Perspektif    

  Agustus 2007

[ Index Perspektif  ] [[ Home ]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Manusia, Agama, dan Kesehatan Jiwa

 

Salah satu permalahan penting yang sedang menjadi perhatian utama para ilmuan sekarang ini, adalah masalah ketenangan dan keamanan jiwa manusia. Barangkali Anda juga pernah berpikir,  mengapa pada masa kini, kendati pelbagai fasilitas dan kemudahan telah dinikmati oleh manusia modern, namun sebagian besar dari mereka masih merasa belum puas dengan semuanya itu. Para psikolog menilai, meningkatnya stress, kegelisahan mental, tidak adanya rasa puas dan keceriaan psikis merupakan gejala nyata era modern saat ini. Menurut mereka, kehidupan saat ini telah sedemikian keras dan tak memiliki lagi kelembutan. Kenikmatan sejati yang  bisa dirasakan manusia telah begitu langka.

Mayoritas orang, khususnya di kalangan masyarakat industri, justru lebih memilih mengkonsumsi obat penenang, lalu bermimpi dengannya.  Karena itulah, dengan semakin kompleksnya kehidupan pribadi dan sosial, serta kian tingginya angka stres di kalangan masyarakat, perlu segera adanya perhatian yang lebih serius lagi terhadap persoalan mental dan psikologi manusia. Namun demikian, meskipun saat ini, di bidang materi, kita telah saksikan kemajuan yang begitu pesat, tetapi hingga kini, itu semua belum bisa memenuhi dan menjamin prinsip dasar kesehatan dan kebutuhan jiwa manusia. Beberapa tahun yang lalu, salah satu peniliti Amerika bernama Mayers melukiskan masyarakat Barat pada dasawarsa 80-an semacam ini:

“Tak ada abad yang bisa menikmati kesejahteraan yang demikian besar seperti kini, namun di lain sisi, lingkungan hidup justru sedemikian rusak parah. Tak ada kebudayaan yang pernah mengalami beratnya tekanan jiwa semacam ini. Tak pernah ada jaman kecuali seperti masa sekarang, di mana kemajuan teknologi telah memberikan kemudahan yang demikian pesat, namun di sisi lain, teknologi tersebut justru menjadi perangkat mengerikan untuk menghancurkan dan memusnahkan dimensi kehidupan lainnya. Kita saat ini memiliki fasilitas pendidikan dan pengajaran yang demikian melimpah, namun dengan mudahnya kita saksikan angka kriminalitas, keputus-asaan dan bunuh diri semakin meningkat tajam di kalangan generasi muda.

Ada banyak definisi yang telah diajukan mengenai arti dari konsep kesehatan jiwa dan metode penyembuhan penyakit mental. Agama-agama ilahi, dan pelbagi aliran pemikiran dan filsafat serta para pemimpin agama, masing-masing telah membahas persoalan tersebut dengan beragam macam ungkapan dan cara tutur sesuai dengan perspektifnya. Badan Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan kesehatan jiwa sebagai kemampuan untuk menjalin hubungan tepat dengan yang lain, sanggup untuk mengubah dan memperbaiki lingkungan pribadi dan sosial, dan menyelesaikan kontradiksi di dalamnya, serta mampu mengubah kecendrungan pribadi ke bentuk yang lebih sesuai dan ideal.

Berdasar pada definisi di atas, bisa kita pahami bersama bahwa kesehatan jiwa sangat berpengaruh dalam kehidupan manusia. Bahkan bisa dikatakan, adanya tujuan yang layak dan diiringi dengan usaha keras yang berkelanjutan, serta kesuksesan di pelbagai bidang kehidupan hanya bisa dilalui lewat jiwa dan mental yang sehat. Kesehatan jiwa dan mental, bisa meningkatkan angka kepuasan diri terhadap kehidupan. Dan masalah ini, sangat beperan penting dalam menurunkan kekhawatiran dan kegalauan psikologis manusia.

Untuk memecahkan persoalan mental manusia modern saat ini, jumlah mereka yang percaya bahwa agama dan spritualitas dapat menyembuhkan stres dan pelbagai penyakit jiwa lainnya semakin bertambah. Manusia jaman sekarang, dengan penuh kesadaran dan pengetahuan telah sampai pada konklusi akhir bahwa hidup tanpa spritualitas dan agama hanya akan menjadikan hidup manusia tenggelam dalam kesepian, dan menjebaknya dalam cara hidup mekanis yang tak memiliki roh.

Kendati, sebagian psikolog di masa yang lampau, tak mengakui peran agama dan ajarannya dalam memelihara kesehatan jiwa. Namun sekarang ini, para psikolog justru semakin banyak yang mengakui pengaruh positif agama terhadap kesehatan psikologis manusia. Hasil-hasil riset mereka di bidang  kesehatan jiwa, ternyata sejalan dan senada dengan ajaran-ajaran agama. Terkait hal itu, penting kiranya jika kita ungkap juga di sini, pengalaman ilmiah salah satu pakar psikologi besar Carl Gustav Jung, dia menulis:

“Seluruh penyakit yang saya hadapi pada paruh kedua umur saya, telah mengantarkan saya pada satu simpulan bahwa mereka yang mengalami penyakit jiwa semacam itu, ternyata dikarenakan oleh tidak adanya visi yang tepat terhadap hidup. Dengan yakin bisa dikatakan, mereka terjangkit penyakit itu karena merasa kehilangan atas apa yang selama ini dikhotbahkan oleh agama-agama besar dunia kepada para penganutnya. Tak satupun dari mereka bisa menemukan kenyataan yang hening, sebelum mereka menemukan pandangan relijius”.

Sekarang ini, sejumlah penelitian di bidang pengaruh ajaran agama dan manfaat spritualitas dalam kesehatan jiwa manusia, ternyata ramai dilakukan di kalangan masyarakat yang sudah memudar kehidupan religinya ataupun tak lagi peduli terhadap agama. Para psikolog di tengah masyarakat semacam itu percaya, bahwa meyakini adanya nilai-nilai yang luhur dan suatu kekuatan transendental sangat vital bagi kesehatan jiwa manusia. Mereka menilai, penerapan metodologi agama dalam memecahkan persoalan penyakit jiwa sangat efektif dan berpegaruh positif.

 

 

[ Index Perspektif ]   [ Home ]