Perspektif    

   Februari 2007

[ Index Perspektif  ] [[ Home ]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kritikan Sineas AS terhadap Perang Irak

Tanggal 20 Maret 2003 semula bukanlah hari yang penting. Namun tepat setahun kemudian, tanggal ini disebut sebagai hari dimulainya perang dan pendudukan terhadap Irak. Presiden AS yang haus perang telah mengumpulkan para komandan perang di Gedung Putih dan memberikan perintah penyerangan kepada sebuah negara yang jaraknya sangat jauh dari wilayah AS, sambil mengklaim bahwa langkah itu dilakukan demi menegakkan demokrasi dan keamanan di muka bumi. Ketika stasiun-stasiun televisi pada tanggal 20 Maret menayangkan gambar-gambar serangan tentara AS kepada Irak, hanya sedikit orang yang percaya bahwa pendudukan Irak akan berlanjut hingga bertahun-tahun kemudian.

Meskipun AS menuduh Saddam Husein menyimpan senjata pembunuh massal, namun sesungguhnya milyaran barrel minyak Irak-lah yang menjadi alasan terpenting dari pendudukan terhadap negara ini. Keruntuhan Saddam sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 1991. Pada saat itu, Saddam masih merasa sebagai sekutu dekat AS dan dengan penuh arogansi menyerang Kuwait. Tentu saja, serangan itu dilakukan dengan lampu hijau dari AS. Namun, ternyata AS sudah berganti peran dan menganggap Saddam tidak lagi berguna untuk dijadikan sekutu. Segera setelah Saddam menyerang Kuwait, AS mengorganissasi tentara multinasional dan mengusir Saddam dari Kuwait. Langkah itu dilanjutkan dengan penetapan embargo terhadap Irak. Setelah semua kekuatan militer Irak dilucuti, termasuk senjata pembunuh massal yang digunakan Saddam selama perang melawan Iran, AS pun mengirimkan pasukannya tepat tanggal 20 Maret 2003.

Hingga hari ini, masa pendudukan AS sudah mencapai empat tahun. Semula, AS mengira, kesengsaraan rakyat Irak akibat kezaliman Saddam, akan membuat mereka menyambut kedatangan tentara AS, dan selanjutnya AS dengan mudah menjadi penguasa di Irak. Namun, prediksi AS ini salah total. Meski rakyat Irak memang bersuka cita karena bebas dari kediktatoran Saddam, namun mereka juga tidak sudi hidup di bawah penjajahan. Meskipun AS telah mengeluarkan dana ratusan milyar dollar dan telah mengorbankan lebih dari 3000 tentaranya di Irak, namun mereka masih belum berhasil menundukkan Irak. Situasi di negeri 1001 Malam itu masih terus membara dan setiap hari selalu ada nyawa yang melayang, baik dari pihak Irak maupun tentara pendudukan AS.

Kondisi ini jelas menimbulkan kritikan keras dari dunia internasional dan dari dalam negeri AS sendiri. Di antara kalangan  yang mengkritik kebijakan perang AS di Irak adalah kalangan perfilman AS. Para sineas AS yang memprihatinkan kondisi ini, memproduksi berbagai film. Di antara film anti perang Irak adalah film berjudul Fahrenheit 911, yang mengkritik keras kebijakan Bush melancarkan perang melawan terorisme. Secara satir, sutradara film ini yaitu Michael Moore memperlihatkan kepada pemirsa, bahwa teroris yang sebenarnya adalah Bush, yang melancarkan perang kepada Irak.

Film-film anti perang karya para sineas AS berusaha memberikan pencerahan kepada masyarakat AS dan menunjukkan kenyataan di balik propaganda Gedung Putih mengenai perang Irak dan perang melawan terorisme.  Film-film semacam ini banyak diminati masyarakat. Bahkan, dua film dokumenter agresi AS ke Irak telah menjadi nominator Oscar di bidang film dokumenter, yaitu film berjudul Iraq in Fragments atau “Irak dalam Fragmen” dan My Country My Country atau ”Negaraku, Negaraku”. Kedua film ini mengkritik kebijakan perang Gedung Putih. Namun akhirnya dewan juri memberikan piala Oscar kepada film berjudul “An Inconvenient Truth.”

