Perspektif    

   Januari 2007

[ Index Politik ] [[ Home ]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dimensi Politik Ibadah Haji

Secara etimologis, haji berarti pergi menuju tempat yang diagungkan. Secara terminologis, haji berarti beribadah kepada Allah dengan melaksanakan manasik haji, yaitu perbuatan tertentu yang dilakukan pada waktu dan tempat tertentu dengan cara yang tertentu pula. Haji adalah ibadah wajib bagi setiap muslim  yang mampu, sebagaimana firman Allah dalam Al Quran surat Ali Imran ayat 97, "Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup melakukan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam."

Haji merupakan panggilan Tuhan supaya ummat Islam menjalankan ibadah haji  di waktu yang telah ditentukan dan di tempat yang suci dalam rangka membersihkan diri dan bermunajat dengan Allah. Seseorang yang mendapat kehormatan dari Tuhan untuk menjalankan ibadah haji, juga mengemban banyak tugas dan tanggungjawab. Tugas pertama yang diemban oleh jamaah haji di Makkah adalah mendekatkan diri kepada Tuhan melalui ibadah atau manasik haji. Di samping itu juga, para jamaah haji juga mempunyai tugas dalam memperhatikan kondisi saudara muslim lainnya. Hal itu membuat umat Islam lebih memerhatikan sisi aspek politik dan sosial dari ibadah haji.

Ibadah haji tahun ini diwarnai dengan kesulitan yang dihadapi oleh tiga negara Islam, yaitu Palestina, Irak, dan Afganistan. Bangsa Palestina sejak enam puluh tahun lalu selalu hidup di bawah agresi dan teror yang dilancarkan Rezim Zionis Israel terhadap tanah air mereka. Hingga saat ini, sejumlah besar warga Palestina berada dalam kondisi terlantar dan mengenaskan di bawah tekanan kaum Zionis. Pada saat yang sama, AS menduduki Irak dan dengan membabi-buta mereka membunuhi dan melukai puluhan ribu warga Irak. Hingga kini, AS tidak juga mengumumkan batas waktu penarikan mundur tentaranya dari Irak. Dengan menduduki Irak, AS mengeruk kekayaan minyak yang melimpah di negara itu. Sementara itu, rakyat muslim Afganistan kini masih harus bergelut dengan kemiskinan dan ketidakberdayaan karena negara mereka terus diduduki oleh AS.

Kondisi menyedihkan juga dialami oleh kaum minoritas muslim yang hidup di negara-negara Barat. Saat ini, ketika Barat mengumandangkan yel-yel pembelaan atas hak-hak asasi manusia dan kebebasan, umat Islam justru mendapatkan tekanan dari pemerintah Barat. Politik permusuhan Barat terhadap Islam telah diberlakukan di sejumlah negara. Kebijakan itu semakin meningkat sejak terjadinya serangan 11 September 2001 di Amerika. Sejumlah negara dan media Barat getol menyuarakan bahwa Islam adalah agama yang mendukung segala bentuk kekerasan.  Banyak warga muslim di negara-negara Eropa dan AS yang menjadi korban kebijakan seperti ini.

Pada saat yang sama, beberapa negara Islam lainnya menjadi korban tuduhan tak beralasan pihak Washington. Dengan alasan memberantas terorisme, para politisi Gedung Putih melakukan berbagai menekan negara-negara Islam. Menurut pendapat para politisi fanatik AS, umat Islam adalah teroris dan agama Islam adalah agama yang mengajarkan terorisme pada umatnya. Dengan cara seperti ini, Pemerintah Amerika berusaha menghegemoni negara-negara Islam di dunia.

Serangan berbahaya lain yang dilakukan pemerintah AS dan negara-negara Barat terhadap Islam adalah serangan propaganda media massa. Melalui propaganda media massa, negara-negara Barat tidak hanya mengumbar isu terorisme di negara-negara Islam, bahkan mereka berupaya memasyarakatkan budaya bejat mereka di dunia Islam. Upaya tersebut dapat dirasakan oleh dunia Islam lewat berbagai siaran radio dan televisi, koran, buku, situs-situs, dan bahkan lewat barang-barang produksi Barat. Dewasa ini, berbagai fasilitas dan teknologi satelit mutakhir telah memudahkan masyarakat di negara-negara Islam untuk menangkap program negara-negara Barat yang menyajikan acara-acara kotor dan asusila.

