Perspektif    

   Agustus 2007

[ Index Politik ] [[ Home ]

 

 

 

 

 

 

 

 

Babak Baru Perang Dingin antara Rusia dan Barat

Babak baru perang dingin antara Rusia dan Barat telah dimulai. Demikian hasil dari berbagai analisa media massa Eropa menyikapi ketegangan terbaru antara Rusia dan Barat. Indikasi dimulainya perang dingin ini adalah silang pendapat Rusia dan Barat dalam menyikapi berbagai persoalan seperti, rencana penempatan sistem anti rudal AS di Eropa Timur, keluarnya Moskow dari perjanjian pengurangan senjata konvensional di Eropa, keberatan Rusia atas usaha Barat untuk memisahkan Kosovo dari Serbia, dideportasinya diplomat Rusia dan Inggris menyusul meningkatnya aktifitas spionase kedua negara ini.

Dinginnya hubungan Barat dan Rusia sudah berlangsung lama. Penduduk Rusia kecewa atas kegagalan reformasi kelompok Westernis di negara mereka pada dekade 90-an. Mereka tidak menepati janjinya soal perbaikan ekonomi dan sosial Rusia setelah runtuhnya Uni Soviet. Rusia mengalami krisis politik dan ekonomi dari dalam dan ketergantungan ekonomi kepada AS dan Uni Eropa di masa pemerintahan Presiden Boris Yeltsin pada dekade 90-an. Di sisi lain, sejak runtuhnya Uni Soviet dan pembubaran perjanjian Pakta Warsawa, dengan pimpinan AS, NATO mempergunakan kesempatan berkurangnya keamanan di Eropa Timur dan berkurangnya pengaruh Rusia di kawasan tersebut untuk memperluas jangkauan kekuasaannya ke wilayah tersebut. Dalam kesempatan ini, AS dalam usahanya melemahkan pertahanan Rusia, pada tahun 2001 dengan sepihak telah keluar dari perjanjian pelarangan pengembangan Rudal anti Balistik (ABM) yang disepakati pada tahun 1972, dan melaksanakan draf sistem anti rudal di Eropa Timur. Oleh karenanya Rusia melihat rencana Wasington ini mengancam stabilitas negaranya.

AS dan NATO berusaha mengendalikan Rusia karena mereka tidak percaya masa depan politik Rusia dan berusaha mencegah bangkitnya kekuatan Rusia. Begitu juga  keabsahan kesepakatan pengurangan senjata-senjata strategis Start 1 (Strategic Arms Reduction Treaty) yang masa berlakunya tinggal 2 tahun dan AS tidak menunjukkan keinginannya untuk memperpanjang kesepakatan tersebut. Adapun kesepakatan Start 2 tidak terlaksana karena politik militer AS. Sementara itu, masa berlaku kesepakatan pengurangan senjata-senjata setrategis yang ditandatangani Presiden AS, George W. Bush dan Presiden Rusia Vladimir Putin pada tahun 2002, tinggal 6 tahun lagi. Dengan demikian, kondisi yang ada saat ini tengah mengarah kepada tidak adanya pembatasan pembuatan senjata strategis dan pertahanan antara AS dan Rusia. Menurut ahli politik dan militer, AS dan Rusia memasuki babak baru yang disebut perdamaian bersenjata; dimana masing-masing mereka tengah melaksanakan program-program militer yang akan meningkatkan kekuatan mereka untuk menghadapi ancaman satu dari yang lain.

Vladimir Putin berusaha untuk membangun kembali kekuatan Rusia setelah runtuhnya Uni Soviet, yang ia lakukan sejak tahun 2000 dengan memusatkan kekuasaan di Kremlin dan menyelesaikan krisis politik dan ekonomi dalam negeri dan dengan keberhasilannya mencapai pertumbuhan 7 persen di bidang ekonomi pada tahun 2006. Dengan kekuatan militer, senjata nuklir, sumber energi yang besar dan wilayah luas yang dimilikinya, Rusia berusaha memainkan peran dalam keseimbangan politik dan keamanan internasional, dan hal ini berseberangan dengan politik rivalnya yaitu Barat. Dalam beberapa bulan terakhir, perang verbal antara kedua pemimpin AS dan Rusia semakin sengit. Hal ini ditunjukkan dengan pernyataan Putin yang menyinggung semakin luasnya politik sepihak Wasington, dan menyamakan politik militer Bush dengan Adolf Hitler. Sebaliknya, pejabat AS menuduh pemerintahan Putin melanggar HAM dan demokrasi.

