|
Makar Baru
Rezim Zionis Terhadap Masjid Al-Aqsha
Masjid Al-Aqsha dapat
dikategorikan sebagai tempat yang paling tertindas di dunia. Bangunan
ini mempunyai nilai yang luar biasa di mata berbagai agama samawi, yang
kini tengah terancam dihancurkan oleh Rezim Zionis. Setiap saat, Rezim
Zionis terus mencari berbagai alasan untuk menghancurkan Masjid Al-Aqsha.
Upaya terakhir Rezim Zionis dalam rangka menghancurkan masjid ini ialah
langkahnya merobohkan pintu gerbang bagian barat Masjid Al-Aqsha, yang
mereka lakukan sejak hari Senin lalu, tanggal 6 Februari. Hingga saat
ini, Rezim Zionis telah menghancurkan dua ruangan besar yang berlokasi
di bawah tembok pintu gerbang tersebut, dengan alasan akan membangun
sebuah jembatan yang akan memudahkan warga Zionis Baitul Maqdis
menjangkau Masjid Al-Aqsha. Dengan kata lain, perusakan ini dilakukan
dengan alasan mempermudah mondar-mandirnya warga zionis ke masjid Al-Aqsha.
Hingga kini, rezim
zionis telah melakukan berbagai upaya guna menghancurkan Masjid Al-Aqsha.
Upaya mereka yang paling penting mereka lakukan pada tahun 1969, yaitu
ketika mereka berupaya membakar Masjid ini. Sejak itu hingga kini, Rezim
Zionis berkali-kali berupaya menghancurkan bangunan bersejarah ini baik
secara langsung maupun tak langsung. Upaya-upaya penghancuran ini
sengaja dilakukan karena menurut klaim Zionis Israel, ada Kuil Sulaiman
di bawah Masjid tersebut. Menurut keyakinan Zionis Israel, masa
kemunculan juru selamat telah tiba, sedangkan untuk menyegerakan
kemunculannya, Masjid Al-Aqsha harus dihancurkan dan Kuil Sulaiman harus
dibangun kembali.
Kuil Sulaiman dibangun
oleh Nabi Sulaiman as sekitar tiga ribu tahun lalu. Namun empat abad
kemudian, Kuil Sulaiman dihancurkan oleh kaum Babilonia. Kuil Sulaiman
kembali dibangun oleh emperium Roma, 70 tahun setelah kelahiran Nabi Isa
as. Sementara itu, sejumlah pakar sejarah dan arkeolog terkemuka
meragukan sejarah penghancuran Kuil Sulaiman di bawah masjid Al-Aqsha.
Setelah melakukan riset panjang dan berkali-kali meninjau Masjid ini,
Maier Boun Douf, seorang arkeolog terkenal di tahun
2004 menyatakan, “Kuil Sulaiman tidak berada di bawah Masjid Al-Aqsha;
dan dapat dipastikan bahwa hal ini termasuk di antara mitos-mitos yang
dibuat oleh Rezim Zionis untuk membubuhkan nuansa religius pada
eksistensi Zionis Israel yang illegal.” Pandangan semacam ini juga
dikuatkan oleh sejumlah pakar independen setelah melakukan riset penjang.
Meski demikian, Rezim Zionis masih terus melakukan penggalian di bawah
Masjid Al-Aqsha, dan hingga kini penggalian masih terus berlanjut karena
mereka masih belum berhasil menemukan sedikitpun tanda yang menunjukkan
keberadaan Kuil Sulaiman.
Dikatakan pula, ada 25
kelompok ekstrim Rezim Zionis di Palestina pendudukan dan Tepi Barat
Sungai Jordan yang aktif menuntut penghancuran Masjid Al-Aqsha.
Kelompok-kelompok inilah yang telah melakukan langkah-langkah konkret
untuk penghancuran masjid ini, seperti membuat terowongan di bawah
masjid Baitul Maqdis guna menghancurkan pondasi-pondasi bangunan masjid
tersebut, menutup saluran air dan menghancurkan bagian-bagian masjid
tersebut. Di tahun 1980, terjadi berbagai serangan Rezim Zionis terhadap
Masjid Al-Aqsha yang saat itu mendapat perlawanan bangsa Palestina dan
menyebabkan sejumlah orang Palestina gugur syahid. Di dekade 1990,
penggalian terhadap Masjid ini dilakukan berkali-kali, yang diantaranya
adalah pembuatan terowongan yang diresmikan oleh Perdana Menteri Rezim
Zionis saat itu, Benyamin Netanyahu, pada tahun 1996. Peresmian
terowongan itu juga mengundang berbagai penentangan yang menyebabkan
sejumlah warga Palestina gugur syahid.
