|
KRONIKA AS |
|
Siaran Kamis
30 Agustus 2007 |
Pekan lalu, perdebatan mengenai perang Irak menjadi isu utama media masa dan
kalangan poltik di AS. Presiden AS, George W. Bush di hadapan para veteran
militer AS menyatakan bahwa penarikan mundur pasukan militer AS dari Irak
hanya akan menjadikan nasib AS seperti masa perang Vietnam. Upaya ini
sengaja ditempuh Bush untuk meredam gejolak penentangan terhadap politik
perang Bush yang kian memanas belakangan ini. Presiden juga mengajak
rakyatnya untuk lebih sabar dan tabah menghadapi perang yang terus berlanjut.
Namun pengibaratan Bush yang menyandingkan perang Irak laksana perang
Vietnam, tentu saja memantik gelobmang protes baru dari para lawan-lawan
politik Bush. Herry Reid, Pemimpin Kubu Demokrat di Dewan Senat AS, seraya
menampik analogi Bush tersebut, ia juga mendesak Bush untuk menerapkan
politik yang bertanggung jawab terhadap persoalan Irak. Ia dan partainya
menuntut Bush untuk segera menentukan jadwal penarikan mundur pasukan AS
dari Irak.
Sementara itu, kubu Republik yang dikenal sebagai pendukung utama Gedung
Putih memilih bersabar hingga dirilisnya laporan evaluasi terbaru mengenai
kondisi Irak pasca penambahan pasukan AS di Irak. Rencananya, laporan ini
akan diumumkan oleh Dubes AS di Baghdad dan Panglima Militer AS di Irak,
bulan September ini. Namun, riak-riak pesimis mengenai keberhasilan strategi
penambahan personil militer AS di Irak mulai muncul ke permukaan. Ryan
Crocker, Dubes AS di Baghdad, pekan kemarin menyatakan bahwa situasi Irak
saat ini amat mengakhawatirkan. Penegasan ini sejatinya merupakan sinyal
atas kegagalan strategi baru Gedung Putih di Irak.
Pekan lalu, pemerintahan Nouri Al-Maliki menjadi sasaran serangan mulut para
petinggi partai Demokrat AS. Hillary Clinton, Kandidat unggulan Demokrat
dalam pemilu presiden AS tahun 2008, secara terang-terangan mendesak PM Irak,
Nouri Al-Maliki untuk mundur dari posisinya. Begitu juga dengan Carl Levin,
Ketua Komisi Urusan Pelayanan Militer AS di Dewan Senat menegaskan, apabila
Nouri Al-Maliki tak lagi mampu menangani persoalan negerinya, maka
pemerintahan Irak harus diubah. Para analis politik menilai, rangkaian
ancaman yang diarahkan kubu Demokrat kepada pemerintahan Irak saat ini
merupakan upaya untuk menampilkan partainya sebagai partai yang aktif dalam
kancah politik terkini.
Selama lima tahun belakangan, kubu Demokrat hanya menerapkan politik pasif
terhadap invasi AS ke Irak. Bahkan mereka gagal memaksa Gedung Putih untuk
menetukan jadwal penarikan mundur pasukan militer AS dari Irak. Kini,
Demokrat mulai berupaya mengambil peran untuk merubah struktur politik Irak.
Pasalnya, mereka yakin laporan Gedung Putih pada bulan September nanti akan
menuai kegagalan. Apalagi, secara prinsip, puak-puak Demokrat tak bergitu
peduli dengan persatuan politik di Irak. Mereka lebih mendukung Irak yang
terpecah belah.
Hanya 48 jam
setelah Presiden George W. Bush menganggap bahwa penarikan mundur pasukan AS
dari Irak akan menjadikan nasib AS sama seperti pasca perang Vietnam, salah
senator terkemuka kubu Republik segera mendesak ditariknya 50 ribu tentara
AS dari Irak. Senator John Worner, Mantan Ketua Komisi Pelayanan Angkatan
Bersenjata di Dewan Senat, menyatakan, "Presiden AS setidaknya harus
mengeluarkan 50 ribu pasukan AS dari Irak". Worner menyebut keputusannya ini
sebagai sinyal politik bagi Pemerintahan Nouri Al-Maliki untuk mengamalkan
tanggung jawab dan tugas keamanan di Irak. Para pengamat politik percaya,
tuntutan Worner tersebut sebagai petanda adanya friksi yang amat tajam di
antara pendukung Gedung Putih terkait persoalan perang Irak.
