|
Konferensi internasional ini digelar di Tehran dan dihadiri oleh para
menteri dari 21 negara Islam dan para pakar serta ulama muslimin dari
berbagai negara. Di masa kembalinya manusia kepada ajaran agama, maka
konferensi ini dipandang sangat tepat dan efektif. Terutama jika dilihat
bahwa pendidikan yang diberikan kepada seseorang sejak masa kecil,
merupakan cara yang paling efektif dan akan memberikan hasil yang lebih
sempurna. Untuk itu, pengenalan yang lebih luas tentang akhlak dan
perilaku Rasul Allah saaw, oleh para pembangun masa depan ini, akan
memberikan perubahan yang sangat berharga dalam hidup mereka.
Sunnah Nabi saaw adalah salah satu sumber terpenting untuk
memahami ajaran-ajaran agama Islam yang mulia. Rasul Allah saaw menaruh
perhatian khusus kepada masalah pendidikan. Beliau menyeru umat manusia
agar menerima, meyakini dan mengamalkan ajaran-ajaran Allah dengan
sepenuh kesadaran dan pengetahuan. Untuk itu beliau menerapkan berbagai
metode untuk menyampaikan ajaran-ajaran beliau yang tinggi, seraya
menjauhi sikap ekstrimisme. Kadang-kadang Rasul Allah saaw menggunakan
cara tanya jawab untuk menjelaskan ajaran-ajarannya. Umpamanya,
sebagaimana yang disampaikan oleh An-Nawawi, dalam buku 40 Hadits, "Suatu
hari Rasul Allah saaw bertanya kepada para sahabat beliau, "Siapakah
diantara kalian yang paling kuat?" Mereka menjawab, bahwa orang yang
paing kuat ialah orang yang tak terkalahkan kekauatan fisiknya. Beliau
menjawab, "Bukan. Orang yang paling kuat ialah orang yang ketika marah,
ia dapat menguasai diri."
Tampak sekali, bahwa dengan mengajukan pertanyaan semacam itu,
Rasul Allah saaw berusaha mempersiapkan lawan bicaranya untuk menerima
ajaran yang akan beliau sampaikan kemudian. Pertanyaan tersebut
membangkitkan semangat dan minat mereka, sehingga ajaran yang beliau
sampaikan akan masuk dan melekat dengan kuat di dalam ingatan mereka.
Rasul Allah saaw juga tidak jarang menggunakan perumpamaan yang sesuai
untuk mengajarkan dan menyampaikan ajaran-ajarannya agar diterima dengan
baik oleh umat beliau. Kadang juga beliau menggunakan metode cerita
untuk itu. Suatu kali Rasul Allah saaw juga pernah menggunakan
bentuk-bentuk tertentu untuk menjelaskan maksud beliau.
Abdullah bin Alwan, penulis buku "Pendidikan dan Pengajaran
Anak Dalam Islam", menulis, "Jabir, salah seorang sahabat Nabi saaw,
berkata, "Suatu hari kami tengah duduk bersama Rasul Allah saaw. Beliau
membuat sebuah garis lurus di atas tanah dan berkata, "Ini adalah jalan
Allah. Kemudian beliau juga membuat garis-garis lain di samping kanan
dan kiri garis tersebut, dan barkata, "Sedangkan ini adalah jalan-jalan
setan. Lalu, beliau menunjuk ke garis lurus tadi, seraya membacakan Ayat
153 Surat Al-An'aam:
وَأَنَّ هَـذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُواْ
السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ
ذَلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Yang artinya, "Dan sesungguhnya inilah jalan-Ku yang lurus, maka
ikutilah ia dan janganlahkalian mengikuti jalan-jalan lain yang akan
memisahkan kalian dari jalan-Nya. Itulah yang Allah wasiatkan kepada
kalian, agar kalian bertaqwa."
Dr Mahmud Ahmadinejad, Presiden RII, tampil sebagai pembuka
konferensi tentang Nabi Besar Muhammad saaw yang diadakan di Tehran ini.
Dalam pidato pembukaan konferensi ini, beliau berkata, "Amal saleh
terindah dan yang paling berkesan ialah pendidikan manusia. Karena
mendidik seorang manusia, berarti memberikan kehidupan yang hakiki dan
abadi kepadanya. Untuk itulah dalam program-program para Nabi, terutama
Nabi kita Muhammad saaw, pendidikan memiliki posisi sedemikian penting,
bahkan para pendidik tidak boleh berputus asa dalam mendidik seorang
manusia seperti Firaun. Seraya menekankan bahwa tujuan para Nabi adalah
mendidik seluruh manusia, Dr Ahmadinejad mengatakan bahwa masalah
pendidikan dan pengajaran harus dipandang dari dua sudut pandang.
