Jumat 22 September 2006 adalah hari
istimewa untuk Lebanon. Sekjen Hizbullah Lebanon Sayid Hasan Nasrallah hari
itu tampil prima di depan publik untuk pertama kalinya sejak perang 33 hari
antara Hizbullah dan Israel. Tokoh beserban hitam itu berpidato secara
berapi-api dalam sebuah pertemuan paling kolosal sepanjang sejarah Lebanon
yang digelar untuk merayakan kemenangan Hizbullah atas Israel.
Rapat akbar di selatan Beirut itu
berlangsung meriah dan aman meskipun beredar kekhawatiran tentang
kemungkinan akan adanya serangan Israel, baik langsung maupun melalui para
agennya yang mungkin menyelinap di tengah massa. Di depan lautan massa yang
membludak dan ditayangkan langsung oleh berbagai televisi dunia, termasuk
TVRI, itu Sayid Nasrallah memuji keberanian dan ketabahan rakyat Lebanon
dalam menghadapi segala resiko perjuangan melawan Israel yang dibeking AS.
Dia menegaskan bahwa serangan AS yang dilancarkan melalui Israel untuk
melumpuhkan para pejuang Libanon telah menjadi bumerang untuk AS sendiri.
Menurut Nasrallah, perang 33 hari itu
sebenarnya perang AS terhadap Libanon, dan perang ini dihentikan oleh Barat
bukan karena Barat peduli kepada anak-anak kecil dan kaum wanita Libanon,
melainkan justru demi menjaga Israel yang telah mendapat perlawanan telak
dan sengit dari para pejuang Libanon.
Sekjen Hizbullah kembali menegaskan
penolakannya atas perlucutan senjata Hizbullah selagi Libanon belum diatur
oleh pemerintahan yang adil dan tangguh. Dia menandaskan, “Perlucutan
senjata dalam situasi sekarang sama halnya dengan membukakan tangan Israel
untuk melanjutkan pembunuhan dan kejahatan.” Dia menilai perlucutan senjata
sebagai pengkhianatan kepada cita-cita bangsa Libanon, dan karena itu
Hizbullah tidak akan pernah melepaskan senjatanya.
Nasrallah juga melontarkan kecaman pedas
terhadap para pemimpin Arab yang dinilainya sangat tidak bijak dalam
menyikapi konflik Libanon. Kepada mereka Nasrallah berseru, “Apa patut
kalian berunding di New York untuk menyelesaikan masalah, sedang kalian
tidak pernah memberikan sedikitpun bantuan kepada para pejuang Libanon?!”
Soal Palestina, Sekjen Hizbullah sangat
menyayangkan kebungkaman para pemimpin Arab di depan kejahatan Israel yang
setiap hari merenggut nyawa orang-orang Palestina. “Padahal,” ungkap
Nasrallah, "Pasukan Arab sebenarnya bukan hanya mampu membebaskan Tepi Barat
dan Jalur Gaza dengan mudah, tetapi juga sanggup mengembalikan seluruh
daratan dan lautan Palestina.”
Tentang dua tawanan Israel yang dijadikan
Tel Aviv sebagai alasan untuk mengagresi Lebanon, Nasrallah menceritakan
bahwa banyak negara dan tokoh berusaha membebaskan keduanya secara sepihak
dari tangan Hizbullah, tetapi Nasrallah lantas menegaskan, “Seadainyapun
semua negara berkumpul (untuk membebaskan keduanya), kedua tawanan Israel
tetap tidak akan bebas sebelum semua tawanan Libanon bebas dari penjara
Israel.” Nasrallah kemudian berjanji untuk terus berjuang membebaskan
sejumlah wilayah Lebanon Selatan, yaitu kawasan Shab’a dan Kfar Shuba, yang
masih diduduki pasukan Zionis Israel.
Mengenai kekuatan Hizbullah, Sayid Nasrallah
menyatakan bahwa gerakan perlawanan Islam Libanon memiliki lebih dari 20.000
roket. Dia juga memastikan lagi tidak akan ada kekuatan militer di dunia
yang dapat melucuti senjata Hizbullah. Sekjen Hizbullah kemudian menyerukan
persatuan kepada semua komponen bangsa Libanon sekaligus mengingatkan kepada
Pasukan Perdamaian PBB di Libanon (UNIFIL) agar jangan coba-coba mencampuri
urusan dalam negeri Libanon.
Sedemikian kolosalnya pertemuan di wilayah
pinggiran Beirut itu sehingga sebagian media Barat menyebutnya sebagai
referendum rakyat Libanon untuk mendukung perjuangan bersenjata Hizbullah.
Ke
Index