Perspektif    

   Februari 2007

[ Index Politik ] [[ Home ]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Makar Baru Rezim Zionis Terhadap Masjid Al-Aqsha

Masjid Al-Aqsha dapat dikategorikan sebagai tempat yang paling tertindas di dunia. Bangunan ini mempunyai nilai yang luar biasa di mata berbagai agama samawi, yang kini tengah terancam dihancurkan oleh Rezim Zionis. Setiap saat, Rezim Zionis terus mencari berbagai alasan untuk menghancurkan Masjid Al-Aqsha. Upaya terakhir Rezim Zionis dalam rangka menghancurkan masjid ini ialah langkahnya merobohkan pintu gerbang bagian barat Masjid Al-Aqsha, yang mereka lakukan sejak hari Senin lalu, tanggal 6 Februari. Hingga saat ini, Rezim Zionis telah menghancurkan dua ruangan besar yang berlokasi di bawah tembok pintu gerbang tersebut, dengan alasan akan membangun sebuah jembatan yang akan memudahkan warga Zionis Baitul Maqdis menjangkau Masjid Al-Aqsha. Dengan kata lain, perusakan ini dilakukan dengan alasan mempermudah mondar-mandirnya warga zionis ke masjid Al-Aqsha.

Hingga kini, rezim zionis telah melakukan berbagai upaya guna menghancurkan Masjid Al-Aqsha. Upaya mereka yang paling penting mereka lakukan pada tahun 1969, yaitu ketika mereka berupaya membakar Masjid ini. Sejak itu hingga kini, Rezim Zionis berkali-kali berupaya menghancurkan bangunan bersejarah ini baik secara langsung maupun tak langsung. Upaya-upaya penghancuran ini sengaja dilakukan karena menurut klaim Zionis Israel, ada Kuil Sulaiman di bawah Masjid tersebut. Menurut keyakinan Zionis Israel, masa kemunculan juru selamat telah tiba, sedangkan untuk menyegerakan kemunculannya, Masjid Al-Aqsha harus dihancurkan dan Kuil Sulaiman harus dibangun kembali.

Kuil Sulaiman dibangun oleh Nabi Sulaiman as sekitar tiga ribu tahun lalu. Namun empat abad kemudian, Kuil Sulaiman dihancurkan oleh kaum Babilonia. Kuil Sulaiman kembali dibangun oleh emperium Roma, 70 tahun setelah kelahiran Nabi Isa as. Sementara itu, sejumlah pakar sejarah dan arkeolog terkemuka meragukan sejarah penghancuran Kuil Sulaiman di bawah masjid Al-Aqsha. Setelah melakukan riset panjang dan berkali-kali meninjau Masjid ini, Maier Boun Douf, seorang arkeolog terkenal di tahun 2004 menyatakan, “Kuil Sulaiman tidak berada di bawah Masjid Al-Aqsha; dan dapat dipastikan bahwa hal ini termasuk di antara mitos-mitos yang dibuat oleh Rezim Zionis untuk membubuhkan nuansa religius pada eksistensi Zionis Israel yang illegal.” Pandangan semacam ini juga dikuatkan oleh sejumlah pakar independen setelah melakukan riset penjang. Meski demikian, Rezim Zionis masih terus melakukan penggalian di bawah Masjid Al-Aqsha, dan hingga kini penggalian masih terus berlanjut karena mereka masih belum berhasil menemukan sedikitpun tanda yang menunjukkan keberadaan Kuil Sulaiman.

Dikatakan pula, ada 25 kelompok ekstrim Rezim Zionis di Palestina pendudukan dan Tepi Barat Sungai Jordan yang aktif menuntut penghancuran Masjid Al-Aqsha. Kelompok-kelompok inilah yang telah melakukan langkah-langkah konkret untuk penghancuran masjid ini, seperti membuat terowongan di bawah masjid Baitul Maqdis guna menghancurkan pondasi-pondasi bangunan masjid tersebut, menutup saluran air dan menghancurkan bagian-bagian masjid tersebut. Di tahun 1980, terjadi berbagai serangan Rezim Zionis terhadap Masjid Al-Aqsha yang saat itu mendapat perlawanan bangsa Palestina dan menyebabkan sejumlah orang Palestina gugur syahid. Di dekade 1990, penggalian terhadap Masjid ini dilakukan berkali-kali, yang diantaranya adalah pembuatan terowongan yang diresmikan oleh Perdana Menteri Rezim Zionis saat itu, Benyamin Netanyahu, pada tahun 1996. Peresmian terowongan itu juga mengundang berbagai penentangan yang menyebabkan sejumlah warga Palestina gugur syahid.

