|
Sekitar sebulan yang lalu, bertepatan
dengan peringatan hari kelahiran Imam Ali as, Museum Seni Religius Imam
Ali di Tehran menggelar sebuah simposium internasional seni lukis dengan
tema keadilan dan cinta kasih.
Seni adalah manifestasi
keindahan Tuhan. Setiap karya seni yang diciptakan sebangun dengan
fitrah ilahi, akan menjadi buah seni yang begitu berpengaruh dan
langgeng. Seni yang bernafaskan agama senantiasa berupaya menyambung
manusia dengan pancaran cahaya spritualitas. Para pakar estetika yang
religius meyakini bahwa kehadiran spritualitas dalam sebuah karya seni
merupakan petanda religiusitas karya tersebut. Namun, pengejawantahan
suatu keyakinan agama dalam karya seni, tentu memiliki berbagai cara
penjelmaan yang berbeda.
Seni agamis
tercipta dari pengalaman iman seorang beragama. Iman dan keyakinan
agamanya menjadi ilham dalam penciptaan karya seninya. Sejarah
membuktikan, sebagian besar warisan seni peradaban manusia terinsipirasi
dari ide-ide keagamaan. Mereka mempersembahkan kreatifitas seninya ke
pangkuan agama.
Di bidang seni
patung, negeri Iran merupakan salah satu pusat kesenian peradaban Islam
yang semenjak dulu hingga kini senantiasa menyuguhkan hasil-hasil
karyanya indahnya kepada dunia. Salah satu tujuan didirikannya museum
seni keagamaan Imam Ali as di Tehran adalah untuk memberikan perhatian
yang lebih serius terhadap kreatifitas para seniman religius di
sepanjang sejarah. Museum ini merupakan khazanah penyimpanan dan ajang
pameran pelbagai karya seniman agama.
Museum seni
keagamaan Imam Ali Tehran dibangun pada tahun 2000. Aktifitas musuem ini
difokuskan untuk mengenal, mendukung dan memperkenalkan sejumlah karya
seni yang bernafaskan religiusitas. Sejumlah karya para seniman ternama
Iran di berbagai cabang, seperti seni lukis, grafik, seni miniatur iran
, kaligrafi, dan seni cetak disimpan dan pamerkan di museum ini. Lembaga
riset dan perpustakaan seni merupakan bagian lain dari museum Imam Ali.
Selain itu, museum ini juga aktif menggelar seminar dan pameran berkala
di bidang seni kegamaan.
Salah satu
aktiftas terbaru dan paling menarik museum ini adalah simposium
internasional seni lukis dalam dua tema, yaitu keadilan dan cinta
kemanusiaan. Simposium ini digelar pada tanggal 28 juni hingga 3 Agustus
lalu. Sejumlah lukisan dari 11 seniman luar negeri dan 7 seniman Iran
dikupas dalam acara ini. lukisan-lukisan mereka ini merupakan karya
lukis pilihan dari 40 pelukis asing dan 36 pelukis Iran. Sejumlah
pelukis tersohor Iran dan dunia hadir dalam perhelatan seni religius
ini. Aneh Muhammad Tatari, Ahmad Vakili, dan Naser Azizi dari Iran,
Gyorgy Dolan dari Slovakia, Ali Jabbar Hoseini, pelukis Denmark asal
Irak, Farah Atassi dan Negi Nike dari Perancis, Zdenko Basic dari
Kroasia, Varol Topac dari Turki, Jana Trunka dari Swis.
Tujuan
diselenggarakannya simposium ini adalah upaya untuk mensosialisasikan
karya seni yang bertemakan keagamaan, sekaligus untuk memperingati hari
kelahiran Imam Ali as. Sepanjang masa simposium ini, para seniman
menciptakan karya lukisnya dalam waktu enam hari. Tema utama
lukisan-lukisan ini adalah untuk menggambarkan keadilan dan cinta
kemanusiaan sebagiamana yang diajarkan Imam Ali as.
Dalam kegiatan
simposium ini, kami sempat bertemu dengan sejumlah seniman di sana dan
mengadakan wawancara dengan mereka. Berikut ini adalah beberapa petikan
wawancara kami dengan mereka.
Negi Nike salah
seorang pelukis asal Perancis yang turut hadir dalam simposium ini,
ketika ditanyakan komentarnya mengenai seni religius, ia menjawab,
“Seorang seniman harus bisa menyerap keindahan dan keelokan di
sekelilingnya. Ia juga harus bisa menampilkanya dalam karya ciptanya dan
mengungkapkannya kepada yang lain. Saya menampakkan konsep keagamaan itu
sebagai lingkaran spritual dalam lukisan saya pada masyarakat. Saya
sejak dulu menempuh cara ini. Tapi di sini, saya merasa upaya saling
bebragi pengalaman di antara para seniman berjalan amat positif dalam
simposium ini”. Lebih lanjut mengenai tema keadilan dan cinta sesama
manusia yang diangkat dalam simposium ini, Nike menuturkan, “Dua
karakter ini merupakan prinsip utama masyarakat ideal, dan para pelukis
di sini tengah berupaya menampilkan bagian kecil dari impian masyarakat
ideal ini lewat karyanya. Dengan harapan, impian itu segara terwujud
menjadi kenyataan dalam waktu dekat ini”.
