Perspektif    

   Februari 2007

[ Index Perspektif  ] [[ Home ]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Upaya Pengembalian Kejayaan Peradaban Islam

Dengan kehadiran Islam di tanah Arab, agama langit yang terakhir serta paling sempurna telah muncul di muka bumi ini. Agama ini telah meletakkan pondasi peradaban yang besar dan gemilang dalam sejarah. Peradaban Islam merupakan pengibar bendera keilmuan dan kebudayaan di dunia pada abad ke-3 hingga 7 Hijriah. Penekanan Islam atas pendidikan dan penelitian merupakan penyebab utama terbentuknya peradaban yang agung itu. Sumber-sumber Islam, khususnya Al-Quran dan hadis-hadis Rasulullah Saww, dipenuhi dengan serangkaian ajaran yang mengajak ummat Islam untuk menuntut ilmu dan merenungkan alam semesta serta menghormati ilmuwan. Dengan ajaran semacam ini, tidaklah mengherankan bila peradaban dan kebudayaan Islam kian berkembang di pelbagai bidang. Dalam jantung peradaban Islam, para pemikir besar mengemuka di kancah keilmuan dengan mempersembahkan pelayanan yang luar biasa kepada ummat manusia.

Bila kita menengok kondisi dunia Islam dari abad ketiga hingga abad ketujuh hijriah, kita akan menemukan bahawa pada zaman itu, pusat-pusat pendidikan tersebar di pelbagai penjuru wilayah Islam. Selain universitas-universitas, masjid-masjid juga dijadikan tempat penyebaran ilmu. Perpustakaan-perpustakaan, pusat-pusat riset, dan laboratorium-laboratorium juga bermunculan di pelbagai tempat. Semua fasilitas itu menyebabkan ilmu dan pengetahuan mempunyai tempat yang utama di tengah-tengah ummat Islam. Para ilmuwan muslim dengan mengeksplorasi hasil-hasil peradaban kuno akhirnya mencapai keberhasilan di berbagi bidang seperti kedokteran, astronomi, matematika, fisika, filsafat, logika, sastra, sejarah dan geografi. Semangat menuntut ilmu itu bukan hanya terbatas di kalangan ilmuwan atau kalangan tertentu saja, namun juga mencakup semua lapisan masyarakat. Hal ini terjadi berkat penekanan Islam atas pentingnya ilmu. Rasulullah Muhammad Saww bersabda, “Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslimin, baik perempuan maupun laki-laki.”

Namun, sayang sekali, masa kegemilangan peradaban Islam secara bertahap mengalami dekadensi. Penyebab kemunduran ini adalah beberapa faktor, yaitu sebagai berikut. Di akhir abad kelima hijriah, pasukan Salib menyerang kawasan-kawasan Islam dengan alasan mengusai Baitulmaqdis. Hampir dua abad lamanya, mereka menggelar peperangan akbar untuk menduduki kawasan-kawasan Islam. Perang Salib belum selesai, pasukan Mongol pun menyerang kawasan timur di awal abad ke-tujuh. Serangan ini telah merugikan negara-negara dunia Islam dalam jumlah yang besar. Konflik lain juga menimpa dunia Islam, yaitu perselisihan di antara pemerintahan Islam. Semua tragedi ini mengakhiri masa kegemilangan peradaban Islam.

Selama Perang Salib berlangsung, juga terjadi perpindahan berbagai informasi dari Timur ke Barat. Melalui perang ini, Barat mulai mengenal keilmuan dan peradaban Islam yang kemudian dijadikan sebagai pijakan kejayaan Barat saat ini. Eropa pasca periode rennaisance meraih kejayaan keilmuan dan peradabannya dengan memanfaatkan berbagai kemajuan ilmu yang diraih peradaban Islam. Kemajuan peradaban Barat lambat laut membuat mental ummat Islam melemah dan mereka semakin tidak berdaya menghadapi derasnya kemajuan peradaban Barat. Ummat Islam pun secara perlahan-lahan tak lagi bergairah mempertahankan kejayaan keilmuan dan peradaban Islam.

Setelah melewati masa keterpurukan yang panjang, ada beberapa indikasi yang kembali menghidupkan peradaban Islam. Kemenangan revolusi Islam Iran pada tahun 1979 dapat dianggap sebagai salah satu tonggak baru kebangkitan ummat Islam. Revolusi Islam Iran bergerak berdasarkan nilai-nilai Islam. Di samping itu, revolusi ini kembali mengaktualisasikan doktrinasi-doktrinasi Islam yang selaras dengan kemajuan zaman. Sejak kemenangan Revolusi Islam Iran 27 tahun lalu hingga kini, tampak  berbagai indikasi-indikasi kembalinya kejayaan Islam.

