebasan, umat Islam justru
mendapatkan tekanan dari pemerintah Barat. Politik permusuhan Barat
terhadap Islam telah diberlakukan di sejumlah negara. Kebijakan itu
semakin meningkat sejak terjadinya serangan 11 September 2001 di
Amerika. Sejumlah negara dan media Barat getol menyuarakan bahwa Islam
adalah agama yang mendukung segala bentuk kekerasan. Banyak warga
muslim di negara-negara Eropa dan AS yang menjadi korban kebijakan
seperti ini.
Pada
saat yang sama, beberapa negara Islam lainnya menjadi korban tuduhan tak
beralasan pihak Washington. Dengan alasan memberantas terorisme, para
politisi Gedung Putih melakukan berbagai menekan negara-negara Islam.
Menurut pendapat para politisi fanatik AS, umat Islam adalah teroris dan
agama Islam adalah agama yang mengajarkan terorisme pada umatnya. Dengan
cara seperti ini, Pemerintah Amerika berusaha menghegemoni negara-negara
Islam di dunia.
Serangan berbahaya lain
yang dilakukan pemerintah AS dan negara-negara Barat terhadap Islam
adalah serangan propaganda media massa. Melalui propaganda media massa,
negara-negara Barat tidak hanya mengumbar isu terorisme di negara-negara
Islam, bahkan mereka berupaya memasyarakatkan budaya bejat mereka di
dunia Islam. Upaya tersebut dapat dirasakan oleh dunia Islam lewat
berbagai siaran radio dan televisi, koran, buku, situs-situs, dan bahkan
lewat barang-barang produksi Barat. Dewasa ini, berbagai fasilitas dan
teknologi satelit mutakhir telah memudahkan masyarakat di negara-negara
Islam untuk menangkap program negara-negara Barat yang menyajikan
acara-acara kotor dan asusila.
Usaha lain yang
dilakukan kekuatan-kekuatan imperialis Barat dalam menekan kaum muslimin
adalah melalui program-program pendidikan. Islam adalah agama yang
selalu menanamkan semangat memerangi kezaliman kepada umatnya. Semangat
anti kezaliman inilah yang menjadi kendala terbesar bagi para politisi
Barat untuk menguasai dan merampas sumber-sumber ekonomi negara-negara
Islam. Untuk itu, Washington berkali-kali menuntut diadakannya reformasi
dalam struktur pendidikan negara-negara Islam. Saat ini Gedung Putih
sedang membangun pemancar radio-televisi di Timur Tengah dengan tujuan
memperluas budaya amoralitas Barat di kawasan.
Di
samping propaganda media massa, Barat, khususnya Amerika, juga melakukan
berbagai tekanan politik dan ekonomi terhadap dunia Islam. Berbagai
macam konspirasi dilancarkan oleh Barat untuk memaksa dunia Islam
berjalan di atas sistem yang mereka namakan dengan tatanan dunia baru.
Barat juga memaksa dunia Islam untuk menerima kepemimpinan Amerika atas
dunia. Ini semua adalah di antara rencana dan propaganda busuk para
politisi Gedung Putih untuk menguasai zona-zona kaya minyak di Timur
Tengah.
Mengingat semakin
meningkatnya volume tekanan dan ancaman dari pihak Barat dan berbagai
masalah internal dunia Islam, umat Islam dituntut mampu menggunakan
setiap kesempatan yang ada untuk mencari solusi, atau paling tidak,
membuka kesempatan untuk mengakhiri masalah-masalah tersebut. Jalan
terbaik untuk membahas dan menyelesaikan masalah dunia Islam adalah
dengan diadakannya perundingan dan dialog di antara semua pihak yang
terkait. Ibadah haji yang merupakan tempat berkumpulnya kaum muslimin
dari seluruh dunia sebenarnya merupakan sebuah konferensi raksasa yang
bisa dijadikan sarana untuk penyelesaian masalah-masalah dunia Islam.
***
Seseorang yang mendapat taufiq dan kesempatan dari Allah SWT untuk
menjalankan ibadah haji sesungguhnya mengemban dua tugas dan
tanggungjawab. Tugas pertama adalah mendekatkan diri kepada Allah
melalui ibadah atau manasik haji. Tugas kedua adalah meningkatkan
solidaritas di antara sesama muslim. Adalah hal yang aneh bila lebih
dari dua juta umat Islam berkumpul bersama di kota suci Makkah untuk
menjalankan ibadah haji, namun mereka tidak peduli dengan kondisi
saudara-saudara mereka sesama muslim. Manasik haji yang berlangsung di
tempat dan waktu yang telah ditentukan sesungguhnya merupakan konferensi
umat Islam yang terbesar. Haji merupakan kesempatan dan peluang besar
untuk membangun kekuatan dunia Islam.
