Perspektif    

  Juni 2007

[ Index Perspektif  ] [[ Home ]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Menjaga Lingkungan Hidup, Jaminan Keselamatan Masa Depan

 

Saat ini banyak yang menyadari bahwa planet bumi telah memasuki masa yang kritis. Dibanding masa lalu, saat ini bumi telah mengalami banyak perubahan yang signifikan. Kebutuhan manusia di zaman ini telah melampaui potensi yang ada di bumi dan hal ini menjadi sebuah tantangan besar dan membuat khawatir para ilmuan. Ratusan ilmuan terkenal dari berbagai negara telah menyampaikan peringatan bahaya akan sejumlah aktivitas yang merusak lingkungan hidup. Jika kondisi ini berlanjut, jutaan spesis di bumi ini akan punah. Hutan, padang sahara, danau dan sungai  akan rusak.

Hal ini mengusik pikiran para ilmuan dan memaksa mereka untuk berpikir demi mencegah terjadinya tragedi lingkungan hidup. Sebab, bumi saat ini dihuni oleh lebih dari enam milyar jiwa dan generasi-generasi lainnya masih akan bakal tinggal di planet ketiga tata surya ini. Kehidupan manusia sangat bergantung pada kondisi bumi dan kondisi alamnya. Kelalaian untuk menjaga lingkungan hidup akan berakibat fatal di kemudian hari.

Adalah fenomena yang tak dipungkiri bahwa manusia zaman ini sadar atau tidak telah merusak lingkungan hidup demi memperoleh kesenangan dan kemudahan hidup. Pengerusakan yang dilakukan oleh anak cucu Adam ini telah mengubah udara dan air sehingga dikhawatirkan di masa mendatang, planet bumi tidak lagi layak untuk dihuni. Keselamatan umat manusia benar-benar terancam, akibat perubahan ekosistem alam, rusaknya hutan dan tanah, juga percemaran air dan menipisnya lapisan ozon.

Mengingat bahwa lingkungan hidup adalah landasan utama bagi kehidupan manusia, tak ada pilihan selain menyesuaikan kebijakan ekonomi dan pembangunan dengan standar yang ramah lingkungan. Saat ini, negara-negara berkembang menuduh negara-negara industri sebagai pelaku utama pencemaran dan perusakan lingkungan hidup. Sementara negara-negara industri menuding negara dunia ketiga sebagai penyebab menipisnya persediaan alam lantaran pertumbuhan penduduknya yang tinggi.

Sayangnya, dunia saat ini dikuasai oleh sekelompok kecil orang yang hidup dalam kemewahan dan gelimang kekayaan. Mereka memegang kendali kekayaan alam yang berlimpah. Sementara mayoritas penduduk bumi harus hidup di lingkungan tercemar, kotor dan tak sehat sehingga membuat mereka dijangkiti banyak penyakit berbahaya. Adalah fakta yang tak terbantahkan bahwa negara-negara industri adalah penyumbang pencemaran udara paling besar. Aktivitas industri dan pabrik-pabrik yang memproduksi berbagai keperluan dunia modern memainkan peran yang besar dalam memproduksi gas karbon dioksida dan berbagai zat-zat berbahaya lainnya.

Penggunaan berbagai zat kimia oleh negara-negara tersebut juga berdampak besar pada penipisan lapisan ozon. Produksi dan penguburan limbah atom yang mereka lakukan di negara-negara dunia ketiga adalah contoh lain dari tindakan perusakan lingkungan hidup yang dilakukan oleh negara-negara industri. Jaringan pemberitaan ABC membeberkan bahwa pabrik-pabrik dan pusat industri di Amerika Serikat setiap tahunnya memproduksi 88 juta pound limbah beracun yang menurut laporan kantor pemeliharaan lingkungan hidup, 90 persen dari zat-zat beracun itu tidak dimusnahkan dengan baik.

Pada bulan April tahun 1995 sebuah jurnal ilmiah internasional Neurotoxer Koji, merilis artikel dari sekelompok peneliti asal Australia yang menyebutkan bahwa penggunaan garam aluminium untuk menyuling air, menyebabkan pengkonsumsi air tersebut mengalami gangguan otak dan berpotensi menderita Alzheimer. Dalam berbagai riset selama lebih dari dua puluh tahun, terbukti bahwa keberadaan zat aluminium pada otak akan menyebabkan Alzheimer. Seorang peneliti Australia bernama Jody Walton mengatakan, peningkatan jumlah penderita Alzheimer dalam tujuh puluh tahun terakhir merupakan sebuah kenyataan yang tidak dapat dipungkiri. Lebih lanjut dikatakannya, "Kita setiap harinya mengkonsumsi zat alumunium yang terkandung dalam makanan dan minuman kita setiap hari, dan dampak dari zat tersebut akan kita rasakan pada masa tua". Zat alumunium itu terkandung dalam komposisi makanan, baking powder, pasta gigi, dan pada sebagian besar perabotan dapur.

Meski manusia menyadari dan menyaksikan dampak dari perusakan lingkungan hidup, namun aksi tersebut terus berlangsung di negara-negara besar industri dan negara dunia ketiga. Dapat dikatakan bahwa perusakan lingkungan hidup adalah sebuah imbas dari ketimpangan sosial dan ekonomi yang terjadi di dunia. Penyimpangan pemanfaatan alam juga merupakan akibat dari minimnya tingkat kesadaran masyarakat tentang lingkungan hidup dan perundang-undangan yang lemah. Setiap negara harus lebih meningkatkan kesadaran masyarakatnya tentang pemeliharaan lingkungan hidup.

Alhasil, nasib umat manusia sangat bergantung pada alam dan begitu pula sebaliknya, nasib bumi juga sangat bergantung pada perilaku para penghuninya. Artinya, seluruh faktor destruksi bumi dan ketimpangan yang menyebabkan perusakan lingkungan hidup akan merugikan seluruh umat manusia. Tak diragukan lagi, harus ditetapkan sistem dan program baru dalam perekonomian global yang tetap menekankan upaya pelestarian alam. Tahap awalnya, harus dilakukan dengan mengubah visi setiap negara dalam program pembangunannnya untuk tetap memperhatikan masalah lingkungan hidup.

Pemanfaatan lingkungan hidup era modern ini dapat dikategorikan sebagai langkah menuju malapetaka. Mengingat jika kondisi ini terus berlanjut, hal itu secara langsung mengandaskan upaya perwujudan keamanan global, Hak Asasi Manusia, dan struktur perekonomian global yang kokoh. Dalam rangka menciptakan kehidupan yang damai, bebas, dan mulia, kita semua memerlukan air bersih, tanah yang subur, dan udara segar.

 

 

[ Index Perspektif ]   [ Home ]