Perspektif    

   Februari 2007

[ Index Perspektif  ] [[ Home ]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Agama, Cahaya Kehidupan Manusia 

Ada sebuah pertanyaan signifikan, di zaman modern ini, di sisi manakah agama dapat memberikan petunjuk dan jawaban yang memuaskan kepada manusia? Dua jawaban yang berbeda disampaikan dalam menanggapi pertanyaan ini. Kelompok pertama meyakini bahwa agama berkaitan dengan kekuatan luar biasa dan metafisik, yakni sebuah kekuatan maha besar yang menjadi poros semua kekuatan dan ilmu. Karena memposisikan agama di tempat yang luar biasa, kelompok ini meyakini bahwa agama dapat menyelesaikan semua problema manusia. Mereka berpendapat bahwa manusia mau tak mau harus merujuk kepada agama untuk menyelesaikan segalah problemanya di pelbagai bidang ilmu. Menurut pandangan kelompok ini, ilmu bisa dikatakan bermanfaat ketika bersumber dari agama, sedangkan ilmu yang lain tidak ada manfaatnya dan bahkan dapat menyebabkan manusi tersesat dan keluar dari jalur kemanusiaan.

Lebih jelasnya kitakan bahwa tak ada pertanyaan yang tak ada solusinya dalam agama Islam. Karena itu, semua cabang keilmuan harus dikembalikan kepada Islam. Jika Rasulullah saww dan agama yang dibawanya tidak memberikan jawaban atas sebuah problema umat manusia, berarti Islam tidak sempurna. Berdasarkan pandangan ini, akal sama sekali tak bisa menjadi argumen. Setiap kali menjawab masalah tanpa berdasarkan pada agama, akal manusia pasti akan terjermus ke dalam kesalahan, karena agama lebih unggul dari akal.

Dalam menyanggah pandangan ini, kta katakan bahwa Allah swt telah mengutus dua macam nabi kepada kita. Dalam beberapa riwayat disebutkan adanya nabi yang batin atau di dalam dan nabi yang dhahir atau di luar. Nabi yang bathin adalah akal, sedangkan nabi yang dzahir adalah para rasul atau nabi yang kita kenal. Jika semua problema dan masalah dapat ditangani oleh agama, maka akal akan kehilangan peran dan tidak lagi diperlukan. Dalam kondisi seperti ini, manusia akan sangat dimanjakan dan tidak lagi memerlukan aktivitas keilmuan dan pemikiran. Dengan kata lain, manusia cukup mengandalkan apa yang disampaikan oleh para rasul dan nabi dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya.

Perlu diketahui juga, kelompok pertama ini menilai agama dan akal adalah dua hal yang saling bertentangan. Dalam mendukung pandangannya, kelompok ini juga mambawakan argumentasi dari Al-Quran dan hadis. Yang lebih mengherankan lagi, kelompok ini menyebut karya dan hasil penelitian para ilmuwan sebagai hal yang tidak berguna, karena hanya ilmu dengan dasar agamalah yang bermanfaat menurut mereka. Pandangan ini sebenarnya tak jauh berbeda dengan sudut pandang kelompok akhbari yang meyakini dogmatisme agama. Kelompok ini memandang agama sebagai penyelesai segala sesuatu.

Agama pada prinsipnya mengajak manusia untuk berfikir. Akal yang merupakan modal utama berpikir dalam agama diakui sebagai salah satu referensi ijtihad para fuqaha. Rasulullah Muhammad Saww juga menghormati para ulama dan karya ilmiah. Sebagai contoh, Rasulullah Saw menganjurkan orang yang sakit untuk mendengarkan pandangan dan saran dokter. Al-Quran dalam surat Al-An’am, ayat 59, berfirman, “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya, dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata.”

Ayat tersebut menjelaskan bahwa segala sesuatu yang berkaitan dengan petunjuk manusia telah disebutkan dalam al-Quran, bukan berarti bahwa manusia harus mencari rumus-rumus kimia dan fisika dalam Al-Quran. Mencari rumus ilmu kimia adalah pekerjaan akal, dan memberikan petunjuk kepada manusia adalah pekerjaan agama. Meski demikian, penggunaan rumus kimia harus selaras dengan ajaran agama. Jika tidak demikian, hal tersebut tidak bermanfaat, bahkan sangat mungkin membahayakan, seperti bom atom yang digunakakan untuk menghancurkan kota Hiroshima dan Nagasaki.

