|
Kembali Kepada Kesederhanaan, Sebuah Buku Karya Wendy
Shalit
Saudara pendengar, pelarangan penggunaan jilbab di
sekolah-sekolah Perancis telah menimbulkan kemarahan kaum muslimin sedunia.
Penggunaan jilbab adalah salah satu kewajiban yang terkandung dalam ajaran
Islam. Sebagaimana kewajiban-kewajiban Islam lainnya, seperti zakat atau
puasa, penggunaan jilbab adalah sebuah aturan yang sesuai dengan fitrah
manusia dan bermanfaat bagi manusia sendiri. Masalah pakaian yang sesuai
dengan fitrah kaum perempuan juga menarik perhatian sebagian pemikir dan
penulis Barat, misalnya Wendy Shalit, yang pada tahun 1999 menulis sebuah
buku berjudul A Return to Modesty atau Kembali Kepada Kesederhanaan.
Mengenai bukunya
ini, Wendy Shalit berkata, “Tujuan saya menulis buku ini bukanlah untuk
menyuruh kaum perempuan agar memakai pakaian yang tertutup. Buku ini cocok
untuk perempuan yang tidak bisa memikirkan topik selain masalah kecantikan
dirinya. Tidak diragukan lagi, kesadaran diri seorang perempuan adalah alat
terbaik bagi perempuan, agar ia mampu menentukan, apakah mengenakan pakaian
yang terbuka dan tidak pantas di hadapan orang asing, adalah sesuatu
perbuatan yang benar atau tidak?”
Benyamin Brazil
dalam majalah Hidden Wisdom, terbitan tahun 2001, menulis, ”Buku ini
memberikan pandangan yang paling jelas dan paling transparan selama tiga
generasi terakhir di Barat, mengenai masalah kesucian perempuan. Menurut
para psikolog, dasar-dasar kesucian itu tersembunyi di kedalaman jiwa kita.
Jika kita merenungi fitrah yang ada dalam jiwa kita, kita akan menyadari
bahwa hal-hal yang selama ini telah kita lupakan, ditampilkan oleh buku ini.
Buku ini mencatat nilai-nilai yang harus diketahui oleh setiap manusia, yang
menjawab pertanyaan ‘siapakah dirinya’ dan ‘apakah maksud dari jatidiri’.
Robin West, doktor
hukum dari Universitas Georgetown berkata, “Wendy Shalit menulis sebuah buku
untuk kita semua, untuk feminis, untuk anti feminis, cendikiawan, dan juga
kelompok konservatif. Menurut kepercayaan Shalit, dengan menghidupkan
kembali hijab, tidak saja akan menyadarkan kita dari kelalaian diri selama
ini, tetapi juga meletakkan pondasi sebuah kehidupan yang sehat dan kokoh.
Kehidupan suami isteri yang bersih dan sehat merupakan sumber kebahagiaan
dan kegembiraan, yang sama sekali tidak akan pernah bisa dibandingkan
kehidupan menyimpang dan penuh kegelapan yang ditimbulkan oleh kehidupan
yang tidak berpondasi.”
Wendy Shalit
menulis, “Tidakkah merupakan sebuah hal yang aneh ketika kita tidak bisa
berbicara mengenai sebuah hal yang sangat penting dan sangat kita perlukan?
Kita terpaksa membicarakan masalah penting itu secara rahasia dan
sembunyi-sembunyi. Hijab seorang perempuan adalah salah satu topik yang
telah dilarang untuk dibicarakan pada zaman ini dan merupakan salah satu
dari pintu-pintu yang tertutup, yang ditampilkan sebagai hal yang bahaya.
Masalah hijab tidak sekadar menjawab sebuah pertanyaan, melainkan merupakan
pakaian yang tepat bagi kaum perempuan, sehingga topik ini bisa menguncang
segalanya.”
Selanjutnya, dalam
buku A Return to Modesty, Wendy Shalit menulis bahwa masyarakat
Amerika mengupas mengenai perempuan dan kedudukannya dalam masyarakat, serta
mengenalkan pandangan masyarakat Barat mengenai nilai perempuan. Menurut
pandangan Shalit, kecenderungan kaum perempuan muda untuk menggunakan
pakaian yang tidak pantas, demi menarik perhatian orang lain, adalah dampak
dari digunakannya perempuan dalam iklan, film-film televisi, dan bioskop.
Dimanfaatkannya perempuan dalam iklan-iklan dan film telah menampilkan
jenis-jenis idola klise kepada masyarakat, yang menyebabkan nilai perempuan
dalam masyarakat menjadi turun.
