Perspektif    

   Februari 2007

[ Index Politik ] [[ Home ]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

"NATO Kebudayaan" Seiring dengan NATO Militer

Dari Perang Dunia kedua yang menghancur-leburkan sejumlah negara, muncul dua negara super power, AS dan Uni Soviet. Setelah itu AS dan para sekutunya, dengan berpijak pada idiologi liberalisme, berhadap-hadapan dengan Uni Soviet dan para sekutunya yang beridiologi sosialisme. Konfrontasi dua kubu ini di bidang militer, dapat dilihat dari pembentukan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dan Pakta Warsawa, yang menciptakan suasana perang dingin selama bertahun-tahun di dunia, terutama di Eropa. Di awal dekade 90, dengan melemah dan kemudian runtuhnya Uni Soviet, Pakta Warsawa pun ikut bubar. Adapun NATO yang dipimpin AS, meskipun sudah tidak lagi memiliki alasan untuk mempertahankan wujudnya, bukan hanya tidak bubar, bahkan berusaha melebarkan pengaruhnya, dengan menerima negara-negara Eropa Timur sebagai anggotanya, dan berniat memasukkan negara-negara bekas Uni Soviet dan beberapa negara Asia, ke dalamnya. NATO masih belum puas hanya dengan langkah-langkah perluasan pengaruh militer ini, dan berusaha pula melebarkan pengaruhnya ke negara-negara berkembang di bidang kebudayaan.

Baru-baru ini, Ayatullah Udhma Sayid Ali Khamenei, Rahbar Revolusi Islam Iran, mengingatkan masalah ini. Beliau mengatakan, "Mafia-mafia internasional yang dulu membentuk lembaga militer NATO dengan tujuan menguasai kepentingan-kepentingan berbagai bangsa, kini berusaha pula membentuk NATO di bidang kebudayaan, dan dengan mengerahkan kekuatan media massa, mereka berusaha memegang kendali perubahan-perubahan politik, ekonomi, sosial dan kebudayaan negara dan bangsa-bangsa lain. Masalah ini harus diamati dengan cermat."

Kata-kata Rahbar Revolusi ini berbicara tentang sebuah fenomena yang berakar di zaman imperialisme negara-negara Barat masa lalu, yang kini muncul dalam bentuk NATO kebudayaan. Di masa lalu, setelah menjajah negara-negara dunia ketiga, para imperialis Barat berusaha mengubah kebudayaan mereka menjadi kebudayaan yang hina dan menyerah di depan negara-negara asing. Karena jika rakyat sudah terikat dan bergantung kepada kekuatan-kekuatan imperialis di bidang kebudayaan dalam arti luasnya, maka mereka tidak akan melakukan perlawanan berarti terhadap perampasan kekayaan mereka. Setelah Perang Dunia kedua, dan neoimperialisme muncul, usaha merendahkan dan menciptakan ketergantungan berbagai bangsa ini masih terus berlanjut. Pasca runtuhnya Uni Soviet, negara-negara Barat memusatkan upaya mereka ke negara-negara berkembang, untuk semakin menguasai negara-negara ini dengan kekuatan yang lebih besar.

Akan tetapi, saat ini, munculnya kebangkitan Islam dan perlawanan muslimin menghadapi ekspansionisme NATO, telah menghadapkan organisasi militer ini kepada sebuah kekuatan baru yang berbeda dengan Uni Soviet, yang keistimewaannya tidak terletak dalam kekuatan militer, tapi energi penggeraknya ialah kebudayaan Islam yang kaya dan sangat mengakar. Dalam beberapa tahun lalu, AS, Inggris dan beberapa negara lain anggota NATO, menggempur dua negara Islam Afganistan dan Irak, lalu menjajah keduanya. Akan tetapi setelah beberapa waktu berlalu, mereka menyadari bahwa mereka telah gagal dalam rencana mereka; dan meskipun memiliki peralatan militer yang serba moderen, cepat atau lambat, mereka terpaksa harus angkat kaki dari dua negara tersebut. Serangan militer besar-besaran rezim zionis ke Lebanon, yang digelar dengan dorongan dan dukungan luas AS, juga berakhir dengan kekalahan memalukan di pihak agresor.

Alakulihal, dengan meningkatnya kebangkitan Islam, yang telah memberikan pahitnya kekalahan negara-negara anggota NATO di negara-negara Islam, membuat mereka meningkatkan usaha untuk melemahkan unsur-unsur perlawanan di tengah muslimin. Islam adalah semangat perlawanan ini. Untuk itulah NATO memusatkan usahanya dalam menghadapi kebangkitan Islam dengan mengerahkan sarana-sarana kebudayaan dalam rangka mendukung program-program ekspansi militernya. Mehdi Fadlaili, Dirjen Kantor Berita Fars, iran, dalam masalah ini mengatakan, "Dewasa ini dapat dilihat bahwa secara tidak resmi, dunia Barat membentuk organisasi-organisasi di bidang kebudayaan, dan membentuk NATO kebudayaan."

