|
Para pejabat CIA dalam pertemuan terakhirnya dengan sejumlah perusahaan
film Hollywood, merekomendasikan Paul Barry, sebagai mediator lembaga
inteljen tersebut dengan Hollywood. Kantor Berita United Press
Internastional melaporkan, dalam pertemuan itu CIA menginginkan
Hollywood berupaya menampilkan para anggota CIA sebagai sosok yang
sangat profesional, handal dan berani, sehingga bisa membantu CIA dalam
mewujudkan tujuannya.
Juru Bicara CIA, Paul Gimicliano dalam pertemuan itu membacakan
pernyataan resmi yang menyatakan, program pemantauan langsung CIA
terhadap aktifitas Hollywood dan media Amerika lainnya akan terus
berlanjut.
CIA
sudah sekian tahun melibatkan para inteljennya terlibat dalam industri
film, pers dan media massa lainnya, sebagai upaya untuk merealisasikan
ambisi dan kebijakan imperialisme Barat. Hingga kini pun langkah semacam
itu masih tetap dilanjutkan. Meski industri film Hollywood telah
menggunakan teknik baru perfileman, dan berhasil menjaring penonton
internasional. Namun perhatian yang diberikan pemerintah AS dan CIA jauh
melebihi hal itu, Sejatinya Washington menghendaki Hollywood sebagai
wahana untuk menyebarkan proyek globalisasi ala Amerika dan budaya Barat
kepada bangsa-bangsa yang lainnya.
Ideologi Amerika
merupakan tajuk sebuah artikel terkenal Samir Amin, ekonom Perancis
kelahiran Mesir. Empat tahun yang lalu, artikel ini sempat diterbitkan
untuk pertama kalinya di harian Al-Ahram cetakan Mesir. Pada
bagian awal artikelnya, sang penulis memperingatkan para pembacanya
untuk tidak termakan tipu daya AS dan jangan pernah sekali-kali
menggunakan ungkapan ‘teman-teman Amerika kita’. Dalam makalahnya itu,
Amin bermaksud ingin menunjukkan bahwa AS tidak pernah bisa menampilkan
wajahnya di negara lain sebagai seorang sahabat. Untuk membuktikan
klaimnya itu, Amin mencoba membongkar budaya politik AS.
Menurutnya, “budaya politik merupakan hasil jangka panjang sejarah.
Karena itu, budaya politik tiap negara, merupakan keunikan negara
tersebut. Budaya politik AS dibentuk oleh sekelompok radikal New England
di Amerika. Budaya politik ini memiliki sejumlah karektiristik seperti,
pembantaian masal warga pribumi Amerika, memperbudak golongan yang lain
dengan instrumen agama, memecah belah pelbagai komunitas imigran yang
hijrah ke Amerika, dan memanfaatkan perbedaan etnis dan rasial di antara
mereka untuk kepentingan politisnya.
Lebih lanjut Samir Amir memaparkan, “Masyarakat Amerika Utara menganggap
dirinya sebagai kaum yang terpilih, dan secara praktis mereka sejatinya
mengkhotbahkan slogan fasisme ras utama. Selain mereka mengklaim
sebagai ras yang lebih unggul dari yang lain, mereka juga mengaku
memiliki misi ilahi. Mereka meyakini, doktrin keagamaan yang dianutnya
mesti direalisasikan dalam kehidupan nyata. Inilah ideologi dan iman
Amerika sesungguhnya yang telah menjelma dalam pelbagai kelompok rahasia
dan radikal seperti Ku Klux Klan (KKK), Freemasonary dan terutama CIA.
Agen rahasia dan inteljen semacam CIA sejatinya senantiasa berupaya
keras menguasai dunia industri film dan seluruh produksi pemikiran dan
seni. Sebagaimana yang telah berlaku selama ini, CIA selalu memprotes
setiap film yang tidak sehaluan dengan ideologi mereka, dan
menyatakannya sebagai film yang irrasional. Dengan adanya seorang
mediator antara CIA dengan Hollywood, sebenarnya merupakan langkah
politik untuk mencegah diproduksinya film-film yang tidak sejalan dengan
visi dam misi Washington. Sementara itu, dalam acara pengenalan mediator
CIA-Hollywood baru-baru ini, secara tersirat menunjukkan, bahwa entah
secara sengaja atau tidak, terdapat beberapa film yang menampilkan wajah
teruk CIA. Kondisi ini, tentu saja akan memperburuk reputasi CIA di mata
publik.
