|
Rakyat Irak, tengah
melewati situasi negaranya yang amat sensitif, penuh gejolak dan
menentukan. Pada saat, ketidakamanan kian meluas, sementara korban dari
rakyat Irak sendiri terus berjatuhan, kondisi politik negara ini pun
tengah mengalami guncangan dan krisis. Akhir pekan lalu, dengan
meledakanya empat bom mobil di dekat kota Mosul, di utara Baghdad,
perhatian dunia kembali tertuju pada kian ganasnya fenomena terorisme di
Irak.
Dalam serangan ini,
lebih dari 800 orang tewas dan terluka. Ledakan bom ini merupakan aksi
terorisme terbesar semenjak invasi AS di Irak pada tahun 2003.
Sebelumnya, pada tanggal 7 Juli 2007 yang lalu, sebuah aksi terorisme
di utara Baghdad mengakibatkan tewasnya 160 orang. Sementara pada
tanggal 18 April yang lalu, ledakan bom di pasar Baghdad menewaskan 127
warga sipil Irak. Sebelum ini, kasus pembantaian kaum Syiah di distrik
Shadr, di dekat Baghdad pada tanggal 23 Novemeber tahun lalu, merupakan
tragedi terorisme paling berdarah sebelum kejadian terakhir di Mosul.
Sekarang ini, berita tentang tewasnya warga sipil Irak akibat keganasan
aksi-aksi terorisme sudah menjadi berita sehari-hari dan seakan menjadi
rutinitas warga Irak. Situasi kacau dan rusuh ini merupakan hasil dari
terorisme yang terwujud semenjak invasi AS di Irak, bahkan fenomena ini
semakin hari semakin mengganas. Aksi teror ini umumnya dilancarkan oleh
dua kelompok radikal Irak.
Pertama, adalah kelompok Ba’ats Irak. Selama bertahun-tahun pemerintahan
otoriter dan despotik Rezim Ba’tas berkuasa secara sewenang-wenang
terhadap rakyat Irak, namun setelah tumbangnya Saddam dan invasi AS,
mereka melakukan aksi balas dendam dan melancarkan pelbagai aksi
kekerasan dan teror. Akibat aksi keganasan mereka ini, Izzat Ibrahim,
Pemimipin partai Ba’ats menjadi burunon polisi internasional. Meski
kelompok Ba’ats Irak telah sedemikian banyak menumpahkan darah rakyat
Irak, namun tetap saja mereka berambisi untuk duduk kembali di
pemerintahan Irak. Bahkan mereka masih berharap bisa menggalang
kerjasama dengan kubu salafi dan AS.
Kelompok kedua adalah
dari kalangan salafi ekstrim. Lantaran pandangan sempit dan sesat,
mereka begitu gencar melancarkan aksi teror dan pembantaian terhadap
warga muslim Syiah. Kebanyakan anggota kelompok ini berasal dari
negara-negara tetangga Irak, khususnya Yordania, dan Arab Saudi. Mereka
tidak hanya berambisi membantai warga muslim Syiah, tapi juga
menghancurkan tempat-tempat suci kaum Syiah. Sejumlah analis politik
menilai, aktifitas kelompok salafi ini didukung oleh pemerintahan Amman
dan Riyadh. Bahkan tak lama sebelum ini, wakil AS di PBB, Zalmay
Khalilzad, mengkritik keras peran negatif Arab Saudi di Irak. Namun
demikian, kendati serangan kelompok salafi sering ditujukan kepada
pasukan militer AS, namun sasaran utama mereka sejatinya adalah rakyat
tak berdosa Irak.
Dengan melihat kembali situasi Irak sebelum invasi AS pada tahun 2003.
Tampak jelas bahwa meski pada masa itu Irak berada dalam tekanan Rezim
despotik Saddam Husein, namun saat itu tidak ditemui adanya gelombang
teror dan pembantaian setiap hari seganas seperti sekarang. Sejatinya,
kekacauan yang terjadi di Irak sekarang ini merupakan dampak dari invasi
AS dan Inggris di Irak. Dengan demikian, bisa dikata bahwa penjajahan
merupakan biang utama munculnya terorisme dan ketidakamanan yang terus
berlanjut di Irak. Namun, AS sebagai pihak penjajah, bukan hanya tidak
bertanggung jawab atas situasi kacau Irak, tapi bahkan melancarkan
tuduhan palsu dan berupaya mengkambinghitamkan Iran dan Syria.
Ironisnya, media-media masa Barat justru mendukung upaya AS tersebut dan
berusaha menampilkan tudingan fiktif Washington sebagai kenyataan.
