|
Tendensi di Balik Propaganda Barat Terhadap Iran
Barat kini masih terus melakukan propaganda
besar-besaran terhadap Republik Islam Iran. Media-media massa Barat
setiap saat mengemas berita-berita dalam rangka mencoreng nama baik
Iran. Dengan kata lain, Barat yang disetir oleh AS menggelar perang urat
saraf terhadap Iran.
Istilah perang urat saraf ini mulai akrab
setelah Perang Dunia II. Perang urat saraf adalah mengemas propaganda
dan langkah lainnya yang bertujuan menciptakan opini dan mempengaruhi
perilaku masyarakat. Tentu saja, target-target perang urat saraf itu
sendiri ditentukan sesuai dengan kepentingan negara yang bersangkutan.
Karena perang urat saraf ini, sebuah pemerintahan bisa lengser,
mentalitas bangsa yang bersangkutan bisa terpuruk dan sebuah negara juga
bisa terjebak untuk melakukan konflik.
Media-media massa sangat berperan penting
dalam menciptakan perang urat saraf. Semenjak media-media massa
dilibatkan di kancah dunia internasional, khususnya dalam setengah abad
terakhir ini, media-media massa memunyai perang penting guna menggelar
perang urat saraf. Dengan bantuan teknologi canggih di dunia pers,
negara-negara Barat menggelar perang urat saraf terhadap negara-negara
berkembang. Mereka sama sekali tak menjaga etika pers seperti tak
menyampaikan berita dengan benar tanpa makar.
Infiltrasi Zionis Israel dan penyalahgunaan
media massa untuk menjaga interes rezim ini adalah di antara hal yang
membuat media-media massa Barat tak komitmen dengan kode etik pers.
Dalam Protokol 12 yang disusun pada akhir abad 12 disebutkan, “Di masa
mendatang, seluruh kantor berita akan bergabung dengan kami dan semua
berita akan dikoordinasi sesuai dengan keinginan kami, sehingga tidak
ada berita yang dilaporkan kecuali kami yang mendektenya.” Berdasarkan
pemikiran semacam ini, kita kini menyaksikan bahwa Rezim Zionis mampu
menguasai kantor-kantor berita dan media-media massa penting di dunia
serta memunyai pengaruh yang besar. Hal ini bisa dilihat bahwa 30 hingga
50 persen pekerja media massa di AS adalah warga Yahudi. Padahal mereka
hanya berjumlah tiga persen dari seluruh penduduk di dunia. Peran media
massa yang berafiliasi dengan Rezim Zionis telah terbukti mendorong
negara-negara Barat, khususnya AS, untuk melakukan langkah-langkah
arogan. Dan ini terbukti ketika AS menginvasi Irak.
Karena geram dengan umat Islam, Rezim Zionis
tak enggan menggelar propaganda besar-besaran terhadap dunia Islam.
Wajah umat Islam dan negara-negara Islam versi media-media massa barat
digambarkan dengan imej yang buruk. Perang urat saraf yang dipoles oleh
media-media massa Barat kian menguat pasca peristiwa 11 September. Kali
ini, Islam dikesankan dengan agama kekerasan dan teroris. Dengan
menggunakan media-media massa, Washington berusaha mengenalkan sejumlah
negara sebagai pusat kejahatan, dan segala pihak yang tak mengikuti
politik kekerasan Gedung Putih harus ditindak. Dengan sendirinya,
Republik Islam Iran adalah salah satu negara yang menjadi sasaran utama
serangan propaganda media-media massa Barat. Beberapa bulan terakhir ini,
perang urat saraf terhadap Iran memasuki babak baru.
Propaganda terhadap Iran bukanlah hal yang
baru. Sejak Iran menjunjung sistem Islam, negara ini selalu menjadi
sasaran propaganda Barat. Tentu saja, Barat berkeberatan dengan Iran
karena negara ini mengibarkan bendera kebangkitan Islam yang diantara
tujuan utamanya adalah penghapusan segala hegemoni dan penegakan
kemandirian dalam berpolitik. Dengan demikian, sangat disadari oleh
negara-negara Barat bahwa revolusi Islam Iran membuat kepentingan mereka
di kawasan ini tak terjamin. Sangatlah jelas, media-media massa yang
mengucilkan Iran berakar pada kerakusan pendudukan Barat. Perang urat
saraf ini kian melebar dan menguat karena Iran yang selalu ditekan malah
menggapai berbagai kemajuan di pelbagai seperti politik, budaya, dan
sains.