Pertama, kebertahapannya, dan yang kedua, keberadaan Nabi Besar Islam
yang merupakan teladan terbaik yang berada di puncak kesempurnaan
sebagai manusia.
Utsman At-Tuwaijiri, Ketua Organisasi ISISCO, dalam konferensi
internasional "Pribadi Nabi saaw dan Program-program Pendidikan",
berbicara tentang program-program pelajaran di negara-negara Barat, yang
penuh dengan syubhat, informasi yang telah diputar balik, serta
pandangan-pandangan yang menyesatkan, berkenaan dengan Rasul Allah saaw.
I amengatakan, "Saat ini perang terbuka terhadap Islam dan penghinaan
terhadap Rasul Allah saaw telah sampai ke suatu tahap penentangan tanpa
tedeng aling-aling, dan kekafiran yang tiada taranya. Dalam penelitian
yang dilakukan dengan mendalam oleh ISISCO di berbagai bidang pendidikan
sekolah dan perguruan tinggi di Barat, telah dicapai suatu kesimpulan,
bahwa telah terjadi pendistorsian sejarah yang sedemikian luas sehingga
membuat para pelajar dan mahasiswa Barat tidak lagi mengetahui hakekat
ajaran Islam."
Ja'far Khuza'iy, Menetri pendidikan Irak, dalam pidato yang
disampaikannya dalam konferensi ini berkata, "Rekonstruksi kebudayaan
dan pendidikan, menuntut pula pembangunan manusia dari awal. Rasul Allah
saaw pun diutus dalam rangka merealisasikan tujuan ini. Jelas sekali
bahwa tidak setiap pendidikan dan pengajaran akan menghasilkan kemajuan
dan pengembangan berbagai potensi manusia sebagaimana mestinya.
Keagungan dan kelanggengan risalah Islam terletak dalam realitas bahwa
mukjizat terbesar agama ini ialah Al-Quran, sebuah kitab maknawi,
universal, dan penuh dengan ajaran pendidikan. Berbeda dengan
mukjizat-mukjizat para Nabi lain yang terbatas pada zaman dan masa
tertentu.
Hasan Abdurrahman, seorang pemikir dan peneliti dari Mesir,
mengatakan bahwa salah satu permasalahan mendasar yang sering kali
meletuskan bentrokan-bentrokan antar golongan dan madzhab, ialah
ketiadaan semangat hidup bersama dan menerima perbedaan, di dalam sistim
pendidikan sekolah-sekolah Islam. Ia berkata, "Muslimin harus
menghentikan sikap saling mengafirkan, sebaliknya mereka justru harus
memberantas kelompok-kelompok takfiri. Selain itu, mereka harus
membangkitkan semangat persaudaraan dan persatuan sesama muslim, serta
menjauhi sikap-sikap ekstrim yang sama sekali tidak logis."
Zakiyyah Mousavi, peneliti dan cendekiawan dari Kuwait, dalam
dialog dengan wartawan kami berkenaan dengan masalah ini, berkata, "Di
masa kini, anak-anak dan kalangan remaja, memerlukan teladan sempurna
sebagaimana Rasul Allah saaw. Memperkenalkan pribadi beliau sebagai guru
umat manusia, merupakan metode pendidikan terbaik untuk membina kaum
remaja muslimin." Cendekiawan perempuan dari Kuwait ini selanjutnya
menekankan penggunaan teknologi moderen adalah sangat perlu termasuk
dalam pengajaran ilmu-ilmu agama, termasuk fiqih. Beliau menilai
diantara cacat yang ada dalam sistim pendidikan di sebagian negara islam
ialah masih adanya usaha memunculkan masalah-masalah khilafiyah,
terutama dalam sejarah Nabi. Untuk itu beliau meminta agar masalah ini
segera ditangani dengan baik.
Wujud Rasul Allah saaw adalah sebuah mukjizat di alam ciptaan
ini, yang memiliki wajah dan penampilan yang memancarkan cahaya malakut
dan maknawi. Meski demikian beliau tetap seorang manusia. Justru di
sinilah rahasia kehebatan dan keagungan beliau. Ajaran beliau adalah
ajaran yang menjanjikan kemuliaan hidup di dunia dan akherat. Untuk itu,
sudah seharusnya sistim pendidikan di negara Islam membeirkan perhatian
yang besar kepada ajaran Nabi, untuk memberikan pendidikan yang sebaik
mungkin bagi umat manusia.
|