|
Republik Islam Iran, Simbol Perlawanan Terhadap
Kezaliman
Perlawanan terhadap
kezaliman adalah di antara karasteristik utama revolusi Islam. Namun,
karakter perlawanan terhadap kezaliman ini tidak terbentuk di tengah
bangsa Iran pasca kemenangan revolusi Islam, melainkan telah terbentuk
sejak jauh hari sebelumnya. Para ulama Iran sejak ratusan tahun sebelum
kemenangan revolusi telah menanamkan ajaran Islam kepada bangsa Iran,
terutama yang terkait dengan perlawanan terhadap kezaliman. Sepanjang
sejarah bangsa Iran berkali-kali bangkit melawan pemerintahan yang zalim,
dan akhirnya perjuangan itu mencapai kemenangan pada tahun 1979.
Pada bulan Juni 1963,
bangsa Iran bangkit menentang arogansi pemerintahan monarkhi dan campur
tangan asing. Mereka turun ke jalan-jalan berdemonstrasi meneriakkan
penentangan mereka. Pada saat itu, pemerintahan monarkhi Iran yang
berada di bawah kendali AS merepresi rakyat dan melakukan berbagai
perampokan terhadap kekayaan bangsa. Di saat rakyat mengalami tekanan
dan hidup dalam kemiskinan, Rezim Shah Pahlevi justru menawarkan
berbagai insentif yang luar biasa kepada negara-negara asing. AS selama
bertahun-tahun pasca Perang Dunia II selain mendukung sistem imperium
Iran yang zalim, juga mengabaikan hak-hak asasi bangsa Iran. Pada saat
itu, AS sepenuhnya berhasil mengendalikan Iran dan secara leluasa
mengeruk kekayaan bangsa Iran. Bahkan, pada zaman itu sempat
diberlakukan undang-undang kapitulasi, yang membebaskan warga AS dari
segala bentuk tuntutan hukum selama berada dalam wilayah Iran.
AS baru menghadapi
kendala serius dalam mengendalikan Iran pada awal dekade 60-an. Pada
saat itu, Imam Khomeini di awal dekade 1960 untuk pertama kalinya
mendeklarasikan penentangannya terhadap Rezim Shah Pahlavi dan menuntut
kemerdekaan bangsa Iran dari belenggu negara-negara imperialis. Imam
Khomeini menyerukan kepada rakyat Iran agar menolak segala bentuk
kezaliman dan kesewenang-wenangan. Bangsa Iran pun menyambut seruan ini
dan pada bulan Juni 1963 mereka bangkit menyerukan penggulingan rezim
monarkhi. Dalam menghadapi demonstrasi ini, rezim Shah melakukan
tindakan yang sangat represif. Para pejuang dibantai dan para ulama
diasingkan. Imam Khomeini sebagai pemimpin pergerakan rakyat Iran juga
diasingkan ke luar negeri.
Kegagalan kebangkitan
tahun1963 tak menghentikan semangat bangsa Iran untuk melanjutkan
perlawanan terhadap kezaliman. Meskipun Imam Khomeini berada di
pengasingan, beliau tak henti-henti menyeru rakyat agar tak menyerah di
hadapan segala bentuk despotisme. Pidato-pidato Imam Khomeini di luar
negeri direkam dan dikirim secara sembunyi-sembunyi ke Iran lalu
disebarluaskan kepada masyarakat. Akhirnya, pada tahun 1978, bangsa Iran
kembali bangkit dan turun ke jalan-jalan untuk menyerukan penggulingan
rezim kerajaan yang selama ini selalu mengkhianati mereka. Slogan utama
yang disuarakan bangsa Iran dalam demonstrasi-demonstrasi itu adalah
kemenangan revolusi, independensi, kemerdekaan, dan Republik Islam.
Kemerdekaan yang dituntut bangsa Iran dapat disetarakan dengan bentuk
penolakan total terhadap kezaliman dan hegemoni.
Akhirnya, pada awal
tahun 1979, revolusi Islam meraih kemenangannya dan Republik Islam pun
berdiri. Selanjutnya, Imam Khomeini sebagai pemimpin revolusi Islam
tidak pernah berhenti mengingatkan rakyat Iran dan bangsa-bangsa di
dunia, bahwa sumber kesengsaraan kaum tertindas adalah imperialisme dan
hegemoni negara-negara asing, khususnya AS. Untuk itu, bangsa Iran dan
semua bangsa di dunia harus mewaspadai segala langkah AS yang memang
selalu ingin menguasai negara-negara berkembang demi kepentingannya
sendiri. Ideologi politik Imam Khomeini merupakan pondasi dasar sistem
Republik Islam Iran. Oleh karenanya, Republik Islam yang tercermin dalam
pemikiran politik Imam Khomeini menjadi sebuah simbol perlawanan
terhadap kezaliman dan arogansi di dunia.
Perlawanan terhadap
kezaliman yang dilakukan Republik Islam Iran menembus batasan geografi
dan meliputi seluruh penjuru dunia. Deklarasi revolusi Islam dapat
dipahami sebagai landasan yang menyuarakan persatuan kaum tertindas di
dunia secara umum dan di dunia Islam secara khusus. Iran selalu
menyerukan agar dunia diatur secara adil dan negara-negara adidaya tidak
berhak memaksakan kepentingannya kepada negara-negara lain di dunia.
Iran juga tidak pernah
henti mengecam tindakan penjajahan dan brutalitas Rezim Zionis di
kawasan Palestina pendudukan. Selain mengecam, Iran juga melakukan
langkah nyata untuk membantu bangsa Palestina, dengan mengirimkan
bantuan dana sebesar ratusan milyar dollar. Iran juga membantu negara
tetangganya Irak, yang porak-poranda akibat serangan AS, dengan
mengirimkan bahan makanan dan membantu proses rekonstruksi di sana.
Segala langkah Iran
dalam menentang imperialisme Barat, khususnya AS, telah menimbulkan
kemarahan negara-negara imperialis itu. Mereka pun tak henti-hentinya
melancarkan berbagai konspirasi dalam menekan Iran. Bahkan, ketika gagal
dalam usaha menguasai Irak, mendominasi Lebanon, atau menekan kelompok
pejuang Palestina, AS menuding Iran mengintervensi urusan negara-negara
lain. Dengan makar ini, mereka berharap dapat mengandaskan kredibilitas
Iran di mata dunia. AS dan sekutu-sekutunya juga berusaha menyeret
konflik di Irak kepada konflik regional. Mereka berusaha mengadu-domba
negara-negara di sekitar Irak, terutama Iran. Namun sejarah telah
menunjukkan hakikat revolusi Islam Iran kepada negara-negara tetangga
Iran, sehingga mereka tidak terjebak dalam usaha pemecahbelahan itu. Di
sisi lain, bangsa Iran pun tetap berupaya keras mempertahankan
nilai-nilai revolusi Islam meski hal ini harus dibayar mahal.
Menjelang memperingati
Hari Kemenangan Revolusi Islam Iran ke-28, Iran masih terus melangkah
maju tanpa rasa gentar sedikit pun, meski negara ini harus dihadapkan
dengan berbagai tekanan yang luar biasa dan terus-menerus dari pelbagai
pihak. Namun tak diragukan lagi, Iran yang sudah memasuki tiga dekade
sejak menangnya revolusi negara ini kini tampil sebagai negara tangguh
yang mampu mengkandaskan segala makar dan ancaman pihak asing.
|