Perspektif    

  Agustus 2007

[ Index Perspektif  ] [[ Home ]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Film, Agama dan Manusia Modern (1)

 

Barangkali Anda juga pernah mendengar ataupun membaca jika era sekarang ini, merupakan era ‘Kembali ke Agama’ atau ‘Dekade Religius’ dan bahkan ada juga yang menyebut milenium ke-tiga saat ini sebagai ‘Milenium Agamis’. Kebangkitan baru agama di Barat, mulai muncul pada awal dekade 90-an, dan kian memuncak, khususnya setelah tahun 2000. Kini, berbagai institusi sosial masyarakat Barat telah memahami, bahwa untuk mencegah keruntuhan internal suatu negara, tak ada cara lain kecuali kembali ke prinsip agama dan moral. Bangkitnya religiusitas ini semakin tampak jelas di pelbagai karya seni, khususnya di dunia film.

Jika kita ingin mengetahui corak religiusitas dalam dunia perfileman modern, maka kita harus menyebut sejumlah nama seperti, Carl Theodor Dreyer, Ingmar Bergman, Robert Bereson, dan Andrei Tarkovski. Dalam beberapa dekade sebelumnya, terdapat banyak film yang dibuat bernafaskan keagamaan. Namun, di masa sekarang ini, model keberagamaan baru dari pelbagai negara, kian marak memasuki dunia sinema.

 

Untuk mengetahui lebih lanjut fenomena ini, pertama kita mesti menengok Hollywood. Pasalnya, industri perfileman Hollywood, merupakan kekuatan dominan di dunia perfileman global. Setiap tahunnya, lebih dari seribu film diproduksi oleh raksasa industri film AS ini. Meski film-film Hollywood cendrung memiliki muatan propaganda, intrik dan hipokrit, namun tetap saja sebagian film-film yang dihasilkannya tak bisa lepas sepenuhnya dari ikatan agama.

 

Setelah penayangan film semacam Ghost dan Leap of Faith berhasil menjaring sambutan yang begitu hangat dari para penonton film. Para produser film Hollywood mulai memahai bahwa penonton film saat ini haus akan spritualitas, yang tak bisa ditutupi oleh film-film populer yang penuh kekerasan dan miskin makna. Karena itu, Hollywood pun segara memanfaatkan seluruh kreatifitasnya untuk mendulang penonoton sebanyak mungkin. Lewat pelbagai ragam film laris, seperti melodrama, musikal, komedi, dsb…mereka memproduksi beragam film berbau spritualitas dan keagamaan. Sebagai misal, dalam film Ghost lewat genre film percintaan dan kriminalitas, film tersebut mencoba mengisahkan keabadian roh, sebagaimana yang diyakini oleh beragam agama dalam pelbagai versinya.

 

Keberhasilan film-film bergenre keagamaan ini, semakin mendorong para produder film untuk menghasilkan film sejenis sebanyak mungkin. Tak aneh, jika kemudian dalam film-film Hollywood semakin sering kita jumpai para malaikat yang turun ke bumi ataupun kehadiran setan-setan yang muncul di kehidupan manusia. Namun, perlahan-lahan film-film semacam ini mulai menyimpang dari standar keagamaan, dan semakin mendekati ke arah parodi keagamaan. Hingga kemudian muncul film komedi yang menertawakan kekuatan Tuhan, seperti film Bruce Almighty. Film-film semacam ini, kendati berbau keagamaan, namun esensinya justru anti-agama. Karena itu, penayangan film ini pun akhirnya banyak menuai protes dari masyarakat kristiani maupun muslim.

 

Namun, ini hanyalah contoh kecil dari fenomena di atas. Minimnya pengetahuan para produser film Barat terhadap agama-agama Ilahi seperti Islam, dan ketakutan semu yang diciptakan oleh mesin propaganda Barat terhadap agama tertentu, mendorong Hollywood untuk merancang film dengan esensi spritualitas yang menyimpang. Kecendrungan ke arah Budhisme di kalangan para pelaku film, dalam waktu yang relatif singkat, telah menyebabkan munculnya pelbagai film yang mengisahkan kehidupan Budha dan Lama Tibet dalam berbagai versinya. Sejumlah film seperti, The Little Budha, Seven Years in Tibet, dan Kundun merupakan sejumlah karya sinema yang berupaya menyebar luaskan Budhisme lewat media film.