Film Iraq in Fragments disutradarai oleh James Longley yang menghabiskan waktu dua tahun di Irak untuk merekam berbagai gambar yang menakjubkan di negeri yang tercabik-cabik oleh perang itu. Film ini terdiri dari tiga bagian yang memotret kehidupan masyarakat Irak dari tiga kelompok, yaitu Sunni, Syiah, dan Kurdi. Sutradara film ini, mengatakan, “Sebagian besar orang yang saya saksikan di Irak adalah mereka yang tidak terlibat dalam perang. Film ini bukan bercerita mengenai orang-orang AS melainkan mengenai kenyataan yang dihadapi oleh orang-orang Irak.” Menurut James Longley, “Orang-orang Irak mampu mengurus sendiri negara mereka tanpa perlu bantuan tentara AS. Problema yang dihadapi pemerintah AS adalah, mereka melupakan apa makna undang-undang internasional.”

Clint Eastwood adalah aktor film terkemuka AS yang dalam kompetisi Oskar tahun ini menjadi salah satu nominator sutradara terbaik. Film karya Eastwood berjudul Letter From Iwo Jima atau “Surat dari Iwo Jima”, yang mengisahkan perang antara AS dan Kekaisaran Jepang yang terjadi di kawasan Iwo Jima, Jepang, pada era Perang Dunia Kedua. Kisah perang ini dituturkan dalam perspektif orang-orang Jepang yang terlibat dalam perang tersebut. Mengenai film ini, Clint Eastwood menyatakan, “Film ini mengangkat wajah buruk perang. Meskipun film ini tidak terkait dengan perang AS di Irak, namun film ini memberikan rasa takut terhadap perang. Melalui film ini, saya ingin berbicara tentang perasaan mereka yang harus kehilangan orang-orang yang dicintai akibat perang.”

Sineas AS lainnya yang memberikan perhatian kepada masalah ini adalah  Tim Robbins, yang pernah membintangi film-film antara lain, Mystic River atau “Sungai Mistik” dan Bob Roberts. Selain pernah melain Oscar, Tim Robbins juga pernah mendapatkan berbagai penghargaan sinema, seperti dari Festival Film Cannes dan Golden Globe Award. Robbins  juga pernah menjadi nominator Oscar untuk sutradara terbaik. Dalam sebuah artikelnya yang berjudul Our Better Adult, Tim Robbins mengkritik rencana Bush untuk menambah pasukan ke Irak. Robbins bahkan menyebut Bush sebagai “presiden bodoh yang pemabuk”. Robbins juga menyerukan dihentikannya perang Irak yang telah mengorbankan ratusan ribu nyawa itu.

Sementara itu, aktor terkenal AS, Sean Penn dan aktris Susan Sarandon, menyuarakan kritikan mereka terhadap Perang Irak dengan mengikuti aksi mogok makan yang diselenggarakan aktivis anti perang pimpinan Cindy Sheehan. Aksi itu dilakukan bersamaan dengan perayaan hari kemerdekaan AS. Cindy Sheehan kehilangan anaknya Casey, serdadu AS yang tewas di Irak. Aksi demo anti perang Irak juga dilakukan oleh aktris Jane Fonda. Fonda mengumpulkan rekan-rekannya di Holywood, seperti Sean Penn, Danny Glover, Susan Sarandon, dan Tim Robbins, serta veteran Perang Vietnam dan Perang Irak untuk berdemonstrasi menyerukan dihentikannya perang. Mereka membawa poster-poster bertuliskan seruan agar Bush di-impeachment dan pasukan AS di Irak ditarik pulang. Namun sepertinya, Presiden Bush dan kubu politiknya memilih untuk menulikan hati dan telinga mereka, serta melanjutkan penjajahan terhadap Irak, meskipun dengan cara mengorbankan rakyat mereka sendiri.

 

 

 

[ Index Perspektif ]   [ Home ]