|
Babak baru perang dingin
antara Rusia dan Barat telah dimulai. Demikian hasil dari berbagai
analisa media massa Eropa menyikapi ketegangan terbaru antara Rusia dan
Barat. Indikasi dimulainya perang dingin ini adalah silang pendapat
Rusia dan Barat dalam menyikapi berbagai persoalan seperti, rencana
penempatan sistem anti rudal AS di Eropa Timur, keluarnya Moskow dari
perjanjian pengurangan senjata konvensional di Eropa, keberatan Rusia
atas usaha Barat untuk memisahkan Kosovo dari Serbia, dideportasinya
diplomat Rusia dan Inggris menyusul meningkatnya aktifitas spionase
kedua negara ini.
Dinginnya hubungan Barat
dan Rusia sudah berlangsung lama. Penduduk Rusia kecewa atas kegagalan
reformasi kelompok Westernis di negara mereka pada dekade 90-an. Mereka
tidak menepati janjinya soal perbaikan ekonomi dan sosial Rusia setelah
runtuhnya Uni Soviet. Rusia mengalami krisis politik dan ekonomi dari
dalam dan ketergantungan ekonomi kepada AS dan Uni Eropa di masa
pemerintahan Presiden Boris Yeltsin pada dekade 90-an. Di sisi lain,
sejak runtuhnya Uni Soviet dan pembubaran perjanjian Pakta Warsawa,
dengan pimpinan AS, NATO mempergunakan kesempatan berkurangnya keamanan
di Eropa Timur dan berkurangnya pengaruh Rusia di kawasan tersebut untuk
memperluas jangkauan kekuasaannya ke wilayah tersebut. Dalam kesempatan
ini, AS dalam usahanya melemahkan pertahanan Rusia, pada tahun 2001
dengan sepihak telah keluar dari perjanjian pelarangan pengembangan
Rudal anti Balistik (ABM) yang disepakati pada tahun 1972, dan
melaksanakan draf sistem anti rudal di Eropa Timur. Oleh karenanya Rusia
melihat rencana Wasington ini mengancam stabilitas negaranya.
AS dan NATO berusaha
mengendalikan Rusia karena mereka tidak percaya masa depan politik Rusia
dan berusaha mencegah bangkitnya kekuatan Rusia. Begitu juga keabsahan
kesepakatan pengurangan senjata-senjata strategis Start 1 (Strategic
Arms Reduction Treaty) yang masa berlakunya tinggal 2 tahun dan AS
tidak menunjukkan keinginannya untuk memperpanjang kesepakatan tersebut.
Adapun kesepakatan Start 2 tidak terlaksana karena politik
militer AS. Sementara itu, masa berlaku kesepakatan pengurangan
senjata-senjata setrategis yang ditandatangani Presiden AS, George W.
Bush dan Presiden Rusia Vladimir Putin pada tahun 2002, tinggal 6 tahun
lagi. Dengan demikian, kondisi yang ada saat ini tengah mengarah kepada
tidak adanya pembatasan pembuatan senjata strategis dan pertahanan
antara AS dan Rusia. Menurut ahli politik dan militer, AS dan Rusia
memasuki babak baru yang disebut perdamaian bersenjata; dimana
masing-masing mereka tengah melaksanakan program-program militer yang
akan meningkatkan kekuatan mereka untuk menghadapi ancaman satu dari
yang lain.
Vladimir Putin berusaha
untuk membangun kembali kekuatan Rusia setelah runtuhnya Uni Soviet,
yang ia lakukan sejak tahun 2000 dengan memusatkan kekuasaan di Kremlin
dan menyelesaikan krisis politik dan ekonomi dalam negeri dan dengan
keberhasilannya mencapai pertumbuhan 7 persen di bidang ekonomi pada
tahun 2006. Dengan kekuatan militer, senjata nuklir, sumber energi yang
besar dan wilayah luas yang dimilikinya, Rusia berusaha memainkan peran
dalam keseimbangan politik dan keamanan internasional, dan hal ini
berseberangan dengan politik rivalnya yaitu Barat. Dalam beberapa bulan
terakhir, perang verbal antara kedua pemimpin AS dan Rusia semakin
sengit. Hal ini ditunjukkan dengan pernyataan Putin yang menyinggung
semakin luasnya politik sepihak Wasington, dan menyamakan politik
militer Bush dengan Adolf Hitler. Sebaliknya, pejabat AS menuduh
pemerintahan Putin melanggar HAM dan demokrasi.
