|
Kritikan Sineas AS terhadap Perang Irak
Tanggal 20 Maret 2003
semula bukanlah hari yang penting. Namun tepat setahun kemudian, tanggal
ini disebut sebagai hari dimulainya perang dan pendudukan terhadap Irak.
Presiden AS yang haus perang telah mengumpulkan para komandan perang di
Gedung Putih dan memberikan perintah penyerangan kepada sebuah negara
yang jaraknya sangat jauh dari wilayah AS, sambil mengklaim bahwa
langkah itu dilakukan demi menegakkan demokrasi dan keamanan di muka
bumi. Ketika stasiun-stasiun televisi pada tanggal 20 Maret menayangkan
gambar-gambar serangan tentara AS kepada Irak, hanya sedikit orang yang
percaya bahwa pendudukan Irak akan berlanjut hingga bertahun-tahun
kemudian.
Meskipun AS menuduh
Saddam Husein menyimpan senjata pembunuh massal, namun sesungguhnya
milyaran barrel minyak Irak-lah yang menjadi alasan terpenting dari
pendudukan terhadap negara ini. Keruntuhan Saddam sebenarnya sudah
dimulai sejak tahun 1991. Pada saat itu, Saddam masih merasa sebagai
sekutu dekat AS dan dengan penuh arogansi menyerang Kuwait. Tentu saja,
serangan itu dilakukan dengan lampu hijau dari AS. Namun, ternyata AS
sudah berganti peran dan menganggap Saddam tidak lagi berguna untuk
dijadikan sekutu. Segera setelah Saddam menyerang Kuwait, AS
mengorganissasi tentara multinasional dan mengusir Saddam dari Kuwait.
Langkah itu dilanjutkan dengan penetapan embargo terhadap Irak. Setelah
semua kekuatan militer Irak dilucuti, termasuk senjata pembunuh massal
yang digunakan Saddam selama perang melawan Iran, AS pun mengirimkan
pasukannya tepat tanggal 20 Maret 2003.
Hingga hari ini, masa
pendudukan AS sudah mencapai empat tahun. Semula, AS mengira,
kesengsaraan rakyat Irak akibat kezaliman Saddam, akan membuat mereka
menyambut kedatangan tentara AS, dan selanjutnya AS dengan mudah menjadi
penguasa di Irak. Namun, prediksi AS ini salah total. Meski rakyat Irak
memang bersuka cita karena bebas dari kediktatoran Saddam, namun mereka
juga tidak sudi hidup di bawah penjajahan. Meskipun AS telah
mengeluarkan dana ratusan milyar dollar dan telah mengorbankan lebih
dari 3000 tentaranya di Irak, namun mereka masih belum berhasil
menundukkan Irak. Situasi di negeri 1001 Malam itu masih terus membara
dan setiap hari selalu ada nyawa yang melayang, baik dari pihak Irak
maupun tentara pendudukan AS.
Kondisi ini jelas
menimbulkan kritikan keras dari dunia internasional dan dari dalam
negeri AS sendiri. Di antara kalangan yang mengkritik kebijakan perang
AS di Irak adalah kalangan perfilman AS. Para sineas AS yang
memprihatinkan kondisi ini, memproduksi berbagai film. Di antara film
anti perang Irak adalah film berjudul Fahrenheit 911, yang mengkritik
keras kebijakan Bush melancarkan perang melawan terorisme. Secara satir,
sutradara film ini yaitu Michael Moore memperlihatkan kepada pemirsa,
bahwa teroris yang sebenarnya adalah Bush, yang melancarkan perang
kepada Irak.
Film-film anti perang
karya para sineas AS berusaha memberikan pencerahan kepada masyarakat AS
dan menunjukkan kenyataan di balik propaganda Gedung Putih mengenai
perang Irak dan perang melawan terorisme. Film-film semacam ini banyak
diminati masyarakat. Bahkan, dua film dokumenter agresi AS ke Irak telah
menjadi nominator Oscar di bidang film dokumenter, yaitu film berjudul
Iraq in Fragments atau “Irak dalam Fragmen” dan My Country My
Country atau ”Negaraku, Negaraku”. Kedua film ini mengkritik
kebijakan perang Gedung Putih. Namun akhirnya dewan juri memberikan
piala Oscar kepada film berjudul “An Inconvenient Truth.”
