|
Salman Rushdie adalah nama yang selalu
mengingatkan peristiwa pahit bagi umat Islam sedunia. Tahun 1988,
novelis asal berdarah India itu menerbitkan buku "The Satanic Verses"
atau Ayat-ayat Setan, yang berisi penghinaan kepada Nabi Muhammad SAW,
keluarga dan para sahabat serta kitab suci al-Qur'an. Penerbitan buku
itu membangkitkan amarah umat Islam sedunia. Pemimpin Besar Revolusi
Islam Iran, Imam Khomeini mengeluarkan fatwa murtad dan vonis mati atas
Salman Rushdie. Satu bulan berikutnya, para menteri luar negeri
Organisasi Konferensi Islam (OKI) menggelar sidang dan mendukung fatwa
tersebut. Seiring dengan gelombang protes dunia Islam, para penulis
muslim menulis puluhan buku untuk menjawab novel tulisan Rushdie.
Di saat umat Islam di seluruh dunia
meneriakkan protes, kecaman dan kutukan kepada Salman Rushdie, dunia
Barat khususnya Kerajaan Inggris justeru mengumumkan dukungan kepada
novelis murtad tersebut. Dunia Barat bahkan memberikan berbagai hadiah
dan penghargaan diberikan kepadanya. Setelah berlalu 18 tahun sejak
dijatuhkannya vonis hukuman mati oleh Imam Khomeini kepada Salman
Rushdie, kaum muslimin kembali dikejutkan oleh langkah Ratu Elizabeth II
yang memberikan gelar kesatriaan atau knighthood kepada Rushdie, dengan
alasan perannya dalam mengembangkan kesusasteraan.
Tak syak bahwa apa yang dilakukan pemerintah
Inggris itu adalah sebuah kesengajaan dan skenario yang telah dirancang
untuk mempermainkan perasaan kaum muslim dan melecehkan Islam. Sebab,
para pengamat pakar kesusasteraan menilai tidak ada keistimewaan seni
dalam karya-karya Rushdie. Pengalaman selama ini juga menunjukkan bahwa
Barat memiliki standar ganda dalam banyak hal seperti kebebasan
berpendapat dan berkreasi. Jika dituntut kepentingannya, Barat akan
memberikan lampu hijau kepada siapa saja untuk menulis semaunya meski
tulisan itu melanggar kode etik dan melukai perasaan satu setengah
milyar muslim.
Tak dipungkiri bahwa kebebasan berpendapat
adalah salah satu hak yang paling asasi bagi manusia. Akan tetapi tidak
ada kebebasan tanpa batas dan aturan. Jika sebuah kebebasan berbenturan
dengan kesucian dan meniscayakan pelecehan terhadap nilai-nilai
kebenaran, maka tidak ada lagi kebebasan yang harus dipertahankan.
Sayangnya, banyak pihak yang dalam hal ini negara-negara adidaya dan
Barat, tak segan mengorbankan kesucian dan kebenaran untuk
kepentingannya, dengan menggunakan kedok kebebasan berpendapat.
Dukungan dan pembelaan Barat kepada Salman
Rushdie dapat dilihat dari sudut pandang ini. Dengan mendukung Salman
Rushdie, dunia Barat praktis telah menistakan kesucian agama ilahi dan
melecehkan kebebasan itu sendiri. Media massa, para politikus dan
pejabat pemerintahan di Barat tak jarang melakukan aksi pelecehan dan
penistaan terhadap kesucian Islam, al-Qur'an dan Nabi Muhammad SAW.
Ketika aksi tersebut direaksi keras oleh dunia Islam, mereka bersembunyi
di balik kedok kebebasan berpendapat.
September 2005, Koran Denmark, Jyllan Posten
memuat karikatur penghinaan terhadap Nabi SAW, tindakan yang lantas
direaksi luas dan keras oleh umat muslim dunia. Saat belum ada
permintaan maaf, berbagai media eletronik dan cetak di sejumlah negara
Barat memuat karikatur yang sama dan menambah luka hati kaum muslimin.
Rezim-rezim Barat memberikan dukungan kepada aksi media tersebut dengan
memberinya label kebebasan berpendapat. Kesamaan karikatur ini dan buku
ayat-ayat setan tulisan Salman Rushdie adalah pelecehan tanpa dalil.
Padahal Islam adalah agama yang logis. Sementara pelecehan adalah
tindakan yang dilakukan oleh mereka yang tidak memiliki argumen.
Penghinaan kepada agama khususnya Islam,
biasanya dibarengi dengan penghinaan terhadap para Nabi. Dalam skenario
Salman Rushdie dan ayat-ayat setannya, masalah ini nampak dengan jelas.
Rushdie memperolok dan mempermainkan keagungan Nabi Muhammad SAW dan
mengalamatkan berbagai tuduhan kepada beliau. Penghinaan kepada para
Nabi sudah biasa dilakukan oleh para penentang kebenaran dan ajaran
ilahi sejak dahulu kala. Karena itu apa yang terjadi di zaman ini adalah
kelanjutan dari peristiwa di masa lalu.
