Perspektif    

   Maret 2007

[ Index Perspektif  ] [[ Home ]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hikmah dan Falsafah Doa

Rasul Allah saaw bersabda (الدعاء مخ العبادة) yang artinya "Doa adalah inti ibadah". Apa sebab doa disebut sebagai inti ibadah? Dan apa perlunya doa bagi kehidupan kita di dunia ini? Saudara sekalian, dalam kesempatan jumpa kita kali ini kami ingin mengajak Anda untuk berbicara meski sekilas tentang doa, hikmah dan falsafahnya. Untuk itu kami ucapkan selamat mengikuti.

Doa disebut sebagai inti ibadah tak lain adalah karena sesungguhnya di dalam setiap ibadah terkandung doa dan permohonan kepada Allah swt. Minimal permohonan untuk memperoleh kedekatan kepada Dzat yang Maha Sempurna dan Maha Pemberi, yaitu Allah swt. Doa dan permohonan kepada Allah swt merupakan pengakuan kita di depan Allah, bahwa kita ini adalah lemah, serba kekurangan, tiada daya dan upaya, kecuali dengan bersandar kepada-Nya yang Maha Agung lagi Maha Bijaksana. Sikap dan semangat yang demikian ini juga harus terdapat di dalam setiap ibadah yang kita lakukan. Tentu saja ada penjelasan lain untuk memahami sabada Nabi saaw bahwa doa adalah inti ibadah itu, bahkan yang lebih lengkap dan panjang lebar. Akan tetapi singkatnya ialah sebagai mana yang kami jelaskan di atas.

Mannusia adalah makhluk yang selalu beraktifitas, bekerja dan berusaha demi memenuhi keperluan hidupnya di dunia ini. Dalam usahanya ini manusia mengerahkan tenaga dan pikirannya, sesuai dengan tingkat kemampuan yang dimilkiki, dan secara wajar ia akan memperoleh hasil sesuai pula dengan usaha yang ia lakukan. Lalu dimana sebenarnya peran doa? Bukankah seseorang akan memperoleh apa yang ia inginkan dengan berusaha dan bekerja keras? Apa lagi jika kita lihat kenyataan yang ada di dunia ini, bahwa seorang kafir ateis yang tidak meyakini Tuhan dan apa pun bersifat metafisik, ternyata ia dapat juga hidup dengan kondisi yang lebih baik dibanding dengan kehidupan orang lain yang beragama, beriman dan selalu berdoa kepada Tuhan yang Maha Kuasa. Jadi pertanyaan yang ada dan harus dijawab ialah, apa gunanya doa jika usaha saja sudah cukup? Dan jika seseorang berdoa kepada Tuhan dengan mengatakan, "Ya Allah berilah aku rizki?" lalu apakah ia sendiri harus berusaha juga untuk mencari rizki?

Allah swt adalah Dzat Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dengan kehendak dan hikmah-Nya yang Maha Sempurna, Allah menciptakan alam raya dan manusia di dunia ini. Manusia pun diciptakan oleh Allah swt dengan cirri-ciri dan watak sebagaimana yang telah kita ketahui. Demi kesempurnaan hidup manusia di dunia ini, Allah swt telah menyediakan segala sesuatunya. Tinggal manusia berusaha dengan tenaga yang didukung dengan akal dan budi pekerti, yang telah Allah ciptakan pula dengan sempurna pada diri manusia. Memang benar, bahwa hanya dengan usaha, tanpa doa sama sekali, manusia akan memperoleh apa yang ia inginkan. Ilmu pengetahuan yang tinggi, kekuatan jasmani yang sempurna, kekayaan duniawi, jabatan yang tinggi, semua itu dapat diperoleh oleh manusia tanpa doa, dan hanya dengan berusaha.