Manusia senantiasa
memerlukan kedamaian, cinta kasih dan keadilan. Tak peduli dari mana
datangnya. Konsep ini merupakan tema universal, hanya cara
pengungkapannya yang beragam. Kadang dituangkan dalam bahasa puitis,
kadang juga dijelmakan dalam bentuk musik, sedang yang lain ada juga
yang melukisnya di atas kanvas, lewat garis dan warna. Salah satu
kekhasan terpenting dari lukisan-lukisan yang ditampilkan dalam
simposium ini adalah perhatian para pelukis terhadap isu-isu aktual.
Sebagai contoh, Ahmad Vakili, seorang pelukis asal Iran mencoba
menuangkan kutukannya terhadap kejahatan AS di Irak lewat lukisannya.
Hosein
Khosroujordi, salah seorang pelukis ternama Iran yang memiliki banyak
karya lukis keagamaan, dalam komentarnya menyatakan, “Mereka yang telah
terpilih dalam simposium ini adalah para pelukis hebat, dan beragamnya
karya seniman ini merupakan hal yang menarik bagi publik. Dengan
hadirnya orang-orang ini, kita bisa saksikan beragam wajah budaya dari
pelbagai negara. Para seniman ini adalah wakil dari negara dan
kebudayaannya masing-masing. Dengan berbagai cara ungkapan seni, mereka
sejatinya tengah menyampaikan pesan dan membangun budaya. Mereka telah
memperluas horison pandang para penikmat lukisan”. Ditanya mengenai
tanggapannya terhadap seni keagamaan, Khosroujordi menuturkan, “Dalam
seni, pandangan terhadap agama memiliki cara yang lebih mendalam dan
bukan sekedar secara semu dan zahir semata. Rahasia dan misteri seni
telah menyebabkan ajaran agama bisa memberikan pengaruh yang lebih
mendalam kepada para pemeluknya.”
Sementara itu,
Jana Trunka, pelukis asal Swis yang turut hadir dalam simposium ini.
Ketika berbicara mengenai karya lukisnya dalam even ini menyatakan,
“Lukisan seorang pelukis merupakan cermin dari perasaan dan jiwanya.
Jika cermin ini begitu bening, maka yang lain pun akan bisa melihatnya
lebih jelas. Dalam karya saya kali ini, saya mencoba mengisyaratkan
keteraturan dan kedamaian dalam pancaran keadilan. Pemikiran ini
diungkapkan dalam bentuk dan warna yang menentramkan, serta lewat
pola-pola sederhana dan abstrak. Warna dan tekstur yang tertuang di atas
kanvas amat jauh dari kesan kekerasan. Sementara warna-warna terang yang
terangkai berdekatan menyempurnakan bidang yang ada.
Mengomentari tema
keadilan dan cinta-kasih yang diangkat dalam simposium ini, pelukis asal
Swis ini menuturkan, “Manusia senantiasa memimpikan hidup dalam
masyarakat ideal. Para seniman selalu berusaha menuangkan mimpinya itu
dalam lukisannya. Sejatinya, seniman memiliki tanggung jawab
menyampaikan pesan tersebut pada masyarakatnya. Semakin mereka sadar
dengan tanggung jawabnya itu, maka karya cipta mereka semakin membekas
di hati penikmatnya. Konsep-konsep luhur dan persoalan hidup yang dalam
akan mampu mengubah keinginan manusia dari persoalan yang zahir menuju
hal yang lebih transendental. Saya pikir even kali ini begitu
bermanfaat bagi para senimana untuk merekonstruksi pemikiran dan
wujudnya. Saya juga berharap kegiatana ini bisa digelar kembali”.
Melihat karya
lukis para seniman yang hadir dalam simposium ini, secara umum bisa
dikata bahwa kendati mereka memilih beragam teknik melukis yang berbeda,
namun semuanya memiliki satu interpretasi humanis dan spritual yang
sama, yang tertuang dalam lukisan mereka. Rangkaian karya lukis para
seniman ini akan disimpan dan dipajang di museum Imam Ali.
Lukisan-lukisan ini menampakkan harmonisasi yang menyejukkan sebagai
hasil dari spritualitas dan semangat para penciptanya, semangat untuk
mewujudkan keadilan, perdamaian, dan cinta kasih.
|