|
Sinema AS Penyebar Rasialisme (3)
Anda tentu masih ingat bahwa dalam pertemuan
yang lalu, kita telah mempelajari sendi-sendi rasialisme dan berbagai
bentuknya di dalam filem-filem Hollywood. Kami katakan bahwa selama abad
ke-20, sejumlah filem Hollywood, dibuat berdasarkan politik-politik
rasialis pemerintahan AS dan hubungan politik negara ini dengan
negara-negara lain. Proses tersebut memiliki penampakan yang lebih
mencolok lagi berkenaan dengan negara-negara Timru Tengah dan Asia.
Dalam acara kita kali ini kita akan menengok filem-filem rasialistis
Hollywood terhadap Iran.
Kemenangan revolusi Islam Iran pada tahun
1979, adalah awal dimulainya serangan-serangan propaganda dan kebudayaan
oleh para pembuat filem dan par apejabat Hollywood, yang ditujukan
kepada bangsa Iran. Revolusi yang mengakhiri kehadiran dan pengaruh
Barat, terutama AS, di Iran, yang sejak saat itu selalu menunjukkan
reaksi keras terhadap politik-politik imperialistis dan campur tangan
AS. Jika kita ingin melihat filem-filem AS yang berbicara tentang Iran,
maka kita menyorot secara khusus filem-filem yang dibuat setelah
kemenangan revulisi ini. Diantara filem-filem yang dibuat di awal-awal
setelah kemenangan revolusi, ada yang mengangkat masalah penyenderaan
para intel AS di Iran.
Filem yang paling terkenal sekaitan dengan
hal ini ialah yang berjudul "The Hostages" yang memperagakan serangan
pasukan komando AS ke Iran di padang pasir Tabas. Di dalam filem ini
digambarkan bahwa mereka berusaha membebaskan para intel AS tersebut,
namun mereka gagal. Filem ini menggambarkan Iran dengan gambaran yang
jauh dari realitas, terkebelakang dan kolot. Filem lain yang secara
langsung menyerang bangsa Iran ialah sebuah filem berjudul "Not Without
My Daughter" produksi tahun 1991. Filem ini telah melecehkan seluruh
peradaban, kebudayaan dan agama warga Iran, dan filem ini telah menghina
habis-habisan bangsa yang berperadaban tinggi ini. dengan bersandar
kepada beberapa pribadi yang memang ada dan sebuah buku berjudul "Tidak,
Tanpa Anak Perempuanku", tampak sekali berusaha menggambarkan iklim
sosial dan politik di Iran setelah revolusi.
Dr Buzurg Mahmudi, setelah beberapa tahun hidup di AS dan menikahi
seorang perempuan AS, kembali ke Iran di masa perang Iran dan Irak.
Cerita Betty Mahmudi, istrinya berkenaan dengan Iran dan adat-istiadat
warga Iran, yang penuh dengan kebohongan dan pemutarbalikan fakta,
ditulis dalam sebah buku yang kemudian difilemkan. Pada akhirnya Betty
Mahmudi lari dari Iran dan meminta perlindungan ke Kedutaan Besar AS di
salah satu negara tetangga Iran. Filem "Not Without My Daughter" dibuat
oleh sebuah perusahaan filem MGM, dan seluruh settingnya diambil di
Palestina pendudukan, dengan dukungan penuh rezim zionis. Maka jadilah
ia sebuah yang mengandung kebohongan terbesar di seluruh dunia. Akan
tetapi pembuatan filem tentang Iran tidak terhenti hingga di sini.
Diantara filem yang dibuat di Barat ialah sebuah filem berjudul
"Alexander the Great" oleh Oliver Stone, pada tahun 2005.
Filem ini menampilkan gambaran yang tidak benar tentang salah satu
penjahat perang besar di dunia ini. Laexander atau Iskandar, yang hidup
di abad ke-4 sebelum Masehi, adlah seorang kaisar Yunani kuno. Pada usia
31 tahun, ia memimpin tentaranya yang besar untuk menyerang Iran.
Setelah dua kali serangan, pada akhirnya ia berhasil mengalahkan pasukan
Darius ke-3. setelah menaklukkan Iran dan menghancurkan lambang-lambang
kebudayaannya, ia menuju ke India. Setelah berhasil menaklukkan tentara
India, ia berniat kembali ke Yunani. Akan tetapi di tengah perjanalan ke
Yunani, ia meninggal akibat penyakit. Dalam filem ini Alexander
digambarkan sebagai seorang penakluk dunia yang disukai, lemah lembut
dan pemaaf, yang memunculkan ide-ide persamaan hak seluruh manusia dan
etnis. Padahal justru sifat-sifat tersebut itulah yang tidak dimiliki
oleh Sang Kaisar Yunani ini. Selain itu filem ini juga menampilkan
Alexander sebagai penyelamat budak-budak Iran. Padahal berdasarkan
bukti-bukti sejarah yang kuat, pada masa itu, deklarasi HAM pertama
telah disusun oleh Kourush Hhakhomansyi, dan di Iran sudah tidak lagi
dikenal praktek perbudakan.
Hasan Mousawi, seorang guru besar sejarah Universitas Shiraz, meyakini
bahwa filem ini dibuat dalam rangka kelanjutan usaha sejumlah orang
untuk menarik kepuasan para pejabat AS dan menggambarkan Iran dengan
gambaran negatif. Pemutar balikan fakta sejarah dalam filem ini juga
bertujuan meningkatkan pandangan buruk para penontonnya terhadapIran.
Beliau menilai salah satu kesalahanbesar filem ini ialah penggunaan para
pemain dari Afrika untuk memerankan orang-orang Iran. Sejumlahbesar
kritikus filem, di saat pemutaran filem Alexander ini, mengatakan bahwa
filem-filem yang dibuat dengan model ini, adalah dalm rangka
memasyarakatkan teori Huntington, tentang perang antara peradaban, yang
tidak akan mendatangkan hasil apa pun kecuali kegagalan dan keterkucilan
Barat.
|