|
Krisis Jilbab di
Negara-Negara Barat
Jilbab merupakan
salah satu masalah yang sering diperbincangkan di berbagai penjuru dunia.
Akhir-akhir ini, di negara-negara Eropa, masalah ini sedang hangat
diperbinncangkan. Perilaku kasar yang sering ditimpakan kepada para muslimah
berjilbab di Barat, menimbulkan pertanyaan dalam benak kita, bagaimana
mungkin Barat bisa mengklaim diri sebagai pusat demokrasi dan kebebasan?
Beberapa waktu yang lalu, kontroversi mengenai izin penggunaan kerudung di
tempat kerja oleh seorang warga imigran Jerman bernama Fereshte Lurdin telah
berkepanjangan sehingga sampai ke pengadilan negara ini. Kepala sebuah
sekolah di Jerman telah menghalangi Lurdin untuk mengajar di sekolah itu,
dengan mengatakan bahwa kerudung dan pakaian Lurdin telah bertentangan
dengan undang-undang pendidikan di negara itu.
Meskipun Dewan Tinggi UUD Jerman telah memberi izin kepada Fereshte Lurdin
untuk mengajar dengan memakai pakaian Islami di sekolah negara bagian
Boden Wertmburg, tetapi keputusan ini tidak menyelesaikan masalah para
guru yang berjilbab negara-negara bagian lainnya. Dewan Tinggi UUD Federal
Jerman menyebutkan bahwa masalah boleh atau tidaknya pemakaian jilbab
bergantung kepada peraturan di setiap negara bagian.
Anti
jilbab tidak saja terjadi di Jerman, melainkan juga di negara-negara lain,
seperti Perancis, Amerika, Inggeris dan Turki. Masalah ini menjadi
kontroversi di media massa, sekolah, tempat kerja, dan khususnya di antara
para politikus. Sebagian dari pemerintahan negara-negara Barat menganggap
jilbab sebagai simbol politik. Tetapi, apakah sesungguhnya jilbab itu memang
sebuah simbol politik?
Para
cendikiawan Islam menjelaskan tentang falsafah jilbab, yaitu kaum perempuan
dengan menutup tubuhnya ketika di tengah kaum lelaki yang bukan muhrimnya,
akan terhindar dari tatapan kaum lelaki. Dengan demikian, kaum perempuan
akan aman dari gangguan dan sebaliknya, kaum lelaki juga akan terbebas dari
pameran tubuh perempuan yang bukan muhrimnya. Dengan kata lain, Islam ingin
mengontrol dan membatasi pelampiasan nafsu dalam lingkungan keluarga dan
dalam kerangka perkawinan yang legal. Pakaian yang benar, menyebabkan wanita
dan lelaki terhindar dari daya tarik seksual serta mewujudkan lingkungan
yang sehat untuk bekerja dan beraktivitas. Dari pandangan ini, ajaran jilbab
dalam Islam berfungsi untuk menghindari kebobrokan moral dan meningkatkan
kemampuan yang hakiki dari perempuan dan lelaki.
Sebaliknya, hubungan tanpa batas antara perempuan dan lelaki akan mengancam
keselamatan masyarakat. Akibatnya, kaum muda tidak lagi menginginkan untuk
membentuk keluarga yang sehat. Hubungan tanpa batas serta kebobrokan moral
akan berkembang luas. Penyakit-penyakit akibat seks bebas akan menyebar.
Tatanan sosial pun akan rusak karena banyak bayi-bayi lahir tanpa ayah yang
jelas. Masa depan mereka akan suram. Demikianlah seterusnya, masalah-masalah
akan terus bermunculan silih berganti akibat ketiadaan jilbab ini.