Dengan berbagai alasan yang dibuat-buat,
negara-negara dan media massa Barat sepanjang beberapa tahun terakhir
ini terus melanjutkan propaganda besar-besaran untuk menekan Iran. Salah
satu alasan yang seringkali disebut-sebut untuk memojokkan Iran adalah
klaim pelangggaran hak asasi manusia oleh negara ini. Padahal kebebasan
berpendapat dan hak-hak asasi manusia ditegakkan di negara ini. Namun
media massa barat selalu membesar-besarkan sebuah peristiwa yang remeh
sehingga nama Iran tercoreng karena tak menjaga hak-hak asasi manusia.
Sementara itu, sahabat dekat Barat, Rezim Zionis Israel, dengan leluasa
membantai dan menyiksa warga sipil. Namun tindakan yang tidak manusiawi
tak disorot oleh media-media massa.
Alasan lain yang seringkali
digembar-gemborkan oleh media massa Barat guna mendiskreditkan Iran
adalah tidak adanya demokrasi di Iran. Namun fakta berbicara lain bahwa
Republik Islam Iran dideklarasi dengan suara mayoritas rakyat negara ini,
bahkan instansi-instansi lainnya di negara ini juga terbentuk melalui
prosedur pemilu baik secara langsung maupun tak langsung. Para pejabat
tinggi Republik Isalm Iran dipilih baik langsung maupun tak langsung
oleh masyarakat, dan jika terbukti menyalahgunakan kedudukannya, mereka
bisa dicopot dari jabatan. Meski Iran sudah cukup demokratis,
media-media massa Barat masih saja menyalahkan demokrasi yang diterapkan
di negara ini. Sebaliknya, media-media massa Barat malah tak begitu
mempedulilan sejumlah negara sekutu Barat yang mengabaikan sistem
demokrasi.
Sejak awal, media-media massa Barat,
khususnya AS, menuding Reupublik Islam Iran sebagai negara teroris.
Tudingan yang tak berdasar ini sengaja dikemukakan sehingga Islam murni
yang ingin disampaikan oleh Iran kepada umat muslimin, dipertanyakan.
Karena itu, Barat terus menekan Teheran dari segala penjuru. Setelah
peristiwa 11 September, Iran pun menjadi sasaran utama tudingan ini
seiring dengan tudingan teroris yang disampaikan oleh Barat terhadap
umat Islam. Yang menarik negara-negara dan media massa Barat sama sekali
tak menemukan data yang kuat untuk menyatakan bahwa Iran adalah negara
yang terlibat dalam gerakan terorisme. Dengan tekanan Rezim Zionis,
mereka berusaha membentuk pengadilan yang direkayasa dan kemudian
menuding Iran sebagai negara teroris. Namun tudingan ini sengaja
digembar-gemorkan dalam rangka melanjutkan perang urat saraf terhadap
Iran.
Kini, tudingan terbaru yang dipoles oleh
Barat adalah upaya Iran untuk membuat senjata nuklir. Tudingan ini pun
kandas seperti tudingan-tudingan sebelumnya. Selain itu, Iran tak bisa
dibuktikan sebagai pemilik atau sedang berusaha memproduksi senjata
nuklir, bahkan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) berkali-kali
menyatakan bahwa Iran murni mengembangkan teknologi nuklir sipil dan tak
menyimpangkannya untuk kepentingan militer. Namun dengan mengetahui
fakta yang sebenarnya, media-media Barat tanpa menghiraukan perluasan
instalasi nuklir yang dimiliki oleh AS dan Rezim Zionis kembali menuding
kemungkinan Iran mengembangkan teknologi nuklir militer. Sementara itu,
berdasarkan konvensi internasional, Iran memunyai hak seperti
negara-negara lain dalam mengembangkan teknologi nuklir sipil. Untuk itu,
pihak manapun tak berhak menghalangi hak bangsa Iran ini.
***
Perang urat saraf merupakan bentuk
propaganda tendensius yang sengaja dijadikan sarana untuk menggapai
ambisi hegemoni negara-negara arogan. Terkait dengan ini, sejumlah
negara yang dipimpin oleh AS menggelar perang urat saraf dalam skala
luas terhadap Republik Islam Iran dengan menggunakan media-media massa.