 Akan tetapi, sebagaimana kami katakan di atas, doa dan memohon kepada Tuhan yang Maha Kuasa, dalam agama apa pun, bukan hanya Islam, merupakan pengakuan akan kelemahan diri dan kekuatan Tuhan. Pengakuan akan kemiskinan diri dan kekayaan Tuhan. Pengakuan akan kehinaan diri di depan kemuliaan Tuhan. Dan yang demikian itu adalah inti semua ibadah, sebagaimana disabdakan oleh Rasul Allah saaw. Ketiak seseorang berdoa, "Ya Allah berilah aku rizki", kemudian ia berusaha dan memperoleh rizki tersebut, maka ia akan meyakini bahwa rizki yang ia peroleh itu adalah pemberian Tuhan,dania akan bersyukur kepada-Nya. Hal ini akan menghindarkan seseorang dari kesombongan dan sifat takabbur. Meminta rizki dan kekayaan kepada Tuhan berarti mengakui dan meyakini bahwa segala sesuatu yang ada di dunia dan alam raya ini adalah milik Tuhan. Lalu dengan doa, seseorang meminta ijin dan keridlaan Tuhan untuk mengambil dan menikmati kekayaan alam raya ini. Dengan demikian, seseorang yang memperoleh kekayaan dunia tanpa doa, berarti telah mengambil milik Tuhan tanpa ijin dan bisa jadi tanpa keridloan-Nya. Oleh karena itu setiap agama, terutama agama Isla, sangat menekankan doa. Yang jelas doa adalah ibadah bahkan inti ibadah, dan hanya orang-orang beragamalah yang memiliki perhatian kepadanya. Sedangkan seorang ateis, tentu tidak akan mengenal doa, karena mereka tidak mempercayai wujud Tuhan.

Demikianlah tadi penjelasan singkat tentang falsafah doa. Adapun pembahasan penting lain dalam masalah doa ialah syarat-syarat terkabulnya doa. Pada kenyatannya, banyak orang berdoa memohon ini dan itu kepada Allah swt, tapi mereka merasa bahwa doa dan usahanya tidak membuahkan hasil, dan tetap saja ia menghadapi kesulitan yang tak kunjung teratasi. Akan tetapi sebelum kita berbicara tentang syarat-syarat keterkabulan doa, ada baiknya kita ingat pula satu hal, yaitu bahwa kita ini, manusia yang serba bodoh dan tidak mengetahui, bahkan sering kali kita tidak mengetahui hal-hal apa yang baik bagi kita, dan hal-hal apa yang buruk bagi kita. Al-Quranul Karim pun telah mengingatkan kita tentang hal ini dalam firman Allah swt yang mengatakan, "Asaa an tuhibbu syai'an wa huwa kurhun lakum, wa takrahuu syaian wahuwa khoirulakum". Yang artinya "Bisa jadi kalian menyukai sesuatu padahal sesuatu itu buruk bagi kalian, atau membenci sesuatu padahal ia baik bagi kalian".

Memang Ayat di atas berbicara tentang perang. Dimana Allah swt mengecam mereka yang tidak bersedia maju ke medan tempur untuk membela agama Allah dan Rasul-Nya. Mereka membenci perang karena tidak mau mati, dan lebih menyukai tinggal di rumah, karena mereka lebih mencintai dunia daripada akherat. Dalam rangka menegur mereka ini Allah mengatakan seperti itu. Akan tetapi teguran Allah tersebut dapat berlaku pula secara umum dan dalam setiap kondisi kehidupan manusia, termasuk dalam masalah yang siding kita bahas ini, yaitu sering kali kita memohon kepada Allah meminta ini dan itu, padahal bisa jadi sesuatu yang kita minta itu akan mendatangkan keburukan bagi kita, di dunia ini atau pun di akherat. Banyak sekali contoh yang membuktikan hal ini, yang tidak perlu kami sampaikan di sini, untuk menyingkat waktu. Jadi, kita harus menyadari masalah yang satu ini dan tidak boleh melupakannya. Tentu saja kita juga sudah meyakini sebelum itu semua bahwa Allah swt adalah Maha Adil, Maha Bijaksana, Maha Pengasih dan Maha Penyayang, sebagaimana yang diajarkan dalam pembahasan akidah, dengan semua dalil aqli dan naqlinya.

