Perspektif    

  Mei 2007

[ Index Perspektif  ] [[ Home ]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sinema AS Penyebar Rasialisme (3)

Anda tentu masih ingat bahwa dalam pertemuan yang lalu, kita telah mempelajari sendi-sendi rasialisme dan berbagai bentuknya di dalam filem-filem Hollywood. Kami katakan bahwa selama abad ke-20, sejumlah filem Hollywood, dibuat berdasarkan politik-politik rasialis pemerintahan AS dan hubungan politik negara ini dengan negara-negara lain. Proses tersebut memiliki penampakan yang lebih mencolok lagi berkenaan dengan negara-negara Timru Tengah dan Asia. Dalam acara kita kali ini kita akan menengok filem-filem rasialistis Hollywood terhadap Iran.

Kemenangan revolusi Islam Iran pada tahun 1979, adalah awal dimulainya serangan-serangan propaganda dan kebudayaan oleh para pembuat filem dan par apejabat Hollywood, yang ditujukan kepada bangsa Iran. Revolusi yang mengakhiri kehadiran dan pengaruh Barat, terutama AS, di Iran, yang sejak saat itu selalu menunjukkan reaksi keras terhadap politik-politik imperialistis dan campur tangan AS. Jika kita ingin melihat filem-filem AS yang berbicara tentang Iran, maka kita menyorot secara khusus filem-filem yang dibuat setelah kemenangan revulisi ini. Diantara filem-filem yang dibuat di awal-awal setelah kemenangan revolusi, ada yang mengangkat masalah penyenderaan para intel AS di Iran.

Filem yang paling terkenal sekaitan dengan hal ini ialah yang berjudul "The Hostages" yang memperagakan serangan pasukan komando AS ke Iran di padang pasir Tabas. Di dalam filem ini digambarkan bahwa mereka berusaha membebaskan para intel AS tersebut, namun mereka gagal. Filem ini menggambarkan Iran dengan gambaran yang jauh dari realitas, terkebelakang dan kolot. Filem lain yang secara langsung menyerang bangsa Iran ialah sebuah filem berjudul "Not Without My Daughter" produksi tahun 1991. Filem ini telah melecehkan seluruh peradaban, kebudayaan dan agama warga Iran, dan filem ini telah menghina habis-habisan bangsa yang berperadaban tinggi ini. dengan bersandar kepada beberapa pribadi yang memang ada dan sebuah buku berjudul "Tidak, Tanpa Anak Perempuanku", tampak sekali berusaha menggambarkan iklim sosial dan politik di Iran setelah revolusi.

Dr Buzurg Mahmudi, setelah beberapa tahun hidup di AS dan menikahi seorang perempuan AS, kembali ke Iran di masa perang Iran dan Irak. Cerita Betty Mahmudi, istrinya berkenaan dengan Iran dan adat-istiadat warga Iran, yang penuh dengan kebohongan dan pemutarbalikan fakta, ditulis dalam sebah buku yang kemudian difilemkan. Pada akhirnya Betty Mahmudi lari dari Iran dan meminta perlindungan ke Kedutaan Besar AS di salah satu negara tetangga Iran. Filem "Not Without My Daughter" dibuat oleh sebuah perusahaan filem MGM, dan seluruh settingnya diambil di Palestina pendudukan, dengan dukungan penuh rezim zionis. Maka jadilah ia sebuah yang mengandung kebohongan terbesar di seluruh dunia. Akan tetapi pembuatan filem tentang Iran tidak terhenti hingga di sini. Diantara filem yang dibuat di Barat ialah sebuah filem berjudul "Alexander the Great" oleh Oliver Stone, pada tahun 2005.

Filem ini menampilkan gambaran yang tidak benar tentang salah satu penjahat perang besar di dunia ini. Laexander atau Iskandar, yang hidup di abad ke-4 sebelum Masehi, adlah seorang kaisar Yunani kuno. Pada usia 31 tahun, ia memimpin tentaranya yang besar untuk menyerang Iran. Setelah dua kali serangan, pada akhirnya ia berhasil mengalahkan pasukan Darius ke-3. setelah menaklukkan Iran dan menghancurkan lambang-lambang kebudayaannya, ia menuju ke India. Setelah berhasil menaklukkan tentara India, ia berniat kembali ke Yunani. Akan tetapi di tengah perjanalan ke Yunani, ia meninggal akibat penyakit. Dalam filem ini Alexander digambarkan sebagai seorang penakluk dunia yang disukai, lemah lembut dan pemaaf, yang memunculkan ide-ide persamaan hak seluruh manusia dan etnis. Padahal justru sifat-sifat tersebut itulah yang tidak dimiliki oleh Sang Kaisar Yunani ini. Selain itu filem ini juga menampilkan Alexander sebagai penyelamat budak-budak Iran. Padahal berdasarkan bukti-bukti sejarah yang kuat, pada masa itu, deklarasi HAM pertama telah disusun oleh Kourush Hhakhomansyi, dan di Iran sudah tidak lagi dikenal praktek perbudakan.

Hasan Mousawi, seorang guru besar  sejarah Universitas Shiraz, meyakini bahwa filem ini dibuat dalam rangka kelanjutan usaha sejumlah orang untuk menarik kepuasan para pejabat AS dan menggambarkan Iran dengan gambaran negatif. Pemutar balikan fakta sejarah dalam filem ini juga bertujuan meningkatkan pandangan buruk para penontonnya terhadapIran. Beliau menilai salah satu kesalahanbesar filem ini ialah penggunaan para pemain dari Afrika untuk memerankan orang-orang Iran. Sejumlahbesar kritikus filem, di saat pemutaran filem Alexander ini, mengatakan bahwa filem-filem yang dibuat dengan model ini, adalah dalm rangka memasyarakatkan teori Huntington, tentang perang antara peradaban, yang tidak akan mendatangkan hasil apa pun kecuali kegagalan dan keterkucilan Barat.

 

 

 

 

[ Index Perspektif ]   [ Home ]