Usaha lain yang dilakukan kekuatan-kekuatan imperialis Barat dalam menekan kaum muslimin adalah melalui program-program pendidikan. Islam adalah agama yang selalu menanamkan semangat memerangi kezaliman kepada umatnya. Semangat anti kezaliman inilah yang menjadi kendala terbesar bagi para politisi Barat untuk menguasai dan merampas sumber-sumber ekonomi negara-negara Islam. Untuk itu, Washington berkali-kali menuntut diadakannya reformasi dalam struktur pendidikan negara-negara Islam. Saat ini Gedung Putih sedang membangun pemancar radio-televisi di Timur Tengah dengan tujuan memperluas budaya amoralitas Barat di kawasan.

Di samping propaganda media massa, Barat, khususnya Amerika, juga melakukan berbagai tekanan politik dan ekonomi terhadap dunia Islam. Berbagai macam konspirasi dilancarkan oleh Barat untuk memaksa dunia Islam berjalan di atas sistem yang mereka namakan dengan tatanan dunia baru. Barat juga memaksa dunia Islam untuk menerima kepemimpinan Amerika atas dunia. Ini semua adalah di antara rencana dan propaganda busuk para politisi Gedung Putih untuk menguasai zona-zona kaya minyak di Timur Tengah.

Mengingat semakin meningkatnya volume tekanan dan ancaman dari pihak Barat dan berbagai masalah internal dunia Islam, umat Islam dituntut mampu menggunakan setiap kesempatan yang ada untuk mencari solusi, atau paling tidak, membuka kesempatan untuk mengakhiri masalah-masalah tersebut. Jalan terbaik untuk membahas dan menyelesaikan masalah dunia Islam adalah dengan diadakannya perundingan dan dialog di antara semua pihak yang terkait. Ibadah haji yang merupakan tempat berkumpulnya kaum muslimin dari seluruh dunia sebenarnya merupakan sebuah konferensi raksasa yang bisa dijadikan sarana untuk penyelesaian masalah-masalah dunia Islam.  

 

***

 

Seseorang yang mendapat taufiq dan kesempatan dari Allah SWT untuk menjalankan ibadah haji sesungguhnya mengemban dua tugas dan tanggungjawab. Tugas pertama adalah mendekatkan diri kepada Allah melalui ibadah atau manasik haji. Tugas kedua adalah meningkatkan solidaritas di antara sesama muslim. Adalah hal yang aneh bila lebih dari dua juta umat Islam berkumpul bersama di kota suci Makkah untuk menjalankan ibadah haji, namun mereka tidak peduli dengan kondisi saudara-saudara mereka sesama muslim. Manasik haji yang berlangsung di tempat dan waktu yang telah ditentukan sesungguhnya merupakan konferensi umat Islam yang terbesar. Haji merupakan kesempatan dan peluang besar untuk membangun kekuatan dunia Islam.

Bagi Barat, dunia Islam adalah ancaman baru setelah runtuhnya pemerintah Uni Soviet. Dewasa ini, umat manusia banyak yang mulai menyadari keunggulan nilai-nilai ajaran Islam di hadapan nilai liberalisme yang selama ini selalu diagung-agungkan Barat. Menurut para pemikir Barat, liberialisme adalah konsep hidup terbaik dan terbukti telah berhasil mengalahkan sistem pemerintahan komunis. Namun, kini mereka dihadapkan  pada sebuah agama dan ajaran bernama Islam yang tidak saja kaya dari sisi spiritual dan kemanusiaan, melainkan juga menawarkan keadilan untuk umat Islam bahkan untuk seluruh masyarakat dunia. Ajaran Islam pun dengan mudah mematahkan konsep-konsep liberalisme yang sesungguhnya sangat rapuh itu.

Oleh karena itulah, para penguasa di Barat melakukan berbagai cara untuk melemahkan dunia Islam. Di antara cara yang mereka lakukan adalah memecah belah dunia Islam.  Melalui media-media yang mereka kuasa, kekuatan-kekuatan imperialis Barat berusaha menyebarluaskan perpecahan dan perbedaan antar-mazhab. Selain itu, mereka juga mendirikan organisasi-organisasi Islam ekstrim untuk digunakan mencoreng wajah Islam. Contoh paling besar dalam hal ini adalah pendirian Al Qaeda dan Taliban oleh AS. Kelompok ekstrim ini kemudian melakukan teror atas nama Islam dan Barat pun memanfaatkan fenomena ini untuk menyelewengkan wajah Islam di mata dunia.

