Perspektif    

   April 2007

[ Index Politik ] [[ Home ]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tendensi di Balik Propaganda Barat Terhadap Iran  

Barat kini masih terus melakukan propaganda besar-besaran terhadap Republik Islam Iran. Media-media massa Barat setiap saat mengemas berita-berita dalam rangka mencoreng nama baik Iran. Dengan kata lain, Barat yang disetir oleh AS menggelar perang urat saraf terhadap Iran.

Istilah perang urat saraf ini mulai akrab setelah Perang Dunia II. Perang urat saraf adalah mengemas propaganda dan langkah lainnya yang bertujuan menciptakan opini dan mempengaruhi perilaku masyarakat. Tentu saja, target-target perang urat saraf itu sendiri ditentukan sesuai dengan kepentingan negara yang bersangkutan. Karena perang urat saraf ini, sebuah pemerintahan bisa lengser, mentalitas bangsa yang bersangkutan bisa terpuruk dan sebuah negara juga bisa terjebak untuk melakukan konflik.

Media-media massa sangat berperan penting dalam menciptakan perang urat saraf. Semenjak media-media massa dilibatkan di kancah dunia internasional, khususnya dalam setengah abad terakhir ini, media-media massa memunyai perang penting guna menggelar perang urat saraf. Dengan bantuan teknologi canggih di dunia pers, negara-negara Barat menggelar perang urat saraf terhadap negara-negara berkembang. Mereka sama sekali tak menjaga etika pers seperti tak menyampaikan berita dengan benar tanpa makar.

Infiltrasi Zionis Israel dan penyalahgunaan media massa untuk menjaga interes rezim ini adalah di antara hal yang membuat media-media massa Barat tak komitmen dengan kode etik pers. Dalam Protokol 12 yang disusun pada akhir abad 12 disebutkan, “Di masa mendatang, seluruh kantor berita akan bergabung dengan kami dan semua berita akan dikoordinasi sesuai dengan keinginan kami, sehingga tidak ada berita yang dilaporkan kecuali kami yang mendektenya.” Berdasarkan pemikiran semacam ini, kita kini menyaksikan bahwa Rezim Zionis mampu menguasai kantor-kantor berita dan media-media massa penting di dunia serta memunyai pengaruh yang besar. Hal ini bisa dilihat bahwa 30 hingga 50 persen pekerja media massa di AS adalah warga Yahudi. Padahal mereka hanya berjumlah tiga persen dari seluruh penduduk di dunia. Peran media massa yang berafiliasi dengan Rezim Zionis telah terbukti mendorong negara-negara Barat, khususnya AS, untuk melakukan langkah-langkah arogan. Dan ini terbukti ketika AS menginvasi Irak.

Karena geram dengan umat Islam, Rezim Zionis tak enggan menggelar propaganda besar-besaran terhadap dunia Islam. Wajah umat Islam dan negara-negara Islam versi media-media massa barat digambarkan dengan imej yang buruk. Perang urat saraf yang dipoles oleh media-media massa Barat kian menguat pasca peristiwa 11 September. Kali ini, Islam dikesankan dengan agama kekerasan dan teroris. Dengan menggunakan media-media massa, Washington berusaha mengenalkan sejumlah negara sebagai pusat kejahatan, dan segala pihak yang tak mengikuti politik kekerasan Gedung Putih harus ditindak. Dengan sendirinya, Republik Islam Iran adalah salah satu negara yang menjadi sasaran utama serangan propaganda media-media massa Barat. Beberapa bulan terakhir ini, perang urat saraf terhadap Iran memasuki babak baru.

Propaganda terhadap Iran bukanlah hal yang baru. Sejak Iran menjunjung sistem Islam, negara ini selalu menjadi sasaran propaganda Barat. Tentu saja, Barat berkeberatan dengan Iran karena negara ini mengibarkan bendera kebangkitan Islam yang diantara tujuan utamanya adalah penghapusan segala hegemoni dan penegakan kemandirian dalam berpolitik. Dengan demikian, sangat disadari oleh negara-negara Barat bahwa revolusi Islam Iran membuat kepentingan mereka di kawasan ini tak terjamin. Sangatlah jelas, media-media massa yang mengucilkan Iran berakar pada kerakusan pendudukan Barat. Perang urat saraf ini kian melebar dan menguat karena Iran yang selalu ditekan malah menggapai berbagai kemajuan di pelbagai seperti politik, budaya, dan sains.

