Perspektif    

  Juni 2007

[ Index Perspektif  ] [[ Home ]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Rezim Zionis Menghadapi Keruntuhan (02)

 

Pada bagian pertama program ini, kami telah singgung bahwa pada peringatan ke-59 berdirinya rezim zionis pada tahun 1948, tampak sekali bahwa rezim ini semakin melemah daripada masa lalu, apa lagi setelah rezim ini menghadapi dua tantangan besar yang telah menciptakan krisis besar di dalam tubuh rezim ilegal ini.

Selain menghadapi dua tantangan besar, yaituintifadah Masjid Al-Aqsha dan kekalahan telak dalam perang menghadapi Hizbullah Lebanon, rezim zionis juga tengah menghadapi kesulitan karena berbagai krisis interen yang melanda sehingga mengancam sendi-sendi rezim teroris ini. Semakin meningkatnya dekadensi moral dan merebaknya korupsi, kolusi dan nepotisme di tengah para pejabat tinggi Tel Aviv, termasuk diantaranya titik-titik kelemahan rezim zionis, membuat kepercayaan rakyat kepada para pejabat mereka telah merosot hingga ke titik terendah. Kebobrokan moral dan seksual di tengah para pejabat rezim zionis, semakin pula memperparah keberadaan rezim ini.

          Kemiskinan yang semakin meluas ditengah masyarakat zionis, merupakan faktor lain yang menunjukkan parahnya kondisi rezim zionis. Media-media Barat pada umumnya selalu berusaha meyakinkan opini umum dunia bahwa perekonomian rezim zionis mengalami kemajuan dan kuat. Akan tetapi tingkat kemiskinan, pengangguran dan jurang pemisah antara kaya dan miskin, membuktikan sakitnya perekonomian rezim zionis. Berdasarkan data-data dari lembaga bujet Israel, lebih dari 1 juta 400 ribu dari 6 juta penduduk Palestina pendudukan, berada di bawah garis kemiskinan. Dengan kata lain, sekitar seperempat dari seluruh warga zionis, hidup dalam kemiskinan. Sebuah yayasan zionis lain, juga membeirkan data bahwa fenomena buruk ini selama 25 tahun lalu, telah mengalami peningkatan sebanyak 25 persen. Berbagai laporan menunjukkan bahwa proses peningkatan ini tengah berjalan dengan pesat.

          Palestina penduudkan alias Israel, mengalami krisis dan berbagai kesulitan ekonomi seperti itu, padahal rezim ini selalu menerima bantuan-bantuan luas dari berbagai negara Barat. Tiap tahunnya, AS memberikan bantuan Cuma-Cuma sebesar 3 miliar USD kepada rezim ini, dimana satu miliar 200 juta dolarnya merupakan bantuan keuangan dan perekonomian, sedangkan lainnya merupakan bantuan militer. Sementara itu, kaum zionis di AS dan Eropa, tiap tahunnya mengumpulkan dana dalam jumlah besar dan dikirim ke rezim zionis guna mempertahankan kelanjutan hidup rezim ini. Meski demikian, tetap saja kondisi perekonomian rezim ini berada dalam krisis.

          Kemiskinan akan terasa sangat berat dan tak semakin tak tertanggungkan, jika disertai dengan perlakuan diskriminatif dan ketidakadilan. Rezim zionis yang didirikan di atas pondasi rasialisme, diskriminasi dan semangat superioritas, telah menciptakan ketidakadilan di bidang ekonomi. Dalam hal ini, warga Arab Palestina, yang masih bertahan di dalam Israel, adalah warga yang paling parah menerima perlakuan diskriminatif ini. Tentu saja ketidakadilan dan diskriminasi di Palestina pendudukan tidak terbatas hanya di bidang ekonomi, tapi mencakup seluruh bidang kehidupan sosial. Pada dasarnya, zionisme didirikan bukan di atas dasar-dasar ajaran agama Yahudi, tapi ia dibangun berdasarkan penyalahgunaan dan penyimpangan ajaran-ajaran agama samawi ini.

           Zionisme bahkan membeda-bedakan perlakuan terhadap sesama Yahudi yang datang dari berbagai negara di dunia ke Palestina penduudkan. Untuk itu, di dalam masyarakat zionis, kaum Yahudi AS dan Eropa memiliki posisi khusus, yang selalunya menguasai pekerjaan-pekerjaan penting dan berpenghasilan tinggi, juga menguasai jabatan-jabtaan sesnsitif di dalam pemerintahan. Mereka inilah lapisan masyarakat kelas satu. Kaum Yahudi lain yang datang ke Palestina pendudukan, menempati lapisan masyarakat kelas dua, yang jarang sekali menduduki jabatan tinggi atau pekerjaan-pekerjaan berpenghasilan tinggi. Sedangkan yang paling sial ialah kaum Yahudi berkulit hitam, yang datang dari benua Afrika.