Karena mulianya fungsi jilbab Islam yang meninggikan derajat perempuan ini,
Ludmila Eviva, seorang penyair dan orientalis terkenal Rusia, menganggap
bahwa sikap anti jilbab merupakan langkah bodoh terhadap perempuan. Ia
berkata, "Jilbab merupakan sarana untuk melindungi perempuan dalam berhadapan
dengan para pengejar nafsu yang ingin menjadikan perempuan sebagai barang
konsumsi. Pakaian Islam ini dihiasi dengan nilai-nilai spiritual dan
kemanusiaan. Oleh karena itu, pakaian ini amatlah baik bagi perempuan."
Eviva
menyebutkan, anggapan bahwa jilbab bertentangan dengan kehidupan sosial
perempuan adalah pemikiran yang salah. Ia berkata, "Pakaian yang sesuai
tidak akan menghalangi aktivitas dan pekerjaan wanita dalam masyarakat.
Sebagaimana yang kita lihat, kaum perempuan Iran yang berjilbab mampu
membesarkan anak-anak yang sehat, bekerja di berbagai bidang, bahkan aktif
di politik. Mereka tidak saja memelihara kemuliaan diri sendiri, melainkan
menjaga kemuliaan masyarakatnya. Dengan berjilbab, mereka hadir dalam semua
lapangan sosial dan politik dengan sukses."
Realitas menunjukkan bahwa umat Islam yang tinggal sebagai warga minoritas
di negara-negara Barat berhadapan dengan diskriminasi dan pelanggaran hak
asasi manusia. Pelarangan berjilbab merupakan salah satu contoh nyata dari
masalah ini. Barbara John yang merupakan penasehat pemerintah Jerman selama
23 tahun dalam urusan imigran asing berkata, "Masalah pelanggaran hak di
Jerman menyebabkan muslimah kurang sekali mendapat pekerjaan dan terpaksa
berhenti dari sekolah. Pelarangan mengenakan kerudung merupakan sebuah
diskriminasi dan penetapan batas dalam urusan ini merupakan satu kesalahan.
Pelarangan kerudung telah mengancam kebebasan wanita dan hal ini hanya akan
memperumit masalah."
Salah
seorang pakar Islam yang tinggal di Jerman bernama Yauuz Ovzgur,
dalam pandangannya mengenai masalah ini, berkata, "Dalam sebuah masyarakat
yang menerima homosexual secara resmi atas alasan kebebasan, mengapa justru
menghalangi orang-orang yang beriman dan ingin mengamalkan keimanan mereka
itu? Pejabat legislatif Jerman harus melakukan perubahan mendasar untuk
menghalangi terjadinya perilaku diskriminatif ini."
Pada
bulan Oktober 1989, ketika tiga anak perempuan muslim Perancis dikeluarkan
dari sekolah, Laila Sabbar, seorang penulis perempuan Aljazair, mengemukakan
satu pertanyaan mudah, "Mengapa orang-orang yang berkuasa tidak bisa
menerima beberapa anak perempuan yang mengenakan kerudung karena kepercayaan
bahwa hal itu diwajibkan dalam ajaran agama mereka? Bukankah kerudung
tersebut sama saja dengan syal atau selendang yang dipakai oleh anak-anak
perempuan lain?"
Agaknya, yang dikhawatirkan oleh para penguasa negara-negara Barat mengenai
jilbab ialah pengaruhnya terhadap kaum perempuan di negara-negara ini.
Berdasarkan kepada berbagai data statistik, terdapat 3 hingga 5 juta umat
Islam yang tinggal di Jerman dan ada lebih dari 70 masjid di ibu kota negara
ini yang setiap harinya mengumandangkan gema tauhid. Para politikus Barat
khawatir, kaum perempuan Barat akan tertarik kepada Islam karena budaya
agama ini yang bersih, mulia, dan menentramkan jiwa. Budaya Islam ini, salah
satunya ditampilkan secara sempurna oleh jilbab, pakaian yang memancarkan
kemuliaan kaum perempuan muslim. Para politisi barat khawatir, kaum
perempuan mereka yang telah menyaksikan dan merasakan dampak buruk dari
kebobrokan moral dan hubungan seksual tanpa batas di Barat, akan cenderung
untuk menerima Islam.
Ke Atas
KE INDEX |