Dengan berbagai alasan yang dibuat-buat, negara-negara dan media massa Barat sepanjang beberapa tahun terakhir ini terus melanjutkan propaganda besar-besaran untuk menekan Iran. Salah satu alasan yang seringkali disebut-sebut untuk memojokkan Iran adalah klaim pelangggaran hak asasi manusia oleh negara ini. Padahal kebebasan berpendapat dan hak-hak asasi manusia ditegakkan di negara ini. Namun media massa barat selalu membesar-besarkan sebuah peristiwa yang remeh sehingga nama Iran tercoreng karena tak menjaga hak-hak asasi manusia. Sementara itu, sahabat dekat Barat, Rezim Zionis Israel, dengan leluasa membantai dan menyiksa warga sipil. Namun tindakan yang tidak manusiawi tak disorot oleh media-media massa.

Alasan lain yang seringkali digembar-gemborkan oleh media massa Barat guna mendiskreditkan Iran adalah tidak adanya demokrasi di Iran. Namun fakta berbicara lain bahwa Republik Islam Iran dideklarasi dengan suara mayoritas rakyat negara ini, bahkan instansi-instansi lainnya di negara ini juga terbentuk melalui prosedur pemilu baik secara langsung maupun tak langsung. Para pejabat tinggi Republik Isalm Iran dipilih baik langsung maupun tak langsung oleh masyarakat, dan jika terbukti menyalahgunakan kedudukannya, mereka bisa dicopot dari jabatan. Meski Iran sudah cukup demokratis, media-media massa Barat masih saja menyalahkan demokrasi yang diterapkan di negara ini. Sebaliknya, media-media massa Barat malah tak begitu mempedulilan sejumlah negara sekutu Barat yang mengabaikan sistem demokrasi.

Sejak awal, media-media massa Barat, khususnya AS, menuding Reupublik Islam Iran sebagai negara teroris. Tudingan yang tak berdasar ini sengaja dikemukakan sehingga Islam murni yang ingin disampaikan oleh Iran kepada umat muslimin, dipertanyakan. Karena itu, Barat terus menekan Teheran dari segala penjuru. Setelah peristiwa 11 September, Iran pun menjadi sasaran utama tudingan ini seiring dengan tudingan teroris yang disampaikan oleh Barat terhadap umat Islam. Yang menarik negara-negara dan media massa Barat sama sekali tak menemukan data yang kuat untuk menyatakan bahwa Iran adalah negara yang terlibat dalam gerakan terorisme. Dengan tekanan Rezim Zionis, mereka berusaha membentuk pengadilan yang direkayasa dan kemudian menuding Iran sebagai negara teroris. Namun tudingan ini sengaja digembar-gemorkan dalam rangka melanjutkan perang urat saraf terhadap Iran.

Kini, tudingan terbaru yang dipoles oleh Barat adalah upaya Iran untuk membuat senjata nuklir. Tudingan ini pun kandas seperti tudingan-tudingan sebelumnya. Selain itu, Iran tak bisa dibuktikan sebagai pemilik atau sedang berusaha memproduksi senjata nuklir, bahkan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) berkali-kali menyatakan bahwa Iran murni mengembangkan teknologi nuklir sipil dan tak menyimpangkannya untuk kepentingan militer. Namun dengan mengetahui fakta yang sebenarnya, media-media Barat tanpa menghiraukan perluasan instalasi nuklir yang dimiliki oleh AS dan Rezim Zionis kembali menuding kemungkinan Iran mengembangkan teknologi nuklir militer. Sementara itu, berdasarkan konvensi internasional, Iran memunyai hak seperti negara-negara lain dalam mengembangkan teknologi nuklir sipil. Untuk itu, pihak manapun tak berhak menghalangi hak bangsa Iran ini.

