|
Beribadah Hanya Kepada Allah
Alhamdulillah bahwa kita semua, umat
muslimin, memiliki keyakinan yang mantak bahwa tiada suatu apa pun yang
berhak disembah kecuali Allah swt. Akan tetapi, keyakinan kita itu akan
semakin kuat lagi, jika kita mengetahui dalil-dalil yang mengharuskan
kita beribadah hanya kepada Allah swt. Mula-mula kita harus mengetahui
terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan ibadah. Tentu saja, kata-kata
menyembah tidak bisa dijadikan sebagai padanan kata-kata beribadah,
sebagaimana yang dikenal dalam istilah Islam. Paling tidak, kata-kata "sembah"
tidak memuat semua makna yang terkandung di dalam kata-kata "ibadah".
Karena kata-kata "sembah" dan semua cabangnya, digunakan juga untuk
selain ibadah kepada selain Allah swt. Dalam peradaban Jawa dan juga
Melayu, sering kita temukan seseorang menyembah orang lain. Umpamanya
rakyat jelata yang menyembah Raja, dalam arti menghormatinya dengan
penghormatan yang sangat tinggi.
Sedangkan kata-kata "ibadah" dalam istilah Islam, tidak boleh digunakan
kepada selain Allah. Artinya seseorang tidak boleh beribadah dan
menujukan ibadahnya itu kepada selain Allah. Kalaupun terjadi
peribadatan seseorang kepada selain Allah, maka Islam tidak membenarkan
dan menolaknya dengan keras. Hal itu tak lain adalah karena Islam telah
memberikan makna yang khusus untuk kata-kata ibadah ini, dimana ia tidak
boleh ditujukan kepada selain Allah swt. Mungkin akan banyak definisi
yang dapat diberikan untuk menjelaskan makna ibadah ini secara ilmiyah.
Akan tetapi kita tidak akan membahasnya secara ilmiyah kali ini. artinya,
makna ibadah yang akan kita berikan di sini ialah makna yang bersifat
umum saja, dan dapat difahami dengan mudah. Yaitu, ketaatan dan
ketundukan yang bersifat mutlak kepada Allah swt. Ketundukan dan
ketaatan yang ditegakkan di atas keyakinan, bahwa Allah adalah Pencipta
kita, bahkan seluruh alam semesta dengan segala isinya, dan bahwa Allah
adalah tempat kita dan seluruh makhluk-Nya bergantung dalam segala hal.
Sedangkan tidak ada suatu apa pun selain Allah yang bersifat seperti itu.
Saudara sekalian, dalam perjalanan sejarah perkembangan ajaran-ajaran
Islam, sempat terjadi perselisihan dalam memahami makna, batas-batas dan
bentuk-bentuk ibadah. Sebagian muslimin ada yang meyakini bahwa segala
macam sikap menunjukkan kerendahan dan kehinaan diri di depan selainnya,
merupakan ibadah. Gerakan-gerakan seperti ruku', sujud, bahkan mengusap
dan mengagungkan serta menghormati sesuatu, dianggap sebagai ibadah. Dan
jika hal itu dilakukan kepada selain Allah, maka akan membuat pelakunya
dapat dicap sebagai musyrik. Kalaupun tidak sampai kepada musyrik, maka
perbuatan-perbuatan seperti itu akan dinilai sebagai perbuatan yang amat
buruk, sesat dan bid'ah. Akan tetapi ada pula sebagian muslimin lain
meyakini bahwa penghormatan kepada selain Allah, seperti kepada penguasa,
Nabi dan Rasul, ulama, tokoh agama, ayah dan ibu, kitab suci dan
Ayat-Ayat Al-Quran, tidak akan termasuk ke dalam kategori ibadah,
asalkan tidak dilandasi oleh keyakinan sebagaimana di atas.
Artinya, jika seseorang membungkukkan badannya di depan orang lain untuk
menghormatinya, maka perbuatan itu sama sekali tidak termasuk ke dalam
ibadah kepada orang itu. Karena sikap membungkuk itu dilakukan tidak
dengan keyakinan bahwa orang yang ia hormati adalah Tuhan, atau memiliki
sifat-sifat ketuhanan. Menghormati orang-orang yang sudah meninggal,
terutama para Nabi, Rasul, Auliya, ulama, shalihin, syuhada, kedua orang
tua, dan seterusnya, dengan menziarahi kubur mereka, memuliakan mereka
dengan cara-cara yang sesuai dengan tuntunan agama, adalah hal yang
sangat ditekankan dan dianjurkan. Ringkasnya, penghormatan kepada siapa
pun selain Allah, dapat dilakukan dengan dua syarat. Pertama orang atau
sesuatu tersebut memang berhak mendapatkan penghormatan. Kedua,
penghormatan tersebut dilakukan tanpa didasari dengan keyakinan bahwa
orang atau sesuatu yang dihormati itu adalah tempat bergantungnya segala
sesuatu.
Di dalam Al-Quranul Karim dapat kita temukan
beberapa Ayat yang menggunakan kata-kata sujud kepada selain Allah swt.
Dalam Surat Al-Hijr Ayat 30-31, Allah swt berfirman:
"Dan jika Aku telah sempurnakan ia dan Aku
tiupkan ruh-Ku ke dalamnya, maka sujudlah kalian kepadanya. Maka semua
malaikat sujud, kecuali iblis. Ia tidak mau masuk bersama (para malaikat)
yang sujud"
Dalam surat Yusuf Ayat 100, Allah swt
berfirman: Dan ia (Nabi Yusuf as) mengangkat kedua orang tuanya ke atas
arsy (singgasana) dan mereka semua menjatuhkan diri, bersujud
kepadanya."Dalam Ayat-Ayat tersebut di atas, dengan jelas dikatakan
bahwa para malaikat dan iblis diperintahkan oleh Allah untuk bersujud
kepada Nabi Adam as, dan kedua orang tua Yusuf as, serta sebelas orang
saudaranya bersujud kepada beliau. Akan tetapi apakah sujud-sujud
tersebut merupakan sujud ibadah dan penyembahan kepada selain Allah?
Tentu saja bukan. Sujud-sujud tersebut hanya mengandung makna
penghormatan; meskipun penghormatan yang sangat tinggi, namun yang jelas
ia dilakukan tanpa keyakinan bahwa Adam atau Yusuf as itu adalah Tuhan
atau sekutu Tuhan. Sehingga tidak ada masalah dengan itu. Tentu saja
penghormatan dengan cara bersujud atau ruku kepada orang atau sesuatu
yang dihormati, meskipun tidak mengakibatkan syirik, sebagaimana
dijelaskan di atas, namun penghormatan seperti itu tidak boleh dijadikan
kebiasaan.
Hal itu tak lain adalah karena sujud dan ruku', sebagaimana yang kita
lakukan di dalam salat itu, sudah dipahami dan diyakini dikalangan
seluruh muslimin sebagai penghormatan yang boleh dilakukan hanya di
hadapan Allah swt. Sedangkan membungkukkan badan sedikit di depan
seseorang untuk menghormatinya, asalkan tidak sampai kepada bentuk ruku'
sebagaimana dalam salat, maka yang demikian itu tidak apa-apa, karena
tidak ada hubungannya dengan ibadah dan penyembahan.
|