Tampaknya,
gelombang pesimisme ini tidak hanya berkuatat di kalangan politisi, tapi
merembet juga hingga di lingkungan militer AS. Terakhir terdengar kabar
bahwa Ketua Staf Gabungan Militer AS di Irak, Jend. Petraeus, melayangkan
permohonan kepada Bush untuk menyetujui rencana pengurangan pasukan AS di
Irak. Tapi sampai saat ini, Gedung Putih masih belum memberikan jawaban.
Belakangan para komandan militer AS di Irak melaporkan semakin buruknya
tekanan mental yang dihadapi oleh tentara AS di Irak. Masalah ini bahkan
berujung pada kian tingginya angka bunuh diri dan lari dari tugas di
kalangan serdadu-serdadu AS.
Sementara itu,
dengan dirilisnya laporan mengenai kinerja CIA pada pekan kemarin, sempat
memicu kembali silang pendapat mengenai tanggung jawab agen-agen inteljen AS
dalam peristiwa 11 September. Sejak tahun 2005 hingga kini laporan ini tetap
dirahasiakan. Dalam laporan itu disebutkan bahwa para pejabat CIA sebelumnya
tidak menjalankan tugasnya dalam menghadapi ancaman terorisme. Namun
serangan kritikan lebih banyak diarahkan kepada ketua CIA masa itu, George
Tenet yang tak mampu merancang dan menerapkan program khusus untuk menumpas
jaringan Al-Qaeda. Meski tragedi 11 September telah lima tahun berlalu,
namun sampai saat ini tanggung jawab agen-agen inteljen dan lembaga keamanan
AS masih belum jelas. Sejumlah analis politik menilai, AS memang sengaja
tidak menumpas secara total jaringan Al-Qaeda. Sebab, AS masih memerlukan
musuh buatan semacam Al-Qaeda untuk merealisasikan ambisi poltik
unilaterlanya di kancah global.
Pekan lalu
digelar sidang pengadilan Stephan Jordan terkait kasus penyiksaan di penjara
Abu Ghuraib, Irak. Di masa terungkapnya skandal penyiksaan penjara Abu
Ghuraib, Jordan merupakan petugas introgasi di penjara Abu Ghuraib. Meski
foto Jordan belum pernah terpampang dalam berbagai foto penyiksaan di
penajara tersebut. Namun ia tetap diyakini terlibat karena telah memberikan
kesempatan hingga memunculkan kasus penyiksaan ini. Terbongkarnya skandal
penyiksaan dan sadisme penjara Abu Ghuraib telah memantik gelombang
kebencian masyarakat internasional yang cukup luas terhadap pemerintah AS.
Sejauh ini para serdadu militer AS yang terlibat skandal ini, mengaku bahwa
penyiksaan mental dan fisik secara sadis terhadap para tahanan Abu Ghuraib
merupakan perintah dari para pejabat militer yang lebih tinggi di Pentagon
dan Gedung Putih. Namun hingga kini, proses pengadilan ini hanya terbatas
pada kalangan militer AS tingkat menengah dan bawah. Pasalnya, Washington
khawatir kasus ini bisa merembet hingga ke Gedung Putih dan Pentagon.
Akhirnya,
pekan lalu, Dewan Senat memanggil para pejabat senior ekonomi Pemerintahan
AS guna memberikan keterangan mengenai krisis terbaru yang terjadi di bursa
saham AS. Dalam sidang dengar pendapat Komisi Perbanklan dan Perumahan di
Dewan Senat, Ketua Bank Sentral AS, Ben Barnanke dan Menteri Keuangan AS,
Hanry Paulson, berjanji akan mengembalikan stabilitas di pasar saham. Krisis
moneter yang terjadi di pasar uang AS belakangan ini, dipicu oleh melorotnya
harga saham perusahaan properti di AS lantaran permasalahan kredit rumah
sub prime, yang memaksa beberapa lembaga kredit gulung tikar. Krisis ini
bahkan menjalar hingga ke sejumlah bursa saham utama dunia. Kepala Komite
Perbankan Senat, Chris Dodd, mengatakan satu juta atau lebih orang bisa
kehilangan rumah mereka akibat kenaikan suku bunga kredit rumah mereka. Dodd
mendesak Bank Sentral agar membantu pemilik rumah yang terkena musibah ini
dan menyelamatkan mereka dari kebangkrutan, serta menggunakan semua
perangkat yang dimilikinya untuk mengurangi dampak krisis finansial ini.
KE INDEX |