Dalam rangka merusak wajah Iran, media-media massa Barat sengaja
menggunakan berbagai alasan yang dibuat-buat seperti pelanggaran hak
asasi manusia, tidak adanya demokrasi, interverensi negara terhadap
urusan internal sejumlah negara seperti Irak dan Lebanon, dan belum lama
ini tudingan terhadap Iran soal pengembangan teknologi nuklir militer.
Tentu saja, klaim-klaim ini hanya sebatas tudingan tak berdasar tanpa
didukung oleh bukti yang kuat.
Media-media massa AS dan Eropa menggunakan
berbagai cara untuk menekan Republik Islam Iran supaya negara ini
bersedia mengubah kebijakannya. Di antara upaya yang mereka lakukan
ialah menciptakan kesenjangan antara warga dan pejabat. Di Iran sendiri,
pejabat dipilih oleh masyrakat setempat. Untuk itu, hubungan para
pejabat dan masyarakat sangat erat. Hal ini tercermin dari penampilan
Pemimpin Revolusi Islam Iran, Ayatullah Al-Udzma Sayid Ali Khamenei
sebagai sosok religius. Negara-negara Barat juga sangat memahami bahwa
hubungan kuat antara rakyat dan pemerintah merupakan salah satu pondasi
utama kekuatan Republik Islam Iran. Untuk itu, media-media massa Barat
berupaya memisahkan hubungan antara rakyat dan pejabat negara ini
sehingga kekuatan pejabat sebagai tumpuan rakyat dapat digoyahkan.
Menciptakan suasana pesimis di tengah-tengah
bangsa Iran adalah salah satu makar yang dilakukan oleh kantor-kantor
berita dan media massa Barat. Optimisme kepada masa depan adalah
penyebab bangsa ini kian tangguh dan terus berupaya. Sebaliknya
pesimisme dapat melemahkan mentalitas sebuah bangsa untuk kemajuan.
Dengan menciptakan suasana pesimis ditengah rakyat Iran, media-media
massa Barat berupaya menjadikan bangsa Iran tidak mempercayai kemampuan
pemerintahan Islam untuk menciptakan masa depan yang cerah bagi mereka.
Pada umumnya, media-media massa Barat tidak mengekspos
keberhasilan-keberhasilan bangsa Iran. Sebaliknya mereka malah
menyampaikan kekurangan-kekurangan yang dimiliki bangsa ini. Padahal
kekurangan-kekurangan itu juga terdapat pada negara-negara maju. Untuk
itu, kekurangan tersebut tak dapat dijadikan sebagai bukti bahwa sistim
pemerintahan Islam tidak ideal dan tidak tepat untuk mengelola negara.
Seiring dengan propaganda Barat yang
menyesatkan, media-media massa Barat, khususnya AS, dengan menekankan
bahayanya aktivitas nuklir sipil Iran kian gencar menggelar perang urat
saraf serta meningkatkan rasa gelisah dan khawatir di tengah masyarakat
Iran. Salah satu langkah yang ditempuh media-media massa Barat untuk
menciptakan rasa khawatir dan gelisah di tengah-tengah masyarakat adalah
propaganda soal pemberlakuan embargo terhadap Iran. Media-media massa
Barat terus berusaha mencekoki bangsa Iran bahwa negara ini akan
menghadapi kondisi krisis bila Iran tak bersedia menuruti kebijakan tak
logis AS dan sekutunya dalam rangka menghentikan aktivitas nuklir sipil
Iran. Sejak meletusnya Revolusi Islam Iran, 28 tahun lalu, Iran di
samping diembargo, juga selalu menjadi sasaran propaganda Barat. Namun
bangsa ini tetap bertahan dan tidak bersedia tunduk di bawah hegemoni
negara-negara arogan.
Propaganda tentang adanya kemungkinan
serangan militer AS terhadap Iran merupakan bentuk lain propaganda Barat
akhir-akhir ini. Dengan mengeluarkan pernyataan kontradiktif, para
pejabat Washington juga ikut andil menciptakan propaganda soal
kemungkinan serangan militer AS ke Iran. Lebih dari itu, media- media
massa memuat berbagai artikel yang membahas kemungkinan serangan AS
dalam waktu dekat. Sementara itu, para pejabat Iran berkali-kali
menyatakan bahwa tentara Iran siap siaga dalam menghadapi serangan
agresor. Bangsa Iran selama delapan tahun melakukan perlawanan
menghadapi agresi rezim Saddam Husein yang didukung oleh negara-negara
Barat. Kegigihan pejuangan rakyat Iran selama delapan tahun itu,
membuktikan bahwa negara ini tidak mudah ditaklukan dengan perang.
