|
Perempuan di Layar Sinema
Bagi
sebagian orang akan terlintas pertanyaan, mengapa ketika membahas
fenomena-fenomena sosial, masalah yang berkaitan dengan kaum perempuan
dibahas secara terpisah, sementara pembahasan mengenai laki-laki tidak
demikian? Kita sering mendengar kata-kata “penulis perempuan”, “hari
perempuan”, “konferensi perempuan”, “sinema perempuan”, “sutradara
perempuan”, dan lain-lain. Seolah-olah, semua profesi yang dianggap biasa di
kalangan laki-laki, menjadi istimewa bagi perempuan.
Di manakah akar dari permasalahan ini? Apakah hal ini terjadi
karena perempuan dalam struktur sosial memainkan peran sekunder? Atau,
apakah hal ini disebabkan oleh masih diterimanya pandangan sebagian filsuf
dan pemikir kuno dalam masyarakat dewasa ini? Filsuf seperti Jean Jacques
Rosseau, menyatakan, “Mencari hakikat persepsional dan pengetahuan adalah
sesuatu hal di luar batas kemampuan perempuan. Perempuan seharusnya menelaah
bidang-bidang keilmuan yang praktis saja. Kewajiban mereka adalah
mengamalkan prinsip-prinsip keilmuan yang telah ditemukan oleh laki-laki.”
Apapun akar dari penstereotipan kaum perempuan, namun
fenomena ini telah menjadi isu dan topik perdebatan beberapa dekade lalu.
Pada saat itu, di Barat muncul gerakan-gerakan feminisme yang mengkritik
sistem sosial masyarakat yang menjadikan perempuan sebagai warga kelas dua.
Kata feminisme yang diartikan sebagai gerakan pembelaan terhadap hak-hak
perempuan, untuk pertama kalinya digunakan pada dekade 1970-an. Namun,
perjuangan kaum perempuan untuk meraih hak-hak mereka yang selama ini
terampas memiliki sejarah yang lebih panjang dari itu.
Jika kita mundur lebih jauh dari tahun 1970-an, yaitu ke
tahun-tahun pertama pada abad ke-20, pemikiran mengenai pembelaan terhadap
hak-hak perempuan mulai diangkat beberapa penulis perempuan di Barat, di
antaranya oleh Virginia Woolf. Woolf dalam buku romannya mengecam atmosfer
superioritas laki-laki dalam masyarakat Eropa saat itu. Woolf juga
mengkritik peran perempuan yang dibatasi pada urusan keluarga dan rumah
tangga. Ia meyakini, bila kesempatan diberikan kepada kaum perempuan, mereka
akan mampu menghasilkan karya yang banyak.
Setelah Virginia Woolf, muncul pula para penulis lannya yang
menyuarakan kritikan-kritikan terhadap hegemoni laki-laki terhadap kaum
perempuan. Gerakan-gerakan ekstrim untuk membela hak-hak perempuan ini
umumnya disetir oleh para cendikiawan. Para cendikiawan tersebut bahkan
menisbahkan sifat-sifat kelelakian kepada perempuan untuk membesar-besarkan
kemampuan perempuan, serta menyebut perempuan sebagai makhluk yang lebih
baik daripada laki-laki.
Menurut pandangan kaum feminis, media-media massa berperan
besar dalam membentuk pandangan masyarakat tentang perempuan, terutama
sinema atau film. Sejak dimulainya sejarah sinema, kaum perempuan tidak
memiliki peran yang signifikan. Mereka selalu menjadi kaum pinggiran dan
hanya dimanfaatkan dalam melodrama yang menyentuh hati, sinema-sinema horor,
atau film-film yang bertema seksual. Seiring dengan meluasnya gerakan
feminisme, bentuk kehadiran perempuan dalam sinema pun mengalami perubahan.
Gerakan feminisme menginginkan agar perempuan dalam sinema
tidak ditampilkan dalam peran-peran yang monoton dan tipikal, melainkan
peran-peran yang melindungi hak-hak perempuan secara ekstrim dan fanatik.
Bahkan kelompok-kelompok yang fanatik sampai menuntut dihapuskannya peran
perempuan dalam sinema karena dalam hal ini perempuan hanya dijadikan bahan
eksploitasi. Laura Mulvey, seorang aktivis feminisme, menyatakan bahwa
sinema adalah alat untuk memenuhi kesenangan laki-laki.
Perlu disebutkan bahwa satu abad yang lalu, yaitu sejak
dimulainya industri sinema, perempuan hanya dihadirkan sebagai penghias
sementara laki-laki ditampilkan sebagai lakon utama dan pahlawan pembebas.