Para Nabi adalah poros kebenaran dan
spiritual. Karena itu, para musuh Allah berharap dapat menodai dan
melemahkan agama yang dibawa para Nabi dengan merusak kesucian
insan-insan pilihan Allah ini. Akan tetapi para nabi khususnya Nabi
Muhammad SAW adalan wujud suci yang cahayanya tak mungkin redup hanya
dengan olok-olok dan penghinaan para musuh Allah. Tak hanya para
pengikut agama ilahi, orang-orang yang berpandangan bebas dan jujur akan
mengakui para utusan Allah itu sebagai insan-insan yang menjadi
kebanggaan sejarah dan pembimbing umat manusia. Mereka mengajarkan
kebenaran, kejujuran, keadilan, persaudaraan, dan nilai-nilai
kemanusiaan.
Sayangnya, di tengah masyarakat barat,
muncul berbagai kelompok yang menutup mata mereka dari fakta tadi.
Kemanusiaan dan spiritual diremehkan dan dilecehkan, sementara gerakan
anti agama dan spiritualitas didukung dan dibesarkan. Salman Rushdie
dijadikan pahlawan dan disemati berbagai penghargaan dan penghormatan,
hanya lantaran karya-karyanya yang melecehkan agama.
Pemberian penghargaan dan gelar kehormatan
terbaru kepada Rushdie oleh Kerajaan Inggris, setelah hampir dua dekade
berlalu sejak ia dijatuhi vonis mati oleh almarhum Imam Khomeini,
menunjukkan episode baru atau, mungkin, babak kelanjutan dari permusuhan
barat terhadap agama ilahi terutama Islam. Rushdie, figur yang paling
dibenci oleh umat Islam sedunia, diberi gelar kebangsawanan 'Sir' oleh
Ratu Inggris. Akibatnya, dunia dibakar oleh demo serta gerakan protes
dan kutukan. Dengan langkah ini, London harus bersiap-siap menghadapi
perlawanan dari dunia Islam.
Di Inggris sendiri, sekitar dua juta warga
muslim di negara itu tak mampu menahan rasa sakit hati. Warga muslim
Inggris selama ini selalu berusaha hidup secara damai dan menghormati
agama-agama yang lain. Namun yang mereka dapat adalah penistaan terhadap
agama Islam. Reaksi keras mereka terhadap pemberian gelar kehormatan
kepada Salman Rushdie melahirkan gelombang protes di dalam pemerintahan
Inggris. Gencarnya protes tersebut memaksa sejumlah menteri di kabinet
Tony Blair termasuk Menteri Luar Negeri Inggris dan beberapa anggota
parlemen untuk memkritik langkah pemerintah dan Ratu Elizabeth II dalam
memberikan gelar ksatria kepada Rushdie, langkah yang hanya menjadikan
Inggris sebagai negara paling dibenci oleh umat Islam.
Saat memberikan gelar kehormatan tersebut,
pemerintah Inggris memberikan alasan peran Rushdie dalam kesusasteraan
dan kebebasan berpendapat yang dianut di Inggris. Namun tak ada satupun
yang dapat mempercayai alasan itu. Bahkan tidak sedikit yang menilai
sebagai tindakan pelecehan baru Tony Blair terhadap Islam menjelang
kepergiannya dari kursi pemerintahan. Sebelum ini, Blair telah ikut
membantu invasi dan pendudukan atas Irak, sebuah negeri muslim.
Penganugerahan gelar kehormatan kepada
Salman Rushdie yang menghina dunia Islam lewat the Satanic Verses,
menunjukkan langkah terprogram Barat dalam memusuhi dan memerangi Islam.
Rezim-rezim di Eropa tak mampu menyembunyikan kekecewaan dan
kekhawatiran mereka terhadap perkembangan Islam di sana. Mereka
beranggapan bahwa dengan mencoreng nama baik Islam dan mengesankan kaum
muslimin sebagai orang-orang yang bengis dan tak berperadaban,
perkembangan Islam di Eropa dapat ditekan.
Tak diragukan bahwa pesatnya teknologi dan
pertukaran informasi lewat media, telah membuka pintu bagi warga Eropa
untuk mengenal Islam. Jika pengenalan ini dibiarkan berjalan secara
alamiah, tentu warga Eropa akan menerima agama yang suci, logis dan
dengan ajarannya yang menawan ini. Karena itu, para penguasa di Eropa
berusaha keras untuk membendung perkembangan Islam, yang salah satu
caranya adalah dengan merusak citra Islam, sehingga hakikat agama ini
tertutupi bagi warga Eropa. Pemberian penghargaan dan berbagai hadiah
kepada Salman Rushdie dapat dicermati lewat kacamata ini.
Yang jelas, program yang dijalankan Barat
untuk membendung Islam adalah program yang terkoordinasi dengan rapi.
Hal ini diungkap dalam oleh Juru Bicara Departemen Luar Negeri Republik
Islam Iran Mohammad Ali Hosseini yang mengatakan, "Penganugerahan gelar
'Sir' kepada Salman Rushdie menunjukkan bahwa aksi penistaan dan
pelecehan kesucian Islam bukan peristiwa yang terjadi secara kebetulan,
tetapi sebuah gerakan yang terprogram dan terorganisasi dengan dukungan
negara-negara Barat."
|