|
Agama, Sumber Kebahagiaan Abadi
Rasa bahagia, rasa
cinta kasih, rasa santai, dan pengalaman spritual adalah serangkaian
gejolak positif dalam diri manusia. Sebaliknya, rasa gelisah, pesimis,
sedih, atau marah, adalah sederet gejolak negatif yang terkadang muncul
dalam jiwa manusia. Kedua bentuk gejolak ini dapat mempengaruhi kondisi
psikologi dan gerak-gerik manusia. Ketika manusia dapat memenuhi
kebutuhannya, dia akan mengalami kepuasan dan kebahagiaan. Hal yang
penting diketahui adalah bahwa hidup bahagia akan memberikan energi
besar kepada manusia sehingga dia dapat beraktifitas dengan maksimal.
Untuk itu, rasa bahagia merupakan perangsang munculnya kekuatan dan
potensi manusia.
Meski rasa bahagia
terlihat secara lahiriah melalui senyum, gerak, dan aktivitas fisik
manusia, namun sesungguhnya rasa bahagia bersumber dari dalam atau batin
manusia. Menurut para psikolog, pemikiran dan keyakinan seseorang akan
membentuk perilaku dan perasaannya. Kini, marilah kita bertanya-tanya,
apakah sesungguhnya yang dapat menimbulkan kebahagiaan bagi seseorang?
Apakah faktor yang dapat mendidik batin manusia sehingga dia dapat
mencapai rasa bahagia?
Jawaban dari
pertanyaan-pertanyaan tadi dapat bermacam-macam, namun jawaban yang
paling tepat sesungguhnya adalah agama. Prinsip agama umumnya adalah
pendidikan batin manusia. Islam sebagai agama yang sempurna memberikan
pendidikan dari dua sisi, baik lahir maupun batin. Agama Islam mendorong
manusia untuk berpenampilan bersih dan rapi serta berperilaku baik. Di
sisi lain, Islam juga mengenalkan manusia dengan sederet pemahaman
Ilahiah, seperti ketauhidan, mengenal diri sendiri, dan mengenal
aspek-aspek spiritual yang menjadi kunci kebahagiaan.
Berdasarkan riset ilmu
psikologi, diketahui bahwa rasa gelisah disebabkan adanya sesuatu yang
hilang. Manusia ketika kehilangan sesuatu yang dicintainya akan merasa
sedih dan gelisah. Perhiasan, kecantikan, kendaraan, rumah, atau kekasih
adalah di antara penyebab munculnya rasa ketergantungan manusia.
Sesungguhnya, semua itu adalah semu semata. Dengan kata lain,
kebahagiaan semu merupakan ketergantungan pada benda-benda duniawi.
Selama benda itu ada, manusia akan bahagia, namun ketika manusia
kehilangan benda itu, ia akan bersedih. Bisa dikatakan juga, kebahagiaan
semacam ini sama sekali tak berakar pada batin manusia yang terkadang
malah bisa berubah menjadi sifat kontra terhadap dirinya.
Sering terjadi,
kesenangan yang semu ketika mencapai pada titik klimaks terkadang malah
menimbulkan rasa gelisah pada jiwa manusia. Seorang psikolog Barat,
Erich Fromm, mengatakan, “Tak adanya kebahagiaan yang nyata mendorong
manusia tak berkembang dan terus mencari kesenangan-kesenangan baru.
Kesenangan semacam ini ketika mencapai pada titik klimaksnya malah
menghadapkan manusia kepada kondisi krisis dan rasa gelisah yang
mendalam.”
Fromm dalam bukunya
menulis, “Ketika manusia tidak membuka jalan nuraninya dan terus larut
dalam kesenangan semu, maka ia cenderung untuk lari dari dirinya sendiri.”
Sementara itu, psikolog
lain, Aldas Hocksly dalam sebuah bukunya menulis, “Larutnya manusia
modern dalam kebahagiaan-kebahagiaan semu menyebabkan dia kehilangan
jiwa humanisnya. Di zaman sekarang, sejarah dan masa lalu manusia
dilupakan dan tak ada kesempatan untuk berpikir. Para pemimpin sengaja
membuat rakyatnya terlena oleh kesenangan-kesenangan semu. Dalam kondisi
seperti itu, manusia tak akan mendapatkan kebahagiaan dan kepuasan yang
dihasilkan dari pemikiran bebas dan merdeka.” Seorang arif asal Iran,
Shams Tabrizi, mengajak manusia untuk berpikir secara mendalam dengan
mengatakan, “Di dalam diri manusia terdapat kebahagiaan, dan aku
terheran-heran dengan orang-orang yang tak memunyai kebahagiaan ini.