Adapun syarat-syarat dikabulkannya doa, pada dasarnya sama dengan syarat-syarat diterimanya ibadah, seperti salat, puasa dan sebagainya. Karena doa adalah ibadah kepada Allah, sama sebagaimana ibadah-ibadah lain. Di antara syarat-syarat keterkabulan doa ialah niat ikhlas. Artinya, bahwa seseorang ketika berdoa kepada Allah, maka ia mengharapkan bantuan Allah swt, dan tidak boleh menyekutukan-Nya dengan selain-Nya. Tegasnya, seseorang harus meyakini bahwa yang dapat membantunya dalan hal ini hanyalah Allah swt. Sedangkan selain Allah hanyalah wasilah dan perantara, untuk sampainya pertolongan Allah kepadanya. Karena itu, ketika seseorang berada dalam kesempitan ekonomi, lalu datang pertolongan Allah melalui seseorang, maka yang mula-mula harus ia lakukan ialah beryukur kepada Allah karena segala sesuatu adalah datang dari-Nya dan milik-Nya; baru kemudian ia berterimakasih kepada orang tersebut, karena bagaimanapun, orang tersebut telah bersedia menjadi perantara untuk sampainya bantuan Allah kepadanya.

Di antara makna lain yang terkandung dalam syarat ikhlas ini ialah bahwa seseorang berdoa kepada Allah bukan dengan niat menguji Allah. Yang demikian ini justru bertentangan dengan falsafah doa itu sendiri. Karena doa kepada Allah adalah tawakkal dan berserah diri kepada-Nya. Kewajiban seorang mukmin adalah berusaha, lalu tawakkal kepada Allah. Terserah Allah apakah akan memberi atau tidak. Syarat kedua dalam doa ialah hendaknya seseorang berusaha sekeras mungkin menjauhi kemaksiatan dan hal-hal yang haram. Makanan, pakaian dan tempat tinggal yang haram, demikian pula dosa-dosa besar, apa lagi yang berupa kezaliman terhadap hak-hak orang lain, akan menghalangi doa. Banyak sekali hadits dan riwayat berkenaan dengan hal ini. Diantaranya adalah sebuah riwayat yang mengisahkan seorang di zaman Nabi Musa as, yang berdoa dengan sangat khusyu dan deraian air mata kepada Allah. Tapi Allah berfirman kepada Musa as bahwa apa pun yang dilakukan oleh prang itu dalam doanya maka Aku tidak akan mengabulkannya. Karena perut orang ini penuh dengan benda haram, dipundaknya juga banyak hal-hal yang haram, dirumahnya juga penuh dengan barang haram.

Di antara hal-hal yang sangat mendukung terkabulnya doa ialah bahwa seseorang berada dalam keadaan berwudlu ketika berdoa. Imam Ali as berkata, "Jika kalian mengadapi kesulitan baik berkenaan dengan akherat atau pun dunia, maka berwudlulah dan berdoalah." Demikian pula hendaknya doa didahului dengan salawat kepada Nabi Besar Muhammad Saaw dan keluarga beliau yang suci alaihimussalam. Berdasarkan beberapa riwayat, terdapat pula waktu-waktu tertentu yang merupakan waktu dan saat-saat dimana doa akan terkabulkan jika disampaikan di saat-saat tersebut. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Sayidah Fatimah alaihassalam pernah meminta kepada pembantunya, bernama Fidldlah, agar mengingatkannya jika matahari sudah ada di tengah langit. Fidldlah pun melakukan hal itu dan mengingatkan beliau bahwa matahari sudah berada di tengah langit. Ia juga bertanya kepada Sayidah Fatimah ada urusan dan pekerjaan apa yang akan dilakukannya di tengah hari seperti ini? Sayidah Fatimah alaihissalam mengatakan bahwa saat-saat seperti ini adalah saat-saat itu terkabulkannya doa. Demikanlah, putri Rasul Allah saaw yang kita yakini bahwa doanya akan dikabulkan oleh Allah kapa saja beliau berdoa, tapi memperhatikan waktu-waktu tertentu untuk melakukannya. Hal ini menunjukkan bahwa waktu-waktu tertentu memiliki peran penting dalam terkabulnya doa.

 

 

 

[ Index Perspektif ]   [ Home ]