|
Saat ini banyak yang menyadari bahwa planet
bumi telah memasuki masa yang kritis. Dibanding masa lalu, saat ini bumi
telah mengalami banyak perubahan yang signifikan. Kebutuhan manusia di
zaman ini telah melampaui potensi yang ada di bumi dan hal ini menjadi
sebuah tantangan besar dan membuat khawatir para ilmuan. Ratusan ilmuan
terkenal dari berbagai negara telah menyampaikan peringatan bahaya akan
sejumlah aktivitas yang merusak lingkungan hidup. Jika kondisi ini
berlanjut, jutaan spesis di bumi ini akan punah. Hutan, padang sahara,
danau dan sungai akan rusak.
Hal ini mengusik pikiran para ilmuan dan
memaksa mereka untuk berpikir demi mencegah terjadinya tragedi
lingkungan hidup. Sebab, bumi saat ini dihuni oleh lebih dari enam
milyar jiwa dan generasi-generasi lainnya masih akan bakal tinggal di
planet ketiga tata surya ini. Kehidupan manusia sangat bergantung pada
kondisi bumi dan kondisi alamnya. Kelalaian untuk menjaga lingkungan
hidup akan berakibat fatal di kemudian hari.
Adalah fenomena yang tak dipungkiri bahwa
manusia zaman ini sadar atau tidak telah merusak lingkungan hidup demi
memperoleh kesenangan dan kemudahan hidup. Pengerusakan yang dilakukan
oleh anak cucu Adam ini telah mengubah udara dan air sehingga
dikhawatirkan di masa mendatang, planet bumi tidak lagi layak untuk
dihuni. Keselamatan umat manusia benar-benar terancam, akibat perubahan
ekosistem alam, rusaknya hutan dan tanah, juga percemaran air dan
menipisnya lapisan ozon.
Mengingat bahwa lingkungan hidup adalah
landasan utama bagi kehidupan manusia, tak ada pilihan selain
menyesuaikan kebijakan ekonomi dan pembangunan dengan standar yang ramah
lingkungan. Saat ini, negara-negara berkembang menuduh negara-negara
industri sebagai pelaku utama pencemaran dan perusakan lingkungan hidup.
Sementara negara-negara industri menuding negara dunia ketiga sebagai
penyebab menipisnya persediaan alam lantaran pertumbuhan penduduknya
yang tinggi.
Sayangnya, dunia saat ini dikuasai oleh
sekelompok kecil orang yang hidup dalam kemewahan dan gelimang kekayaan.
Mereka memegang kendali kekayaan alam yang berlimpah. Sementara
mayoritas penduduk bumi harus hidup di lingkungan tercemar, kotor dan
tak sehat sehingga membuat mereka dijangkiti banyak penyakit berbahaya.
Adalah fakta yang tak terbantahkan bahwa negara-negara industri adalah
penyumbang pencemaran udara paling besar. Aktivitas industri dan
pabrik-pabrik yang memproduksi berbagai keperluan dunia modern memainkan
peran yang besar dalam memproduksi gas karbon dioksida dan berbagai
zat-zat berbahaya lainnya.
Penggunaan berbagai zat kimia oleh
negara-negara tersebut juga berdampak besar pada penipisan lapisan ozon.
Produksi dan penguburan limbah atom yang mereka lakukan di negara-negara
dunia ketiga adalah contoh lain dari tindakan perusakan lingkungan hidup
yang dilakukan oleh negara-negara industri. Jaringan pemberitaan ABC
membeberkan bahwa pabrik-pabrik dan pusat industri di Amerika Serikat
setiap tahunnya memproduksi 88 juta pound limbah beracun yang menurut
laporan kantor pemeliharaan lingkungan hidup, 90 persen dari zat-zat
beracun itu tidak dimusnahkan dengan baik.
Pada bulan April tahun 1995 sebuah jurnal
ilmiah internasional Neurotoxer Koji, merilis artikel dari sekelompok
peneliti asal Australia yang menyebutkan bahwa penggunaan garam
aluminium untuk menyuling air, menyebabkan pengkonsumsi air tersebut
mengalami gangguan otak dan berpotensi menderita Alzheimer. Dalam
berbagai riset selama lebih dari dua puluh tahun, terbukti bahwa
keberadaan zat aluminium pada otak akan menyebabkan Alzheimer. Seorang
peneliti Australia bernama Jody Walton mengatakan, peningkatan jumlah
penderita Alzheimer dalam tujuh puluh tahun terakhir merupakan sebuah
kenyataan yang tidak dapat dipungkiri. Lebih lanjut dikatakannya, "Kita
setiap harinya mengkonsumsi zat alumunium yang terkandung dalam makanan
dan minuman kita setiap hari, dan dampak dari zat tersebut akan kita
rasakan pada masa tua". Zat alumunium itu terkandung dalam komposisi
makanan, baking powder, pasta gigi, dan pada sebagian besar
perabotan dapur.
Meski manusia menyadari dan menyaksikan
dampak dari perusakan lingkungan hidup, namun aksi tersebut terus
berlangsung di negara-negara besar industri dan negara dunia ketiga.
Dapat dikatakan bahwa perusakan lingkungan hidup adalah sebuah imbas
dari ketimpangan sosial dan ekonomi yang terjadi di dunia. Penyimpangan
pemanfaatan alam juga merupakan akibat dari minimnya tingkat kesadaran
masyarakat tentang lingkungan hidup dan perundang-undangan yang lemah.
Setiap negara harus lebih meningkatkan kesadaran masyarakatnya tentang
pemeliharaan lingkungan hidup.
Alhasil, nasib umat manusia sangat
bergantung pada alam dan begitu pula sebaliknya, nasib bumi juga sangat
bergantung pada perilaku para penghuninya. Artinya, seluruh faktor
destruksi bumi dan ketimpangan yang menyebabkan perusakan lingkungan
hidup akan merugikan seluruh umat manusia. Tak diragukan lagi, harus
ditetapkan sistem dan program baru dalam perekonomian global yang tetap
menekankan upaya pelestarian alam. Tahap awalnya, harus dilakukan dengan
mengubah visi setiap negara dalam program pembangunannnya untuk tetap
memperhatikan masalah lingkungan hidup.
Pemanfaatan lingkungan hidup era modern ini
dapat dikategorikan sebagai langkah menuju malapetaka. Mengingat jika
kondisi ini terus berlanjut, hal itu secara langsung mengandaskan upaya
perwujudan keamanan global, Hak Asasi Manusia, dan struktur perekonomian
global yang kokoh. Dalam rangka menciptakan kehidupan yang damai, bebas,
dan mulia, kita semua memerlukan air bersih, tanah yang subur, dan udara
segar.
|