|
"NATO Kebudayaan" Seiring
dengan NATO
Militer
Dari Perang Dunia kedua yang
menghancur-leburkan sejumlah negara, muncul dua negara super power, AS
dan Uni Soviet. Setelah itu AS dan para sekutunya, dengan berpijak pada
idiologi liberalisme, berhadap-hadapan dengan Uni Soviet dan para
sekutunya yang beridiologi sosialisme. Konfrontasi dua kubu ini di
bidang militer, dapat dilihat dari pembentukan Pakta Pertahanan Atlantik
Utara (NATO) dan Pakta Warsawa, yang menciptakan suasana perang dingin
selama bertahun-tahun di dunia, terutama di Eropa. Di awal dekade 90,
dengan melemah dan kemudian runtuhnya Uni Soviet, Pakta Warsawa pun ikut
bubar. Adapun NATO yang dipimpin AS, meskipun sudah tidak lagi memiliki
alasan untuk mempertahankan wujudnya, bukan hanya tidak bubar, bahkan
berusaha melebarkan pengaruhnya, dengan menerima negara-negara Eropa
Timur sebagai anggotanya, dan berniat memasukkan negara-negara bekas Uni
Soviet dan beberapa negara Asia, ke dalamnya. NATO masih belum puas
hanya dengan langkah-langkah perluasan pengaruh militer ini, dan
berusaha pula melebarkan pengaruhnya ke negara-negara berkembang di
bidang kebudayaan.
Baru-baru ini,
Ayatullah Udhma Sayid Ali Khamenei, Rahbar Revolusi Islam Iran,
mengingatkan masalah ini. Beliau mengatakan, "Mafia-mafia internasional
yang dulu membentuk lembaga militer NATO dengan tujuan menguasai
kepentingan-kepentingan berbagai bangsa, kini berusaha pula membentuk
NATO di bidang kebudayaan, dan dengan mengerahkan kekuatan media massa,
mereka berusaha memegang kendali perubahan-perubahan politik, ekonomi,
sosial dan kebudayaan negara dan bangsa-bangsa lain. Masalah ini harus
diamati dengan cermat."
Kata-kata
Rahbar Revolusi ini berbicara tentang sebuah fenomena yang berakar di
zaman imperialisme negara-negara Barat masa lalu, yang kini muncul dalam
bentuk NATO kebudayaan. Di masa lalu, setelah menjajah negara-negara
dunia ketiga, para imperialis Barat berusaha mengubah kebudayaan mereka
menjadi kebudayaan yang hina dan menyerah di depan negara-negara asing.
Karena jika rakyat sudah terikat dan bergantung kepada kekuatan-kekuatan
imperialis di bidang kebudayaan dalam arti luasnya, maka mereka tidak
akan melakukan perlawanan berarti terhadap perampasan kekayaan mereka.
Setelah Perang Dunia kedua, dan neoimperialisme muncul, usaha
merendahkan dan menciptakan ketergantungan berbagai bangsa ini masih
terus berlanjut. Pasca runtuhnya Uni Soviet, negara-negara Barat
memusatkan upaya mereka ke negara-negara berkembang, untuk semakin
menguasai negara-negara ini dengan kekuatan yang lebih besar.
Akan tetapi,
saat ini, munculnya kebangkitan Islam dan perlawanan muslimin menghadapi
ekspansionisme NATO, telah menghadapkan organisasi militer ini kepada
sebuah kekuatan baru yang berbeda dengan Uni Soviet, yang
keistimewaannya tidak terletak dalam kekuatan militer, tapi energi
penggeraknya ialah kebudayaan Islam yang kaya dan sangat mengakar. Dalam
beberapa tahun lalu, AS, Inggris dan beberapa negara lain anggota NATO,
menggempur dua negara Islam Afganistan dan Irak, lalu menjajah keduanya.
Akan tetapi setelah beberapa waktu berlalu, mereka menyadari bahwa
mereka telah gagal dalam rencana mereka; dan meskipun memiliki peralatan
militer yang serba moderen, cepat atau lambat, mereka terpaksa harus
angkat kaki dari dua negara tersebut. Serangan militer besar-besaran
rezim zionis ke Lebanon, yang digelar dengan dorongan dan dukungan luas
AS, juga berakhir dengan kekalahan memalukan di pihak agresor.
Alakulihal,
dengan meningkatnya kebangkitan Islam, yang telah memberikan pahitnya
kekalahan negara-negara anggota NATO di negara-negara Islam, membuat
mereka meningkatkan usaha untuk melemahkan unsur-unsur perlawanan di
tengah muslimin. Islam adalah semangat perlawanan ini. Untuk itulah NATO
memusatkan usahanya dalam menghadapi kebangkitan Islam dengan
mengerahkan sarana-sarana kebudayaan dalam rangka mendukung
program-program ekspansi militernya. Mehdi Fadlaili, Dirjen Kantor
Berita Fars, iran, dalam masalah ini mengatakan, "Dewasa ini dapat
dilihat bahwa secara tidak resmi, dunia Barat membentuk
organisasi-organisasi di bidang kebudayaan, dan membentuk NATO
kebudayaan."