Memasuki pemilu Parlemen
Rusia pada tahun ini dan pemilihan Presiden tahun depan, Barat
meningkatkan kritikannya tersebut dengan harapan dapat mempengaruhi
kondisi dalam negeri Rusia sehingga dapat merusak citra Rusia di kawasan
dan internasional. Saat ini, semangat anti Rusia dan Barat di kalangan
politisi kedua negara semakin tampak. Dalam proses perang diplomatik
antara Inggris dan Rusia, AS dan Uni Eropa terang-terangan membela
London. Menyusul keengganan Kremlin menyerahkan seorang warganya yang
dituduh terlibat pembunuhan seorang agen Inggris di London, selain
mendeportasi 4 diplomat Rusia, Inggris juga membatasi visa bagi diplomat
Rusia. Sebaliknya, menyusul tindakan Inggris, Moskow memutus kerjasama
keamanannya dengan London dalam memerangi teroris. Kenyataannya,
sekarang perang verbal antara pemimpin kedua negara telah mengarah
kepada tindakan praktis. Mantan Menlu Uni Soviet, Edward Shefardnadze
yang membantu terlaksanakannya Perjanjian Pengurangan Senjata
Konvensional di Eropa menyebut keluarnya Rusia dari perjanjian tersebut
sebagai babak baru dari perang dingin.
Perjanjian tersebut
ditandatangani oleh anggota Warsawa dan NATO tahun 1990 di Paris.
Kesepakatan tersebut bertujuan mengendalikan senjata konvensional dan
menjaga keseimbangan kekuatan serta menumbuhkan rasa saling percaya.
Akan tetapi, Rusia keluar dari kesepakatan tersebut sebagai protes
kepada para anggota NATO yang tidak bersedia meratifisi perjanjian
pengurangan senjata konvensional, juga untuk memprotes penguatan
pangkalan militer dan rudal NATO dan AS di Eropa. Para pengamat politik
melihat keluarnya Rusia dari perjanjian ini bukanlah langkah akhir
negara ini dalam menyikapi perluasan wilayah oleh NATO dan AS di Eropa
Timur dan kawasan-kawasan bekas Uni Soviet. Langkah berikutnya mungkin
akan mencakup pembatasan pertukaran militer, penurunan tingkat kerjasama
keamanan, pengurangan akses ke data militer, dan distorsi semangat
kerjasama di Eropa antara Rusia dan negara-negara Barat. Demikian pula
Rusia mungkin akan keluar dari perjanjian rudal jarak pendek dan
menengah, serta akan memberlakukan pengamanan ketat di
perbatasan-perbatasannya di bagian barat.
Saat ini, hubungan Rusia
dan Barat mencapai titik terlemah sejak runtuhnya Uni Soviet dan perang
dingin. Hubungan Rusia dan Barat sejak runtuhnya Uni Soviet hingga saat
ini disebut oleh para analis sebagai masa perdamaian dingin hingga
perang lunak. Seraya menyinggung keputusan AS untuk menempatkan
sistem pertahanan anti rudal di Eropa Timur, para pejabat Kremlin
memperingatkan bahwa pada masa lalu Rusia diserang lewat wilayah ini,
dan sekarang Moskow tidak akan membiarkan sejarah tersebut terulang.
Jelas sekali jika terjadi perang baru maka yang akan kembali menjadi
korban utamanya ialah negara-negara Eropa. Di Eropa sendiri terdapat
beberapa kelompok dalam menyikapi ketegangan hubungan antara Rusia dan
AS, sementara tidak ada minat yang kuat di benua ini untuk membantu
penyelesaian krisis tersebut. Dengan demikian ketegangan ini akan terus
berlanjut, karena Nato dan AS akan terus mengepung dan berusaha
melemahkan Rusia, sedangkan Rusia akan terus berusaha menjadi salah satu
kekuatan di samping AS.
Setelah 17 tahun
runtuhnya Uni Soviet, Rusia dan Barat belum pernah melakukan langkah
positif untuk menyelesaikan berbagai persoalan diantara mereka. Sebagai
dua ekuatan yang saling bersaing, Rusia dan Barat selalu mengejar
kepentingan-kepentingan yang saling bertentangan. Penentangan Rusia
terhadap usaha Barat untuk memisahkan Kosovo dari Serbia dapat dinilai
sebagai persaingan mereka dalam bidang Geostrategis. AS dan Uni Eropa
tengah berusaha mengurangi pengaruh tradisional Rusia di kawasan Balkan.
Namun tekanan Barat atas Rusia akan mempengaruhi pula perilaku negara
ini di kawasan-kawasan lain di dunia. Jelas sekali bahwa dalam rangka
menghadapi ancaman-ancaman Barat, Rusia akan memperkuat hubungannya
dengan kekuatan-kekuatan regional seperti Cina dan India, juga dengan
lembaga-lembaga regional seperti Organisasi Kerjasama Shanghai (SCO).
|