Puluhan tahun berlanjut sampai perempuan berhasil keluar dari peran-peran
yang sesuai selera laki-laki itu. Salah satu era penting dalam perubahan ini
adalah pada era Perang Dunia Kedua. Pada era tersebut, sutradara bernama
John Ford menampilkan kepribadian kaum perempuan yang mandiri dan bekerja di
pabrik, rumah sakit, dan suratkabar, sekaligus bekerja keras di dalam rumah
tangga.
Namun segera setelah perang berakhir, sinema Amerika kembali
menampilkan peran-peran perempuan sebagai penghias layar serta mencela
aktivitas perempuan dalam masyarakat. Marie Hesscel, kritikus sinema
terkenal, mengenai sinema AS pada era tersebut mengatakan, “Kebaikan di
tengah kaum perempuan Amerika adalah sebuah seni yang hilang. Mereka
berperilaku bagaikan bajingan supaya mirip dengan laki-laki.”
Pada periode itu pula, sebagian sineas menampilkan perempuan
sebagai sosok yang indah, namun beracun dan pembuat makar. Sosok-sosok
perempuan seperti ini banyak ditampilkan dalam genre sastra dan sinema
hitam. Genre sinema ini dibangun oleh John Houston lewat filmnya yang
berjudul Maltese Falcon. Aliran ini dianggap sebagai reaksi atas
aliran film yang berkembang pada era perang.
Namun demikian, adapula sebagian sineas Barat seperti
Antonioni, Alan Resnais, dan Francois Truffaut yang menampilkan perempuan
dalam sudut pandang yang baru, yang melawan arus yang berkembang pada zaman
itu. Kecenderungan seperti ini berlanjut hingga akhirnya memuncak pada
tahun-tahun akhir abad ke-20. Dalam karya para sineas ini, perempuan
ditampilkan sebagai manusia yang memiliki kehendak dan kemampuan, sehingga
karenanya, mempunyai posisi dan kedudukan dalam masyarakat.
Sementara itu, sinema di negara-negara belahan Timur, juga
mendapatkan pengaruh yang signifikan dari arus perubahan pada penampilan
sosok perempuan dalam sinema. Para sineas generasi baru di Timur banyak
mengambil langkah-langkah positif berkenaan dengan sosok perempuan yang
mereka tampilkan dalam sinema. Negara di Timur yang paling signifikan dan
serius dalam mengubah citra perempuan dalam sinema adalah Iran. Sejak
kemenangan Revolusi Islam di Iran, sinema negara ini menampilkan tokoh-tokoh
perempuan dalam sosok dan peran yang baru, yang sangat mengangkat
nilai-nilai kemanusian seorang perempuan.
Sejak dimulainya industri perfilman di Iran hingga saat
sebelum menangnya Revolusi Islam, peran perempuan dalam sinema Iran jauh
dari realitas dan bersifat rendahan. Namun, Revolusi Islam telah menunjukkan
wajah perempuan yang berbeda kepada dunia melalui sinema. Dalam sinema pasca
Revolusi Islam, perempuan tidak lagi dibagi antara perempuan kuno dan modern
sebagaimana dalam film-film di masa-masa sebelumnya, melainkan ditampilkan
dalam peran-peran yang bervariasi sebagaimana yang ada dalam kenyataan
masyarakat.
Perbedaan mencolok antara sinema pasca Revolusi Islam dengan
sinema di masa lalu adalah dijaganya syariat Islam dalam film-film pasca
Revolusi. Dalam film-film pasca Revolusi Islam, perempuan diharuskan tampil
dengan menutup aurat dan tidak ada adegan-adegan yang sensual. Dengan
demikian, kaum perempuan dalam sinema Iran pasca Revolusi Islam tampil
dengan membawa peran yang signifikan, bukan sebagai obyek eksploitasi
keindahan tubuh.
Pada awal dekade 90-an, dimulailah era baru sinema Iran.
Dalam era ini, kaum perempuan ditampilkan sebagai sosok yang lebih aktif dan
independen. Dengan kata lain, perempuan dalam sinema kontemporer Iran
memiliki kepribadian yang tidak tergantung kepada orang lain dan berperilaku
atas dasar keinginan dan pemikirannya pribadi. Dalam film-film tersebut,
perempuan digambarkan sebagai sosok yang mampu menentukan nasibnya sendiri.
Selain itu, perempuan juga dideskripsikan sebagai kaum yang berperan aktif
dalam revolusi dan perang.