Meski demikian, sebagian besar pengamat politik berpendapat bahwa AS
bukan hanya menebar potensi munculnya aksi-aksi teror, tapi bahkan
menganggap AS sebagai dalang utama kerusuhan dan ketidakamanan di Irak.
Banyak bukti dan data yang menguatkan dugaan mengenai hubungan intim
Gedung Putih dengan kelompok-kelompok teroris Irak. Belakangan ini,
Washington memberikan dukungannya secara terbuka kepada partai Ba’ats.
Pemerintahan AS juga sempat beberapi kali mengadakan perundingan dengan
faksi-faksi oposisi di Irak.
Sejumlah intelektual Barat pengkritik pemerintahan Bush, semacam Noam
Chomsky menyebut AS sebagai teroris terbesar di dunia. Chomsky banyak
mengungkap beragam kasus terorisme AS di pelbagai negara, dan membongkar
hubungan gelap Lembaga Inteljen AS (CIA) dengan kelompok-kelompok
teroris dan agen kudeta. Hingga kini pun sejumlah peneliti meyakini
bahwa pemerintahan AS tidak hanya mengetahui rencana peledakan menara
kembar WTC di New York pada tanggal 21 September 2001, tapi bahkan turut
terlibat di dalamnya.
Karena itu, slogan perang melawan terorisme sejatinya merupakan kedok AS
untuk menutupi aksi legalnya di berbagai negara, termasuk di Irak.
Tujuan AS merancang slogan ini, pada dasarnya merupakan upaya Washington
untuk memperluas hegemoninya di seluruh dunia dan menjarah kekayaan
bangsa-bangsa lain. Sebagaimana langkah AS selama ini di Irak yang
tengah gencar-gencarnya menguras minyak dan kekayaan Irak.
Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam
pertemuannya dengan PM Irak, Nouri Al-Maliki baru-baru ini, menegaskan
bahwa bencana terbesar Irak saat ini adalah kehadiran pasukan penjajah
di negeri ini. Menurut beliau, “Kehadiran pasukan penjajah dan sikap
abai mereka terhadap tanggung jawabnya merupakan faktor utama dibalik
permasalahan, kesulitan dan pembantaian yang terjadi di Irak saat ini.
AS lewat kedutaannya di Baghdad dan agen-agen inteljennya selalu
berusaha mencampuri urusan militer, politik, dan keamanan di Irak”.
Seiring dengan kian mengganasnya aksi-aksi teror terhadap warga Irak,
upaya politik untuk menjatuhkan pemerintahan Nouri Al-Maliki juga tengah
gencar diusahakan. Kendati upaya politik ini mengusung klaim untuk
membela hak-hak kaum Sunni, namun sebenarnya mereka hanya ingin
menciptakan kekacauan di tubuh pemerintahan hasil pilihan rakyat Irak.
Padahal ujung-ujungnya pun, hal itu justru bisa merugikan warga Sunni
Irak. Baru-baru ini, kelompok Al-Tawaffuq dan Front Al-Iraqiyah,
meyatakan mundur dari Kabinet Nouri Al-Maliki. Meskipun sebagian anggota
kedua kelompok ini masih bertahan di pemerintahan, namun diambilnya
keputusan ini pada situasi Irak seperti sekarang, bertentangan dengan
kepentingan nasional negara ini. Sebagian besar para pemerhati politik
meyakini bahwa langkah pengunduran kedua kelompok ini sejatinya
merupakan salah satu konspirasi AS dan sejumlah negara-negara Arab
penentang Pemerintahan Al-Maliki.
Kendati terdapat banyak tekanan yang berupaya menjatuhkan pemerintahan
Nouri Al-Maliki. Namun PM Irak ini menegaskan akan tetap teguh
mempertahankan kabinetnya. Untungnya, dukungan luas rakyat dan
partai-partai besar Irak terhadap pemerintahan Al-Maliki, masih
memberikan banyak harapan bagi Nouri Al-Maliki untuk menyelesaikan
persoalan keamanan di negaranya.
Tak lama sebelum ini,
pada tanggal 9 Agustus yang lalu, dua partai utama Syiah, yaitu: Majles
Tinggi Revolusi Islam Irak dan Partai Dakwah Irak menandatangani
kesepakatan bersama dengan dua partai besar kelompok Kurdi Irak, yaitu:
Partai Demokrat Kurdistan dan Partai Persatuan Nasional, untuk mendukung
pemerintahan Nouri Al-Maliki. Sementara itu, Faksi Shadr yang sebelumnya
sempat keluar dari parlemen dan pemerintahan Irak, kini masuk kembali ke
kursi parlemen dan pemerintahan. Mereka mendesar pasukan militer AS
untuk segera hengkang dari Irak.
|