Upaya Rezim Zionis kali ini untuk menghancurkan Masjid Al-Aqsha yang mendapat lampu hijau dari AS, kembali membangkitkan penentangan dari berbagai kalangan dunia Islam, Kristen, dan sejumlah lembaga dunia. Karena perusakan ini selain dinilai sebagai pelecehan terhadap perasaan jutaan pemeluk agama-agama samawi, juga dapat disebut sebagai perusakan terhadap tempat bersejarah yang sangat sakral. Organisasi Pendidikan Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan PBB (UNESCO) dalam mereaksi  langkah rezim zionis menghancurkan pintu gerbang barat Masjid Al-Aqsha, mengeluarkan pernyataan yang isinya menyebutkan bahwa tempat sakral tersebut milik tiga agama samawi, Islam, Kristen dan Yahudi. Dinyatakannya pula,  “Berdasarkan konvensi PBB, berkenaan dengan masalah pelestarian budaya dan peninggalan sejarah serta pemeliharaan cagar alam di seluruh dunia, maka bangunan-bangunan lama di kota Baitul Maqdis harus dijaga.” Sementara itu, dengan berbagai tipu muslihat, seperti pembangunan kawasan-kawasan permukiman zionis, pengusiran bangsa Palestina dari Baitul Maqdis, pemusnahan lahan-lahan pertanian mereka, dan sebagainya, berupaya mengubah tata sosial Baitul Maqdis timur, dimana tujuan akhir mereka ialah merealisasikan niat-niat buruk mereka, termasuk penghancuran Masjid Al-Aqsha.

Terkait masalah ini, Ketua Dewan Pengurus Jabal Amil Lebanon, Sheikh Afif Nablusi mengatakan, “Rezim Zionis berupaya mengubah identitas Baitul Maqdis, dengan memusnahkan berbagai penginggalan sejarah dan geografi agama kawasan ini.” Namun, dalam melaksanakan makarnya ini rezim zionis masih terus dihantui rasa cemas terhadap reaksi umat Islam dalam skala luas yang tak akan membiarkan Masjid yang merupakan kiblat pertama muslimin dan tempat mi’raj Nabi besar Muhammad saww. Bangsa Palestina setiap kali melihat indikasi bahwa masjid tersebut terancam, maka mereka tak enggan untuk membela tempat sakral tersebut hingga tetes darah terakhir. Kini, sudah ratusan bangsa Palestina gugur syahid dalam rangka membela Masjid Al-Aqsha. Bahkan, kebangkitan bangsa Palestina dinamai dengan “Intifadha Al-Aqsha”, yang dimulai sejak masuknya Ariel Sharoun memasuki Masjid ini pada bulan September, tahun 2000.

Hingga kini, bangsa Palestina masih terus berjuang dan siap gugur syahid demi membela masjid Al-Aqsha dan mencegah perusakan pintu gerbang sebelah barat masjid ini. Menyinggung masalah ini, Televisi CNN menyatakan, “Perselisihan di masa lalu antara bangsa Palestina dan Rezim Zionis Israel terkait Masjid Al-Aqsha  yang sangat sakral dimata bangsa Palestina menjadi sumber serangkaian perubahan penting dalam gerakan bangsa Palestina. Dan perubahan saat ini juga mencerminkan bahwa setiap langkah Rezim Zionis akan menimbulkan  perkembangan-perkembangan baru lainnya.” Televisi ini juga menegaskan, pertentangan bangsa Palestina yang disebabkan perusakan pintu sebelah barat Baitul Maqdis mencerminkan dimulainya gerakan intifada masjid Al-Aqsha yang ketiga.

Perlawanan bangsa Palestina terhadap perusakan Masjid Al-Aqsha dan protes-protes umat Islam di seluruh penjuru dunia dalam mereaksi aksi brutalitas Rezim Zionis menyebabkan tanggung jawab negara-negara Islam menjadi berkali-kali lipat. Para analis politik menyatakan, perusakan Masjid Al-Aqsha itu dilakukan oleh Zionis Israel, karena diyakini bahwa langkah kali ini tak akan direaksi oleh negara-negara Islam. Akan tetapi sebaliknya,  negara-negara Islam menggelar seminar dan mengeluarkan pernyataan keras yang ditujukan kepada Zionis Israel menyusul perusakan Masjid Al-Aqsha. Namun, reaksi keras negara-negara dunia sama sekali tak digubris oleh Zionis Israel, karena rezim ini sepenuhnya mendapat dukungan luas oleh AS. Oleh karena itu, negara-negara Islam jika benar-benar ingin mencegah aksi-aksi brutal Rezim Zionis, termasuk perusakan Masjid Al-Aqsha, mereka harus melakukan langkah-langkah praktis secara serempak guna menghadapi arogansi Rezim Zionis. Sehingga ketika menghadapi kekuatan besar dunia Islam, maka rezim ini tak mempunyai pilihan lain kecuali mengubah langkah-langkah agresifnya.

 

 

 

[ Index Perspektif ]   [ Home ]