|
Kesempatan untuk Berfikir
Di era moderen seperti sekarang ini, segala
sesuatunya bergerak serba cepat dan melaju tak kenal henti. Berbagai
macam peristiwa terjadi dan berlangsung di dunia. Dari satu sisi, terasa
waktu dan zaman yang ada ini semakin sempit untuk menampung aktifitas
hidup manusia. Dalam masa satu detik, banyak sekali pekerjaan besar
dilakukan oleh seorang dokter ahli bedah, atau seorang pejabat tinggi
militer, atau seorang antariksawan.
Dari sisi lain, sudah tidak ada lagi
kesempatan bagi kita untuk melihat, kemanakah kita akan melangkah dan
mengapa kita melangkah, dengan gerakan yang serba cepat ini? kami yakin
Anda juga pernah mendengar kata-kata "era kita adalah era perubahan
serba cepat, satu detik pun tidak boleh dilewatkan". Di kota dunia ini
segala macam jarak sudah dihapus, dan berkat teknologi informasi dan
sarana hubungan massal, manusia sudah sedemikian dekat satu sama lain.
Di dunia seperti ini, kecepatanlah yang menentukan dan yang akan
menghantarkan manusia kepada keberhasilan.
Akan tetapi
pernahkan kita bertanya kepada diri kita sendiri, bahwa kehidupan serba
cepat ini, selain mendatangkan berbagai manfaat, madharat dan kerugian
apa sajakah yang mungkin akan diberikannya kepada manusia? Cobalah kita
perhatikan lebih teliti, sekitar kita. Sejak matahari terbit hingga
terbenam, yang kita isi dengan kerja dan aktifitas, hingga ketika kita
sudah tiba di rumah, maka detik-detik kehidupan kita sudah penuh dengan
ketergantungan kepada berbagai macam peralatan elektronik. Kenyataannya,
selama beberapa hari yang lalu, bahkan kita tidak sempat untuk beberapa
saat memandang langit malam yang indah, dengan bulan dan bintang
gemintangnya, demikian pula matahari ketika terbit atau terbenam. Sudah
beberapa lama kita tidak lagi memandang bumi tempat kita bepijak, dengan
pandangan teliti, untuk mengingat bahwa kita ini dari tanah dan suatu
saat kita akan kembali pula ke sana.
Di era moderen
ini, Anda akan dapat berhubungan dengan siapa pun, yang berada di
manapun dari sebagian besar kawasan dunia ini, hanya dengan menekan
beberapa tombol telepon genggam, atau internet. Bahkan dengan alat-alat
itu Anda akan dapat pula mendengar suara sekaligus melihat gambarnya
dalam saatyang sama. Dengan sudah semakin pendeknya waktu, dan kita akan
dapat memperoleh informasi seluas mungkin dengan sangat mudah dan dalam
waktu yang sangat singkat, akan tetapi, apakah kita masih mengingat
kesuliktan-kesulitan orang-orang sekitar kita dan masih sempat berusaha
membantu mereka mengatasi kesulitan-kesulitan tersebut? Apakah kita
menyadari adanya imperialisme gaya baru melalui sarana-sarana tersebut,
termasuk TV satelit, yang menjajah mata dan jiwa kita?
Realitas
mengatakan bahwa di era moderen ini, berbagai kesulitan, kecemasan dan
kesibukan hidup, telah menyibukkan manusia sedemikian rupa. Dalam
kondisi demikian, sedikit sekali manusia akan menemukan kesempatan untuk
merenungkan keberadaan dirinya, asal dan tujuan hidupnya. Jika kita
perhatikan hubungan-hubungan yang ada di tengah masyarakat manusia saat
ini, maka kita akan menemukan banyak manusia yang bekerja untuk
menghasilkan produksi yang lebih banyak. Sedangkan tujuan produksi,
menguasai dan mengeksploitasi alam. Pada gilirannya, penguasaan dan
eksploitasi sumber-sumber kekayaan alam ini bertujuan memperoleh
kenikmatan dan kesejahteraan hidup. Pada umumnya, untuk memperoleh
kenikmatan hidup yang lebih besar, manusia berpikir untuk berusaha
berproduksi lebih lebih baik dan lebih banyak.
Dalam
perputaran semua itu, memang benar bahwa manusia telah berhasil mencapai
produksi yang lebih bermutu dan lebih besar. Akan tetapi mereka bukannya
tidak mencapai kenikmatan dan kesejahteraan hidup yang lebih tinggi,
bahkan mereka kehilangan ketentraman jiwa, dan terjebak ke dalam
berbagai macam penyakit mental dan jiwa. Sebagai contoh, dapat dilihat
tingginya angka korban penyakit stress dan tekanan jiwa dengan segala
macam dampak yang diakibatkannya, di negara-negara industri maju.
