|
Bulan Sabit Syiah, Fakta Ataukah Ilusi?
Semua peristiwa itu telah memicu kemarahan umat
Islam sedunia terhadap kebijakan dan sepak terjang Gedung Putih. Para
petinggi AS bahkan mengakui bahwa AS yang dipimpin Bush Junior semakin
dibenci di dunia.
Belum lama ini tepatnya pada bulan Juli dan Agustus
tahun lalu, nama Gerakan Hezbollah Lebanon mencuat dan harum karena
keberhasilannya menundukkan kedigdayaan militer rezim zionis Israel.
Kemenangan Hezbollah ini sekaligus merusak strategi dan rencana AS di
kawasan. Untuk membalas kekalahan ini, AS dan Israel dalam beberapa
bulan terakhir gencar melakukan serangan propaganda dalam skala luas
dengan mencuatkan isu adanya hilal atau bulan sabit Syiah yang
membentang dari Iran lalu Irak, Suriah dan Lebanon. Dikatakan bahwa
Syiah telah merebut kendali kekuasaan di negara-negara tersebut dan ini
berarti ancaman bagi kaum muslim Sunni dan bangsa Arab secara umum.
Istilah Hilal Syiah pertama kali diucapkan oleh
raja Jordania Abdullah II. Pernyataan tersebut direaksi keras dan
negatif oleh banyak negara dan kalangan politik. Menyusul pernyataan
Raja Abdullah, beberapa pejabat tinggi dari sejumlah negara Arab dalam
banyak kesempatan mengesankan bahwa Syiah adalah kelompok yang berbahaya.
Muslim Syiah adalah kelompok yang eksis di banyak negara muslim dan non
muslim, sama seperti eksistensi muslim pengikut empat madzhab
Ahlussunnah.
Kekhawatiran terhadap Syiah tidak beralasan,
mengingat madzhab ini memegang teguh ajaran AlQur’an dan Ahlul Bait as,
keduanya adalah pusaka yang ditinggalkan Nabi SAW untuk umat Islam.
Dalam hadis Nabi yang terkenal beliau SAW bersabda, “Aku tinggalkan
untuk kalian dua buah pusaka yang dengan berpegangan dengan keduanya,
kalian tidak akan tersesat selamanya, AlQur’an dan Ahlu Bait-ku.
Keduanya tidak akan berpisah sampai menemuiku kelak di telaga Surga.
Di negara-negara seperti India, Pakistan,
Afganistan, dan Kuwait, muslim Syiah meski minoritas, tetapi eksistensi
mereka cukup diperhitungkan. Di Iran, Irak, Bahrain, Azerbaijan, dan
Lebanon, muslim Syiah menempati posisi mayoritas. Berdasarkan prinsip
demokrasi sudah sepatutnya kelompok Syiah memegang kendali kekuasaan
jika mereka mayoritas di negara-negara tersebut. Demikian pula halnya
dengan kelompok di neara-negara yang mayoritas penduduknya bermadzhab
Ahlussunnah. Meski demikian, tidak berarti mayoritas akan mengabaikan
hak-hak minoritas dan kepentingan nasional.
Di Iran, setelah kemenangan revolusi Islam tahun
1979, diselenggarakan beberapa kali pemilihan umum yang bebas. Wajar
saja bila di Iran mereka yang terpilih kemanyakan bermadzhab Syiah,
sebab memang Syiah adalah mayoritas di negara ini. Tetapi kesyiahan
mereka bukan berarti ancaman bagi saudara-saudara mereka yang Sunni. Di
Iran, kelompok minoritas Sunni memiliki wakil di parlemen serta
lembaga-lembaga pemerintahan dan lainnya. Bersama dengan yang lain,
mereka ikut berperan memajukan negara ini.
Tahun 2003, menyusul tergulingnya rezim Baath
pimpinan Saddam Hossein, rakyat Irak untuk pertama kali menggelar
pemilihan umum yang bebas untuk membentuk pemerintahan demokratis. Irak
adalah negara dengan mayoritas warga yang muslim Syiah. Karena itu wajar
jika dalam pemilu mayoritas kursi parlemen direbut oleh para kandidat
dari kubu Syiah, sehingga kemudian mereka pula yang berhak membentuk
pemerintahan.
Di Bahrain beberapa waktu lalu, dilangsungkan
pemilu. Di negara ini kelompok Syiah juga berhasil merebut banyak kursi.
Meski demikian, kekuasaan tetap berada dalam genggaman keluarga Al
Khalifah. Di Lebanon, meski warga Syiah telah memberikan pengorbanan
yang besar dalam menghadapi agresi Rezim Zionis Israel, namun peran
Syiah di pemerintahan masih sangat kecil. Padahal, Syiah adalah
mayoritas di negara itu. Di seluruh wilayah Timur Tengah, kaum Syiah
hanya memegang kekuasaan di dua negara, yaitu Iran dan Irak.
