|
Pada bagian
pertama program ini, kami telah singgung bahwa pada peringatan ke-59
berdirinya rezim zionis pada tahun 1948, tampak sekali bahwa rezim ini
semakin melemah daripada masa lalu, apa lagi setelah rezim ini
menghadapi dua tantangan besar yang telah menciptakan krisis besar di
dalam tubuh rezim ilegal ini.
Selain menghadapi dua tantangan besar,
yaituintifadah Masjid Al-Aqsha dan kekalahan telak dalam perang
menghadapi Hizbullah Lebanon, rezim zionis juga tengah menghadapi
kesulitan karena berbagai krisis interen yang melanda sehingga mengancam
sendi-sendi rezim teroris ini. Semakin meningkatnya dekadensi moral dan
merebaknya korupsi, kolusi dan nepotisme di tengah para pejabat tinggi
Tel Aviv, termasuk diantaranya titik-titik kelemahan rezim zionis,
membuat kepercayaan rakyat kepada para pejabat mereka telah merosot
hingga ke titik terendah. Kebobrokan moral dan seksual di tengah para
pejabat rezim zionis, semakin pula memperparah keberadaan rezim ini.
Kemiskinan yang semakin meluas
ditengah masyarakat zionis, merupakan faktor lain yang menunjukkan
parahnya kondisi rezim zionis. Media-media Barat pada umumnya selalu
berusaha meyakinkan opini umum dunia bahwa perekonomian rezim zionis
mengalami kemajuan dan kuat. Akan tetapi tingkat kemiskinan,
pengangguran dan jurang pemisah antara kaya dan miskin, membuktikan
sakitnya perekonomian rezim zionis. Berdasarkan data-data dari lembaga
bujet Israel, lebih dari 1 juta 400 ribu dari 6 juta penduduk Palestina
pendudukan, berada di bawah garis kemiskinan. Dengan kata lain, sekitar
seperempat dari seluruh warga zionis, hidup dalam kemiskinan. Sebuah
yayasan zionis lain, juga membeirkan data bahwa fenomena buruk ini
selama 25 tahun lalu, telah mengalami peningkatan sebanyak 25 persen.
Berbagai laporan menunjukkan bahwa proses peningkatan ini tengah
berjalan dengan pesat.
Palestina penduudkan alias Israel,
mengalami krisis dan berbagai kesulitan ekonomi seperti itu, padahal
rezim ini selalu menerima bantuan-bantuan luas dari berbagai negara
Barat. Tiap tahunnya, AS memberikan bantuan Cuma-Cuma sebesar 3 miliar
USD kepada rezim ini, dimana satu miliar 200 juta dolarnya merupakan
bantuan keuangan dan perekonomian, sedangkan lainnya merupakan bantuan
militer. Sementara itu, kaum zionis di AS dan Eropa, tiap tahunnya
mengumpulkan dana dalam jumlah besar dan dikirim ke rezim zionis guna
mempertahankan kelanjutan hidup rezim ini. Meski demikian, tetap saja
kondisi perekonomian rezim ini berada dalam krisis.
Kemiskinan akan terasa sangat
berat dan tak semakin tak tertanggungkan, jika disertai dengan perlakuan
diskriminatif dan ketidakadilan. Rezim zionis yang didirikan di atas
pondasi rasialisme, diskriminasi dan semangat superioritas, telah
menciptakan ketidakadilan di bidang ekonomi. Dalam hal ini, warga Arab
Palestina, yang masih bertahan di dalam Israel, adalah warga yang paling
parah menerima perlakuan diskriminatif ini. Tentu saja ketidakadilan dan
diskriminasi di Palestina pendudukan tidak terbatas hanya di bidang
ekonomi, tapi mencakup seluruh bidang kehidupan sosial. Pada dasarnya,
zionisme didirikan bukan di atas dasar-dasar ajaran agama Yahudi, tapi
ia dibangun berdasarkan penyalahgunaan dan penyimpangan ajaran-ajaran
agama samawi ini.
Zionisme bahkan membeda-bedakan
perlakuan terhadap sesama Yahudi yang datang dari berbagai negara di
dunia ke Palestina penduudkan. Untuk itu, di dalam masyarakat zionis,
kaum Yahudi AS dan Eropa memiliki posisi khusus, yang selalunya
menguasai pekerjaan-pekerjaan penting dan berpenghasilan tinggi, juga
menguasai jabatan-jabtaan sesnsitif di dalam pemerintahan. Mereka inilah
lapisan masyarakat kelas satu. Kaum Yahudi lain yang datang ke Palestina
pendudukan, menempati lapisan masyarakat kelas dua, yang jarang sekali
menduduki jabatan tinggi atau pekerjaan-pekerjaan berpenghasilan tinggi.
Sedangkan yang paling sial ialah kaum Yahudi berkulit hitam, yang datang
dari benua Afrika.