Ketertarikan industri film terhadap spritualitas Timur, dan upaya penampilan ritus keagmaan Timur yang demikian aneh dan keras, pada satu sisi, justru merupakan langkah yang mengkhawatirkan dan akan berujung pada generalisasi agama. Berbarengan dengan itu, maraknya film-film action seni bela diri Timur, juga turut mengiringi munculnya fenomena genre film-film keagamaan. Sebagai misal, beberapa film seperti, House of Flayying Daggers, Hidden Dragons, Couching Tiger.

 

Meski demikian, ada juga sejumlah film yang mengajak para penonton untuk berpikir mengenai isu-isu keagamaan dan mengantar nalar penonton untuk menyelami alam semesta dan asal mula penciptaan dunia. Film-film seperti Seven dan Contact,  merupakan contoh film yang mengungkap krisis spritual yang dihadapi manusia modern dan beragam isu sekitar siksa dan pahala di dunia dan akhirat. Contoh sukses lainnya adalah fiil What Dreams May Come, merupakan model kebangkitan struktur film religius di dunia sinema Barat. Pasalnya, film berhasil menampilkan visualisasi alam akhirat sesuai dengan apa yang tercantum dalam kitab suci umat Kristen dengan amat kreatif, dan menggambarkan siksa dan pahala akhirat dari perspektif keagamaan. Lewat teknik film yang demikian maju, film ini berhasil menyuguhkan tontonan religius yang begitu berkualitas.

 

Sejak dulu, munculnya pelbagai gerakan dan aliran seni, dan pemikiran filosofis di Barat telah banyak mempengaruhi dunia perfileman Eropa. Film-film Eropa di masa lalu, kerap bermuatkan pesimisme falsafi dan cendrung anti-agama. Agama sering ditampilkan dalam bentuk abad pertengahannya, dan senantiasa menjadi sasaran kritik. Fenomena ini, kendati masih bertahan, namun di sisi lain muncul juga fenomena tandingan yang erat kaitannya dengan gejala kebangkitan spritualitas di kalangan masyarakat modern. Karya film yang disuguhkan oleh Krzysztof Kieslowski merupakan contoh menarik film-film bertemakan keagamaan yang ditampilkan oleh para sineas film modern. Dalam filmnya itu, kehendak Tuhan merupakan penentu utama segala hal. Manusia harus memahami bahwa puncak kebebasannya terletak pada penghambaan sepenuhnya di hadapan Tuhan Yang Kuasa. Film Kieslowski ini memiliki pemahaman yang begitu optimis tentang kehidupan manusia. Cobaan dan kesulitan yang dihadapi manusia, olehnya ditampakkan sebagai jalan menuju kesempurnaan yang lebih luhur bagi manusia.

 

Tak pelak, kecendrungan masyarakat dunia terhadap agama saat ini merupakan hal yang tak mungkin diingkari lagi. Sebagai buktinya kita bisa menunjuk pada sambutan luas terhadap film The Passion of Christ, karya Mell Gibson yang sempat menduduki peringkat ke delapan film Box Office. Kendati ada banyak tayangan kekerasan dan penyimpangan sejarah di film ini, namun tetap saja film ini menjaring banyak penonton, lantaran menampilkan kehidupan tragis Yesus.

 

Insyallah, dalam seri ke dua topik pembicaraan kita kali ini, kami akan mengajak Anda mengupas persoalan perfileman Timur dan ketertarikan mereka pada tema-tema keagamaan di dunia filem. Sebagai penutup akhir jumpa kita kali ini, berikut kita simak bersama sekutip dialog dari film The Last Dinner, karya sineas Swedia, Ingmar Bergman, yang mengisahkan krisis maknawi manusia modern. “Jika manusia beriman pada Tuhan, maka tak akan ada lagi kesulitan, dan jika tak ada iman, maka tak ada juga jalan keluar”.

 

 

 

[ Index Perspektif ]   [ Home ]