Akibat dari
fenomena ini adalah meningkatnya penyiksaan dan pelecehan terhadap perempuan
muda dalam masyarakat Barat. Shalit dalam bukunya tersebut mengemukakan
angka yang menguncang dari masyarakat Amerika. Dia menulis, “Di kota New
York, setiap tahunnya lebih dari 54 ribu remaja yang berusia 15 hingga 19
tahun mengandung. Di Masuchusset, setiap bulan, ditulis lebih dari 4 atau 5
makalah dalam majalah mengenai bagaimana cara untuk melindungi diri dari
kekerasan.” Shalit juga mengutip pernyataan seorang psikolog, Mary Pariz,
yang berkata, “Pada dekade 90-an penyiksaan terhadap kaum perempuan
meningkat tajam dari sisi cara dan tingkat kekerasannya.”
Shalit percaya
bahwa perempuan remaja dan anak-anak perempuan tidak harus menuruti
keinginan masyarakat yang meminta mereka berperilaku tidak logis dan di luar
kepantasan. Dalam budaya yang diistilahkan sebagai budaya kebebasan, jika
ada perempuan yang tidak mematuhi peraturan yang ada, dengan segera ia akan
dikeluarkan atau diasingkan. Perempuan dalam masyarakat Barat dididik
sedemikian rupa, agar dalam membuktikan keberadaannya, ia harus mengejar
persamaan dengan kaum lelaki. Padahal akhirnya, kaum perempuan akan
memerlukan lelaki dan kaum lelaki pun memerlukan perempuan, karena perempuan
dan lelaki mempunyai perbedaan fitrah dan tidak bisa dipisahkan satu sama
lain. Wendy menegaskan, “Saya ingin berkata kepada mereka bahwa menjadi
perempuan adalah sebuah kemuliaan dan karena itu tidak perlu berusaha untuk
bersikap seperti lelaki. Setiap orang harus bersikap sebagaimana apa
adanya.”
Penulis Amerika
ini pada bab kedua bukunya, A Return to Modesty, menyatakan bahwa
bagi seorang perempuan, menutup tubuh adalah suatu keinginan yang sangat
alami. Namun, keinginan alami ini, dengan niat egois, telah didistorsi
secara gradual dan dianggap sebagai sebuah keperluan yang sia-sia dan tidak
wajar. Sementara itu, bukti-bukti menunjukkan bahwa pemahaman masyarakat
modern, yang menganggap bahwa hijab perempuan itu merupakan penindasan,
merupakan sebuah kesalahpahaman.
Poin menarik yang
terdapat dalam buku ini ialah banyaknya pertanyaan yang dikemukakan oleh
penulis, dengan tujuan untuk membangunkan kesadaran para pembaca. Wendy
menulis, “Kini bukan zamannya lagi untuk memberi nasihat, sebaliknya kita
harus mengemukakan pertanyaan yang selama ini kita tidak dibenarkan untuk
menanyakannya. Di antara pertanyaan itu adalah, ”Apakah hasil dari kebebasan
tanpa batas?
Hal-hal apa
yang harus kita ajarkan kepada anak-anak perempuan kita? Mengapa selepas
bertahun-tahun pendidikan mengenai apa yang harus dilakukan oleh anak-anak
lelaki, perilaku lelaki dalam masyarakat kita semakin parah? Mengapa kita
harus memerangi hijab dan kesucian?” Dan masih banyak lagi pertanyaan
lainnya.
Wendy Shalit
menyebut hijab sebagai sebuah idealisme yang sudah hilang. Dia menjelaskan
kenyataan
bahwa manusia tidak bisa selamanya dijauhkan dari keinginan dan keperluan
fitrahnya. Menurut pandangannya, proses seperti ini akan menyeret masyarakat
dalam sebuah krisis.
* *
*
Dalam bukunya A Return to Modesty, Wendy Shalit membahas nilai
perempuan dalam masyarakat Barat, khususnya Amerika, dan mengemukakan
pertanyaan kemanakah budaya kontemporer membawa kaum perempuan? Penulis
mengklaim bahwa sebagian besar perempuan menginginkan adanya perubahan dalam
kondisi dan cara pandang masyarakat terhadap perempuan. Dengan argumen yang
logis, Wendy menjelaskan mengapa hijab bisa menjadi solusi dari persoalan
yang dihadapi oleh kaum perempuan hari ini.
Shalit menulis, “Terdapat dua jenis hijab, pertama, hijab maknawi yang
berupa sikap melindungi harga diri dan memiliki rasa malu. Hijab jenis kedua
adalah pakaian yang menutup tubuh perempuan dengan sempurna, seperti jilbab
yang digunakan oleh kaum muslimah. Penelitian dan pengkajian saya lebih
banyak saya lakukan pada hijab jenis kedua ini, yang pengertiannya banyak
sekali disalahartikan. Bahkan pakar yang menyusun kamus pun tidak memahami
dengan benar maksud dari istilah ini. Mereka sama sekali tidak bertanya
mengapa di sepanjang ribuan tahun, banyak sekali kaum perempuan yang menutup
tubuh mereka dengan hijab?”