Film Iraq in
Fragments disutradarai oleh James Longley yang menghabiskan waktu
dua tahun di Irak untuk merekam berbagai gambar yang menakjubkan di
negeri yang tercabik-cabik oleh perang itu. Film ini terdiri dari tiga
bagian yang memotret kehidupan masyarakat Irak dari tiga kelompok, yaitu
Sunni, Syiah, dan Kurdi. Sutradara film ini, mengatakan, “Sebagian besar
orang yang saya saksikan di Irak adalah mereka yang tidak terlibat dalam
perang. Film ini bukan bercerita mengenai orang-orang AS melainkan
mengenai kenyataan yang dihadapi oleh orang-orang Irak.” Menurut James
Longley, “Orang-orang Irak mampu mengurus sendiri negara mereka tanpa
perlu bantuan tentara AS. Problema yang dihadapi pemerintah AS adalah,
mereka melupakan apa makna undang-undang internasional.”
Clint Eastwood adalah
aktor film terkemuka AS yang dalam kompetisi Oskar tahun ini menjadi
salah satu nominator sutradara terbaik. Film karya Eastwood berjudul
Letter From Iwo Jima atau “Surat dari Iwo Jima”, yang mengisahkan
perang antara AS dan Kekaisaran Jepang yang terjadi di kawasan Iwo Jima,
Jepang, pada era Perang Dunia Kedua. Kisah perang ini dituturkan dalam
perspektif orang-orang Jepang yang terlibat dalam perang tersebut.
Mengenai film ini, Clint Eastwood menyatakan, “Film ini mengangkat wajah
buruk perang. Meskipun film ini tidak terkait dengan perang AS di Irak,
namun film ini memberikan rasa takut terhadap perang. Melalui film ini,
saya ingin berbicara tentang perasaan mereka yang harus kehilangan
orang-orang yang dicintai akibat perang.”
Sineas AS lainnya yang
memberikan perhatian kepada masalah ini adalah Tim Robbins, yang pernah
membintangi film-film antara lain, Mystic River atau “Sungai
Mistik” dan Bob Roberts. Selain pernah melain Oscar, Tim Robbins
juga pernah mendapatkan berbagai penghargaan sinema, seperti dari
Festival Film Cannes dan Golden Globe Award. Robbins juga pernah
menjadi nominator Oscar untuk sutradara terbaik. Dalam sebuah artikelnya
yang berjudul Our Better Adult, Tim Robbins mengkritik rencana
Bush untuk menambah pasukan ke Irak. Robbins bahkan menyebut Bush
sebagai “presiden bodoh yang pemabuk”. Robbins juga menyerukan
dihentikannya perang Irak yang telah mengorbankan ratusan ribu nyawa itu.
Sementara
itu, aktor terkenal AS, Sean Penn dan aktris Susan Sarandon, menyuarakan
kritikan mereka terhadap Perang Irak dengan mengikuti aksi mogok makan
yang diselenggarakan aktivis anti perang pimpinan Cindy Sheehan. Aksi
itu dilakukan bersamaan dengan perayaan hari kemerdekaan AS. Cindy
Sheehan kehilangan anaknya Casey, serdadu AS yang tewas di Irak. Aksi
demo anti perang Irak juga dilakukan oleh aktris Jane Fonda. Fonda
mengumpulkan rekan-rekannya di Holywood, seperti Sean Penn, Danny
Glover, Susan Sarandon, dan Tim Robbins, serta veteran Perang Vietnam
dan Perang Irak untuk berdemonstrasi menyerukan dihentikannya perang.
Mereka membawa poster-poster bertuliskan seruan agar Bush di-impeachment
dan pasukan AS di Irak ditarik pulang. Namun sepertinya, Presiden
Bush dan kubu politiknya memilih untuk menulikan hati dan telinga mereka,
serta melanjutkan penjajahan terhadap Irak, meskipun dengan cara
mengorbankan rakyat mereka sendiri.
|