Kesulitan lain yang dihadapi oleh manusia moderen ialah, meskipun telah
sedemikian luasnya menguasai alam, akan mereka sendiri ternyata terjabak
ke dalam ketergantungan kepada peralatan serba mesin dan elektronik,
yang membuat mereka kehilangan kontrol terhadap sebagian dari
dimensi-dimensi kejiwaannya. Dalam kehidupan barunya yang serba moderen,
manusia melupakan kemanusiaan serta fitrah sucinya, dan melangkah tanpa
tujuan dalam kegelapan.
Dalam ajaran
Islam, berpikir memiliki kedudukan yang sangat penting, terutama
berpikir yang bertujuan memprbaiki perjalanan hidup manusia. Berpikir
seperti itu sekejap atau sesaat, dinyatakan sebagai lebih baik daripada
ibadah 70 tahun. Pada prinsipnya, berpikir inilah yang membedakan antara
manusia dan hewan. Kita, manusia, dalam waktu tertentu, berjam-jam, atau
berhari-hari, bahkan tidak mustahil, selama bertahn-tahun, melakukan
pekerjaan-pekerjaan yang sia-sia, pekerjaan-pekerjaan yang sama sekali
tidak penting, atau dengan kata lain, melakukan perbuatan seperti itu
hanya membuang-buang waktu.
Marilah
sekarang, atau mulai sekarang, kita sisihkan waktu selama beebrapa menit
dari 24 jam yang sama dengan 1440 menit, untuk berpikir, merenung
tentang dunia dan kehidupan kita. Setelah berpikir, sebaiknya kita pilih
program untuk diri kita, yang akan menghantarkan kita kepada ketenangan
yang hakiki. Di dunia yang sementara ini, hendaknya kita perhatikan pula
keadaan orang lain, dan melihat kesulitan sebagai kesulitan kita, lalu
berusaha untuk membantu mereka mengatasi kesulitan hidup mereka.
Hendaknya kita merasa prihatin melihat kezaliman para pemilik kekuatan
terhadap manusia-manusia lemah; dan kita protes pelaksanaan hukum rimba
di dunia ini yang ditegakkan untuk merampas hak-hak kaum lemah.
Kita pun harus
waspada, bahwa jika suatu saat memiliki kekuasaan dan kekuatan,
hendaknya kita tidak menzalimi orang lain dalam rangka memperoleh
keuntungan dan tujuan-tujuan kita. Marilah kita berjanji kepada diri
kita sendiri bahwa kita tidak akan melupakan, bahkan untuk selama waktu
beberapa saat, untuk memperhatikan tujuan-tujuan mulia manusia, dan
tidak melupakan tanggung jawab kita. Hendaknya kita jadikan kesedihan
dan kesulitan orang lain sebagai kesedihan dan kesulitan diri kita.
Marilah, setiap hari, dalam wamtu beberapa menit, kita pikirkan tujuan
penciptaan manusia dan alam semesta ini. Alangkah baiknya, jika kita
dapat menyisihkan sedikit uang atau apa yang saja yang kita miliki,
untuk setiap saat membantu sesama kita yang mengalami kesulitan,
sehingga kita akan muncul sebagai manusia yang bermanfaat di dunia yang
penuh dengan hiruk pikuk ini.
Lebih dari
segala sesuatunya, kita umat manusia memerlukan menejemen waktu. Jangan
sampai waktu memakan dan menguasai kita. Orang yang menguasai waktu dan
kesempatan-kesempatannya, serta memahami pentingnya berpikir di dalam
hidup ini, sama sebagaimana orang yang menunggang kuda yang dapat ia
kendalikan dengan baik, dan kemana pun ia mau maka dengan sangat mudah
dan mantap ia dapat menggerakkan kudanya ke arah tersebut. Sedangkan
orang yang dikuasai oleh waktu, dan sama sekali tidak memiliki semangat
hidup dalam dirinya, maka ia tidak akan pernah memiliki peluang untuk
memilih. Perjalanan waktu yang mengalir sedemikian deras ini, akan
melemparkan orang seperti ini ke sama ke mari, bagiakan sepotong kayu
yang terombang-ambing oleh banjir.
Dalam pandangan
akal dan agama, berpikir adalah keharusan wujud manusia, dan sama dengan
ketergantungan ikan kepada air, manusia pun memerlukan aktifitas
berpikir. Dengan berpikir manusia akan menemukan jawaban dari berbagai
pertanyaan. Jika seseorang mengetahui nilai-nilai yang terkandung dalam
dirinya, maka pengetahuannya ini akan menghantarkannya kepada
pengetahuan tentang Allah swt. Dalam perjalanan hidup ini, pikiranlah
yang memberikan arah kepada kehidupan. Sebaliknya, jika manusia tidak
memiliki kekuatan berpikir, maka ia tidak akan mampu menemukan hakekat.
Jika demikian, maka manusia tidak akan dipilih oleh Allah sebagai
pengemban amanat pengamalan syareat di dunia ini, dan tidak akan
menghadapi pengadilan Allah swt di akherat kelak.
|