Dalam sebagian besar film-film
Iran kontemporer,
perempuan ditampilkan sebagai unsur aktif dalam masyarakat yang selalu
berusaha meraih kemajuan dalam kehidupannya. Salah satu kelompok film dalam
era kontemporer Iran adalah film-film bertema perlawanan suci, yaitu film
yang dilatarbelakangi suasana perang bangsa Iran ketika mempertahankan
negaranya dari agresi Irak. Film-film bertema perang umumnya dipenuhi dengan
tokoh-tokoh lelaki. Namun, dalam film-film perang Iran, perempuan dan
laki-laki mendapatkan porsi yang hampir sama. Hal ini terjadi karena dalam
kenyataannya, Perang Iran-Irak selama delapan tahun bagi rakyat Iran adalah
sebuah perjuangan suci membela tanah air, sehingga kaum perempuan pun secara
aktif terlibat dalam perjuangan ini.
Salah satu sutradara Iran terkemuka yang aktif membuat film
bertema perlawanan suci adalah Ibrahim Khatami Kia. Sutradara yang telah
menghasilkan delapan film sinema dan satu serial televisi ini tidak sekadar
mngangkat pertempuran dalam filmnya, melainkan lebih banyak menyentuh
sisi-sisi humanisme dan salah satu porosnya adalah perempuan. Dalam
film-film karya Ibrahim Khatami Kia, perempuan Iran selalu ditampilkan
sebagai sosok yang mampu memilih, penuh cinta, berakal, berhati nurani,
bertanggung jawab, dan teguh.
Peran perempuan lainnya yang menonjol dalam sinema Iran
adalah peran sebagai ibu. Dalam pandangan Islam, seorang ibu memiliki
kedudukan yang mulia dan merupakan poros utama dalam kehidupan masyarakat
karena ibu-lah yang akan menentukan kualitas generasi-generasi masa depan.
Film berjudul “Ibu” karya sutradara terkenal Iran, Ali Hatami,
mungkin bisa disebut sebagai film monumental yang mengangkat tema seorang
ibu. Dalam film ini, digambarkan tentang seorang ibu yang berhasil
menciptakan hubungan emosional yang sangat erat di antara anak-anaknya. Film
ini juga menyimbolkan hubungan yang erat antara anak-anak bangsa dengan
tanah air mereka.
Film lain yang juga mengangkat peran indah seorang ibu adalah
film berjudul “Rang-ge Khudo” atau “Warna Tuhan”, karya Majid Majidi. Di
dalam film ini digambarkan seorang anak buta yang berkat bimbingan neneknya,
dapat mengenal warna-warni alam, hakikat dunia, nilai-nilai kebaikan, dan
tradisi masyarakat. Film yang mengharukan ini memperlihatkan betapa luasnya
kasih sayang seorang ibu kepada anak dan cucunya.
Rakhsan Bani I’timad, seorang sutradara perempuan Iran,
adalah di antara sekian banyak sutradara Iran yang sering mengangkat
tema-tema perempuan. Dia berusaha menampilkan wajah sejati kaum perempuan
dalam masyarakat Iran ke layar film. Film-film karya Rakhsan Bani I’timad
terpenting, yang berbicara tentang perempuan, antara lain berjudul “Narges”,
“Rusari Abi” atau Selendang Biru, dan “Zir-e Pust-e Shahr” atau Di Bawah
Kolong Kota. Dalam film Di Bawah Kolong Kota, Rakhsan Bani I’timad
menampilkan seorang ibu yang kuat dalam membimbing anak-anaknya.
Andre Tarkovsky, seorang sutradara Polandia, pernah
menyatakan, “Para sutradara dapat dibagi ke dalam dua kelompok. Kelompok
pertama adalah para sutradara yang ingin merekonstruksi dunia melalui
pola-pola yang baku. Kelompok kedua adalah para sutradara yang ingin
merekonstruksi dunia agar sesuai dengan impian dan harapannya. Kelompok
kedua ini adalah para penyair dalam dunia sinema.”
Dalam sinema Iran, mungkin banyak sutradara kelompok pertama
yang hanya sekedar menceritakan segala kejadian yang ada di sekitarnya.
Namun, banyak pula sutradara penyair yang menampilkan perempuan dan
masyarakat yang sesuai dengan impiannya. Apapun juga, yang jelas, sosok
perempuan dalam sinema haruslah ditampilkan sesuai dengan nilai-nilai
kemanusiaan, dalam arti tidak dijadikan bahan eksploitasi sensual dan
memainkan peran-peran yang mengangkat harga diri dan jatidiri seorang
perempuan. Dengan cara ini, film akan menjadi inspirasi bagi kaum perempuan
untuk terus maju dan membangun dirinya.
KE INDEX |