Kendati demikian, sebagian besar kritikus film menilai, terkadang masih
saja ada produser film independen di Hollywood yang sedikit melenceng
dari pakem yang ada, dan membuat sebuah karya film yang menayangkan
sejumlah fakta. Meskipun film semacam itu, disebut sebagai film
independen, namun sejatinya cukup kritis dalam menganalisa dan
mengkritik kondisi sosial dan politik yang ada. Sebagai misal, kita bisa
merujuk pada film Good Shepherd (Pengembala yang Baik) produksi
tahun 2006 yang menyoroti persoalan terbentuknya agen inteljen AS, CIA.
Film tersebut, menceritakan kisah hidup seorang bernama Edward Willson,
yang berperan penting dalam pembentukan Agen CIA, aksi destruktifnya
pada tahun 1960. Setting film tersebut, menampilkan latar belakang
penubuhan dan berkembangnya CIA, dan mengemas sasaran kemarin dan esok
agen mata-mata tersebut ke dalam alur melodrama. Kisah film ini
berlangsung pada pertengahan April 1961, saat tentara bayaran AS
melancarkan serangan ke teluk Babi di Kuba, hingga kekalahan memalukan
AS dalam operasi tersebut dan pasca peristiwa itu.
Dalam film itu, masa kecil Edward Willson, masa hidup dan proses
keanggotaannya di sebuah agen rahasia, yang merupakan cikal bakal CIA,
ditampilkan lewat sejumlah alur flashback. Pergulatan antara keamanan
dan ketidakamanan, merupakan poros utama film Good Shepherd, yang
disutradarai oleh Robert De Niro. Tokoh utama film ini, merupakan salah
satu pendiri sebuah lembaga yang menginginkan terwujudnya keamanan di
AS, namun dalam perjalanan selanjutnya, niat baik tersebut justru
menciptakan ketidakamanan dan konflik bagi negara lain termasuk rakyat
AS sendiri. Ia terpaksa meragukan setiap orang, karena tuntutan misi
yang dijalaninya. Sebab itu, ia pun akhirnya tak mampu mewujudkan
lingkungan aman di sekitarnya sendiri.
Penggambaran film tersebut mengenai awal lahir dan berkembangnya CIA
cukup menarik. Sang sutradara film, berupaya menampilkan sebuah
organisasi rahasia yang begitu mirip dengan komunitas bawah tanah dan
menakutkan, serta memiliki sejumlah tradisi dan ritual yang menyeramkan.
Organisasi misterius tersebut, merupakan cikal bakal agen mata-mata CIA.
Biasanya, dalam sejarah dan mitos Barat, mereka yang senantiasa
mengklaim sebagai pembawa misi keamanan sosial, muncul dari komunitas
bawah tanah semacam itu. Seperti yang pernah dituturkan oleh Herodes,
orator ulang Yunani kuno, orang-orang semacam itu, telah melewati
pelbagai ujian maut yang sangat melelahkan, hingga mereka bisa meraih
posisi tinggi dalam komunitasnya.
Presiden AS, George W. Bush berkali-kali memanfaatkan isu keamanan
internal AS untuk meyakinkan rakyatnya, sebagai pembenaran untuk
melancarkan invasi ke Afghanistan dan Irak. Bush mengklaim hendak
menyebarluaskan keamanan gaya Amerika ke seluruh pelosok dunia. Demikian
pula dengan CIA, agen mata-mata AS tersebut juga menggunakan cara
semacam itu. Hingga akhirnya, Hollywood pun berubah menjadi salah satu
cabang CIA, sebagai langkah untuk merealisasikan ambisi militeristik
Washington di seantero dunia. |