|
Nabi Muhamad
dalam Pandangan Agama-Agama Terdahulu
Berbagai sumber
ilmu kalam dan filsafat menyebutkan banyak dalil dan bukti kebenaran
nubuwwah atau kenabian Muhammad SAWW. Di antara argument terpenting ini,
dalam pandangan ulama dan cendekiawan muslimin, ialah kesaksian para
Nabi terdahulu dan ulama serta tokoh masyarakat zaman lalu, demikian
pula ulama Ahli Kitab, berkenaan dengan risalah dan nubuwwah Muhammad
SAWW. Dalam acara kita kali ini kita akan berusaha mempelajari ucapan
para Nabi dan ulama di kalangan umat terdahulu berkenaan dengan Nabi
Besar Muhammad SAWW.
Al-Quranul karim mengatakan:
الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ
الأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِندَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ
وَالإِنْجِيلِ
"Orang-orang yang
mengikuti Rasulk ini, Nabi yang Ummi, yang mereka dapatkan namanya
tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka." (Al-A'raf
157).
Dalam pandangan
Al-Quranul Karim, kaum dan para Nabi terdahulu berkewajiban beriman
kepada risalah Nabi Besar Muhammad SAWW, dan Allah swt telah mengambil
perjanjian tegas dengan mereka semua bahwa jika Nabi tersebut lahir dan
muncul dengan risalahnya, maka mereka harus beriman dan menerima ajaran
yang ia bawa. Berkenaan dengan perjanjian yang Allah berikan kepda para
Nabi terdahulu ini, Allah swt berfirman dalam Al-Quran:
وَإِذْ أَخَذَ اللّهُ مِيثَاقَ النَّبِيِّيْنَ لَمَا آتَيْتُكُم مِّن
كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاءكُمْ رَسُولٌ مُّصَدِّقٌ لِّمَا مَعَكُمْ
لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنصُرُنَّهُ قَالَ أَأَقْرَرْتُمْ وَأَخَذْتُمْ
عَلَى ذَلِكُمْ إِصْرِي قَالُواْ أَقْرَرْنَا قَالَ فَاشْهَدُواْ وَأَنَاْ
مَعَكُم مِّنَ الشَّاهِدِينَ
Yang artinya,
"Dan ingatlah ketika Allah mengambil perjanjian dengan para Nabi bahwa
semua Kitab dan hikmah yang Aku berikan kepada kalian, kemudian datang
kepada kalian seorang utusan yang membenarkan apa yang ada pada kalian,
maka kalian harus beriman kepadanya dan membantunya." Kemudian Allah
berkata, "Apakah kalian berikrar dan menerima perjanjian-Ku berkenaan
dengan masalah ini?" Mereka menjawab, "Kami berikrar." Lalu Allah
berkata, "Maka saksikanlah, dan Aku bersama kalian ikut pula menyaksikan."
Tampak sekali
dari gaya bahasa dalam Ayat tersebut bahwa perjanjian yang Allah buat
dengan para Nabi terdahulu ini sangat tegas dan ketat; bahwa mereka akan
beriman dan membantu Nabi yang dijanjikan ini, yang tak lain adalah Nabi
Besar Muhammad SAWW. Pada hakekatnya, Rasul Allah Muhammad SAWW adalah
Nabi penutup, yang paling tinggi dan pemimpin semua Nabi dan Rasul.
Berdasarkan berbagai riwayat terpercaya, di akherat pun seluruh umat
bersama para Nabinya akan bergabung di bawah bendera Islam. Sangat
dikenal kisah tentang isra' dan mi'raj, dimana ketika Nabi Muhammad SAWW
tiba di Masjid Al-Aqsha, beliau bertemu dengan para Nabi besar terdahulu,
termasuk Nabi Ibrahim, Musa, dan Isa alaihimussalam. Kemudian mereka
melakukan salat berjamaah dimana Rasul Allah Muhammad SAWW tampil
sebagai imam dan mereka semua bermakmum kepada beliau.
Imam Ali as juga
pernah berkata, "Allah swt tidak pernah mengutus seorang Nabi pun, sejak
Adam hingga Isa as, kecuali mengambil perjanjian dengannya bahwa jika ia
bertemu dengan Nabi terakhir, maka ia dan semua pengikutnya harus
beriman kepadanya dan membantunya." Pada saat Nabi Ibrahim as membangun
Ka'bah di Makkah, beliau berdoa dan bermunajat kepada Allah. Dalam doa
dan munajatnya ini, beliau menyinggung tentang Nabi Besar Muhammad SAWW,
sebagaimana diceritakan dalam Al-Quran, Surat Al-Baqarah Ayat 129, yang
artinya, "Ya Allah, utuslah kepada mereka seorang Rasul dari kalangan
mereka, yang akan membacakan Ayat-Ayat-Mu kepada mereka, dan mengajarkan
Al-Kitab dan hikmah serta mebersihkan mereka. Sesungguhnya Engkau Maha
Agung dan Maha Bijaksana."
Dalam berbagai
kitab sejarah disebutkan seorang bernama Ka'ab bin Ghalib, salah seorang
alim dari Ahli Kitab, yang hidup dimasa sebelum kelahiran Nabi Besar
Muhammad SAWW. Dikatakan bahwa dia ini memiliki pengetahuan luas tentang
ajaran tauhid Nabi Ibrahim as, juga Nabi Musa dan Isa as. Dia membaca
kitab-kitab dan mempelajari ajaran-ajaran para Nabi Besar tersebut,
termasuk yang berkenaan dengan berita tentang kedatangan seorang Nabi
akhir zaman, dan penutup segala Nabi dan Rasul. Karena mempelajari
kitab-kitab para Nabi terdahulu itulah, ia juga menyatakan beriman
kepada Nabi terakhir ini, padahal Nabi tersebut belum lahir ke dunia.
