Perspektif    

   April 2007

[ Index Perspektif  ] [[ Home ]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Meninjau Konferensi Persatuan Islam 2007

Para ulama dan cendekiawan yang menghadiri Konferensi Internasional Persatuan Islam ke-21 datang dari negara-negara antara lain, Suriah, Oman, Arab Saudi, Tunisia, Sudan, Mesir, Maroko, Pakistan, Lebanon, India, Indonesia, Irak, Yaman, Uni Emirat Arab, Qatar, Yordania, Azerbaijan, Rusia, Perancis, Inggris, Perancis, AS, Cina, dan lain-lain. Konferensi ini membahas berbagai topik, antara lain upaya menjalin hubungan antarumat beragama, membahas budaya persatuan, keunggulan hakikat umat manusia, dunia dalam pandangan akhlak dan keadilan, dan budaya perdamaian.

Sekjen Organisasi Pendekatan Mazhab-Mazhab Islam, Ayatullah Taskhiri, yang juga menjadi ketua dari konferensi ini, menerangkan sejarah singkat dan sebagian program yang telah dilakukan oleh konferensi ini. Ayatullah Tashkiri juga menyampaikan harapannya atas kemenangan kaum muslimin sedunia serta mengingatkan bahwa kemenangan Islam hanya bisa dicapai bila kaum muslimin mengamalkan ajaran Rasulullah SAW serta meneladani akhlak dan perilaku beliau. Ayatullah Tashkiri juga menjelaskan bahwa tahun ini, yaitu tahun 1386 Hijriah Syamsiah, ditetapkan oleh Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran, Ayatullah Khamenei, sebagai tahun Persatuan Nasional dan Solidaritas Islam.

Pemimpin Dewan Penetapan Kemaslahatan Nasional Iran, Ayatullah Hashemi Rafsanjani, dalam acara pembukaan konferensi ini, menyatakan, "Kita saat ini berada dalam kondisi ketika musuh mengerahkan semua kekuatannya di kawasan Timur Tengah dan melancarkan ancaman kepada negara-negara kawasan ini. Sejarah Islam menunjukkan kenyataan kepada kita semua bahwa kekalahan kaum muslimin selalu terjadi di saat munculnya perpecahan dan keretakan di tengah mereka. Perpecahan inilah yang dmanfaatkan oleh musuh untuk melemahkan kaum muslimin."

Di bagian lain pidatonya, Ayatullah Hashemi Rafsanjani menyatakan bahwa musuh-musuh Islam yang dipimpin AS, kini sedang berusaha keras menimbulkan perang antara kaum Sunni dan Syiah. Bila perang ini berhasil dikobarkan, mereka akan mudah mencapai tujuan-tujuan licik mereka di dunia Islam. Rafsanjani mengingatkan bahwa dalam menghadapi konspirasi musuh ini, kaum muslimin harus berpegang kepada persamaan dan mengambil pelajaran dari koalisi besar yang pernah diciptakan oleh Rasulullah SAW di Mekah.

Mufti Besar Suriah, Doktor Ahmad Badrudin Hasun, merupakan di antara pembicara dalam konferensi ini. Beliau menyatakan bahwa umat Islam menantikan hasil yang baik dari konferensi ini. Mufti Besar Suriah mengatakan, para hadirin dari berbagai mazhab yang hadir dalam konferensi ini hendaknya saling bersatu agar dapat tegak menghadapi arogansi negara-negara adidaya dunia. Mufti Besar Suriah juga menyerukan agar para ulama Islam mengangkat tema persatuan Islam dalam khotbah-khotbah mereka.

Sementara itu, Ad-Damardash Al Iqali, seorang cendekiawan dari Mesir yang juga menjadi pembicara dalam konferensi ini, menyampaikan harapannya bahwa penyelenggaraan Konferensi Internasional Persatuan Islam akan menjadi salah satu upaya penting dalam menciptakan kekuatan dan pertahanan Islam. Al Iqali juga mengingatkan bahwa persatuan tidak hanya harus diciptakan di tengah kaum muslimin, melainkan di tengah seluruh umat manusia yang menentang imperialisme dan pelanggaran HAM yang dilakukan AS.  Cendekiawan Mesir ini menambahkan, thaghut besar, yaitu Amerika, dan thaghut-thaghut kecil ingin agar dunia Islam terpecah-belah, karena hal itu akan menguntungkan mereka. Kaum imperialis menginginkan agar sebagian dari kaum muslim berperang melawan sebagian yang lain. Dia menekankan peran persatuan Islam dan mencontohkan, kemenangan Hizbullah Lebanon dalam mengalahkan Rezim Zionis adalah bukti bahwa persatuan merupakan kunci kemenangan Islam.

Muhammad Ihsani, peneliti dari Pusat Dunia Ilmu-Ilmu Islam, Qom, dalam pidatonya menyatakan bahwa sistem pengajaran dan pendidikan Rasulullah SAW merupakan cara terbaik dalam menciptakan persatuan kaum muslimin sedunia. Ihsani mengatakan, "Pendidikan Rasulullah diterima oleh semua umat Islam dan semua orang yang menerima iman Islam akan menerima ajaran pendidikan Rasulullah." Menurut Ihsani, dengan berpegang teguh kepada ajaran Rasulullah, dalam waktu singkat perpecahan di tengah kaum muslimin akan dapat diatasi. Muhammad Ihsani mengajukan proposal agar umat Islam kembali kepada Al Quran, sunnah, dan teladan Rasulullah yang selalu menekankan kepada persatuan, menghormati pandangan yang berbeda, menjauhkan diri dari kefanatikan golongan, dan mengedepankan dialog.

Mahdi Ahmad Taha, adalah cendekiawan dari Arab Saudi yang hadir dalam konferensi ini. Dia mengatakan, kita harus mengedepankan dialog yang logis dan menjauhkan diri dari kefanatikan. Kefanatikan akan menjauhkan diri kita dari keadilan dan sikap seimbang. Selain itu, Mahdi Ahmad Taha menilai bahwa pemikiran dan dialog merupakan alat terbaik dalam menciptakan persatuan Islam.

Para ulama dan cendekiawan muslim yang menjadi tamu dalam konferensi ini juga diundang untuk bertemu dengan Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran, Ayatullah Khamenei. Dalam pertemuan ini, Ayatullah Khamenei mengatakan, dewasa ini kebutuhan yang paling penting dari dunia Islam dan obat terpenting bagi semua problema dunia Islam adalah persatuan. Oleh karena itu, para ulama dan cendekiawan Islam harus menyusun sebuah piagam persatuan Islam. Di bagian lain pernyataannya, Ayatullah Khamenei menilai bahwa umat Islam setelah sekian lama lalai kini memiliki pandangan baru terhadap syariat Islam. Oleh karena itu, dunia Islam dengan pandangan baru ini dan dengan berpegang teguh kepada ajaran Rasulullah SAW dapat melangkah maju  menuju kepada kesempurnaan.

 

 

 

 

[ Index Perspektif ]   [ Home ]