|
Ketika
bulan suci Ramadhan tiba, Imam Ali AS memanjatkan doa dan berkata, “Ya
Allah, berilah kami keselamatan, keimanan, kesehatan, keyakinan akan Islam,
rezeki berlimpah saat kami memasuki bulan Ramadhan. Ya Allah, jadikanlah
bulan Ramadhan rela terhadap kami dan kami rela terhadapnya. Ya Allah,
berilah kami keselamatan sehingga dengan berakhirnya bulan ini Engkau telah
mengampuni segala dosa dan kesalahan kami.”
Bulan Ramadhan tahun 40
hijriyyah belum berakhir, saat pedang Abdurrahman bin Muljam mendarat di
kepala putra Abu Thalib ini yang kala itu sedang berada di mihrab masjid
Kufah dan tengah menunaikan shalat Subuh. Tiga hari berikutnya, pribadi
agung bergelar Amirul Mukminin ini gugur syahid. Kaum muslimin merasa bahwa
kata-kata Ali mengenai bulan suci Ramadhan masih mengiang-ngiang di telinga
mereka. Ali AS pernah mengatakan, “Puasa Ramadhan adalah pemisah antara
seorang hamba dengan api neraka.”
Ali adalah sosok pribadi agung
yang sering mendapatkan pujian Allah dalam banyak ayat Al-Qur’an. Beliau
telah berhasil meraih derajat tertinggi makrifah, keberanian, kepemimpinan,
keadilan dan ketaqawaan. Kesemua itu menunjukkan betapa Ali bin Thalib
adalah manusia sempurna dengan segala kemuliaan yang mengundang decak kagum
semua orang.
Dalam beribadah, Ali adalah
contoh teladan sufi yang selalu berhubungan dengan orang-orang di sekitarnya.
Saat berada di tengah masyarakat dan terjun di pemerintahan, beliau tetap
menjaga sisi kesufiannya. Selama kurang lebih lima tahun Ali menjabat
sebagai khalifah dan pemimpin di dunia Islam. Saat itu, seluruh kekuasaan
atas negeri-negeri Islam dan kas negara ada di tangannya. Meski demikian, di
bawah terik matahari Jazirah Arabia yang membakar, beliau tetap menggarap
kebun kurmanya untuk menghidupi keluarganya dan kaum fakir miskin. Kecintaan
Ali kepada masyarakat dan ketinggian derajat taqwanya berakar dari pandangan
beliau terhadap kehidupan dunia. Beliau mengatakan, “Dunia tempat berlalu
bukan tempat tinggal.” Manusia di mata Ali ada dua, mereka yang hancur
karena tunduk kepada hawa nafsu dan manusia yang tunduk dan patuh kepada
Tuhan dengan melepaskan diri dari hawa nafsunya.
Pandangan beliau berkenaan
dengan masalah hukum peradilan di tengah masyarakat sangat dalam. Keputusan
hukum yang diambil Ali menjadi buah bibir umat Islam sepanjang sejarah.
Mereka yang hidup sezaman dengan manusia suci ini banyak yang mengatakan,
“Jika tidak ada Ali, tentu kami binasa.” Suatu kali, khalifah Umar berniat
merajam seorang wanita hamil karena berzina. Ali mencegah dengan menjelaskan
bahwa yang telah melakukan dosa adalah wanita itu, bukan anak yang
dikandungnya. Karenanya biarkan wanita melahirkan bayinya sebelum menjalani
hukuman.
Kekuatan, keberanian, dan
kepahlawanan merupakan salah satu kelebihan yang dimiliki Imam Ali AS.
Beliau adalah contoh nyata dari kaum mukmin yang oleh Al-Qur’an disifati
sebagai penyayang sesama dan keras terhadap kaum kafir. Kaum fakir dan anak
yatim memandang Ali sebagai ayah mereka yang penyayang. Tetapi saat masuk ke
medan perang melawan kaum kafir dan untuk membela keadilan, tidak ada yang
bisa menandingi keberanian dan kegagahan Ali. Salah satu kisah menarik
tentang kepahlawanan Ali adalah kisah perang Khaibar yang terjadi di masa
hidup Rasul SAW. Nabi SAW berulang kali mengirimkan pasukan untuk menduduki
benteng yang merupakan tempat pertahanan kaum yahudi Khaibar yang menjadi
musuh Islam saat itu. Namun semua ekspedisi itu tidak membuahkan hasil.
Akhirnya Nabi SAW bersabda, “Besok akaan kuserahkan panji kepemimpinan
pasukan muslimin kepada seseorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan
dicintai oleh Allah serta Rasulnya. Keesokan harinya, Nabi menyerahkan panji
tersebut kepada Imam Ali bin Abi Thalib AS. Di tangan putra Abu Thalib ini,
benteng Khaibar berhasil ditaklukkan.
Imam Ali AS memiliki jiwa yang
lembut. Tak ada yang beliau cari kecuali keredhaan Allah. Anda mungkin
pernah mendengat kisah duel antara Imam Ali AS dengan seorang jagoan dari
kaum Musyrikin bernama Amr bin Abdi Wadd pada Perang Ahzab atau yang juga
dikenal dengan nama “Perang Parit”. Sesaat setelah berhasil membanting Amr
ke tanah dan siap untuk menusukkan pedang, Amr meludahi muka Ali. Mendapat
perlakuan dari musuhnya itu, beliau bangkit dan mundur beberapa langkah.
Setelah itu beliau kembali bertarung dan menebas leher Amr. Dengan mundur
beberapa langkah, Imam Ali AS menetapkan hati untuk membantai musuhnya hanya
karena Allah, bukan karena dendam pribadi akibat penghinaan yang dilakukan
Amr terhadapnya.
Doktor Miuhammad Michael Ghoreib
dalam salah satu bukunya menyatakan, “Aku sangat kagum terhadap sifat
kemanusiaan dan kerendahan hati Ali. Belum ada pandangan dan ide-ide
seorangpun sepanjang sejarah yang mampu membuatku sedemikian kagum seperti
kekagumanku kepada beliau. Kebesaran jiwa dan keikhlasan Ali-lah yang telah
mengantarkan orang Kristen sepertiku menjadi seorang muslim.”
Kepemimpinan dan kebijakan
beliau dalam memerintah dunia Islam mengandung banyak pelajaran berharga
yang membuat kagum semua orang. Dalam menjalankan roda pemerintahan, beliau
menjunjung tinggi prinsip keadilan. Dukungan keluarga dan kedekatan
seseorang dengannya tidak pernah bisa mempengaruhinya dari prinsip tersebut.
Pesan-pesan beliau kepada para gubernur Islam yang ditugaskannya ke berbagai
penjuru, menunjukkan betapa keadilan merupakan bagian yang tak terpisahkan
dari pribadi Ali. Dalam salah satu pesan kepada salah seorang gubenurnya,
Imam Ali AS mengatakan, “Bersikaplah adillah terhadap semua orang sampai
dalam masalah cara memandang dan memberi isyarat. Jangan sampai orang-oranga
yang zalim terpacu untuk lebih berbuat zalim dan kaum tertindas merasa
pesimis untuk memperoleh keadilan.”
KE INDEX |