Perspektif    

  Juni 2007

[ Index Perspektif  ] [[ Home ]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Konferensi Internasional Tentang Nabi Besar Muhammad saaw

 

Konferensi internasional ini digelar di Tehran dan dihadiri oleh para menteri dari 21 negara Islam dan para pakar serta ulama muslimin dari berbagai negara. Di masa kembalinya manusia kepada ajaran agama, maka konferensi ini dipandang sangat tepat dan efektif. Terutama jika dilihat bahwa pendidikan yang diberikan kepada seseorang sejak masa kecil, merupakan cara yang paling efektif dan akan memberikan hasil yang lebih sempurna. Untuk itu, pengenalan yang lebih luas tentang akhlak dan perilaku Rasul Allah saaw, oleh para pembangun masa depan ini, akan memberikan perubahan yang sangat berharga dalam hidup mereka.

          Sunnah Nabi saaw adalah salah satu sumber terpenting untuk memahami ajaran-ajaran agama Islam yang mulia. Rasul Allah saaw menaruh perhatian khusus kepada masalah pendidikan. Beliau menyeru umat manusia agar menerima, meyakini dan mengamalkan ajaran-ajaran Allah dengan sepenuh kesadaran dan pengetahuan. Untuk itu beliau menerapkan berbagai metode untuk menyampaikan ajaran-ajaran beliau yang tinggi, seraya menjauhi sikap ekstrimisme. Kadang-kadang Rasul Allah saaw menggunakan cara tanya jawab untuk menjelaskan ajaran-ajarannya. Umpamanya, sebagaimana yang disampaikan oleh An-Nawawi, dalam buku 40 Hadits, "Suatu hari Rasul Allah saaw bertanya kepada para sahabat beliau, "Siapakah diantara kalian yang paling kuat?" Mereka menjawab, bahwa orang yang paing kuat ialah orang yang tak terkalahkan kekauatan fisiknya. Beliau menjawab, "Bukan. Orang yang paling kuat ialah orang yang ketika marah, ia dapat menguasai diri." 

          Tampak sekali, bahwa dengan mengajukan pertanyaan semacam itu, Rasul Allah saaw berusaha mempersiapkan lawan bicaranya untuk menerima ajaran yang akan beliau sampaikan kemudian. Pertanyaan tersebut membangkitkan semangat dan minat mereka, sehingga ajaran yang beliau sampaikan akan masuk dan melekat dengan kuat di dalam ingatan mereka. Rasul Allah saaw juga tidak jarang menggunakan perumpamaan yang sesuai untuk mengajarkan dan menyampaikan ajaran-ajarannya agar diterima dengan baik oleh umat beliau. Kadang juga beliau menggunakan metode cerita untuk itu. Suatu kali Rasul Allah saaw juga pernah menggunakan bentuk-bentuk tertentu untuk menjelaskan maksud beliau.

 

          Abdullah bin Alwan, penulis buku "Pendidikan dan Pengajaran Anak Dalam Islam", menulis, "Jabir, salah seorang sahabat Nabi saaw, berkata, "Suatu hari kami tengah duduk bersama Rasul Allah saaw. Beliau membuat sebuah garis lurus di atas tanah dan berkata, "Ini adalah jalan Allah. Kemudian beliau juga membuat garis-garis lain di samping kanan dan kiri garis tersebut, dan barkata, "Sedangkan ini adalah jalan-jalan setan. Lalu, beliau menunjuk ke garis lurus tadi, seraya membacakan Ayat 153 Surat Al-An'aam:

وَأَنَّ هَـذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُواْ السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ

ذَلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

 

Yang artinya, "Dan sesungguhnya inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia dan janganlahkalian mengikuti jalan-jalan lain yang akan memisahkan kalian dari jalan-Nya. Itulah yang Allah wasiatkan kepada kalian, agar kalian bertaqwa."

          Dr Mahmud Ahmadinejad, Presiden RII, tampil sebagai pembuka konferensi tentang Nabi Besar Muhammad saaw yang diadakan di Tehran ini. Dalam pidato pembukaan konferensi ini, beliau berkata, "Amal saleh terindah dan yang paling berkesan ialah pendidikan manusia. Karena mendidik seorang manusia, berarti memberikan kehidupan yang hakiki dan abadi kepadanya. Untuk itulah dalam program-program para Nabi, terutama Nabi kita Muhammad saaw, pendidikan memiliki posisi sedemikian penting, bahkan para pendidik tidak boleh berputus asa dalam mendidik seorang manusia seperti Firaun. Seraya menekankan bahwa tujuan para Nabi adalah mendidik seluruh manusia, Dr Ahmadinejad mengatakan bahwa masalah pendidikan dan pengajaran harus dipandang dari dua sudut pandang. Pertama, kebertahapannya, dan yang kedua, keberadaan Nabi Besar Islam yang merupakan teladan terbaik yang berada di puncak kesempurnaan sebagai manusia. 