Pada intinya, titik perbedaan utama antara peradaban Islam dengan peradaban-peradaban lainnya terletak pada penerapan ideologi Islam sebagai poros segala aspek kehidupan. Islam adalah agama yang hidup dan selaras dengan kemajuan zaman. Selain itu, Islam juga mendorong manusia untuk menuntut ilmu dan mencapai kemajuan. Salah satu ciri peradaban Islam yang sangat menonjol adalah aspek spritualitas. Islam sebagai agama Ilahi mengajak manusia menuju nilai-nilai spritual, etika, dan penyembahan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dapat dibayangkan, peradaban yang bersumber dari ajaran Islam akan memberikan aroma spiritual dan bernuansa humanisme. Dalam peradaban ini, manusia diarahkan untuk memiliki akhlak dan perangai yang mulia.

Sebaliknya peradaban Barat tidak diikat oleh etika spiritual dan Ketuhanan sehingga pada akhirnya malah menyebabkan dekadensi kemanusiaan. Sebagai contoh, kemajuan ilmu di Barat telah membuat mereka mampu menciptakan berbagai jenis mesin dan alat pembunuh massal. Padahal, bila para ilmuwan Barat menghormati etika kemanusiaan, mereka tidak akan melakukan langkah apapun untuk membuat senjata semacam itu, bahkan sekedar dalam tahap percobaan sekalipun. Sementara itu, dalam peradaban Islam, pemerintah berkewajiban mengagendakan penyebaran ilmu dan teknologi yang dibatasi oleh etika moral dan kemanusiaan.

Keberhasilan dalam merealisasikan kenyamanan dan keamanan adalah di antara penyebab kejayaan suatu peradaban. Tentunya, keamanan ini harus berdasarkan kepada kemuliaan, bukan keamanan di bawah hegemoni kekuatan asing. Keamanan hanya bisa terwujud bila tidak ada konflik di antara ummat Islam. Republik Islam Iran sejak awal berdirinya selalu menyerukan persatuan di tengah ummat Islam. Dalam pandangan Iran, persahabatan dan persatuan di antara negara-negara dunia Islam merupakan sarana utama dalam mengembalikan kejayaan peradaban Islam.

Tentu saja, mengembalikan kejayaan peradaban Islam membutuhkan waktu yang relatif lama. Namun, Republik Islam Iran sejauh ini telah melakukan banyak langkah menonjol dalam hal ini. Berbagai kemajuan yang luar biasa di bidang pengetahuan dan teknologi berhasil dicapai oleh Iran. Padahal, pada saat yang sama, Iran selalu ditekan oleh negara-negara Barat, terutama AS, dari segala sisi. Namun, dengan penuh kepercayaan diri, mengoptimalkan kemampuan, dan kerja keras, Iran  tetap melangkah maju dalam bidang ilmu dan teknologi. Di antara kemajuan yang diraih Iran antara lain, di bidang kedokteran. Para dokter dan ilmuwan Iran berhasil menemukan vaksin antiretrovirus yang berfungsi menginfiltrasi sistem kekebalan pengidap penyakit AIDS, dan baru-baru ini, para dokter Iran juga berhasil menemukan sistem rehabilitasi patah tulang belakang.

Di antara keberhasilan Republik Islam Iran yang sangat menonjol adalah kemampuan memroduksi stem cell atau sel induk. Melalui penyediaan stem cell ini, para ilmuwan Iran bahkan telah berhasil mengkloning domba. Selain Iran, hanya negara-negara maju di Barat yang memiliki kemampuan ini.

Selain itu, para ilmuwan Iran berhasil mengembangkan teknologi nuklir sipil yang berfungsi di bidang teknologi, industri, pertanian dan kedokteran. Tentu saja, langkah maju bangsa Iran ini menimbulkan kekhawatiran dunia Barat. Negara-negara Barat berupaya keras dengan berbagai cara untuk membatasi langkah Iran, antara lain dengan memberlakukan embargo dan menciptakan sentimen anti Iran di tengah dunia Islam. Barat berupaya mengasingkan Iran di tengah dunia Islam, sehingga persatuan Islam tidak terwujud dan kembalinya kejayaan peradaban Islam tidak terealisasi. Namun tentu saja Iran tidak akan pernah surut menghadapi tantangan seperti ini. Selain itu, dunia Islam semakin hari juga semakin memiliki kesadaran mengenai pentingnya persatuan demi kembalinya kejayaan peradaban Islam.

 

 

 

[ Index Perspektif ]   [ Home ]