|
Agama, Cahaya Kehidupan Manusia
Ada sebuah pertanyaan
signifikan, di zaman modern ini, di sisi manakah agama dapat memberikan
petunjuk dan jawaban yang memuaskan kepada manusia? Dua jawaban yang
berbeda disampaikan dalam menanggapi pertanyaan ini. Kelompok pertama
meyakini bahwa agama berkaitan dengan kekuatan luar biasa dan metafisik,
yakni sebuah kekuatan maha besar yang menjadi poros semua kekuatan dan
ilmu. Karena memposisikan agama di tempat yang luar biasa, kelompok ini
meyakini bahwa agama dapat menyelesaikan semua problema manusia. Mereka
berpendapat bahwa manusia mau tak mau harus merujuk kepada agama untuk
menyelesaikan segalah problemanya di pelbagai bidang ilmu. Menurut
pandangan kelompok ini, ilmu bisa dikatakan bermanfaat ketika bersumber
dari agama, sedangkan ilmu yang lain tidak ada manfaatnya dan bahkan
dapat menyebabkan manusi tersesat dan keluar dari jalur kemanusiaan.
Lebih jelasnya kitakan
bahwa tak ada pertanyaan yang tak ada solusinya dalam agama Islam.
Karena itu, semua cabang keilmuan harus dikembalikan kepada Islam. Jika
Rasulullah saww dan agama yang dibawanya tidak memberikan jawaban atas
sebuah problema umat manusia, berarti Islam tidak sempurna. Berdasarkan
pandangan ini, akal sama sekali tak bisa menjadi argumen. Setiap kali
menjawab masalah tanpa berdasarkan pada agama, akal manusia pasti akan
terjermus ke dalam kesalahan, karena agama lebih unggul dari akal.
Dalam menyanggah
pandangan ini, kta katakan bahwa Allah swt telah mengutus dua macam nabi
kepada kita. Dalam beberapa riwayat disebutkan adanya nabi yang batin
atau di dalam dan nabi yang dhahir atau di luar. Nabi yang bathin adalah
akal, sedangkan nabi yang dzahir adalah para rasul atau nabi yang kita
kenal. Jika semua problema dan masalah dapat ditangani oleh agama, maka
akal akan kehilangan peran dan tidak lagi diperlukan. Dalam kondisi
seperti ini, manusia akan sangat dimanjakan dan tidak lagi memerlukan
aktivitas keilmuan dan pemikiran. Dengan kata lain, manusia cukup
mengandalkan apa yang disampaikan oleh para rasul dan nabi dalam
menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya.
Perlu diketahui juga,
kelompok pertama ini menilai agama dan akal adalah dua hal yang saling
bertentangan. Dalam mendukung pandangannya, kelompok ini juga mambawakan
argumentasi dari Al-Quran dan hadis. Yang lebih mengherankan lagi,
kelompok ini menyebut karya dan hasil penelitian para ilmuwan sebagai
hal yang tidak berguna, karena hanya ilmu dengan dasar agamalah yang
bermanfaat menurut mereka. Pandangan ini sebenarnya tak jauh berbeda
dengan sudut pandang kelompok akhbari yang meyakini dogmatisme
agama. Kelompok ini memandang agama sebagai penyelesai segala sesuatu.
Agama pada prinsipnya
mengajak manusia untuk berfikir. Akal yang merupakan modal utama
berpikir dalam agama diakui sebagai salah satu referensi ijtihad para
fuqaha. Rasulullah Muhammad Saww juga menghormati para ulama dan karya
ilmiah. Sebagai contoh, Rasulullah Saw menganjurkan orang yang sakit
untuk mendengarkan pandangan dan saran dokter. Al-Quran dalam surat Al-An’am,
ayat 59, berfirman, “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang
ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia
mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun
yang gugur melainkan Dia mengetahuinya, dan tidak jatuh sebutir bijipun
dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering,
melainkan tertulis dalam kitab yang nyata.”
Ayat tersebut
menjelaskan bahwa segala sesuatu yang berkaitan dengan petunjuk manusia
telah disebutkan dalam al-Quran, bukan berarti bahwa manusia harus
mencari rumus-rumus kimia dan fisika dalam Al-Quran. Mencari rumus ilmu
kimia adalah pekerjaan akal, dan memberikan petunjuk kepada manusia
adalah pekerjaan agama. Meski demikian, penggunaan rumus kimia harus
selaras dengan ajaran agama. Jika tidak demikian, hal tersebut tidak
bermanfaat, bahkan sangat mungkin membahayakan, seperti bom atom yang
digunakakan untuk menghancurkan kota Hiroshima dan Nagasaki.