          Utsman At-Tuwaijiri, Ketua Organisasi ISISCO, dalam konferensi internasional "Pribadi Nabi saaw dan Program-program Pendidikan", berbicara tentang program-program pelajaran di negara-negara Barat, yang penuh dengan syubhat, informasi yang telah diputar balik, serta pandangan-pandangan yang menyesatkan, berkenaan dengan Rasul Allah saaw. I amengatakan, "Saat ini perang terbuka terhadap Islam dan penghinaan terhadap Rasul Allah saaw telah sampai ke suatu tahap penentangan tanpa tedeng aling-aling, dan kekafiran yang tiada taranya. Dalam penelitian yang dilakukan dengan mendalam oleh ISISCO di berbagai bidang pendidikan sekolah dan perguruan tinggi di Barat, telah dicapai suatu kesimpulan, bahwa telah terjadi pendistorsian sejarah yang sedemikian luas sehingga membuat para pelajar dan mahasiswa Barat tidak lagi mengetahui hakekat ajaran Islam." 

          Ja'far Khuza'iy, Menetri pendidikan Irak, dalam pidato yang disampaikannya dalam konferensi ini berkata, "Rekonstruksi kebudayaan dan pendidikan, menuntut pula pembangunan manusia dari awal. Rasul Allah saaw pun diutus dalam rangka merealisasikan tujuan ini. Jelas sekali bahwa tidak setiap pendidikan dan pengajaran akan menghasilkan kemajuan dan pengembangan berbagai potensi manusia sebagaimana mestinya. Keagungan dan kelanggengan risalah Islam terletak dalam realitas bahwa mukjizat terbesar agama ini ialah Al-Quran, sebuah kitab maknawi, universal, dan penuh dengan ajaran pendidikan. Berbeda dengan mukjizat-mukjizat para Nabi lain yang terbatas pada zaman dan masa tertentu. 

          Hasan Abdurrahman, seorang pemikir dan peneliti dari Mesir, mengatakan bahwa salah satu permasalahan mendasar yang sering kali meletuskan bentrokan-bentrokan antar golongan dan madzhab, ialah ketiadaan semangat hidup bersama dan menerima perbedaan, di dalam sistim pendidikan sekolah-sekolah Islam. Ia berkata, "Muslimin harus menghentikan sikap saling mengafirkan, sebaliknya mereka justru harus memberantas kelompok-kelompok takfiri. Selain itu, mereka harus membangkitkan semangat persaudaraan dan persatuan sesama muslim, serta menjauhi sikap-sikap ekstrim yang sama sekali tidak logis." 

          Zakiyyah Mousavi, peneliti dan cendekiawan dari Kuwait, dalam dialog dengan wartawan kami berkenaan dengan masalah ini, berkata, "Di masa kini, anak-anak dan kalangan remaja, memerlukan teladan sempurna sebagaimana Rasul Allah saaw. Memperkenalkan pribadi beliau sebagai guru umat manusia, merupakan metode pendidikan terbaik untuk membina kaum remaja muslimin." Cendekiawan perempuan dari Kuwait ini selanjutnya menekankan penggunaan teknologi moderen adalah sangat perlu termasuk dalam pengajaran ilmu-ilmu agama, termasuk fiqih. Beliau menilai diantara cacat yang ada dalam sistim pendidikan di sebagian negara islam ialah masih adanya usaha memunculkan masalah-masalah khilafiyah, terutama dalam sejarah Nabi. Untuk itu beliau meminta agar masalah ini segera ditangani dengan baik. 

          Wujud Rasul Allah saaw adalah sebuah mukjizat di alam ciptaan ini, yang memiliki wajah dan penampilan yang memancarkan cahaya malakut dan maknawi. Meski demikian beliau tetap seorang manusia. Justru di sinilah rahasia kehebatan dan keagungan beliau. Ajaran beliau adalah ajaran yang menjanjikan kemuliaan hidup di dunia dan akherat. Untuk itu, sudah seharusnya sistim pendidikan di negara Islam membeirkan perhatian yang besar kepada ajaran Nabi, untuk memberikan pendidikan yang sebaik mungkin bagi umat manusia.

 

 

[ Index Perspektif ]   [ Home ]