Selain Iran, Irak, Bahraian dan Lebanon, di seluruh
negara Timur Tengah, Syiah tidak menempati posisi mayoritas dan kelompok
muslim Sunni memegang kenbdali pemerintahan sejak dahulu sampai kini. Di
sejumah negara, kaum Syiah bahkan ditekan dan diperlakukan secara
diskriminatif. Karena itu dapat disimpulkan bahwa isu Hilal Syiah yang
digembar-gemborkan saat ini, tak lebih dari kamuflase belaka untuk
kepentingan politik kekuatan-kekuatan imperialis dunia. Sebab dengan
memompa isu ini, mereka berharap bisa mnengadu domba antara muslim Syiah
dan Sunni.
Ada satu pertanyaan penting. Mengapa sejumlah
negara dan media di negara-negara muslim ikut mengungkapkan isu yang
sama? Tak diragukan bahwa eskalasi pertentangan dan perselisihan di
tengah umat Islam hanya menguntungkan musuh-musuh mereka, terutama AS
dan Rezim Zionis Israel. Jajak pendapat menunjukkan bahwa sejak
peristiwa teror 11 September dan penduduka atas Irak, umat Islam di
dunia semakin membenci AS. Untuk itu, salah satu cara melemahkan kaum
muslimin adalah dengan menebar permusuhan antara Syiah dan Sunni dengan
isu picisan, ancaman Hilal Syiah.
Sejak serangan AS ke Afghanistan pada tahun 2001
dan pasca pendudukan Irak, telah dilakukan berbagai jajak pendapat
khusus dengan responden muslim. Hasil polling itu menunjukkan bahwa
kebencian umat Islam terhadap AS kian meningkat. Dengan demikian,
pengalihan perhatian opini umat Islam terhadap Bulan Sabit Syiah dan
ancaman infaktualnya terhadap dunia Islam, akan sangat menguntungkan
pihak musuh.
Salah satu tujuan di balik propaganda Bulan Sabit
Syiah dan gerakan anti-Syiah di Timur Tengah adalah upaya untuk
mereduksi dukungan masyarakat regional terhadap organisasi atau gerakan
anti-AS dan Rezim Zionis seperti Hezbollah di Lebanon. Di pihak lain,
para penguasa negara-negara kawasan yang mengemukakan masalah Bulan
Sabit Syiah, berupaya menampilkan sebagai pendukung interes AS di
hadapan ancaman umat Syiah. Dalam hal ini, journal Dewan Hubungan Luar
Negeri AS menyebutkan poin ini bahwa ketika Raja Jordania Abdullah II
berbicara tentang Bulan Sabit Syiah, maksudnya adalah ia akan menjaga
seluruh kepentingan AS di kawasan dengan harapan AS juga akan
berinvestasi di Jordania.
Tak diragukan lagi bahwa konflik dan perpecahan
antara Syiah dan Sunni yang diupayakan AS akan membuka medan konfrontasi
antara negara-negara Islam. Kondisi seperti itu adalah yang paling ideal
bagi Gedung Putih. Apalagi propaganda tersebut diamini oleh sejumlah
media massa Arab dengan menebar isu anti-Republik Islam Iran dengan
alasan anti-Syiah. Contohnya, Presiden Mesir, Hosni Mobarak, pasca
kemenangan Hezbolah Lebanon melawan Rezim Zionis Israel mengatakan, "Orang-orang
Syiah di negara-negara Arab lebih loyal terhadap Republik Islam Iran
daripada tanah air mereka sendiri". Klaim Mobarak itu ditentang keras
warga Syiah Arab dan menilainya sebagai sebuah penghinaan.
Klaim itu jelas sangat infaktual mengingat sejarah
membuktikan bahwa mereka sangat loyal terhadap bangsa dan tanah air
mereka. Contohnya dapat dilihat dalam perjuangan Hezbollah Lebanon
melawan Rezim Zionis Israel atau para pejuang Syiah Irak dalam melawan
pasukan Inggris pada awal abad ke 20 lalu. Perhatian warga Syiah Arab
terhadap Iran berlandaskan pada ikatan batin saja dan tidak berarti
ketidakloyalan mereka terhadap bangsa sendiri.
Para pengamat berpendapat bahwa klaim-klaim
infaktual terhadap Republik Islam Iran soal intervensinya di negara dan
lembaga Syiah di kawasan, adalah untuk melemahkan peran konstruktif Iran
di dunia Islam. Karena Republik Islam Iran dengan independensi dan
penentangannya terhadap kebijakan konfrontatif AS, menjadi model sistem
pemerintahan Islam di dunia. Bahkan selama ini Iran selalu mengupayakan
kekompakan dunia Islam. Ini semua merupakan refleksi dari ajaran Islam
yang selalu menekankan persatuan, solidaritas, kekompakan, dan
mengindari perpecahan dan konflik. Dukungan Iran terhadap bangsa
Palestina, Lebanon, Afghanistan, Bosnia, dan negara Islam lainnya,
membuktikan bahwa Republik Islam Iran pendukung seluruh umat Islam baik
Syiah maupun Sunni. Republik Islam Iran mendukung penuh persatuan umat
Islam di hadapan arogansi AS dan negara-negara Barat lainnya.
|