Tujuan utama pembentukan NATO kebudayan tak lain ialah tujuan-tujuan yang diincar pula oleh para imperialis lama, yaitu menguasai dan merampas sumber-sumber kekayaan negara-negara lemah. Dengan cara seperti ini, negara-negara imperialis memperoleh kekayaan besar untuk membangun dan menyukseskan program-program mereka. Sebaliknya negara-negara dunia ketigalah yang menanggung kerugian-kerugian besar yang tak dapat lagi diperbaiki. Tak diragukan bahwa dalam kondisi saat ini, dimana kebangkitan Islam di dunia telah muncul sebagai penghalang besar imperialisme Barat, maka NATO kebudayaan telah memasukkan tujuan-tujuan lain ke dalam agenda kerjanya. Aksi-aksi destruktif ini bertujuan mencegah kehidupanbaru peradaban Islam yang besar. Karena dalam beberapa waktu lalu, peradaban ini telah memulai lagi pertumbuhan dan kemunculannya, dan telah memberikan harapan masa depan yang cerah bagi umat Islam.

Tujuan-tujuan lain NATO kebudayaan ialah menciptakan perpecahan diantara muslimin. Negara-negara Barat menyadari bahwa perpecahan akan memperlambat pertumbuhan peradaban Islam dan akan membuat muslimin lalai dari masalah-masalah utama mereka. Dengan demikian maka kekuatan-kekuatan imperialisakan dapat menguasai dan menjajah mereka. NATO kebudayaan berusaha menyingkirkan Islam yang murni dari kehidupan muslimin dan menghidupkan idiologi sekuler di tengah masyarakat Islam. Penyebaran kejumudan dan pemutarbalikan hakekat ajaran agama di sejumlah negara Islam, demikian pula penebaran budaya pornografi dan dekadensi moral, dilancarkan oleh dunia Barat dengan tujuan-tujuan tersebut.

Dr Muhammad Reza Nari Abyaneh, seorang pakar masalah kebudayaan, meyakini bahwa NATO kebudayaan tidak memiliki batas-batas geografis dan tidak membeda-bedakan etnis dan kewarganegaraan. Ia hanya mengincar satu tujuan, yaitu membentuk identitas global yang berdiri di atas idiologi sekuler. Dengan demikian, berbeda dari NATO militer, NATO kebudayaan mencakup seluruh dunia dan tidak mengenal batas-batas negara. Singkatnya, kedua NATO ini sama-sama berusaha menguasai dunia, hanya saja yang satu di bidang militer dan yang lain di bidang kebudayaan. Untuk mencapai tujuan-tujuannya, NATO kebudayaan mengerahkan segenap fasilitas dan metode. Umpamanya, untuk merusak dan menggeser kebudayaan muslimin, Barat menciptakan filem-filem porno yang mereka sebarluaskan melalui satelit, TV, bioskop, CD dan Vidio. Dewasa ini internet dan permainan-permainan komputer atau game, dijadikan sebagai alat penyebar kekerasan, kebebasan dan jalan untuk memaksakan kebudayaan Barat kepada masyarakat Timur.

Penyebaran bahan-bahan narkoba, gaya hidup dan pakaian yangtidak sesuai, serta propaganda-propaganda menyesatkan lainnya dari Barat, semuanya merupakan alat dan saran untuk melemahkan akidah dan semangat agama umat Islam. Dari sisi lain, berbagai kantor dan jaringan berita, media massa dan situs-situs internet Barat, menyajikan berita-berita, laporan-laporan dan analisa yang tidak realistis tentang kondisi umat Islam. Kejelekan dan kemunduran musliminlah yang seringkali mereka beritakan; sebaliknya kemajuan dan kemoderenan Barat yang mereka tonjolkan. Semua itu dalam rangka melemahkan mentalitas umat Islam dan mengajak mereka untuk bergantung kepada Barat.

Sesungguhnya dunia Islam juga memiliki kemampuan dan kekuatan untuk menghadapi NATO kebudayaan ini. Keistimewaan terpenting umat Islam ialah ajaran agama mereka, yang memberikan identitas dan semangat hidup yang tinggi kepada mereka, dan mengajak kepada persatuan, perlawanan terhadap kezaliman dan rasialisme, serta menekankan kewaspadaan dalam menghadapi gerak-gerik musuh. Proses kembalinya muslimin kepadaagama yang mulia ini telah memberikan harapan besar kepada umat Islam. Meningkatnya kesadaran muslimin dan kewaspadaan mereka terhadap tipu muslihat musuh, membuat mereka mengerti bahwa mula-mula mereka harus mengenal cara kerja NATO kebudayaan, dan kedua hendaknya mereka tidak terjebak ke dalam perpecahan dunia Islam.

Peningkatan persatuan Islam jelas akan dapat meningkatkan kekuatan dan kewibawaan muslimin di depan NATO Kebudayaan. Jika negara-negara Barat memiliki dan menggunakan sarana-sarana moderen untuk melancarkan serangan kebudayaan terhadap muslimin, maka musliminpun seharusnya memiliki sarana yang sama untuk menangkis dan membalas serangan musuh ini. Harus diingat bahwa NATO kebudayaan dapat berperan sebagai pembuka jalan campur tangan militer negara-negara besar di negara-negara berkembang. Semua itu menuntut umat Islam untuk meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan, dan selalu mengingtakan mereka untuk menjaga dan memperkuat persatuan diantara mereka.

 

 

 

[ Index Perspektif ]   [ Home ]