 

***

 

Perang urat saraf merupakan bentuk propaganda tendensius yang sengaja dijadikan sarana untuk menggapai ambisi hegemoni negara-negara arogan. Terkait dengan ini, sejumlah negara yang dipimpin oleh AS menggelar perang urat saraf dalam skala luas terhadap Republik Islam Iran dengan menggunakan media-media massa. Dalam rangka merusak wajah Iran, media-media massa Barat sengaja menggunakan berbagai alasan yang dibuat-buat seperti pelanggaran hak asasi manusia, tidak adanya demokrasi, interverensi negara terhadap urusan internal sejumlah negara seperti Irak dan Lebanon, dan belum lama ini tudingan terhadap Iran soal pengembangan teknologi nuklir militer. Tentu saja, klaim-klaim ini hanya sebatas tudingan tak berdasar tanpa didukung oleh bukti yang kuat.

Media-media massa AS dan Eropa menggunakan berbagai cara untuk menekan Republik Islam Iran supaya negara ini bersedia mengubah kebijakannya. Di antara upaya yang mereka lakukan ialah menciptakan kesenjangan antara warga dan pejabat. Di Iran sendiri, pejabat dipilih oleh masyrakat setempat. Untuk itu, hubungan para pejabat dan masyarakat sangat erat. Hal ini tercermin dari penampilan Pemimpin Revolusi Islam Iran, Ayatullah Al-Udzma Sayid Ali Khamenei sebagai sosok religius. Negara-negara Barat juga sangat memahami bahwa hubungan kuat antara rakyat dan pemerintah merupakan salah satu pondasi utama kekuatan Republik Islam Iran. Untuk itu, media-media massa Barat berupaya memisahkan hubungan antara rakyat dan pejabat negara ini sehingga kekuatan pejabat sebagai tumpuan rakyat dapat digoyahkan.

Menciptakan suasana pesimis di tengah-tengah bangsa Iran adalah salah satu makar yang dilakukan oleh kantor-kantor berita dan media massa Barat. Optimisme kepada masa depan adalah penyebab bangsa ini kian tangguh dan terus berupaya. Sebaliknya pesimisme dapat melemahkan mentalitas sebuah bangsa untuk kemajuan. Dengan menciptakan suasana pesimis ditengah rakyat Iran, media-media massa Barat berupaya menjadikan bangsa Iran tidak mempercayai kemampuan pemerintahan Islam untuk menciptakan masa depan yang cerah bagi mereka. Pada umumnya, media-media massa Barat tidak mengekspos keberhasilan-keberhasilan bangsa Iran. Sebaliknya mereka malah menyampaikan kekurangan-kekurangan yang dimiliki bangsa ini. Padahal kekurangan-kekurangan itu juga terdapat pada negara-negara maju. Untuk itu, kekurangan tersebut tak dapat dijadikan sebagai bukti bahwa sistim pemerintahan Islam tidak ideal dan tidak tepat untuk mengelola negara.

Seiring dengan propaganda Barat yang menyesatkan, media-media massa Barat, khususnya AS, dengan menekankan bahayanya aktivitas nuklir sipil Iran kian gencar menggelar perang urat saraf serta meningkatkan rasa gelisah dan khawatir di tengah masyarakat Iran. Salah satu langkah yang ditempuh media-media massa Barat untuk menciptakan rasa khawatir dan gelisah di tengah-tengah masyarakat adalah propaganda soal pemberlakuan embargo terhadap Iran. Media-media massa Barat terus berusaha mencekoki bangsa Iran bahwa negara ini akan menghadapi kondisi krisis bila Iran tak bersedia menuruti kebijakan tak logis AS dan sekutunya dalam rangka menghentikan aktivitas nuklir sipil Iran. Sejak meletusnya Revolusi Islam Iran, 28 tahun lalu, Iran di samping diembargo, juga selalu menjadi sasaran propaganda Barat. Namun bangsa ini tetap bertahan dan tidak bersedia tunduk di bawah hegemoni negara-negara arogan.

Propaganda tentang adanya kemungkinan serangan militer AS terhadap Iran merupakan bentuk lain propaganda Barat akhir-akhir ini. Dengan mengeluarkan pernyataan kontradiktif, para pejabat Washington juga ikut andil menciptakan propaganda soal kemungkinan serangan militer AS ke Iran. Lebih dari itu, media- media massa memuat berbagai artikel yang membahas kemungkinan serangan AS dalam waktu dekat. Sementara itu, para pejabat Iran berkali-kali menyatakan bahwa tentara Iran siap siaga dalam menghadapi serangan agresor. Bangsa Iran selama delapan tahun melakukan perlawanan menghadapi agresi rezim Saddam Husein yang didukung oleh negara-negara Barat. Kegigihan pejuangan rakyat Iran selama delapan tahun itu, membuktikan bahwa negara ini tidak mudah ditaklukan dengan perang.