Sudah barang tentu, berdasarkan
sistim rasialisme rezim zionis, bangsa Arab Palestina, yang merupakan
pemilik asli negeri ini, adalah bangsa yang paling menderita dalam
menjalani kehidupan mereka di tanah Palestina pendudukan. Kelompok
minoritas berjumlah besar ini bukan hanya tidak memiliki harapan untuk
dapat naik ke anak tangga yang lebih tinggi dalam kehidupan sosial
mereka, bahkan mereka ini sengaja dihalangi dari segala macam fasilitas
kesejahteraan. Para penguasa rezim zionis tidak pernah memperhatikan
kawasan-kawasan berpenduduk Arab, dan dengan sangat mudahnya mereka
merampas tanah dan harta kekayaan mereka. Meski demikian, ternyata warga
Arab Palestina di kawasan pendudukan, dianggap sebagai salah satu
ancaman dan faktor kejatuhan rezim zionis. Hal itu adalah karena
dieprkirakan, jumlah warga Palestina ini, hingga tahun 2020, akan
meningkat dari 20 persen menjadi 40 persen dari seluruh penduduk
Palestina pendudukan. Hal itu membuat identitas Yahudi kawasan ini
dipertanyakan. Untuk itu bangsa Arab Palestina yang masih bertahan di
Palestina pendudukan disebut sebagai bom jumlah penduduk yang mengancam
keselamatan rezim zionis.
Krisis lain di Palestina pendudukan yang
akhir-akhir ini semakin meningkat ialah perselisihan antara kaum sekuler
dan kalangan agama. Meskipun menjadikan ajaran Yahudi sebagai alat untuk
mendukung penegakan rezimnya di tanah Palestina, akan tetapi para tokoh
dan pemimpin rezim ini menyingkirkan agama dan menegakkan rezim sekuler.
Mayoritas pemimpin gerakan internasional zionisme juga menganut paham
sekuler. Akan tetapi sejak beberapa tahun belakangan, kalangan ekstrim
agama telah semakin memperkuat posisi mereka dalam pemerintahan, dan
menjalankan politik dalam dan luar negeri aliran ekstrim. Melihat itu,
kalangan sekuler rezim zionis merasa terancam kehilangan kendali.
Pada tahun 2003, sekelompok dari mereka ini,
yang menamakan diri "Kelompok Akademis) mengadakan
perundingan-perundingan untuk membentuk stau kawasan permukiman zionis
di luar Palestina pendudukan. Michael Ourine, asisten rektor universitas
Haifa, dalam hal ini mengatakan, "Semua gambaran dan cita-cita yang
menjadi landasan kedatangan warga Yahudi dan pembentukan pemerintahan
Israel, telah musnah ditiup angin. Untuk itu, tidak ada jalan lain
kecuali meninggalkan Israel, dan merealisasikan impian kita itu di
tempat lain. Tegasnya, mendirikan Israel baru di sebuah kawasan lain."
Perlu diketahui bahwa ide meninggalkan
Palestina pendudukan, bukan monopoli sebagian kalangan sekuler, tapi
banyak lagi kaum zionis yang telah hengkang ke negara lain karena
menghadapi rasialisme atau karena masalah-masalah keamanan dan
perekonomian. Fenomena ini, yang disebut dengan istilah "eksodus" atau
arus balik, tak lain merupakan mimpi buruk bagi para pemimpin rezim
zionis, yang selalu berusaha mencegah terjadinya hal tersebut. Yang
dimaksud dengan eksodus atau arus balik ini ialah keluarnya kaum zionis
meninggalkan Palestina pendudukan dan kembalinya mereka ke negara-negara
tempat asal mereka, sebelum didatangkan ke kawasan ini.
Proses meningkatnya jumlah arus balik ini,
jelas membuktikan kegagalan rezim zionis untuk membangun bangsa Yahudi
zionis, sekaligus membuktikan pula bahwa kaum Yahudi tidak pernah tampil
sebagai sebuah bangsa dengan pemerintahan sendiri. Mereka itu hanyalah
kelompok-kelompok minoritas yang menyebar di berbagai belahan bumi,
termasuk di Palestina. Akan tetapi para pencetus dan pendukung
berdirinya rezim zionis telah membujuk mereka ini dengan berbagai janji
paslu, agar bersedia berkumpul di satu tempat. Ketika mereka bersedia
datang ke Palestina pendudukan karena tertarik kepada janji-janji
kehidupan yang baik, aman dan tenteram di tanah yang dijanjikan (tentu
saja dengan janji-janji palsu para dedengkot zionis) dan hidup selama
beberapa waktu di kawasan ini, barulah mereka menyadari bahwa tidak ada
kesejahteraan, tidak ada keamanan, dan tidak ada ketentraman di tanah
yang dijanjikan ini. Mereka inilah yang kemudian beramai-ramai keluar
lagi dari kawasan Palestina pendudukan, dan kembali ke tempat asal
mereka atau ke negara lain.
Pusat statistik rezim zionis menyebutkan
bahwa angka warga zionis yang hingga tahun 2004 meninggalkan kawasan
pendudukan ke negara asal mereka, mencapai 700.000 hingga 1 juta orang.
Sementara itu, laporan-laporan dari yayasan-yayasan lain mengatakan
bahwa jumlah warga zionis yang meninggalkan Palestina pendudukan
mencapai 1 juta 500 ribu orang. Diketahui pula bahwa tidak sedikit kaum
zionis yang memiliki rumah dan tanah di luar Palestina, sebagai
jaga-jaga ketika terpaksa meninggalkan kawasan ini. Sebuah polling
menunjukkan bahwa seperempat dari para pemuda zionis berusia 18 hingga
29 tahun, juga berpikir untuk meninggalkan Palestian pendudukan.
Sementara itu, kaum Yahudi yang datang ke Palestina pendudukan dari
Rusia, setelah keruntuhan Uni Soviet, secara bertahap kembali ke negara
asal mereka, setelah menyaksikan kondisi tak menentu rezim zionis,
terutama berbagai perilaku diskriminatif yang mereka hadapi.
|