          Sudah barang tentu, berdasarkan sistim rasialisme rezim zionis, bangsa Arab Palestina, yang merupakan pemilik asli negeri ini, adalah bangsa yang paling menderita dalam menjalani kehidupan mereka di tanah Palestina pendudukan. Kelompok minoritas berjumlah besar ini bukan hanya tidak memiliki harapan untuk dapat naik ke anak tangga yang lebih tinggi dalam kehidupan sosial mereka, bahkan mereka ini sengaja dihalangi dari segala macam fasilitas kesejahteraan. Para penguasa rezim zionis tidak pernah memperhatikan kawasan-kawasan berpenduduk Arab, dan dengan sangat mudahnya mereka merampas tanah dan harta kekayaan mereka. Meski demikian, ternyata warga Arab Palestina di kawasan pendudukan, dianggap sebagai salah satu ancaman dan faktor kejatuhan rezim zionis. Hal itu adalah karena dieprkirakan, jumlah warga Palestina ini, hingga tahun 2020, akan meningkat dari 20 persen menjadi 40 persen dari seluruh penduduk Palestina pendudukan. Hal itu membuat identitas Yahudi kawasan ini dipertanyakan. Untuk itu bangsa Arab Palestina yang masih bertahan di Palestina pendudukan disebut sebagai bom jumlah penduduk yang mengancam keselamatan rezim zionis.

Krisis lain di Palestina pendudukan  yang akhir-akhir ini semakin meningkat ialah perselisihan antara kaum sekuler dan kalangan agama. Meskipun menjadikan ajaran Yahudi sebagai alat untuk mendukung penegakan rezimnya di tanah Palestina, akan tetapi para tokoh dan pemimpin rezim ini menyingkirkan agama dan menegakkan rezim sekuler. Mayoritas pemimpin gerakan internasional zionisme juga menganut paham sekuler. Akan tetapi sejak beberapa tahun belakangan, kalangan ekstrim agama telah semakin memperkuat posisi mereka dalam pemerintahan, dan menjalankan politik dalam dan luar negeri aliran ekstrim. Melihat itu, kalangan sekuler rezim zionis merasa terancam kehilangan kendali.

Pada tahun 2003, sekelompok dari mereka ini, yang menamakan diri "Kelompok Akademis) mengadakan perundingan-perundingan untuk membentuk stau kawasan permukiman zionis di luar Palestina pendudukan. Michael Ourine, asisten rektor universitas Haifa, dalam hal ini mengatakan, "Semua gambaran dan cita-cita yang menjadi landasan kedatangan warga Yahudi dan pembentukan pemerintahan Israel, telah musnah ditiup angin. Untuk itu, tidak ada jalan lain kecuali meninggalkan Israel, dan merealisasikan impian kita itu di tempat lain. Tegasnya, mendirikan Israel baru di sebuah kawasan lain."

Perlu diketahui bahwa ide meninggalkan Palestina pendudukan, bukan monopoli sebagian kalangan sekuler, tapi banyak lagi kaum zionis yang telah hengkang ke negara lain karena menghadapi rasialisme atau karena masalah-masalah keamanan dan perekonomian. Fenomena ini, yang disebut dengan istilah "eksodus" atau arus balik, tak lain merupakan mimpi buruk bagi para pemimpin rezim zionis, yang selalu berusaha mencegah terjadinya hal tersebut. Yang dimaksud dengan eksodus atau arus balik ini ialah keluarnya kaum zionis meninggalkan Palestina pendudukan dan kembalinya mereka ke negara-negara tempat asal mereka, sebelum didatangkan ke kawasan ini.

Proses meningkatnya jumlah arus balik ini, jelas membuktikan kegagalan rezim zionis untuk membangun bangsa Yahudi zionis, sekaligus membuktikan pula bahwa kaum Yahudi tidak pernah tampil sebagai sebuah bangsa dengan pemerintahan sendiri. Mereka itu hanyalah kelompok-kelompok minoritas yang menyebar di berbagai belahan bumi, termasuk di Palestina. Akan tetapi para pencetus dan pendukung berdirinya rezim zionis telah membujuk mereka ini dengan berbagai janji paslu, agar bersedia berkumpul di satu tempat. Ketika mereka bersedia datang ke Palestina pendudukan karena tertarik kepada janji-janji kehidupan yang baik, aman dan tenteram di tanah yang dijanjikan (tentu saja dengan janji-janji palsu para dedengkot zionis) dan hidup selama beberapa waktu di kawasan ini, barulah mereka menyadari bahwa tidak ada kesejahteraan, tidak ada keamanan, dan tidak ada ketentraman di tanah yang dijanjikan ini. Mereka inilah yang kemudian beramai-ramai keluar lagi dari kawasan Palestina pendudukan, dan kembali ke tempat asal mereka atau ke negara lain.

Pusat statistik rezim zionis menyebutkan bahwa angka warga zionis yang hingga tahun 2004 meninggalkan kawasan pendudukan ke negara asal mereka, mencapai 700.000 hingga 1 juta orang. Sementara itu, laporan-laporan dari yayasan-yayasan lain mengatakan bahwa jumlah warga zionis yang meninggalkan Palestina pendudukan mencapai 1 juta 500 ribu orang. Diketahui pula bahwa tidak sedikit kaum zionis yang memiliki rumah dan tanah di luar Palestina, sebagai jaga-jaga ketika terpaksa meninggalkan kawasan ini. Sebuah polling menunjukkan bahwa seperempat dari para pemuda zionis berusia 18 hingga 29 tahun, juga berpikir untuk meninggalkan Palestian pendudukan. Sementara itu, kaum Yahudi yang datang ke Palestina pendudukan dari Rusia, setelah keruntuhan Uni Soviet, secara bertahap kembali ke negara asal mereka, setelah menyaksikan kondisi tak menentu rezim zionis, terutama berbagai perilaku diskriminatif yang mereka hadapi.

 

 

 

[ Index Perspektif ]   [ Home ]