Ibadah haji memberi kesempatan kepada para jemaah haji untuk saling mengenal antar sesama muslim dan mengetahui masalah dalam negeri setiap negara. Tanpa harus terjebak pada berita-berita miring media massa Barat, para jemaah haji dapat mengetahui secara langsung kenyataan yang terjadi di dunia Islam. Inilah salah satu perintah Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya yang sedang menunaikan ibadah haji. Allah menyuruh para jemaah haji untuk mendapatkan manfaat yang tak terhingga dari ibadah mereka. Dalam ayat 97 surat Al-Maidah, Allah SWT berfirman, “Allah menjadikan Ka’bah Baitul Haram sebagai sarana untuk mensejahterakan masalah masyarakat.”

Berbagai perpecahan yang terjadi di antara umat Islam sesungguhnya adalah sebab utama dari kelemahan kaum muslimin. Bila kaum muslimin sedunia menyadari konspirasi jahat musuh-musuh Islam dalam memecah-belah kaum muslim, sudah tentu jalan menuju kemenangan Islam akan terbuka lebar. Dalam kondisi seperti ini, bisa dibayangkan betapa strategisnya ibadah haji. Ibadah haji merupakan saat berkumpulnya jutaan kaum muslimin sedunia pada satu tempat dan satu waktu. Sudah seharusnya konferensi besar umat Islam ini dipakai untuk mempererat persaudaraan dan menjalin perjuangan bersama melawan musuh-musuh Islam.

Berkumpulnya umat Islam di Makkah merupakan kesempatan istimewa bagi para jemaah haji untuk mewujudkan persatuan di hadapan musuh-musuh Islam. Para jemaah haji adalah wakil masyarakat dunia Islam. Dengan seruan persatuan dan kebersamaan, mereka akan mampu membuktikan persatuan dan kekuatan umat Islam di mata dunia. Sikap seperti ini tidak hanya akan menjadi peringatan untuk kekuatan-kekuatan agresor, melainkan juga membawa pesan bagi negara-negara Islam bahwa keagungan dan kemuliaan umat Islam berada dalam kekuatan iman, kebersamaan, wawasan, dan rasa percaya diri masyarakat Islam.

Kebangkitan kesadaran mengenai dimensi politik ibadah haji mulai muncul sejak Republik Islam Iran berdiri. Atas gagasan pemerintah Islam Iran, setiap musim haji, selalu diadakan berbagai khutbah yang menyeru persatuan umat Islam sedunia. Para jemaah haji dari semua negara juga diseru untuk ikut serta dalam demonstrasi akbar yang menyuarakan penentangan kepada kekuatan-kekuatan adidaya dunia yang saat ini sedang menindas dunia Islam. Demonstrasi untuk menunjukkan kebencian jemaah haji terhadap kezaliman pemerintah Amerika dan Rezim Zionis merupakan langkah untuk mematuhi firman Allah SWT dalam Al-Quran surat Al-Bara’ah ayat 3 yang berbunyi, “Allah dan Rasul-Nya mengumumkan pada hari haji akbar, bahwa Allah SWT dan Rasul-Nya berlepas tangan dari kaum musyrikin”.

Berlepas tangan dari kaum musyrikin artinya menentang segala bentuk kezaliman dan penindasan yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam. Sikap berlepas diri ini seharusnya diimplementasikan dalam politik negara-negara Islam sedunia, antara lain, menentang penjajahan yang dilakukan negara-negara imperialis terhadap negara-negara muslim, seperti Palestina, Irak, dan Afganistan, serta menolak segala bentuk dominasi dan hegemoni yang akan merugikan dan menyengsarakan kaum muslimin. Bila dunia Islam  bersatu dan kompak, musuh-musuh Islam pasti akan terkalahkan. Persatuan dan kekompakan negara-negara muslim sedunia inilah yang seharusnya digalang melalui ibadah haji.

 

 

 

 

[ Index Perspektif ]   [ Home ]