Perspektif    

  Agustus 2007

[ Index Perspektif  ] [[ Home ]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Keadilan dan Cinta Kasih di Mata Pelukis

 

Sekitar sebulan yang lalu, bertepatan dengan peringatan hari kelahiran Imam Ali as, Museum Seni Religius Imam Ali di Tehran menggelar sebuah simposium internasional seni lukis dengan tema keadilan dan cinta kasih.

Seni adalah manifestasi keindahan Tuhan. Setiap karya seni yang diciptakan sebangun dengan fitrah ilahi, akan menjadi buah seni yang begitu berpengaruh dan langgeng. Seni yang bernafaskan agama senantiasa berupaya menyambung manusia dengan pancaran cahaya spritualitas. Para pakar estetika yang religius meyakini bahwa kehadiran spritualitas dalam sebuah karya seni merupakan petanda religiusitas karya tersebut. Namun, pengejawantahan suatu keyakinan agama dalam karya seni, tentu memiliki berbagai cara penjelmaan yang berbeda.

Seni agamis tercipta dari pengalaman iman seorang beragama. Iman dan keyakinan agamanya menjadi ilham dalam penciptaan karya seninya. Sejarah membuktikan, sebagian besar warisan seni peradaban manusia terinsipirasi dari ide-ide keagamaan. Mereka mempersembahkan kreatifitas seninya ke pangkuan agama.

Di bidang seni patung, negeri Iran merupakan salah satu pusat kesenian peradaban Islam yang semenjak dulu hingga kini senantiasa menyuguhkan hasil-hasil karyanya indahnya kepada dunia. Salah satu tujuan didirikannya museum seni keagamaan Imam Ali as di Tehran adalah untuk memberikan perhatian yang lebih serius terhadap kreatifitas para seniman religius di sepanjang sejarah. Museum ini merupakan khazanah penyimpanan dan ajang pameran pelbagai karya seniman agama.

Museum seni keagamaan Imam Ali Tehran dibangun pada tahun 2000. Aktifitas musuem ini difokuskan untuk mengenal, mendukung dan memperkenalkan sejumlah karya seni yang bernafaskan religiusitas. Sejumlah karya para seniman ternama Iran di berbagai cabang, seperti seni lukis, grafik, seni miniatur iran , kaligrafi, dan seni cetak disimpan dan pamerkan di museum ini. Lembaga riset dan perpustakaan seni merupakan bagian lain dari museum Imam Ali. Selain itu, museum ini juga aktif menggelar seminar dan pameran berkala di bidang seni kegamaan.

Salah satu aktiftas terbaru dan paling menarik museum ini adalah simposium internasional seni lukis dalam dua tema, yaitu keadilan dan cinta kemanusiaan. Simposium ini digelar pada tanggal 28 juni hingga 3 Agustus lalu. Sejumlah lukisan dari 11 seniman luar negeri dan 7 seniman Iran dikupas dalam acara ini. lukisan-lukisan mereka ini merupakan karya lukis pilihan dari 40 pelukis asing dan 36 pelukis Iran. Sejumlah pelukis tersohor Iran dan dunia hadir dalam perhelatan seni religius ini. Aneh Muhammad Tatari, Ahmad Vakili, dan Naser Azizi dari Iran, Gyorgy Dolan dari Slovakia, Ali Jabbar Hoseini, pelukis Denmark asal Irak, Farah Atassi dan Negi Nike dari Perancis, Zdenko Basic dari Kroasia, Varol Topac dari Turki, Jana Trunka dari Swis.

Tujuan diselenggarakannya simposium ini adalah upaya untuk mensosialisasikan karya seni yang bertemakan keagamaan, sekaligus untuk memperingati hari kelahiran Imam Ali as. Sepanjang masa simposium ini, para seniman menciptakan karya lukisnya dalam waktu enam hari. Tema utama lukisan-lukisan ini adalah untuk menggambarkan keadilan dan cinta kemanusiaan sebagiamana yang diajarkan Imam Ali as.

Dalam kegiatan simposium ini, kami sempat bertemu dengan sejumlah seniman di sana dan mengadakan wawancara dengan mereka. Berikut ini adalah beberapa petikan wawancara kami dengan mereka.

Negi Nike salah seorang pelukis asal Perancis yang turut hadir dalam simposium ini, ketika ditanyakan komentarnya mengenai seni religius, ia menjawab, “Seorang seniman harus bisa menyerap keindahan dan keelokan di sekelilingnya. Ia juga harus bisa menampilkanya dalam karya ciptanya dan mengungkapkannya kepada yang lain. Saya menampakkan konsep keagamaan itu sebagai lingkaran spritual dalam lukisan saya pada masyarakat. Saya sejak dulu menempuh cara ini. Tapi di sini, saya merasa upaya saling bebragi pengalaman di antara para seniman berjalan amat positif dalam simposium ini”. Lebih lanjut mengenai tema keadilan dan cinta sesama manusia yang diangkat dalam simposium ini, Nike menuturkan, “Dua karakter ini merupakan prinsip utama masyarakat ideal, dan para pelukis di sini tengah berupaya menampilkan bagian kecil dari impian masyarakat ideal ini lewat karyanya. Dengan harapan, impian itu segara terwujud menjadi kenyataan dalam waktu dekat ini”.