Dalam rangka menciptakan opini buruk dan
perang urat saraf terhadap Iran, media-media massa Barat sengaja
menggunakan berbagai cara yang tak etis, bahkan terkadang menyampaikan
berita yang sepenuhnya bohong. Dengan berkali-kali memberitakan berita
bohong tersebut, media-media massa Barat berusaha mengemasnya sedemikian
rupa sehingga berita tersebut terkesan nyata. Salah satu trik lain media
massa Barat adalah menonjolkan beberapa fakta dan hal-hal yang memang
ada dan terjadi di Iran. Akan tetapi mereka memelintir berita tentang
fakta tersebut sedemikian rupa, dengan mengungkapkan hal-hal yang
merupakan bumbu-bumbu yang mereka tambahkan, seraya menyembunyikan
bagian-bagian yang lebih penting. Hal ini dapat disaksikan ketika
media-media massa Barat berbicara tentang teknologi nuklir sipil Iran.
Media-massa Barat berkali-kali menekankan teknologi nuklir Iran yang
membahayakan dengan cara mengemas laporan-laporan fiktif, sedangkan
laporan-laporan Badan Energi Atom Internasioanl (IAEA) yang berkali-kali
menekankan status sipil aktifitas nuklir Iran sama sekali tidak mereka
perdulikan.
Sering kali pula, media-media massa Barat
sama sekali tidak meberitakan peristiwa-peristiwa penting dan positif
yang terjadi Iran. Sebagai contoh, media-media massa Barat tidak pernah
memberitakan kemajuan sains dan ekonomi Iran. Sebaliknya, mereka malah
membesar-besarkan peristiwa yang sama sekali tidak penting.
Membesar-besarkan ancaman serangan militer AS terhadap Iran adalah salah
satu trik yang digunakan oleh media massa Barat untuk mengintimidasi
bangsa Iran. Dalam rangka mendukung propaganda dan perang urat saraf ini,
mereka juga mewawancarai orang-orang tertentu yang sepemikiran dan
mendukung politik-politik negara Barat terutama AS.
Masih banyak cara lain yang digunakan oleh
media-media massa Barat dalam melancarkan perang urat saraf dan
membentuk opini umum. Dalam hal ini, sumber-sumber pemberitaan AS
seperti CNN, Fox News, CBS, NBC, dan kantor-kantor berita Eropa seperti
Associated Press, Reuters, AFP adalah media-media yang aktif menggelar
perang urat saraf terhadap Iran. Di samping itu, masih banyak lagi
media-media cetak yang beroplah besar di AS dan Eropa aktif menggelar
perang urat saraf terhadap Iran. Sangat disayangkan, sejumlah media
massa Arab juga mengemukakan berbagai analisa sinis serta tak logis
tentang Iran. Dengan kata lain, media-media massa Arab tersebut telah
mengambil langkah yang seirama dengan media-media yang berada di bawah
pengaruh Zionis Israel, dan juga ikut terlibat menggelar perang urat
saraf terhadap Iran.
Pada intinya, negara-negara Barat dengan
mengeluarkan dana yang besar dan menfasilitasi berbagai media serta
menggunakan propaganda besar-besaran melalui media massa berharap
kekuatan bangsa Iran rapuh sehingga pemerintahan Islam Iran bersedia
menuruti kehendak mereka. Namun hal yang menarik ialah bahwa perang urat
saraf yang digelar oleh media-media massa Barat sama sekali tidak
berhasil mempengaruhi bangsa Iran. Bangsa Iran dapat mencerna bahwa hal
yang disampaikan oleh media-media massa Barat hanyalah perang urat saraf
semata dan sama sekali tidak realistis.
Meski mendapat tekanan dari berbagai pihak,
bangsa Iran masih terus melakukan aktivitas sehari-hari dengan optimisme
dan semangat, dan juga aktif terlibat di berbagai kancah politik dan
sosial negara mereka. Pada saat yang sama, mereka tetap mewaspadai
segala makar musuh dan terus melanjutkan misi Revolusi Islam Iran yang
menjamin kemerdekaan dan kewibawaan, serta kemajuan bangsa.
|