Perspektif    

  Mei 2007

[ Index Perspektif  ] [[ Home ]

 

 

 

 

 

 

 

 

Beribadah Hanya Kepada Allah

Alhamdulillah bahwa kita semua, umat muslimin, memiliki keyakinan yang mantak bahwa tiada suatu apa pun yang berhak disembah kecuali Allah swt. Akan tetapi, keyakinan kita itu akan semakin kuat lagi, jika kita mengetahui dalil-dalil yang mengharuskan kita beribadah hanya kepada Allah swt. Mula-mula kita harus mengetahui terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan ibadah. Tentu saja, kata-kata menyembah tidak bisa dijadikan sebagai padanan kata-kata beribadah, sebagaimana yang dikenal dalam istilah Islam. Paling tidak, kata-kata "sembah" tidak memuat semua makna yang terkandung di dalam kata-kata "ibadah". Karena kata-kata "sembah" dan semua cabangnya, digunakan juga untuk selain ibadah kepada selain Allah swt. Dalam peradaban Jawa dan juga Melayu, sering kita temukan seseorang menyembah orang lain. Umpamanya rakyat jelata yang menyembah Raja, dalam arti menghormatinya dengan penghormatan yang sangat tinggi.

Sedangkan kata-kata "ibadah" dalam istilah Islam, tidak boleh digunakan kepada selain Allah. Artinya seseorang tidak boleh beribadah dan menujukan ibadahnya itu kepada selain Allah. Kalaupun terjadi peribadatan seseorang kepada selain Allah, maka Islam tidak membenarkan dan menolaknya dengan keras. Hal itu tak lain adalah karena Islam telah memberikan makna yang khusus untuk kata-kata ibadah ini, dimana ia tidak boleh ditujukan kepada selain Allah swt. Mungkin akan banyak definisi yang dapat diberikan untuk menjelaskan makna ibadah ini secara ilmiyah. Akan tetapi kita tidak akan membahasnya secara ilmiyah kali ini. artinya, makna ibadah yang akan kita berikan di sini ialah makna yang bersifat umum saja, dan dapat difahami dengan mudah. Yaitu, ketaatan dan ketundukan yang bersifat mutlak kepada Allah swt. Ketundukan dan ketaatan yang ditegakkan di atas keyakinan, bahwa Allah adalah Pencipta kita, bahkan seluruh alam semesta dengan segala isinya, dan bahwa Allah adalah tempat kita dan seluruh makhluk-Nya bergantung dalam segala hal. Sedangkan tidak ada suatu apa pun selain Allah yang bersifat seperti itu.

Saudara sekalian, dalam perjalanan sejarah perkembangan ajaran-ajaran Islam, sempat terjadi perselisihan dalam memahami makna, batas-batas dan bentuk-bentuk ibadah. Sebagian muslimin ada yang meyakini bahwa segala macam sikap menunjukkan kerendahan dan kehinaan diri di depan selainnya, merupakan ibadah. Gerakan-gerakan seperti ruku', sujud, bahkan mengusap dan mengagungkan serta menghormati sesuatu, dianggap sebagai ibadah. Dan jika hal itu dilakukan kepada selain Allah, maka akan membuat pelakunya dapat dicap sebagai musyrik. Kalaupun tidak sampai kepada musyrik, maka perbuatan-perbuatan seperti itu akan dinilai sebagai perbuatan yang amat buruk, sesat dan bid'ah. Akan tetapi ada pula sebagian muslimin lain meyakini bahwa penghormatan kepada selain Allah, seperti kepada penguasa, Nabi dan Rasul, ulama, tokoh agama, ayah dan ibu, kitab suci dan Ayat-Ayat Al-Quran, tidak akan termasuk ke dalam kategori ibadah, asalkan tidak dilandasi oleh keyakinan sebagaimana di atas.

Artinya, jika seseorang membungkukkan badannya di depan orang lain untuk menghormatinya, maka perbuatan itu sama sekali tidak termasuk ke dalam ibadah kepada orang itu. Karena sikap membungkuk itu dilakukan tidak dengan keyakinan bahwa orang yang ia hormati adalah Tuhan, atau memiliki sifat-sifat ketuhanan. Menghormati orang-orang yang sudah meninggal, terutama para Nabi, Rasul, Auliya, ulama, shalihin, syuhada, kedua orang tua, dan seterusnya, dengan menziarahi kubur mereka, memuliakan mereka dengan cara-cara yang sesuai dengan tuntunan agama, adalah hal yang sangat ditekankan dan dianjurkan. Ringkasnya, penghormatan kepada siapa pun selain Allah, dapat dilakukan dengan dua syarat. Pertama orang atau sesuatu tersebut memang berhak mendapatkan penghormatan. Kedua, penghormatan tersebut dilakukan tanpa didasari dengan keyakinan bahwa orang atau sesuatu yang dihormati itu adalah tempat bergantungnya segala sesuatu.
 

Di dalam Al-Quranul Karim dapat kita temukan beberapa Ayat yang menggunakan kata-kata sujud kepada selain Allah swt. Dalam Surat Al-Hijr Ayat 30-31, Allah swt berfirman:

"Dan jika Aku telah sempurnakan ia dan Aku tiupkan ruh-Ku ke dalamnya, maka sujudlah kalian kepadanya. Maka semua malaikat sujud, kecuali iblis. Ia tidak mau masuk bersama (para malaikat) yang sujud"

Dalam surat Yusuf Ayat 100, Allah swt berfirman: Dan ia (Nabi Yusuf as) mengangkat kedua orang tuanya ke atas arsy (singgasana) dan mereka semua menjatuhkan diri, bersujud kepadanya."Dalam Ayat-Ayat tersebut di atas, dengan jelas dikatakan bahwa para malaikat dan iblis diperintahkan oleh Allah untuk bersujud kepada Nabi Adam as, dan kedua orang tua Yusuf as, serta sebelas orang saudaranya bersujud kepada beliau. Akan tetapi apakah sujud-sujud tersebut merupakan sujud ibadah dan penyembahan kepada selain Allah? Tentu saja bukan. Sujud-sujud tersebut hanya mengandung makna penghormatan; meskipun penghormatan yang sangat tinggi, namun yang jelas ia dilakukan tanpa keyakinan bahwa Adam atau Yusuf as itu adalah Tuhan atau sekutu Tuhan. Sehingga tidak ada masalah dengan itu. Tentu saja penghormatan dengan cara bersujud atau ruku kepada orang atau sesuatu yang dihormati, meskipun tidak mengakibatkan syirik, sebagaimana dijelaskan di atas, namun penghormatan seperti itu tidak boleh dijadikan kebiasaan.

Hal itu tak lain adalah karena sujud dan ruku', sebagaimana yang kita lakukan di dalam salat itu, sudah dipahami dan diyakini dikalangan seluruh muslimin sebagai penghormatan yang boleh dilakukan hanya di hadapan Allah swt. Sedangkan membungkukkan badan sedikit di depan seseorang untuk menghormatinya, asalkan tidak sampai kepada bentuk ruku' sebagaimana dalam salat, maka yang demikian itu tidak apa-apa, karena tidak ada hubungannya dengan ibadah dan penyembahan.



 

 

 

[ Index Perspektif ]   [ Home ]