Manusia senantiasa memerlukan kedamaian, cinta kasih dan keadilan. Tak peduli dari mana datangnya. Konsep ini merupakan tema universal, hanya cara pengungkapannya yang beragam. Kadang dituangkan dalam bahasa puitis, kadang juga dijelmakan dalam bentuk musik, sedang yang lain ada juga yang melukisnya di atas kanvas, lewat garis dan warna. Salah satu kekhasan terpenting dari lukisan-lukisan yang ditampilkan dalam simposium ini adalah perhatian para pelukis terhadap isu-isu aktual. Sebagai contoh, Ahmad Vakili, seorang pelukis asal Iran mencoba menuangkan kutukannya terhadap kejahatan AS di Irak lewat lukisannya.

Hosein Khosroujordi, salah seorang pelukis ternama Iran yang memiliki banyak karya lukis keagamaan, dalam komentarnya menyatakan, “Mereka yang telah terpilih dalam simposium ini adalah para pelukis hebat, dan beragamnya karya seniman ini merupakan hal yang menarik bagi publik. Dengan hadirnya orang-orang ini, kita bisa saksikan beragam wajah budaya dari pelbagai negara. Para seniman ini adalah wakil dari negara dan kebudayaannya masing-masing. Dengan berbagai cara ungkapan seni, mereka sejatinya tengah menyampaikan pesan dan membangun budaya. Mereka telah memperluas horison pandang para penikmat lukisan”. Ditanya mengenai tanggapannya terhadap seni keagamaan, Khosroujordi menuturkan, “Dalam seni, pandangan terhadap agama memiliki cara yang lebih mendalam dan bukan sekedar secara semu dan zahir semata. Rahasia dan misteri seni telah menyebabkan ajaran agama bisa memberikan pengaruh yang lebih mendalam kepada para pemeluknya.”

Sementara itu, Jana Trunka, pelukis asal Swis yang turut hadir dalam simposium ini. Ketika berbicara mengenai karya lukisnya dalam even ini menyatakan, “Lukisan seorang pelukis merupakan cermin dari perasaan dan jiwanya. Jika cermin ini begitu bening, maka yang lain pun akan bisa melihatnya lebih jelas. Dalam karya saya kali ini, saya mencoba mengisyaratkan keteraturan dan kedamaian dalam pancaran keadilan. Pemikiran ini diungkapkan dalam bentuk dan warna yang menentramkan, serta lewat pola-pola sederhana dan abstrak. Warna dan tekstur yang tertuang di atas kanvas amat jauh dari kesan kekerasan. Sementara warna-warna terang yang terangkai berdekatan menyempurnakan bidang yang ada.

Mengomentari tema keadilan dan cinta-kasih yang diangkat dalam simposium ini, pelukis asal Swis ini menuturkan, “Manusia senantiasa memimpikan hidup dalam masyarakat ideal. Para seniman selalu berusaha menuangkan mimpinya itu dalam lukisannya. Sejatinya, seniman memiliki tanggung jawab menyampaikan pesan tersebut pada masyarakatnya. Semakin mereka sadar dengan tanggung jawabnya itu, maka karya cipta mereka semakin membekas di hati penikmatnya. Konsep-konsep luhur dan persoalan hidup yang dalam akan mampu mengubah  keinginan manusia dari persoalan yang zahir menuju hal yang lebih transendental.  Saya pikir even kali ini begitu bermanfaat bagi para senimana untuk merekonstruksi pemikiran dan wujudnya. Saya juga berharap kegiatana ini bisa digelar kembali”.

Melihat karya lukis para seniman yang hadir dalam simposium ini, secara umum bisa dikata bahwa kendati mereka memilih beragam teknik melukis yang berbeda, namun semuanya memiliki satu interpretasi humanis dan spritual yang sama, yang tertuang dalam lukisan mereka. Rangkaian karya lukis para seniman ini akan disimpan dan dipajang di museum Imam Ali. Lukisan-lukisan ini menampakkan harmonisasi yang menyejukkan sebagai hasil dari spritualitas dan semangat para penciptanya, semangat untuk mewujudkan keadilan, perdamaian, dan cinta kasih.

 

 

 

[ Index Perspektif ]   [ Home ]