|
Inilah
saat-saat kehadiran terindah di tanah suci, tanah tempat Rasulullah
pertama kali menyampaikan suara wahyu Ilahi. Cinta kepada Ilahi telah
menarik jutaan manusia dari tanah kelahiran dan rumah mereka untuk datang
berbondong-bondong ke sebuah tanah yang aman dan suci. Puji syukur kita
panjatkan kepada Allah, Tuhan yang Mahaagung, karena telah menganugerahkan
usia hingga kita bertemu lagi dengan bulan Dzulhijjah yang mulia ini. Kita
kini bisa kembali menyaksikan tibanya hari-hari ketika jutaan ummat
Muhammad berkumpul, bersama-sama mengucapkan kalimah talbiah,
“Labbaik, Allahumma labbaik”. “Inilah aku Ya Allah, datang menemui
panggilan-Mu”.
Saat Nabi Ibrahim a.s. membangun sebuah bangunan sederhana
berbentuk kubus sebagai tempat ibadah kepada Allah, mungkin saat itu tidak
ada yang bisa mengira bahwa tempat itu akan menjadi pusat dari jalinan
persaudaraan paling tulus dari jutaan ummat manusia yang mendambakan
pertemuan dengan Allah. Tidak ada yang menyangka bahwa kehadiran jutaan
ummat manusia secara kolosal dalam sebuah event keagamaan haji ini juga
akan menjadi kritikan praktis bagi para pengikut Marxisme yang mengatakan
bahwa agama menyebabkan kelompok masyarakat menjadi rendah dan hina.
Mereka yang masih berpendapat demikian seharusnya saat ini datang ke Mekah.
Lihatlah, betapa jutaan manusia mampu menunjukkan keagungan mereka secara
kolektif lewat syiar-syiar agama.
Haji adalah panggilan dari rumah Allah yang ditujukan
kepada orang-orang yang beriman di seluruh pelosok dunia. Haji mengajak
mereka untuk menghirup air mata cemerlang dan segar di rumah Allah. Husein
Thurabi, salah seorang peziarah Baitullah asal Iran yang tahun ini
mendapatkan kesempatan menunaikan ibadah haji, mengatakan sebagai berikut.
“Saya sangat berbahagia. Sejak awal tahun, saya selalu
menghitung hari demi hari karena sangat tidak sabar untuk bisa segera tiba
di hari-hari ini. Karena itulah, ketika kesempatan itu sekarang tiba,
yaitu ketika saya punya kesempatan untuk bertemu dengan Allah di rumah-Nya,
tidak ada hal lain yang lebih layak untuk saya lakukan kecuali
memanfaatkan semaksimal mungkin berbagai suasana spiritual di rumah Allah
ini untuk mempercepat proses penyempurnan jiwa kita”.
Haji
adalah ibadah massal yang melibatkan orang dalam jumlah jutaan. Karena itu,
ibadah ini juga menampilkan suasana kolosal yang sangat indah. Saat ini,
di Mekah, kita bisa menyaksikan orang-orang yang berasal dari beragam
bangsa dan dengan pakaian yang berbeda, bersama-sama berkumpul di Baitul
Haram. Orang-orang dari Indonesia, Malaysia, dan bangsa Melayu lainnya
melakukan shalat dengan peci khas mereka. Kaum perempuannya juga
mengenakan mukena khas kawasan itu. Akan tetapi, dengan segala kekhasan
pakaiannya itu, mereka semua sangat serasi dengan bangsa-bangsa lainnya
yang beribadah dengan pakaian khas mereka pula. Tidak ada yang janggal
dari keberagaman mereka karena yang mereka perbuat adalah hal yang sama,
yaitu beribadah di rumah suci.
Melihat semua itu, kita dengan mudah meyakini bahwa ibadah haji memang
secara sengaja diskenariokan oleh Allah untuk sebuah rencana yang agung
dan dahsyat. Hal ini juga bisa kita tangkap dari berbagai riwayat atau
ayat Al-Quran yang berbicara tentang ibadah haji. Allah SWT dalam surah
Al-Haj ayat 27 dan 28 berfirman sebagai berikut.