Shalit selanjutnya menulis, “Dewasa ini, hijab atau jilbab dipandang
memiliki pengertian membelenggu diri sendiri. Tentu saja pandangan ini tidak
benar. Tidak ada perempuan yang menghendaki diri mereka dibelenggu. Andai
saja perempuan merupakan makhluk yang kurang bijak, mungkin saja bisa kita
katakan bahwa mereka menutupi diri mereka sepanjang ribuan tahun tanpa
alasan. Tetapi dikarenakan perempuan adalah makhluk yang berakal,
sebagaimana kaum lelaki, dan mereka mempunyai nilai dan kedudukan, maka
sesungguhnya hijab perempuan memiliki makna yang lebih tinggi. Menggunakan
jilbab bukan berarti tidak memperdulikan lelaki, namun bermaksud memberi
perhatian kepada sisi insani perempuan dan menyimpan daya tarik alaminya
untuk diperlihatkan pada suatu waktu yang tepat dan baik.”
Shalit menyebutkan hijab sebagai seorang teman lama yang telah pergi. Untuk
mengetahui bagaimana nasib hijab di zaman sekarang ini, langkah pertama yang
harus kita lakukan ialah merasa sedih karena tidak memiliki hijab itu
sendiri. Kita hidup dalam era kehidupan ketika kepada kaum perempuan
diberikan jalan keluar untuk membangkitkan rasa kepercayaan diri mereka,
namun ternyata jalan itu hanya membawa mereka ke arah kehancuran dan
kerusakan. Pada masa lalu, ketika anak-anak perempuan remaja duduk di
samping anak-anak lelaki, muncul rasa malu dan sikap waspada. Namun hari ini,
di bawah nama seksualisme, tidak ada lagi rasa malu atau segan dalam
hubungan antara lelaki dan perempuan.
Wendy Shalit selanjutnya menulis bahwa hijab menolak pandangan lelaki kepada
perempuan sebagai sebuah alat pemuas nafsu. Sebaliknya, hijab membuat
perempuan dipandang sebagai makhluk yang terhormat dan mulia. Dengan menukil
perkataan seorang cendikiawan, Shalit menulis, “Malu dan kesucian merupakan
sahabat akrab kaum muda dan melindungi mereka ketika melewati usia baligh.
Yang lebih penting dari itu, rasa malu dan kesucian memainkan peran penting
dalam memilih pasangan hidup.”
Wendy Shalit seterusnya menulis, “Budaya yang menghormati kesucian perempuan
adalah budaya yang menyusun hubungan lelaki dan perempuan dalam bentuk yang
halus dan tepat, serta sesuai dengan kekhasan masing-masing gender. Dalam
budaya seperti ini, perempuan melangkah dengan hijab yang melindungi diri
mereka dan mereka akan hidup dalam kondisi yang berkualitas. Ketika ada
seorang mubaligh agama yang menyeru kepada kaum perempuan agar tidak
mengikuti budaya yang sedang berkembang dewasa ini, janganlah kita
menganggap seruannya itu sebagai sesuatu yang buruk. Sesungguhnya mubaligh
tersebut sedang menyerukan agar perempuan menggapai keindahan alami dan
hakiki. Muballig itu berkata, “Janganlah kalian menghias rambut, memakai
pakaian yang tipis, dan menampakkan perhiasan kalian. Sebaliknya, hiasilah
diri kalian dengan jiwa yang tenteram dan tenang, yang bernilai di sisi
Tuhan.”
Wendy Shalit dalam bagian lain bukunya menyatakan bahwa sekalipun berada
dalam masyarakat yang tidak memiliki rasa malu dan kesucian, kaum perempuan
secara fitrah tetap akan menginginkan rasa malu dan kesucian itu. Dalam hal
ini, Wendy menuliskan beberapa bukti. Ia juga menceritakan pengalamannya
ketika di universitasnya diperingati pekan feminisme. Para aktivis gerakan
feminisme di sebuah fakultas menyebarkan spanduk-spanduk yang menyatakan
bahwa mereka sama seperti laki-laki dan mereka menginginkan kebebasan
sebagaimana laki-laki. Namun di fakultas lain, ada mahasiswa yang
menempelkan tulisan di pintu masuk, sbb. “Saya mendengar bahwa sebagian dari
perempuan muda menganggap diri mereka sama seperti lelaki dan membiarkan
orang lain secara bebas menjalin hubungan dengan mereka. Janganlah kalian
membuang waktu kalian dengan perilaku yang rendah ini dan jangan lupakan
jati diri kalian.”
Wendy Shalit menulis, “Kami adalah manusia, kami juga memiliki perasaan dan
jatidiri insani. Kami bukanlah komputer yang hanya mengikuti aturan-aturan
yang kering dan tiran. Perempuan memiliki potensi lebih dari itu, yaitu
potensi untuk sampai ke tingkat yang lebih tinggi. Pakaian dan kesucian
perempuan mengisi kekosongan dalam jawaban atas pertanyaan, ‘bagaimana untuk
menjadi perempuan’ dan ‘apa arti kecantikan bagi perempuan’.”
KE INDEX |