Memasuki pemilu Parlemen Rusia pada tahun ini dan pemilihan Presiden tahun depan, Barat meningkatkan kritikannya tersebut dengan harapan dapat mempengaruhi kondisi dalam negeri Rusia sehingga dapat merusak citra Rusia di kawasan dan  internasional. Saat ini, semangat anti Rusia dan Barat di kalangan politisi kedua negara semakin tampak. Dalam proses perang diplomatik antara Inggris dan Rusia, AS dan Uni Eropa terang-terangan membela London. Menyusul keengganan Kremlin menyerahkan seorang warganya yang dituduh terlibat pembunuhan seorang agen Inggris di London, selain mendeportasi 4 diplomat Rusia, Inggris juga membatasi visa bagi diplomat Rusia. Sebaliknya, menyusul tindakan Inggris, Moskow memutus kerjasama keamanannya dengan London dalam memerangi teroris. Kenyataannya, sekarang perang verbal antara pemimpin kedua negara telah mengarah kepada tindakan praktis. Mantan Menlu Uni Soviet, Edward Shefardnadze yang membantu terlaksanakannya Perjanjian Pengurangan Senjata Konvensional di Eropa menyebut keluarnya Rusia dari perjanjian tersebut sebagai babak baru dari perang dingin.

Perjanjian tersebut ditandatangani oleh anggota Warsawa dan NATO tahun 1990 di  Paris. Kesepakatan tersebut bertujuan mengendalikan senjata konvensional dan menjaga keseimbangan kekuatan serta menumbuhkan rasa saling percaya. Akan tetapi, Rusia keluar dari kesepakatan tersebut sebagai protes kepada para anggota NATO yang tidak bersedia meratifisi perjanjian pengurangan senjata konvensional, juga untuk memprotes penguatan pangkalan militer dan rudal NATO dan AS di Eropa. Para pengamat politik melihat keluarnya Rusia dari perjanjian ini bukanlah langkah akhir negara ini dalam menyikapi perluasan wilayah oleh NATO dan AS di Eropa Timur dan kawasan-kawasan bekas Uni Soviet. Langkah berikutnya mungkin akan mencakup pembatasan pertukaran militer, penurunan tingkat kerjasama keamanan, pengurangan akses ke data militer, dan distorsi semangat kerjasama di Eropa antara Rusia dan negara-negara Barat. Demikian pula Rusia mungkin akan keluar dari perjanjian rudal jarak pendek dan menengah, serta akan memberlakukan pengamanan ketat di perbatasan-perbatasannya di bagian barat.

Saat ini, hubungan Rusia dan Barat mencapai titik terlemah sejak runtuhnya Uni Soviet dan perang dingin. Hubungan Rusia dan Barat sejak runtuhnya Uni Soviet hingga saat ini disebut oleh para analis sebagai masa perdamaian dingin hingga perang lunak. Seraya menyinggung keputusan AS untuk menempatkan sistem pertahanan anti rudal di Eropa Timur, para pejabat Kremlin memperingatkan bahwa pada masa lalu Rusia diserang lewat wilayah ini, dan sekarang Moskow tidak akan membiarkan sejarah tersebut terulang. Jelas sekali jika terjadi perang baru maka yang akan kembali menjadi korban utamanya ialah negara-negara Eropa. Di Eropa sendiri terdapat beberapa kelompok dalam menyikapi ketegangan hubungan antara Rusia dan AS, sementara tidak ada minat yang kuat di benua ini untuk membantu penyelesaian krisis tersebut. Dengan demikian ketegangan ini akan terus berlanjut, karena Nato dan AS akan terus mengepung dan berusaha melemahkan Rusia, sedangkan Rusia akan terus berusaha menjadi salah satu kekuatan di samping AS.

Setelah 17 tahun runtuhnya Uni Soviet, Rusia dan Barat belum pernah melakukan langkah positif untuk menyelesaikan berbagai persoalan diantara mereka. Sebagai dua ekuatan yang saling bersaing, Rusia dan Barat selalu mengejar kepentingan-kepentingan yang saling bertentangan. Penentangan Rusia terhadap usaha Barat untuk memisahkan Kosovo dari Serbia dapat dinilai sebagai persaingan mereka dalam bidang Geostrategis. AS dan Uni Eropa tengah berusaha mengurangi pengaruh tradisional Rusia di kawasan Balkan. Namun tekanan Barat atas Rusia akan mempengaruhi pula perilaku negara ini di kawasan-kawasan lain di dunia. Jelas sekali bahwa dalam rangka menghadapi ancaman-ancaman Barat, Rusia akan memperkuat hubungannya dengan kekuatan-kekuatan regional seperti Cina dan India, juga dengan lembaga-lembaga regional seperti Organisasi Kerjasama Shanghai (SCO).

 

[ Index Perspektif ]   [ Home ]