Perspektif    

   April 2007

[ Index Perspektif  ] [[ Home ]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Meninjau Ratifikasi Resolusi Larangan Penistaan Agama

Menyusul upaya negara-negara anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI), Dewan HAM PBB meratifikasi resolusi yang berisi larangan penistaan terhadap agama Islam. Dalam resolusi yang ditetapkan tanggal 30 Maret itu, disebutkan soal kekhawatiran terhadap upaya penisbatan terorisme, tindak kekerasan, dan pelanggaran HAM, terhadap agama Islam. Resolusi tersebut juga meminta seluruh negara dunia untuk mencegah perluasan rasisme anti-agama secara serius, karena hal itu hanya akan menuai kebencian.

Draf resolusi itu disusun oleh Organisasi Konferensi Islam (OKI) dan ditetapkan pasca aksi penistaan terhadap Nabi Muhammad SAWW, yang dilakukan oleh Koran Jyllands Posten terbitan Denmark. Sayang sekali, pemuatan kartun biadab oleh koran tersebut juga diikuti oleh sejumlah media massa Barat lainnya. Faktor inilah yang melatarbelakangi upaya OKI untuk menyusun draf resolusi larangan penistaan terhadap agama. Pada hakikatnya, resolusi itu merupakan reaksi dari dunia Islam terhadap propaganda miring Barat yang digulirkan sejak tanggal 11 September 2001. Propaganda tersebut menekankan bahwa kaum muslimin adalah orag-orang radikal dan teroris.

Poin penting yang patut diperhatikan dalam penetapan resolusi larangan penghinaan terhadap Islam adalah penentangan yang muncul dari Barat. Sejumlah negara Uni Eropa, Kanada, dan dua negara Asia yaitu Jepang dan Korea Selatan, menolak menentang ratifikasi resolusi tersebut. Padahal sejumlah negara non-muslim di Dewan HAM lainnya seperti, Cina, Rusia, Kuba, dan sebagian besar negara di Benua Hitam Afrika, menyetujui resolusi tersebut. Di balik penentangan itu, terkuak pula bahwa Barat memang tengah menggalakkan politik anti-Islam.

Setiap kali terjadi penistaan terhadap agama Islam maupun Kristen, Barat selalu berdalih bahwa aksi tersebut merupakan bagian dari kebebasan berpendapat. Dengan kata lain, Barat berpendapat bahwa mereka merestui penistaan terhadap agama. Adapun seandainya penistaan tersebut ditujukan kepada warga Barat, para pelakunya langsung dijerat berbagai macam ketentuan dan hukum. Fenomena kontradiktif ini membuktikan propaganda media massa Barat terhadap Islam dan kaum muslimin. Hal itu tak lain dimaksudkan untuk memperlemah dan menggoncang pengaruh agama Islam.

Barat sendiri menyadari sepenuhnya soal batasan dan norma-norma dalam kebebasan berpendapat. Namun, untuk masalah Islam dan umat Islam, mereka mencabut batasan tersebut. Penisbatan terorisme dan radikalisme terhadap umat Islam tidak seberapa dibandingkan dengan aksi media massa Barat yang tidak segan-segan menistakan kesucian Sang Pencipta alam semesta dan para nabi utusan-Nya. Sikap Barat dalam hal ini dapat dikategorikan sebagai era jahiliah modern. Mereka berupaya menghancurkan kepercayaan paling mulia dan paling konstruktif dalam wujud umat manusia.

Dewasa ini, masyarakat Barat telah menyadari fakta ini bahwa peradaban mereka mengalami kemerosotan dari berbagai segi seiring dengan memudarnya nilai-nilai religi, dan kehidupan sekuler telah mengakibatkan munculnya berbagai kesulitan. Data statistik di Barat menunjukkan bahwa tingkat tindak kekerasan, pembunuhan, dan dekadensi moral, terus menanjak. Hingga kini, fenomena tersebut telah merusak banyak keluarga dan meningkatkan ketidakamanan. Para psikolog dan pengamat sosial berpendapat bahwa fenomena tersebut merupakan dampak dari krisis spiritual dan lemahnya pondasi religius dalam kehidupan Barat. Sebab itu, dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak warga Barat yang tertarik dan bahkan memeluk agama Islam.

Fakta lain yang disadari masyarakat Barat adalah bahwa kesejahteraan materi yang mereka nikmati selama ini ternyata tidak dapat menutupi kekosongan spiritual dalam kehidupan individual dan sosial. Dalam hal ini, warga di negara-negara Barat tertarik mempelajari agama Islam dibandingkan agama-agama lain. Pada hakikatnya, pesona Islam lah yang melandasi kebijakan rezim-rezim Barat untuk merusak citra Islam.

Adapun faktor lain di balik propaganda Barat adalah kebangkitan Islam dan upaya kaum muslimin dalam menggapai kembali kejayaan peradaban Islam. Dewasa ini, umat Islam menyadari bahwa satu-satunya cara menghadapi imperialisme dan hegemoni Barat adalah dengan kembali pada agama Islam dan bersandar pada kemampuan diri sendiri. Bagi Barat, meluasnya pemikiran seperti ini di dunia Islam tidak dapat mereka diterima, karena jika hal ini terus berlanjut mereka tidak akan dapat mengeruk kekayaan negara-negara Islam. Tak mengherankan jika kini media massa Barat gencar menggelindingkan propaganda yang bertujuan memperlemah keimanan dan keyakinan umat Islam agar mereka tidak bangkit melawan musuh.

Pasca runtuhnya Uni Soviet dan kemerosotan komunisme, Barat meyakini liberalisme sebagai ideologi tanpa tandingan di dunia. Namun kini, Barat menyaksikan kebangkitan kekuatan baru yaitu Islam dalam percaturan internasional. Bersamaan dengan hal itu, berbagai ideologi materialis lainnya tak terkecuali liberalisme terus meredup. Namun sayang sekali, Barat dalam propaganda anti-Islamnya, tidak menyertakan argumentasi yang jelas dan rasional. Riuh propaganda Barat hanya dipenuhi tuduhan dan klaim belaka. Diharapkan dengan cara tersebut, mereka dapat mereduksi perluasan dan kebangkitan Islam. Padahal Islam merupakan hakikat yang bercahaya mempesona dan abadi yang takkan mungkin redup. Seperti yang tercantum dalam Al Quran surat Saf ayat delapan, Allah swt berfirman, "Mereka (orang-orang kafir) hendak memadamkan cahaya agama Allah dengan mulut mereka, namun Allah menyempurnakan cahayanya dan meski orang-orang kafir benci."

Alhasil, ratifikasi resolusi larangan penistaan terhadap agama khususnya Islam mengindikasikan kesadaran masyarakat dunia tetang pentingnya langkah kongkret dalam mencegah terulangnya tersebut. Perlu digarisbawahi bahwa penentangan Barat terhadap resolusi tersebut mensinyalir inkonsistensi Barat terhadap resolusi tersebut. Namun, resolusi itu merupakan strategi hukum dalam mencegah aksi penistaan terhadap agama.

 

 

 

[ Index Perspektif ]   [ Home ]