Perspektif    

   Februari 2007

[ Index Perspektif  ] [[ Home ]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kesempatan untuk Berfikir

Di era moderen seperti sekarang ini, segala sesuatunya bergerak serba cepat dan melaju tak kenal henti. Berbagai macam peristiwa terjadi dan berlangsung di dunia. Dari satu sisi, terasa waktu dan zaman yang ada ini semakin sempit untuk menampung aktifitas hidup manusia. Dalam masa satu detik, banyak sekali pekerjaan besar dilakukan oleh seorang dokter ahli bedah, atau seorang pejabat tinggi militer, atau seorang antariksawan.

Dari sisi lain, sudah tidak ada lagi kesempatan bagi kita untuk melihat, kemanakah kita akan melangkah dan mengapa kita melangkah, dengan gerakan yang serba cepat ini? kami yakin Anda juga pernah mendengar kata-kata "era kita adalah era perubahan serba cepat, satu detik pun tidak boleh dilewatkan". Di kota dunia ini segala macam jarak sudah dihapus, dan berkat teknologi informasi dan sarana hubungan massal, manusia sudah sedemikian dekat satu sama lain. Di dunia seperti ini, kecepatanlah yang menentukan dan yang akan menghantarkan manusia kepada keberhasilan.

Akan tetapi pernahkan kita bertanya kepada diri kita sendiri, bahwa kehidupan serba cepat ini, selain mendatangkan berbagai manfaat, madharat dan kerugian apa sajakah yang mungkin akan diberikannya kepada manusia? Cobalah kita perhatikan lebih teliti, sekitar kita. Sejak matahari terbit hingga terbenam, yang kita isi dengan kerja dan aktifitas, hingga ketika kita sudah tiba di rumah, maka detik-detik kehidupan kita sudah penuh dengan ketergantungan kepada berbagai macam peralatan elektronik. Kenyataannya, selama beberapa hari yang lalu, bahkan kita tidak sempat untuk beberapa saat memandang langit malam yang indah, dengan bulan dan bintang gemintangnya, demikian pula matahari ketika terbit atau terbenam. Sudah beberapa lama kita tidak lagi memandang bumi tempat kita bepijak, dengan pandangan teliti, untuk mengingat bahwa kita ini dari tanah dan suatu saat kita akan kembali pula ke sana.

Di era moderen ini, Anda akan dapat berhubungan dengan siapa pun, yang berada di manapun dari sebagian besar kawasan dunia ini, hanya dengan menekan beberapa tombol telepon genggam, atau internet. Bahkan dengan alat-alat itu Anda akan dapat pula mendengar suara sekaligus melihat gambarnya dalam saatyang sama. Dengan sudah semakin pendeknya waktu, dan kita akan dapat memperoleh informasi seluas mungkin dengan sangat mudah dan dalam waktu yang sangat singkat, akan tetapi, apakah kita masih mengingat kesuliktan-kesulitan orang-orang sekitar kita dan masih sempat berusaha membantu mereka mengatasi kesulitan-kesulitan tersebut? Apakah kita menyadari adanya imperialisme gaya baru melalui sarana-sarana tersebut, termasuk TV satelit, yang menjajah mata dan jiwa kita?

Realitas mengatakan bahwa di era moderen ini, berbagai kesulitan, kecemasan dan kesibukan hidup, telah menyibukkan manusia sedemikian rupa. Dalam kondisi demikian, sedikit sekali manusia akan menemukan kesempatan untuk merenungkan keberadaan dirinya, asal dan tujuan hidupnya. Jika kita perhatikan hubungan-hubungan yang ada di tengah masyarakat manusia saat ini, maka kita akan menemukan banyak manusia yang bekerja untuk menghasilkan produksi yang lebih banyak. Sedangkan tujuan produksi, menguasai dan mengeksploitasi alam. Pada gilirannya, penguasaan dan eksploitasi sumber-sumber kekayaan alam ini bertujuan memperoleh kenikmatan dan kesejahteraan hidup. Pada umumnya, untuk memperoleh kenikmatan hidup yang lebih besar, manusia berpikir untuk berusaha berproduksi lebih lebih baik dan lebih banyak.

Dalam perputaran semua itu, memang benar bahwa manusia telah berhasil mencapai produksi yang lebih bermutu dan lebih besar. Akan tetapi mereka bukannya tidak mencapai kenikmatan dan kesejahteraan hidup yang lebih tinggi, bahkan mereka kehilangan ketentraman jiwa, dan terjebak ke dalam berbagai macam penyakit mental dan jiwa. Sebagai contoh, dapat dilihat tingginya angka korban penyakit stress dan tekanan jiwa dengan segala macam dampak yang diakibatkannya, di negara-negara industri maju. Kesulitan lain yang dihadapi oleh manusia moderen ialah, meskipun telah sedemikian luasnya menguasai alam, akan mereka sendiri ternyata terjabak ke dalam ketergantungan kepada peralatan serba mesin dan elektronik, yang membuat mereka kehilangan kontrol terhadap sebagian dari dimensi-dimensi kejiwaannya. Dalam kehidupan barunya yang serba moderen, manusia melupakan kemanusiaan serta fitrah sucinya, dan melangkah tanpa tujuan dalam kegelapan.