Tujuan utama
pembentukan NATO kebudayan tak lain ialah tujuan-tujuan yang diincar
pula oleh para imperialis lama, yaitu menguasai dan merampas
sumber-sumber kekayaan negara-negara lemah. Dengan cara seperti ini,
negara-negara imperialis memperoleh kekayaan besar untuk membangun dan
menyukseskan program-program mereka. Sebaliknya negara-negara dunia
ketigalah yang menanggung kerugian-kerugian besar yang tak dapat lagi
diperbaiki. Tak diragukan bahwa dalam kondisi saat ini, dimana
kebangkitan Islam di dunia telah muncul sebagai penghalang besar
imperialisme Barat, maka NATO kebudayaan telah memasukkan tujuan-tujuan
lain ke dalam agenda kerjanya. Aksi-aksi destruktif ini bertujuan
mencegah kehidupanbaru peradaban Islam yang besar. Karena dalam beberapa
waktu lalu, peradaban ini telah memulai lagi pertumbuhan dan
kemunculannya, dan telah memberikan harapan masa depan yang cerah bagi
umat Islam.
Tujuan-tujuan
lain NATO kebudayaan ialah menciptakan perpecahan diantara muslimin.
Negara-negara Barat menyadari bahwa perpecahan akan memperlambat
pertumbuhan peradaban Islam dan akan membuat muslimin lalai dari
masalah-masalah utama mereka. Dengan demikian maka kekuatan-kekuatan
imperialisakan dapat menguasai dan menjajah mereka. NATO kebudayaan
berusaha menyingkirkan Islam yang murni dari kehidupan muslimin dan
menghidupkan idiologi sekuler di tengah masyarakat Islam. Penyebaran
kejumudan dan pemutarbalikan hakekat ajaran agama di sejumlah negara
Islam, demikian pula penebaran budaya pornografi dan dekadensi moral,
dilancarkan oleh dunia Barat dengan tujuan-tujuan tersebut.
Dr Muhammad
Reza Nari Abyaneh, seorang pakar masalah kebudayaan, meyakini bahwa NATO
kebudayaan tidak memiliki batas-batas geografis dan tidak
membeda-bedakan etnis dan kewarganegaraan. Ia hanya mengincar satu
tujuan, yaitu membentuk identitas global yang berdiri di atas idiologi
sekuler. Dengan demikian, berbeda dari NATO militer, NATO kebudayaan
mencakup seluruh dunia dan tidak mengenal batas-batas negara. Singkatnya,
kedua NATO ini sama-sama berusaha menguasai dunia, hanya saja yang satu
di bidang militer dan yang lain di bidang kebudayaan. Untuk mencapai
tujuan-tujuannya, NATO kebudayaan mengerahkan segenap fasilitas dan
metode. Umpamanya, untuk merusak dan menggeser kebudayaan muslimin,
Barat menciptakan filem-filem porno yang mereka sebarluaskan melalui
satelit, TV, bioskop, CD dan Vidio. Dewasa ini internet dan
permainan-permainan komputer atau game, dijadikan sebagai alat penyebar
kekerasan, kebebasan dan jalan untuk memaksakan kebudayaan Barat kepada
masyarakat Timur.
Penyebaran
bahan-bahan narkoba, gaya hidup dan pakaian yangtidak sesuai, serta
propaganda-propaganda menyesatkan lainnya dari Barat, semuanya merupakan
alat dan saran untuk melemahkan akidah dan semangat agama umat Islam.
Dari sisi lain, berbagai kantor dan jaringan berita, media massa dan
situs-situs internet Barat, menyajikan berita-berita, laporan-laporan
dan analisa yang tidak realistis tentang kondisi umat Islam. Kejelekan
dan kemunduran musliminlah yang seringkali mereka beritakan; sebaliknya
kemajuan dan kemoderenan Barat yang mereka tonjolkan. Semua itu dalam
rangka melemahkan mentalitas umat Islam dan mengajak mereka untuk
bergantung kepada Barat.
Sesungguhnya
dunia Islam juga memiliki kemampuan dan kekuatan untuk menghadapi NATO
kebudayaan ini. Keistimewaan terpenting umat Islam ialah ajaran agama
mereka, yang memberikan identitas dan semangat hidup yang tinggi kepada
mereka, dan mengajak kepada persatuan, perlawanan terhadap kezaliman dan
rasialisme, serta menekankan kewaspadaan dalam menghadapi gerak-gerik
musuh. Proses kembalinya muslimin kepadaagama yang mulia ini telah
memberikan harapan besar kepada umat Islam. Meningkatnya kesadaran
muslimin dan kewaspadaan mereka terhadap tipu muslihat musuh, membuat
mereka mengerti bahwa mula-mula mereka harus mengenal cara kerja NATO
kebudayaan, dan kedua hendaknya mereka tidak terjebak ke dalam
perpecahan dunia Islam.
Peningkatan
persatuan Islam jelas akan dapat meningkatkan kekuatan dan kewibawaan
muslimin di depan NATO Kebudayaan. Jika negara-negara Barat memiliki dan
menggunakan sarana-sarana moderen untuk melancarkan serangan kebudayaan
terhadap muslimin, maka musliminpun seharusnya memiliki sarana yang sama
untuk menangkis dan membalas serangan musuh ini. Harus diingat bahwa
NATO kebudayaan dapat berperan sebagai pembuka jalan campur tangan
militer negara-negara besar di negara-negara berkembang. Semua itu
menuntut umat Islam untuk meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan, dan
selalu mengingtakan mereka untuk menjaga dan memperkuat persatuan
diantara mereka.
|