|
Dewasa ini, Islam dengan jumlah penganut mencapai satu setengah milyar
orang merupakan agama terbesar dunia. Tingkat perkembangannya juga
relatif sangat pesat dibanding dengan agama lainnya, karena
ajaran-ajarannya yang hidup dan kokoh serta dapat menjawab tuntutan
masyarakat modern. Kini, pemeluk agama Islam di Barat juga mengalami
perkembangan yang pesat meski suasana dan propaganda media di Barat
gencar menebar sentimen anti-agama khususnya Islam. Di tengah kondisi
ini, gerakan Islam di Turki mempunyai kondisi yang unik. Di satu sisi,
negara yang berpenduduk 98 persen muslim itu merupakan pewaris imperium
Utsmani. Namun di sisi lain, lebih dari 80 tahun negara ini dikuasai
pemerintahan sekular. Sebab itu sangat menarik sekali untuk mengkaji
perkembangan gerakan Islam di negara sekular ini. Kemenangan gemilang
Partai Islam (Partai Keadilan) dalam pemilu Parlemen terbaru juga
menarik diulas.
Satu abad lalu, kota Istanbul merupakan
pusat pemerintahan imperium Utsmani, tetapi mengingat jangkauan yang
berada di bawah kekuasaannya sangat luas meliputi sebagian besar kawasan
di Timur Tengah dan Eropa, kekuatan imperium Utsmani melemah. Apalagi
pemerintahan imperium Utsmani harus menghadapi berbagai peperangan dan
persaingan khususnya dengan negara-negara Eropa. Pada Perang Dunia
Pertama, imperium Utsmani kalah di medan pertempuran menyusul kekalahan
sekutunya yaitu Jerman. Kekalahan tersebut, membuat emperium Utsmani
terpecah menjadi beberapa negara kecil, dengan demikian berakhirlah masa
pemerintahan imperium Utsmani yang telah belangsung selama 623 tahun.
Kelompok Nasionalis Westernis di bawah pimpinan Mustafa Kemal Pasha,
atau yang disebut Ataturk berhasil mengambil alih kekuasaan dan pada
tahun 1923 terbentuklah Republik Turki yang beraliran sistem
pemerintahan sekular Barat. Ataturk selama hidupnya berusaha menghapus
warna Islam dari kehidupan rakyat Turki dengan mengganti tulisan Arab
menjadi Latin dan melarang pemakaian jilbab serta menghapus
sekolah-sekolah agama.
Pengganti Ataturk berusaha mempertahankan
struktur pemerintahan sekular itu khususnya di bidang militer Islam.
Oleh sebab itu, mereka langsung beraksi ketika warga maupun sebagian
pejabat membela Islam dan tidak memperdulikan sekularisme. Tetapi
Mustafa Kemal Pasha dan penerusnya di Turki melakukan kesalahan fatal
yang hingga kini membuat mereka menghadapi krisis legalitas.
Kesalahan tersebut adalah membentuk pemerintahan sekular di negara yang
ajaran Islam telah menyatu dengan kehidupan masyarakatnya. Hal ini
dilakukan dalam rangka menjiplak sistem yang berlaku di Eropa.
Sementara di Eropa sendiri, awal pembentukan pemerintahan sekular adalah
dalam rangka menentang kekuasaan gereja yang dinilai menistakan
kebebasan berpendapat, keadilan, dan hak asasi manusia. Adapun Islam
adalah agama kebebasan, keadilan, persaudaraan, dan perdamaian, yang
tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sosial. Kelompok sekular Turki
melanjutkan politk anti Islam ketika sejumlah pemikir Barat mengakui
bahwa penghapusan agama dari kehidupan sosia di Barat adalah sebuah
kekeliruan yang sangat destruktif. Hal ini dibenarkan dengan fakta
kecenderungan beragama yang semakin meningkat di Barat.
Ataturk dan para kroninya tidak memperhatikan bahwa Islam telah menyatu
dengan kehidupan masyarakat dan mempengaruhi budaya dan corak kehidupan
mereka. Oleh sebab itu, undang-undang supresif pemerintah tidak akan
dapat mengubah kepercayaan masyarakat Turki. Pemerintah Turki tidak
mengijinkan warganya untuk menjalankan sejumlah kewajiban agama mereka
dengan melarang perempuan dan siswi memakai hijab di lingkungan kantor,
sekolah, dan universitas. Hal itu dinilai sangat menghambat aktivitas
sosial dan studi kaum hawa padahal slogan pemerintah adalah kebebasan
dan demokrasi. Contoh lain adala kudeta militer tahun 1960, 1971, dan
1980. Militer sebagai lembaga pelindung pemerintahan warisan Ataturk,
menumpas seluruh gerakan Islam. Hal itu menimpa PM Najmuddin Arbekan
dari Kelompok Islam yang dikudeta pada tahun 1997 dan dipenjara. Tidak
hanya itu, partainya yaitu Partai Kesejahteraan dibubarkan.