Dalam ajaran Islam, berpikir memiliki kedudukan yang sangat penting, terutama berpikir yang bertujuan memprbaiki perjalanan hidup manusia. Berpikir seperti itu sekejap atau sesaat, dinyatakan sebagai lebih baik daripada ibadah 70 tahun. Pada prinsipnya, berpikir inilah yang membedakan antara manusia dan hewan. Kita, manusia, dalam waktu tertentu, berjam-jam, atau berhari-hari, bahkan tidak mustahil, selama bertahn-tahun, melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sia-sia, pekerjaan-pekerjaan yang sama sekali tidak penting, atau dengan kata lain, melakukan perbuatan seperti itu hanya membuang-buang waktu.

Marilah sekarang, atau mulai sekarang, kita sisihkan waktu selama beebrapa menit dari 24 jam yang sama dengan 1440 menit, untuk berpikir, merenung tentang dunia dan kehidupan kita. Setelah berpikir, sebaiknya kita pilih program untuk diri kita, yang akan menghantarkan kita kepada ketenangan yang hakiki. Di dunia yang sementara ini, hendaknya kita perhatikan pula keadaan orang lain, dan melihat kesulitan sebagai kesulitan kita, lalu berusaha untuk membantu mereka mengatasi kesulitan hidup mereka. Hendaknya kita merasa prihatin melihat kezaliman para pemilik kekuatan terhadap manusia-manusia lemah; dan kita protes pelaksanaan hukum rimba di dunia ini yang ditegakkan untuk merampas hak-hak kaum lemah.

Kita pun harus waspada, bahwa jika suatu saat memiliki kekuasaan dan kekuatan, hendaknya kita tidak menzalimi orang lain dalam rangka memperoleh keuntungan dan tujuan-tujuan kita. Marilah kita berjanji kepada diri kita sendiri bahwa kita tidak akan melupakan, bahkan untuk selama waktu beberapa saat, untuk memperhatikan tujuan-tujuan mulia manusia, dan tidak melupakan tanggung jawab kita. Hendaknya kita jadikan kesedihan dan kesulitan orang lain sebagai kesedihan dan kesulitan diri kita. Marilah, setiap hari, dalam wamtu beberapa menit, kita pikirkan tujuan penciptaan manusia dan alam semesta ini. Alangkah baiknya, jika kita dapat menyisihkan sedikit uang atau apa yang saja yang kita miliki, untuk setiap saat membantu sesama kita yang mengalami kesulitan, sehingga kita akan muncul sebagai manusia yang bermanfaat di dunia yang penuh dengan hiruk pikuk ini.

Lebih dari segala sesuatunya, kita umat manusia memerlukan menejemen waktu. Jangan sampai waktu memakan dan menguasai kita. Orang yang menguasai waktu dan kesempatan-kesempatannya, serta memahami pentingnya berpikir di dalam hidup ini, sama sebagaimana orang yang menunggang kuda yang dapat ia kendalikan dengan baik, dan kemana pun ia mau maka dengan sangat mudah dan mantap ia dapat menggerakkan kudanya ke arah tersebut. Sedangkan orang yang dikuasai oleh waktu, dan sama sekali tidak memiliki semangat hidup dalam dirinya, maka ia tidak akan pernah memiliki peluang untuk memilih. Perjalanan waktu yang mengalir sedemikian deras ini, akan melemparkan orang seperti ini ke sama ke mari, bagiakan sepotong kayu yang terombang-ambing oleh banjir.

Dalam pandangan akal dan agama, berpikir adalah keharusan wujud manusia, dan sama dengan ketergantungan ikan kepada air, manusia pun memerlukan aktifitas berpikir. Dengan berpikir manusia akan menemukan jawaban dari berbagai pertanyaan. Jika seseorang mengetahui nilai-nilai yang terkandung dalam dirinya, maka pengetahuannya ini akan menghantarkannya kepada pengetahuan tentang Allah swt. Dalam perjalanan hidup ini, pikiranlah yang memberikan arah kepada kehidupan. Sebaliknya, jika manusia tidak memiliki kekuatan berpikir, maka ia tidak akan mampu menemukan hakekat. Jika demikian, maka manusia tidak akan dipilih oleh Allah sebagai pengemban amanat pengamalan syareat di dunia ini, dan tidak akan menghadapi pengadilan Allah swt di akherat kelak.

  

 

 

[ Index Perspektif ]   [ Home ]