“(Wahai Muhamad), panggillah manusia untuk mengerjakan haji, hingga mereka
datang kepadamu dengan berjalan kaki atau mengendarai binatang-bianatang
yang kurus. Mereka datang dari segala penjuru bumi yang sangat jauh.
Biarkanlah mereka menyaksikan berbagai hal yang bermanfaat buat mereka
sendiri. (Ajaklah mereka) agar menyebut nama Allah pada hari yang telah
ditentukan, yaitu ketika mereka berqurban dengan binatang-binatang ternak
mereka. Maka, makanlah sebagian dari daging qurban itu, dan sebagian
lainnya, berikanlah kepada kaum faqir untuk mereka makan”.
Imam
Khomeini dalam salah satu pidatonya berkata,
“Salah satu tugas penting kaum muslimin adalah memahami hakikat haji ini.
Kita seharusnya bertanya-tanya, mengapa kita harus melakukan ibadah haji
yang pelaksanaannya menelan biaya sangat besar ini? Secara sekilas saja,
kita bisa melihat bahwa haji adalah sebuah pertunjukkan yang digelar oleh
kaum muslimin dalam rangka memamerkan kekuatan spiritual dan bahkan
kekuatan materi yang dimiliki oleh kaum muslimin. Akan tetapi, pemahaman
sekilas ini saja jelas tidak cukup untuk menggali rahasia keagungan yang
tersembunyi dalam ibadah haji ini. Para ulama dan cendekiawan muslim harus
berupaya keras untuk memahami, dan memahamkannya kepada orang lain,
tentang mutiara hidayah, hikmah, dan kebebasan yang terkandung dalam
ibadah ini”.
Sementara itu Syeikh Muhamad Yazbaki, salah seorang ulama besar Lebanon,
mengatakan sebagai berikut.
“Falsafah yang terkandung dari ibadah haji sebagai kongres kaum muslimin
sedunia adalah sebuah gerakan massal untuk menyatukan langkah dan hati
kaum muslimin sedunia dalam menghadapi kekuatan arogan internasional. Saat
bertemu dalam marasim haji, kaum muslimin dari berbangsa bisa
menularkan pengalaman mereka masing-masing tentang perjuangan menegakkan
agama mulia ini di tempat mereka. Hari ini, keperluan untuk menyatukan
langkah di antara kaum muslimin itu makin terasa urgensinya, mengingat
saat ini kaum muslimin sedang menghadapi fitnah dan konspirasi Barat dalam
memecah-belah kita dengan slogan-slogan palsu semisal pemberantasan
terorisme”.
Ibadah haji memang sangat indah. Pada saat masyarakat dunia banyak
kehilangan arah dan pegangan hidup, para peziarah rumah Allah secara
serentak menggumamkan “Labbaik Allahumma labbaik. Ya Allah, aku datang
memenuhi panggilan-Mu”. Pada saat ketidakamanan dan ketidaktenteraman
terjadi di banyak tempat di dunia ini, jutaan kaum muslimin di Mekah
beribadah secara khusyu dan tenteram, sambil saling menunjukkan kasih
sayangnya terhadap sesama. Dengan ibadah dan kekhusyuan massal yang mereka
gelar di Mekah itu, kaum muslimin itu seakan menyampaikan pesan indah
berikut ini kepada seluruh ummat manusia di dunia.
“Jika
seluruh manusia mau menyembah Allah yang Mahaesa, Zat yang mengajarkan
keindahan dan hidup mulia; Zat yang mengajarkan kehidupan damai dan
kebaikan terhadap sesama; dan jika seluruh ummat manusia mau menyembah
Allah dengan segala sifat keagungan dan kebaikannya seperti itu, niscaya
manusia pada masa sekarang tidak perlu khawatir dengan berbagai macam
kakacauan, krisis, dan pertentangan di antara sesama mereka. Manusia
niscaya akan hidup damai, tenteram, dan sentausa, sebagaimana yang
diperlihatkan secara indah oleh kaum muslimin saat mereka menunaikan
ibadah haji”.
|