Kelompok kedua meyakini
bahwa agama terbatas pada masa tertentu dan tak lebih dari sebuah aturan
yang berlaku di masa itu. Mereka meyakini bahwa agama di zaman modern
tak dapat menyelesaikan problema kehidupan. Menurut mereka, agama hanya
bersangkutan dengan hari kiamat dan akherat, dan sama sekali tak dapat
menjawab problema kehidupan duniawi. Dengan membanggakan kemajuan yang
telah dicapai oleh umat manusia, kelompok ini menyatakan bahwa manusia
dapat menyelesaikan sendiri semua masalahnya. Terkait dengan kehidupan
pasca kematian, kelompok ini meyakini bahwa akal tidak memiliki peran
apapun dalam masalah yang sepenuhnya menjadi wewenang agama ini.
Untuk menyanggah teori
tersebut kita katakan, jika agama sama sekali tak ada kaitanya dengan
urusan dunia dan kehidupan keseharian manusia, lalu mengapa para nabi
dan rasul menjelaskan berbagai hal yang menyangkut kehidupan sosial dan
kehidupan sehari-sehari umat manusia. Para nabi banyak memberikan
bimbingan tentang kehidupan yang bahagia dan lurus? Mengapa mereka juga
harus berperang melawan orang-orang yang dzalim? Mengapa Nabi Musa as
mendatangi Fir’aun? Dan sederet pertanyaan lainnya yang muncul terkait
masalah ini.
Berbeda dengan
pandangan kelompok ini, agama datang untuk mengatur kehidupan manusia di
dunia dan akherat. Jika akal sepenuhnya dapat menyelesaikan semua
problema dunia, mengapa manusia dengan semua kemajuan teknologi yang
dimilikinya masih harus bergelut dengan segudang problema dan masalah?
Menurut Profesor Nasr, semua problema manusia saat ini disebabkan oleh
jauhnya manusia dari urusan spritual dan agama.
Di tengah-tengah dua
pandangan itu, muncul teori yang menolak ekstrimisme kedua pandangan
sebelumnya. Kelompok ini berupaya menjelaskan pandangan yang
komprehensif terkait agama serta memilih jalan tengah. Kelompok ini sama
sekali tak menyerahkan segala urusan kepada agama dan tidak pula
mengetepikan peran akal. Menurut mereka, Islam berpandangan bahwa akal
adalah amanat Allah SWt. Selain itu, akal juga memainkan peran nabi di
dalam jiwa manusia. Sedangkan pandangan yang menafikan agama dan
menyebutnya hanya berhubungan dengan masa lalu, sama sekali tak selaras
dengan hakikat agama.
Agama Islam membimbing
manusia ke jalan yang baik dan sempurna. Rasulullah Saww sebagai nabi
yang terakhir memberikan kabar gembira berupa syariat yang sempurna
kepada semua manusia. Mengenai masalah apa saja yang bisa dijawab oleh
agama Islam, secara singkat kami jelaskan bahwa segala masalah yang
berhubungan dengan hidayah dan kebahagiaan manusia di dunia dan akherat
telah dijelaskan oleh agama secara benar. Jelas bahwa banyak hal dalam
kehidupan keseharian manusia yang tak ada kaitannya dengan kebahagiaan
dan kesengsaraannya di dunia dan akhirat.
Dalam agama Islam ada
hukum yang bernama mubah, artinya diperbolehkan dalam agama. Jika dengan
berpikir seseorang berkesimpulan bahwa perbuatan yang mubah ini baik
baginya, ia akan melakukannya dan jika tidak akan dia tinggalkan.
Karenanya, Islam tidak harus tampil menjelaskan semua rincian masalah
kehidupan bagi manusia. Islam memberikan garis-garis besar dan manusia
harus menyesuaikan langkah dengannya. Islam menghargai semua hasil
pemikiran dan keilmuan. Sedangkan manusia hendaknya menuntut dari agama
hal-hal yang logis menyangkut kehidupan dunia dan akhiratnya.
Alhasil, agama Islam
mendukung aktivitas keilmuan dan hasil pemikiran. Karena itu, Islam
menuntut kita semua untuk memanfaatkan potensi akal secara maksimal.
Mengenai berbagai masalah yang tidak bisa dijawab oleh akal, sudah
sewajarnya manusia merujuk kepada ajaran agama. Agama adalah obat
penawar bagi manusia dari kesesatan. Meski demikian akal dipersilahkan
untuk menjalankan aktivitasnya yang jika benar akan dikukuhkan dan
diterima oleh agama.
|