Kisah tentang Ka'ab bin Ghalib ini dapat dibaca dalam kitab Subulul Huda
war Rasyaad, jilid satu halaman 96, juga kitab Hayaatul Quluub, tulisan
Allamah Majlisi, jilid 2 halaman 62.
Hampir mirip
dengan kisah Ka'ab bin Ghalib ini, ialah kisah tentang Rahib Bukhaira,
yang melihat Rasul Allah SAWW ketika masih kecil. Rahib Bukhaira adalah
seorang yang selalu menunggu dan menanti kedatangan seorang Nabi yang ia
ketahui dari Kitab-Kitab suci para Nabi terdahulu, bahwa ia akan datang
di salah satu tempat di jazirah Arab. Ciri-ciri fisik dan sifat-sifat
serta perangai Nabi terakhir ini pun ia pelajari dania hafal dengan baik.
Untuk itulah begitu ia melihat sekilas saja Nabi Muhammad SAWW yang
masih kecil, maka ia merasa pasti bahwa orang inilah yang selama ini ia
nantikan. Ketika ia mempelajari lebih jauh tentang anak kecil ini dengan
mengujinya dan mengajukan beberapa pertanyaan, maka ia yakin seratus
persen bahwa Muhammad ini bakal muncul sebagai Nabi terakhir dan paling
mulia diantara seluruh Nabi. Untuk itu ia menasehatkan kepada Abu Talib,
paman Nabi SAWW, agar berhati-hati dan lebih baik segera membawanya
pulang untuk menghindari kejahatan orang-orang yang ingkar.
Suatu hari Rasul
Allah SAWW beserta sejumlah sahabat di Madinah, menuju ke sebuah tempat
ibadah kaum Yahudi dan menyaksikan mereka tengah membaca Kitab Taurat
Nabi Musa as. Ketika mereka melihat Rasul Allah datang, mereka diamdan
tidakmelanjutkan pembacaan Taurat. Rasul Allah bertanya kepada mereka, "Mengapa
kalian menghentikan bacaan kalian?" Semua mereka diam dan tidak menjawab.
Di salah satu sudut kuil Yahudi itu seorang lelaki yang tengah sakit
berbaring. Ketika ia melihat teman-temannya terdiam, ia bangun dari
tempat pembaringannya dan berkata, "Wahai Muhammad. Bacaan mereka itu
tadi telah sampai pada bagian yang berbicara tentang ciri-cirimu. Ketika
mereka melihat kau datang, mereka tidak ingin membacakannya dengan
kehadiranmu dan sahabatmu, karena yang demikian itu akan merupakan
dukungan kepada risalahmu."
Kemudian orang
itu mengambil sebuah kitab Taurat dan dengan susah payah membacakannya
di depan Nabi, semua yang berkenaan dengan keutamaan Nabi. Lalu ia
berkata, "Wahai Muhammad, inilah sifat-sifat dan ciri-cirimu, serta
ajaran dan umatmu. Saat ini juga aku bersaksi bahwa Tuhan adalah satu
dan engkau adalah utusan-Nya." Kemudian ia berhenti dan tampak semakin
kepayahan seraya tersengal-sengal, lalu ia menghembuskan nafasnya yang
terakhir. Rasul Allah SAWW memerintahkan kepada para sahabat beliau agar
mengurus jenazah orang Yahudi berhati bersih dan terang ini dengan
cara-cara Islam. Kemudian beliau menyalatinya dan menguburkannya di
kuburan muslimin.
Abdullah bin Umar
juga berkata, "Demi Allah, cirri-ciri Rasul Allah SAWW dalam Taurat Nabi
Musa as, sama persis sebagaimana yang terdapat dalam Al-Quranul Karim
dimana Allah swt berfirman, "Wahai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu
sebagai saksi, pembawa peringatan dan kabar kembira." (Surat Al-Ahzab,
Ayat 45). Dalam kitab Taurat, selain sifat-sifat mulia Nabi SAWW,
terdapat pula firman Allah swt yang mengatakan, "Engkau (Muhammad)
adalah tonggak dan tiang yang kokoh bagi kota Makkah, dan engkau adalah
hamba dan utusan-Ku. Engkau Kuberi nama "Mutawakkil". Engkau bukan orang
yang kasar dank eras hati, dan engkau tidak pernah berbicara keras di
hadapan orang lain. Engkau tidak pernah membalas kejahatan dengan
kejahatan. Pemberian maaf dan lapang dada adalah kebiasaanmu."
Selanjutnya,
Taurat melanjutkan puji-pujiannya kepada Rasul Allah SAWW dengan
mengatakan, "Allah swt tidak akan mencabut nyawanya, kecuali setelah ia
membimbing bangsa yang terkebelakang dan sesat kea rah jalan lurus, dan
memperkenalkan kepada mereka ajaran tauhid "laa ilaaha illallaah". Ia
akan membuka mata orang-orang yang buta, dan membersihkan hati yang
berkarat dan menyembuhkannya dari penyakit. Ia juga membuka
telinga-telingan yang tuli untuk mendengarkan ajaran-ajaran yang haq."
Demikianlah sebagian dari isi Kitab Taurat berkenaan dengan keutamaan
dan sifat-sifat mulia Rasul Allah SAWW, sebagaimana diceritakan dalam
beberapa hadits yang dapat kita temukan dalam kitab Shahih Bukhari jilid
3 halaman 21; juga Musnad Ahmad, jilid 2 halaman 174.
|