|
Politik
Energi Rusia dan Dampaknya
terhadap Uni Eropa
Beberapa
waktu lalu, masalah energi antara Rusia dan negara-negara konsumen Eropa
kembali mencuat. Setelah krisis gas antara Rusia dan Ukraina, kini
giliran Belarusia yang harus berhadapan dengan negeri beruang putih itu.
Perselisihan antara Moskow dan Kiev bermula sejak Rusia menaikkan harga
gas ekspornya ke Ukraina. Hal itu menyebabkan terhambatnya ekspor energi
Ukraina dan penyalurannya ke Eropa. Setelah krisis itu berakhir, Rusia
kembali bermasalah dengan Belarusia. Keputusan Rusia meningkatkan harga
eskpor minyaknya ke Belarusia, direaksi oleh Minsk dengan menaikkkan
tarif pajak transit minyak rusia ke Eropa. Krisis tersebut menghambat
ekspor minyak Rusia melalui Belarusia pada awal tahun 2007.
Tak kurang
dari 80 persen energi Rusia diekspor melalui Ukraina dan 20 persen
lainnya melalui Belarusia. Sebelum terjadi revolusi berwarna, Rusia
setiap tahunnya memberikan subsidi energi kepada negara-negara
persemakmuran.
Dengan cara itu, Rusia berupaya menyusupkan pengaruhnya di negara-negara
tersebut. Namun pasca revolusi berwarna di negara-negara pecahan Soviet,
khususnya Revolusi Oranye di Ukraina, Moskow mengubah kebijakannya di
bidang energi.
Dengan cara menaikkan
harga minyak dan menyulut krisis di Ukraina pasca Revolusi Oranye, Rusia
berusaha menjaga pengaruhnya di negara tersebut. Dalam hal ini Rusia
cukup berhasil karena pasca Revolusi Oranye, kelompok yang berkuasa di
Ukraina adalah pihak pendukung Rusia.
Rusia
menggunakan energi sebagai senjata andalannya untuk menjaga pengaruhnya
di negara-negara persemakmuran. Kini giliran Belarusia yang harus
menghadapi tekanan dari Rusia setelah Moskow menaikkan harga ekspor
energinya untuk Minsk. Selain itu, Rusia merupakan pemilik 50 persen
saham perusahaan Beltrans-Gaz, perusahaan utama penyalur gas ke Eropa
melalui Belarusia.
Para
pejabat Kremlin berupaya menjaga pengaruhnya dalam pemerintahan agar
Belarusia tak condong ke Barat. Hal itu terus diupayakan meski harus
dengan menggulingkan pemerintahan Alexander Lukashenko. Kebijakan Rusia
tersebut menimbulkan kekhawatiran dari negara-negara persemakmuran
Soviet dan Eropa. Eropa membeli 40 persen gas dan 30 persen minyak dari
Rusia. Selama ini, negara-negara persemakmuran Soviet sangat bergantung
pada energi dari Rusia. Namun, Moskow berdalih bahwa kenaikan harga
eskpor dan gasnya itu disesuaikan dengan kenaikan biaya eksploitasinya
dan harga energi internasional. Diindikasikan bahwa Rusia akan
menggunakan energi sebagai senjata dalam berdiplomasi dengan
negara-negara persemakmuran Soviet. Selain bertujuan meningkatkan
pendapatan, kebijakan itu juga bertujuan menjaga kepentingan dan
pengaruh Moskow di negara-negara tersebut.
Rusia
merupakan salah satu negara yang memiliki sumber energi terbanyak di
dunia. Rusia mulai bangkit membangun kekuatan adidaya baru. Bahkan
politik Rusia berhasil mereduksi kritikan Barat atas pemusatan kekuatan
di Kremlin dan pelanggaran HAM di Chechnya. Mengingat energi adalah
masalah internal, hingga kini Uni Eropa tidak dapat menyatukan kebijakan
negara-negara anggotanya di sektor energi. Sampai detik ini, banyak
negara anggota Uni Eropa yang tetap menandatangani kesepakatan energi
dengan Rusia. Kondisi seperti ini kian meningkatkan bargaining power
Rusia di hadapan negara-negara konsumen energinya.
Thomas
Freedman, seorang jurnalis Koran New York Times berpendapat bahwa
pengaruh Rusia di Eropa melalui energi lebih besar dibandingkan melalui
Rusia rudal SS20. Para pengamat politik berpendapat krisis energi di
Eurosia dalam setahun terakhir menunjukkan bahwa masalah ini berubah
menjadi strategi yang sangat jitu. Bahkan perimbangan politik dan
keamanan di kawasan sangat dipengaruhi oleh energi. Negara-negara Eropa
menuding Rusia setiap tahun sengaja menyulut krisis energi bersamaan
dengan tibanya musim dingin. Uni Eropa juga menuntut Rusia mematuhi
ketetapan internasional di sektor energi. Dengan demikian, partisipasi
perusahaan energi dalam pasar energi Rusia kian meningkat. Artinya,
ketergantungan energi tidak akan terjadi secara sepihak melainkan dari
dua pihak.
Namun,
Rusia tidak semudah itu melepaskan kontrol sumber-sumber minyak dan
gasnya kepada perusahaan-perusahaan Eropa. Sebaliknya, Rusia justru
tengah mengincar pasar energi di Eropa.
Para pemerhati
berpendapat bahwa krisis energi Eurosia tidak akan mudah terselesaikan.
Mencuatnya krisis energi antara Rusia dan Belarusia, memaksa Uni Eropa
menetapkan kebijakan baru di bidang ini. Dalam strategi barunya, Uni
Eropa mengimbau seluruh negara anggotanya untuk mereduksi
ketergantungannya terhadap suplai energi dari Rusia dengan cara memilih
jalur energi lain.
Saat ini,
50 persen energi Uni Eropa adalah hasil impor dan diperkirakan jumlah
tersebut akan meningkat hingga 65 persen pada tahun 20030. Kebijakan
Rusia di bidang energi membuat negara-negara Eropa mulai mengupayakan
impor minyak dari negara-negara lain termasuk dari Timur Tengah. Di
antara negara-negara Timur Tengah, Iran termasuk negara yang kaya sumber
energi dan sudah membuka jalur ekspor minyak dan gasnya ke Eropa melalui
Turki. Simpanan
gas alam Iran adalah yang terbesar ke dua di dunia.
Selain
itu, sumber minyak Rusia sangat terbatas sementara Iran adalah negara
kaya minyak ketiga dunia.
|