Meski demikian, perkembangan gerakan Islam di Turki terus berlanjut
meski banyaknya tekanan dari pihak militer, pemerintah, dan
partai-partai sekular. Tidak diragukan lagi bahwa elemen penting di
balik kenyataan ini adalah kriteria agama Islam yang selaras dengan
fitrah manusia yang tidak akan sirna dengan ancaman dan represi. Iman
akan senantiasi terjaga di hati setiap mukmin dan suatu saat akan
menjadi kenyataan. Adapun unsur eksternal yang mempercepat proses
perkembangan gerakan Islam di dunia termasuk Turki adalah Revolusi Islam
Iran tahun 1979. Revolusi ini mengangkat kembali nilai-nilai dan citra
Islam di dunia. Sejumlah analis berpendapat bahwa kudeta militer yang
dilakukan Kepala Staf Militer Turki, Kan’an Oren, pada tahun 1980,
adalah dalam rangka membendung gelombang revolusi Iran. Selain itu,
kekecewaan warga terhadap partai dan pemerintahan sekular di sektor
ekonomi, sosial, dan budaya, serta kebrobrokan para politisi sekular,
membuat rakyat cenderung memilih partai-partai berbasis Islam.
Unsur lain yang membangkitan kesadaran Islam di dunia termasuk di Turki
adalah propaganda media massa Barat atas Islam. Kenyataannya, politik
anti-Islam oleh Amerika dan Barat mengacu pada pengaitan Islam dan
muslimin dengan kekerasan dan irasionalisme. Tidak seperti yang mereka
harapkan, propaganda tersebut tidak membuat Islam lemah, justeru
membangkitkan gelora umat Islam untuk mempertahankan kepercayaan mereka.
Terkait hal ini, kelompok Islam Turki tampil aktif, sehingga dalam
beberapa tahun ini muslim Turki selalu beraksi ketika terjadi pelecehan
terhadap nilai-nilai Islam. Di antaranya demonstrasi masif di Turki
dalam mereaksi pemublikasian karikatur biadab yang menistakan kesucian
Nabi Muhammad saww serta protes terhadap kunjungan Paulus ke Turki pada
November tahun lalu.
Politik anti-Islam AS, campur tangan Wasington dalam urusan dalam negeri
Turki, dukungan atas politik tidak demokratis militer, serta invasi AS
ke Irak dan dukungan AS terhadap kejahatan Rezim Zionis terhadap warga
Palestina telah membangkitkan kemarahan warga Turki. Berdasarkan hasil
jajak pendapat lembaga riset PEW di AS yang dilakukan sebelum pemilihan
terbaru di Turki, menunjukkan bahwa warga negara ini termasuk yang
paling anti AS.
Kemenangan gemilang partai Islam (Partai Keadilan) dalam pemilu parlemen
22 Juli lalu menunjukkan perkembangan pesat gerakan Islam di negara ini.
Dalam empat tahun terakhir, setelah partai ini terbentuk, kecendrungan
berjilbab di kalangan perempuan Turki mencapai 60 persen. Meski demikian,
para pemimpin Partai Keadilan menyadari bahwa sewaktu-waktu dapat
membubarkan mereka sama seperti partai Islam sebelumnya. Tetapi basis
sosial yang kuat Partai Keadilan menyulitkan upaya pihak militer. Di
samping itu, kinerja Partai Keadilan dan upaya mereka menghapus
undang-undang larangan hijab di kantor dan sekolah serta kerjasama
Ordughan dengan negara-negara Islam, berhasil mendongkrak popularitas
partai-partai berbasis Islam.
Pemilu terbaru Turki dan keberhasilan partai Islam dalam pemilu tersebut
menunjukkan bahwa pada setiap pemilu berlangsung bebas dan demokratis di
negara-negara Islam, warga tetap akan memilih Islam. Lembaga Riset PEW
AS menyebutkan, “Terealisainya proses demokrasi di Timur Tengah sangat
merugikan merugikan Barat. Saat ini AS menghadapi kendala besar di
negara-negara Islam yang menggelar pemilu”. Karena hasilnya akan sama
dengan yang terjadi pada pemilu di Turki Irak, Palestina, Mesir dan
Lebanon.
|