Bagi
Barat, dunia Islam adalah ancaman baru setelah runtuhnya pemerintah Uni
Soviet. Dewasa ini, umat manusia banyak yang mulai menyadari keunggulan
nilai-nilai ajaran Islam di hadapan nilai liberalisme yang selama ini
selalu diagung-agungkan Barat. Menurut para pemikir Barat, liberialisme
adalah konsep hidup terbaik dan terbukti telah berhasil mengalahkan
sistem pemerintahan komunis. Namun, kini mereka dihadapkan pada sebuah
agama dan ajaran bernama Islam yang tidak saja kaya dari sisi spiritual
dan kemanusiaan, melainkan juga menawarkan keadilan untuk umat Islam
bahkan untuk seluruh masyarakat dunia. Ajaran Islam pun dengan mudah
mematahkan konsep-konsep liberalisme yang sesungguhnya sangat rapuh itu.
Oleh karena itulah, para penguasa di Barat melakukan berbagai cara untuk
melemahkan dunia Islam. Di antara cara yang mereka lakukan adalah
memecah belah dunia Islam. Melalui media-media yang mereka kuasa,
kekuatan-kekuatan imperialis Barat berusaha menyebarluaskan perpecahan
dan perbedaan antar-mazhab. Selain itu, mereka juga mendirikan
organisasi-organisasi Islam ekstrim untuk digunakan mencoreng wajah
Islam. Contoh paling besar dalam hal ini
adalah pendirian Al Qaeda dan Taliban oleh AS. Kelompok ekstrim ini
kemudian melakukan teror atas nama Islam dan Barat pun memanfaatkan
fenomena ini untuk menyelewengkan wajah Islam di mata dunia.
Ibadah haji memberi
kesempatan kepada para jemaah haji untuk saling mengenal antar sesama
muslim dan mengetahui masalah dalam negeri setiap negara. Tanpa harus
terjebak pada berita-berita miring media massa Barat, para jemaah haji
dapat mengetahui secara langsung kenyataan yang terjadi di dunia Islam.
Inilah salah satu perintah Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya yang sedang
menunaikan ibadah haji. Allah menyuruh para jemaah haji untuk
mendapatkan manfaat yang tak terhingga dari ibadah mereka. Dalam ayat 97
surat Al-Maidah, Allah SWT berfirman, “Allah menjadikan Ka’bah Baitul
Haram sebagai sarana untuk mensejahterakan masalah masyarakat.”
Berbagai
perpecahan yang terjadi di antara umat Islam sesungguhnya adalah sebab
utama dari kelemahan kaum muslimin. Bila kaum muslimin sedunia menyadari
konspirasi jahat musuh-musuh Islam dalam memecah-belah kaum muslim,
sudah tentu jalan menuju kemenangan Islam akan terbuka lebar. Dalam
kondisi seperti ini, bisa dibayangkan betapa strategisnya ibadah haji.
Ibadah haji merupakan saat
berkumpulnya jutaan kaum muslimin sedunia pada satu tempat dan satu
waktu. Sudah seharusnya konferensi besar umat Islam ini dipakai untuk
mempererat persaudaraan dan menjalin perjuangan bersama melawan
musuh-musuh Islam.
Berkumpulnya umat Islam di Makkah merupakan kesempatan istimewa bagi
para jemaah haji untuk mewujudkan persatuan di hadapan musuh-musuh
Islam. Para jemaah haji adalah wakil masyarakat dunia Islam. Dengan
seruan persatuan dan kebersamaan, mereka akan mampu membuktikan
persatuan dan kekuatan umat Islam di mata dunia. Sikap seperti ini tidak
hanya akan menjadi peringatan untuk kekuatan-kekuatan agresor, melainkan
juga membawa pesan bagi negara-negara Islam bahwa keagungan dan
kemuliaan umat Islam berada dalam kekuatan iman, kebersamaan, wawasan,
dan rasa percaya diri masyarakat Islam.
Kebangkitan kesadaran mengenai dimensi politik ibadah haji mulai muncul
sejak Republik Islam Iran berdiri. Atas gagasan pemerintah Islam Iran,
setiap musim haji, selalu diadakan berbagai khutbah yang menyeru
persatuan umat Islam sedunia. Para jemaah haji dari semua negara juga
diseru untuk ikut serta dalam demonstrasi akbar yang menyuarakan
penentangan kepada kekuatan-kekuatan adidaya dunia yang saat ini sedang
menindas dunia Islam. Demonstrasi untuk menunjukkan kebencian jemaah
haji terhadap kezaliman pemerintah Amerika dan Rezim Zionis merupakan
langkah untuk mematuhi firman Allah SWT dalam Al-Quran surat Al-Bara’ah
ayat 3 yang berbunyi, “Allah dan Rasul-Nya mengumumkan pada hari haji
akbar, bahwa Allah SWT dan Rasul-Nya berlepas tangan dari kaum
musyrikin”.
Berlepas tangan
dari kaum musyrikin artinya menentang segala bentuk kezaliman dan
penindasan yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam. Sikap berlepas diri
ini seharusnya diimplementasikan dalam politik negara-negara Islam
sedunia, antara lain, menentang penjajahan yang dilakukan negara-negara
imperialis terhadap negara-negara muslim, seperti Palestina, Irak, dan
Afganistan, serta menolak segala bentuk dominasi dan hegemoni yang akan
merugikan dan menyengsarakan kaum muslimin.
Bila dunia Islam bersatu dan kompak, musuh-musuh Islam
pasti akan terkalahkan. Persatuan dan kekompakan negara-negara muslim
sedunia inilah yang seharusnya digalang melalui ibadah haji.
|