The New Middle East
alias Timteng Baru belakangan kian mengukuh sebagai terminologi yang
paling ramai menghiasi diskursus politik internasional. Pakar demi pakar
politik internasional pun seakan berlomba memberikan penjelasan tentang
transformasi baru itu. Di tengah arus ini, pihak yang tak kalah
antusiasnya dalam pendefinisian Timteng Baru adalah para petinggi
Washington. Maklum, dalam diskursus itu mereka menginginkan supaya AS
diposisikan sebagai kekuatan primer yang telah membidani lahirnya Timteng Baru.
Bahwa AS banyak bertingkah di
Timteng, itu jelas tak ada yang meragukan. Begitu pula bahwa AS
menghendaki Timteng Baru. Ini semua jelas, tapi masalahnya; Timteng Baru
yang bergulir sekarang sama sekali bukan Timteng Baru seperti yang
tergambar dalam fantasi AS. Sebaliknya, Timteng Baru yang sejati dan yang
ada sekarang justru merupakan antitesis dari Timteng Baru yang diidamkan
dan dipromosikan AS. Timteng Baru yang bergulir sekarang adalah Timteng
yang mulai resisten dan bakal lebih resisten terhadap pengaruh AS dan
angkara murka Zionisme.
Sebab itu, kalau penyebabnya
lahirnya Timteng Baru hendak ditelusuri, maka ada dua faktor substansial
yang mau tidak mau harus diakui sebagai generatornya. Pertama ialah
kebangkitan Islam, dan ini merupakan faktor yang menemukan aktualitasnya
ketika AS dan Israel terjerumus pada kesalahan fatal dalam memperhitungkan
akses dan dampak invasinya ke Lebanon. Kebangkitan Islam itu bergulir dari
perjuangan Hezbollah Lebanon dan kemudian menjadi sebuah kekuatan yang
kongkret dan diperhitungkan setelah masyarakat bangsa-bangsa Arab mengalirkan
simpatinya yang luar biasa kepada altruisme Hezbollah.
Sebagai aksesnya, rezim-rezim
konservatif Arab pun mulai bisa mengoreksi mentalitas mereka selama ini
dan lalu berpikir bahwa kekuatan AS dan Barat tak perlu lagi dijadikan
sebagai poros keseimbangan politik Timteng. Sebab itu, sekarang mulai
terlihat geliat diplomatik yang cukup signifikan dan inovatif dari para
pemimpin Arab konservatif.
Faktor kedua ialah meroketnya
harga minyak. Meskipun lambat, tetapi efek dan pengaruh faktor ini sangat
mendalam. Uniknya, faktor ini pun ternyata muncul akibat upaya Barat
menginjeksikan krisis politik di Timteng. Mengapa kenaikan harga menjadi
faktor? Sebabnya ialah menggunungnya kekayaan di Timteng, dan ini menjadi
celaka bagi Barat ketika kepercayaan negara-negara Timteng kepada Barat
mengalami erosi sehingga kekayaan itu diinvestasikan di wilayah Asia,
sebagaimana yang dilakukan Arab Saudi dan para mitranya di GCC.
Parahnya lagi untuk Barat,
perusahaan-perusahaan besar Barat, terutama asal AS, juga harus
meningkatkan investasinya di Timteng agar pendapatannya terkawal, dan ini
praktis menambah gairah ekonomi dan bahkan meniscayakan struktur baru bagi
perekonomian Timteng dengan performa yang lebih progresif dan efisien.
Dengan demikian, Timteng Baru
adalah Timteng yang menyuguhkan kompilasi kebangkitan Islam dan gairah
perokonomian, yaitu dua komponen yang ampuh untuk mengikis kekuatan
destruktif Barat yang selama ini cukup mengakar di Timteng. Sebab itu,
tak sedikit pakar politik di Barat sendiri menilai rencana AS kolaps dalam
membentuk Timteng Baru seperti yang diidamkannya.
Ke
Index