Upaya Rezim Zionis kali
ini untuk menghancurkan Masjid Al-Aqsha yang mendapat lampu hijau dari
AS, kembali membangkitkan penentangan dari berbagai kalangan dunia
Islam, Kristen, dan sejumlah lembaga dunia. Karena perusakan ini selain
dinilai sebagai pelecehan terhadap perasaan jutaan pemeluk agama-agama
samawi, juga dapat disebut sebagai perusakan terhadap tempat bersejarah
yang sangat sakral. Organisasi Pendidikan Ilmu Pengetahuan dan
Kebudayaan PBB (UNESCO) dalam mereaksi langkah rezim zionis
menghancurkan pintu gerbang barat Masjid Al-Aqsha, mengeluarkan
pernyataan yang isinya menyebutkan bahwa tempat sakral tersebut milik
tiga agama samawi, Islam, Kristen dan Yahudi. Dinyatakannya pula,
“Berdasarkan konvensi PBB, berkenaan dengan masalah pelestarian budaya
dan peninggalan sejarah serta pemeliharaan cagar alam di seluruh dunia,
maka bangunan-bangunan lama di kota Baitul Maqdis harus dijaga.”
Sementara itu, dengan berbagai tipu muslihat, seperti pembangunan
kawasan-kawasan permukiman zionis, pengusiran bangsa Palestina dari
Baitul Maqdis, pemusnahan lahan-lahan pertanian mereka, dan sebagainya,
berupaya mengubah tata sosial Baitul Maqdis timur, dimana tujuan akhir
mereka ialah merealisasikan niat-niat buruk mereka, termasuk
penghancuran Masjid Al-Aqsha.
Terkait masalah ini,
Ketua Dewan Pengurus Jabal Amil Lebanon, Sheikh Afif Nablusi mengatakan,
“Rezim Zionis berupaya mengubah identitas Baitul Maqdis, dengan
memusnahkan berbagai penginggalan sejarah dan geografi agama kawasan ini.”
Namun, dalam melaksanakan makarnya ini rezim zionis masih terus dihantui
rasa cemas terhadap reaksi umat Islam dalam skala luas yang tak akan
membiarkan Masjid yang merupakan kiblat pertama muslimin dan tempat
mi’raj Nabi besar Muhammad saww. Bangsa Palestina setiap kali melihat
indikasi bahwa masjid tersebut terancam, maka mereka tak enggan untuk
membela tempat sakral tersebut hingga tetes darah terakhir. Kini, sudah
ratusan bangsa Palestina gugur syahid dalam rangka membela Masjid Al-Aqsha.
Bahkan, kebangkitan bangsa Palestina dinamai dengan “Intifadha Al-Aqsha”,
yang dimulai sejak masuknya Ariel Sharoun memasuki Masjid ini pada bulan
September, tahun 2000.
Hingga kini, bangsa
Palestina masih terus berjuang dan siap gugur syahid demi membela masjid
Al-Aqsha dan mencegah perusakan pintu gerbang sebelah barat masjid ini.
Menyinggung masalah ini, Televisi CNN menyatakan, “Perselisihan di masa
lalu antara bangsa Palestina dan Rezim Zionis Israel terkait Masjid Al-Aqsha
yang sangat sakral dimata bangsa Palestina menjadi sumber serangkaian
perubahan penting dalam gerakan bangsa Palestina. Dan perubahan saat ini
juga mencerminkan bahwa setiap langkah Rezim Zionis akan menimbulkan
perkembangan-perkembangan baru lainnya.” Televisi ini juga menegaskan,
pertentangan bangsa Palestina yang disebabkan perusakan pintu sebelah
barat Baitul Maqdis mencerminkan dimulainya gerakan intifada masjid Al-Aqsha
yang ketiga.
Perlawanan bangsa
Palestina terhadap perusakan Masjid Al-Aqsha dan protes-protes umat
Islam di seluruh penjuru dunia dalam mereaksi aksi brutalitas Rezim
Zionis menyebabkan tanggung jawab negara-negara Islam menjadi berkali-kali
lipat. Para analis politik menyatakan, perusakan Masjid Al-Aqsha itu
dilakukan oleh Zionis Israel, karena diyakini bahwa langkah kali ini tak
akan direaksi oleh negara-negara Islam. Akan tetapi sebaliknya,
negara-negara Islam menggelar seminar dan mengeluarkan pernyataan keras
yang ditujukan kepada Zionis Israel menyusul perusakan Masjid Al-Aqsha.
Namun, reaksi keras negara-negara dunia sama sekali tak digubris oleh
Zionis Israel, karena rezim ini sepenuhnya mendapat dukungan luas oleh
AS. Oleh karena itu, negara-negara Islam jika benar-benar ingin mencegah
aksi-aksi brutal Rezim Zionis, termasuk perusakan Masjid Al-Aqsha,
mereka harus melakukan langkah-langkah praktis secara serempak guna
menghadapi arogansi Rezim Zionis. Sehingga ketika menghadapi kekuatan
besar dunia Islam, maka rezim ini tak mempunyai pilihan lain kecuali
mengubah langkah-langkah agresifnya.
|