Dalam rangka menciptakan opini buruk dan perang urat saraf terhadap Iran, media-media massa Barat sengaja menggunakan berbagai cara yang tak etis, bahkan terkadang menyampaikan berita yang sepenuhnya bohong. Dengan berkali-kali memberitakan berita bohong tersebut, media-media massa Barat berusaha mengemasnya sedemikian rupa sehingga berita tersebut terkesan nyata. Salah satu trik lain media massa Barat adalah menonjolkan beberapa fakta dan hal-hal yang memang ada dan terjadi di Iran. Akan tetapi mereka memelintir berita tentang fakta tersebut sedemikian rupa, dengan mengungkapkan hal-hal yang merupakan bumbu-bumbu yang mereka tambahkan, seraya menyembunyikan bagian-bagian yang lebih penting. Hal ini dapat disaksikan ketika media-media massa Barat berbicara tentang teknologi nuklir sipil Iran. Media-massa Barat berkali-kali menekankan teknologi nuklir Iran yang membahayakan dengan cara mengemas laporan-laporan fiktif, sedangkan laporan-laporan Badan Energi Atom Internasioanl (IAEA) yang berkali-kali menekankan status sipil aktifitas nuklir Iran sama sekali tidak mereka perdulikan.

Sering kali pula, media-media massa Barat sama sekali tidak meberitakan peristiwa-peristiwa penting dan positif yang terjadi Iran. Sebagai contoh, media-media massa Barat tidak pernah memberitakan kemajuan sains dan ekonomi Iran. Sebaliknya, mereka malah membesar-besarkan peristiwa yang sama sekali tidak penting. Membesar-besarkan ancaman serangan militer AS terhadap Iran adalah salah satu trik yang digunakan oleh media massa Barat untuk mengintimidasi bangsa Iran. Dalam rangka mendukung propaganda dan perang urat saraf ini, mereka juga mewawancarai orang-orang tertentu yang sepemikiran dan mendukung politik-politik negara Barat terutama AS.

Masih banyak cara lain yang digunakan oleh media-media massa Barat dalam melancarkan perang urat saraf dan membentuk opini umum. Dalam hal ini, sumber-sumber pemberitaan AS seperti CNN, Fox News, CBS, NBC, dan kantor-kantor berita Eropa seperti Associated Press, Reuters, AFP adalah media-media yang aktif menggelar perang urat saraf terhadap Iran. Di samping itu, masih banyak lagi media-media cetak yang beroplah besar di AS dan Eropa aktif menggelar perang urat saraf terhadap Iran. Sangat disayangkan, sejumlah media massa Arab juga mengemukakan berbagai analisa sinis serta tak logis tentang Iran. Dengan kata lain, media-media massa Arab tersebut telah mengambil langkah yang seirama dengan media-media yang berada di bawah pengaruh Zionis Israel, dan juga ikut terlibat menggelar perang urat saraf terhadap Iran.

Pada intinya, negara-negara Barat dengan mengeluarkan dana yang besar dan menfasilitasi berbagai media serta menggunakan propaganda besar-besaran melalui media massa berharap kekuatan bangsa Iran rapuh sehingga pemerintahan Islam Iran bersedia menuruti kehendak mereka. Namun hal yang menarik ialah bahwa perang urat saraf yang digelar oleh media-media massa Barat sama sekali tidak berhasil mempengaruhi bangsa Iran. Bangsa Iran dapat mencerna bahwa hal yang disampaikan oleh media-media massa Barat hanyalah perang urat saraf semata dan sama sekali tidak realistis.

Meski mendapat tekanan dari berbagai pihak, bangsa Iran masih terus melakukan aktivitas sehari-hari dengan optimisme dan semangat, dan juga aktif terlibat di berbagai kancah politik dan sosial negara mereka. Pada saat yang sama, mereka tetap mewaspadai segala makar musuh dan terus melanjutkan misi Revolusi Islam Iran yang menjamin kemerdekaan dan kewibawaan, serta kemajuan bangsa.

 

 

 

[ Index Perspektif ]   [ Home ]