Dengan apa mereka bisa merasakan kebahagiaan?”
Sementara itu, agama
mengajarkan kepada manusia esensi kebahagiaan yang sejati. Menurut al-Quran,
seluruh eksistensi alam terus berada dalam kondisi bergerak. Jika kita
melihat Islam dengan sudut pandang ini, kita akan menemukan bahwa
ajaran-ajaran Islam selalu mengajarkan manusia untuk bergerak. Setiap
undang-undang dan hukum yang tercantum dalam Islam mendorong manusia
untuk terus bergerak. Dengan kata lain, kita bisa menyimpulkan bahwa
esensi agama merupakan penggerak kehidupan.
Sebagai contoh, dalam
Islam kita menemukan perintah untuk mencari ilmu. Mencari ilmu tanpa
adanya semangat untuk bergerak adalah hal yang mustahil terjadi.
Berdasarkan semangat ini, manusia bergairah untuk terus menuntut ilmu,
dan ia juga berbahagia ketika ilmunya bertambah. Untuk itu, kita dapat
menyaksikan manusia-manusia istimewa sepanjang sejarah yang masih
bergairah untuk melakukan kebajikan kepada umat manusia, meski mereka
sudah menginjak usia tua. Sebagai contoh, Imam Ali (as) menerima tampuk
pemerintahan Islam di saat usia beliau sudah cukup tua. Di samping itu,
dalam usia yang tidak muda lagi, Imam Ali masih ikut serta dalam
perang-perang besar. Dalam perang-perang tersebut, Imam Ali menunjukkan
keberanian dan kebijaksanaan yang luar biasa. Lebih dari itu, beliau
dengan semangat besarnya juga membuka lahan-lahan pertanian dan
perkebunan demi kesejahteraan rakyat.
Di zaman kontemporer,
kita bisa menemukan tokoh seperti Imam Khomeini (ra). Meski sudah
menginjak usia 80 tahun, Imam Khomeini dengan semangat spritual yang
tinggi berhasil mendirikan pemerintahan Islam. Dalam umur yang relatif
senja, Imam Khomeini dengan keberaniannya dan semangatnya yang membara,
berhasil memimpin revolusi Islam dalam menghadapi berbagai tantangan
yang berat.
Manusia dapat menjalani
kehidupan yang bahagia dan sukses dengan istri, pekerjaan, anak dan
lain-lain. Akan tetapi, ajaran-ajaran agama menjanjikan manusia meraih
kebahagiaan-kebahagiaan yang hakiki. Sebagai contoh, sifat rakus akan
menjadikan manusia gelisah. Namun sebaliknya, agama akan mengajarkan
manusia untuk bersikap qana’ah atau merasa cukup dengan apa yang
ada, sehingga dia bisa serta terbebas dari kesedihan. Selain itu, Islam
juga mengajarkan manusia untuk melakukan berbagai hal lahiriah yang akan
memunculkan kebahagiaan, misalnya, menunjukkan wajah yang ceria, bangun
pagi, menggosok gigi, dan berpenampilan rapi. Sains juga membuktikan
bahwa bangun pagi hari sangat berpengaruh untuk menciptakan jiwa yang
bahagia. Kebersihan, kesucian, dan kerapian dapat juga memberikan gairah
tersendiri. Selain itu, mandi dan wudhu adalah di antara hal yang
membuat seseorang bersemangat untuk melakukan aktivitas. Islam juga
menganjurkan umatnya berolahraga, terutama berenang, dan menurut para
psikolog, renang dapat menyembuhkan sejumlah penyakit kejiwaan.
Dari sisi spritual,
rasa bahagia sangat berkaitan erat dengan agama. Sebagai contoh, rasa
lega di saat membaca doa atau ayat-ayat Al-Quran mencerminkan
kebahagiaan tersendiri. Selain itu, berziarah juga dapat memberikan
ketenangan tersendiri. Segala ajaran Islam ini, baik lahir maupun batin,
bila dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, akan mengantarkan manusia
kepada kebahagiaan yang hakiki.
|