Kelompok kedua meyakini bahwa agama terbatas pada masa tertentu dan tak lebih dari sebuah aturan yang berlaku di masa itu. Mereka meyakini bahwa agama di zaman modern tak dapat menyelesaikan problema kehidupan. Menurut mereka, agama hanya bersangkutan dengan hari kiamat dan akherat, dan sama sekali tak dapat menjawab problema kehidupan duniawi. Dengan membanggakan kemajuan yang telah dicapai oleh umat manusia, kelompok ini menyatakan bahwa manusia dapat menyelesaikan sendiri semua masalahnya. Terkait dengan kehidupan pasca kematian, kelompok ini meyakini bahwa akal tidak memiliki peran apapun dalam masalah yang sepenuhnya menjadi wewenang agama ini.

Untuk menyanggah teori tersebut kita katakan, jika agama sama sekali tak ada kaitanya dengan urusan dunia dan kehidupan keseharian manusia, lalu mengapa para nabi dan rasul menjelaskan berbagai hal yang menyangkut kehidupan sosial dan kehidupan sehari-sehari umat manusia. Para nabi banyak memberikan bimbingan tentang kehidupan yang bahagia dan lurus? Mengapa mereka juga harus berperang melawan orang-orang yang dzalim? Mengapa Nabi Musa as mendatangi Fir’aun? Dan sederet pertanyaan lainnya yang muncul terkait masalah ini.

Berbeda dengan pandangan kelompok ini, agama datang untuk mengatur kehidupan manusia di dunia dan akherat. Jika akal sepenuhnya dapat menyelesaikan semua problema dunia, mengapa manusia dengan semua kemajuan teknologi yang dimilikinya masih harus bergelut dengan segudang problema dan masalah? Menurut Profesor Nasr, semua problema manusia saat ini disebabkan oleh jauhnya manusia dari urusan spritual dan agama.

Di tengah-tengah dua pandangan itu, muncul teori yang menolak ekstrimisme kedua pandangan sebelumnya. Kelompok ini berupaya menjelaskan pandangan yang komprehensif terkait agama serta memilih jalan tengah. Kelompok ini sama sekali tak menyerahkan segala urusan kepada agama dan tidak pula mengetepikan peran akal. Menurut mereka, Islam berpandangan bahwa akal adalah amanat Allah SWt. Selain itu, akal juga memainkan peran nabi di dalam jiwa manusia. Sedangkan pandangan yang menafikan agama dan menyebutnya hanya berhubungan dengan masa lalu, sama sekali tak selaras dengan hakikat agama.

Agama Islam membimbing manusia ke jalan yang baik dan sempurna. Rasulullah Saww sebagai nabi yang terakhir memberikan kabar gembira berupa syariat yang sempurna kepada semua manusia. Mengenai masalah apa saja yang bisa dijawab oleh agama Islam, secara singkat kami jelaskan bahwa segala masalah yang berhubungan dengan hidayah dan kebahagiaan manusia di dunia dan akherat telah dijelaskan oleh agama secara benar. Jelas bahwa banyak hal dalam kehidupan keseharian manusia yang tak ada kaitannya dengan kebahagiaan dan kesengsaraannya di dunia dan akhirat.

Dalam agama Islam ada hukum yang bernama mubah, artinya diperbolehkan dalam agama. Jika dengan berpikir seseorang berkesimpulan bahwa perbuatan yang mubah ini baik baginya, ia akan melakukannya dan jika tidak akan dia tinggalkan. Karenanya, Islam tidak harus tampil menjelaskan semua rincian masalah kehidupan bagi manusia. Islam memberikan garis-garis besar dan manusia harus menyesuaikan langkah dengannya.  Islam menghargai semua hasil pemikiran dan keilmuan. Sedangkan manusia hendaknya menuntut dari agama hal-hal yang logis menyangkut kehidupan dunia dan akhiratnya.

Alhasil, agama Islam mendukung aktivitas keilmuan dan hasil pemikiran. Karena itu, Islam menuntut kita semua untuk memanfaatkan potensi akal secara maksimal. Mengenai berbagai masalah yang tidak bisa dijawab oleh akal, sudah sewajarnya manusia merujuk kepada ajaran agama. Agama adalah obat penawar bagi manusia dari kesesatan. Meski demikian akal dipersilahkan untuk menjalankan aktivitasnya yang jika benar akan dikukuhkan dan diterima oleh agama.

 

 

 

[ Index Perspektif ]   [ Home ]