|
3- Kedermawanan
Imam Ali bin Abi Thalib as dikenal sebagai
orang yang sangat dermawan bahkan di saat beliau sedang bergelut dengan
kesulitan hidup sekalipun. Sering beliau memberikan makanannya kepada
orang lain dan tidur dalam keadaan lapar. Perilaku Rasul yang sering
mengganjalkan batu di perut beliau untuk menahan lapar karena lebih
mementingkan orang lain, menjadi teladan baginya. Banyak Ayat Al-Quran
yang turun memuji kedermawanan Imam Ali. Salah satu kisah termasyhur
yang diabadikan oleh Al-Qur’an dan ditulis dengan tinta emas oleh para
sejarawan adalah kisah turunnya surah Al-Insan.
Diriwayatkan bahwa suatu ketika, Imam Ali as
dan keluarganya bernadzar akan berpuasa tiga hari setelah Allah
memberikan kesembuhan kepada dua anaknya, Hasan dan Husein yang saat itu
sedang sakit. Setelah keduanya sembuh, Imam Ali melaksanakan nadzar itu.
Beliau bersama istri, dua anak dan bahkan pembantunya yang bernama
Fidldlah menjalankan ibadah puasa tiga hari. Saat itu di rumah beliau
hanya ada persediaan makanan yang sangat terbatas.
Hari pertama, ketika hendak berbuka puasa,
seseorang mengetuk pintu rumah beliau. Imam Ali membuka pintu. Setelah
mengucapkan salam, orang tersebut mengatakan bahwa dia adalah orang
miskin yang sedang kelaparan. Mendengar penuturannya, Ali as
memerintahkan untuk memberikan makanan yang telah tersedia kepada si
miskin. Malam itu keluarga beliau hanya cukup berbuka dengan air.
Kejadian serupa terulang lagi. Pada hari
kedua seorang anak yatim dan hari ketiga seorang tawanan datang meminta
sekedah kepada keluarga suci ini. Imam Ali memberikan makanan itu kepada
mereka. Kedermawanan Ali dan keluarganya ini di saat mereka sedang
memerlukan, dipuji oleh Allah swt. Surat Al-Insan atau Ad-Dahr turun
berkenaan dengan peristiwa ini.
Saat seorang pengemis meminta sekedah kepada
orang-orang yang sedang berada di masjid Nabi, tidak ada seorang pun
yang menaruh perhatian kepadanya. Ali yang sedang menunaikan salat
sunnah di masjid, saat ruku’ mengulurkan tangannya kepada si peminta
sedekah. Orang tersebut lantas mengambil cincin yang ada di jari Imam
dan pergi meninggalkan masjid. Kejadian itu direkam dalam Al-Qur’an Al-Karim.
Allah swt berfirman, “Sesungguhnya pemimpin kalian adalah Allah, Rasul
dan orang yang beriman yang menunaikan salat dan membayar zakat saat
sedang ruku’.”
Mengenai kedermawanan beliau, Muawiyah yang
dikenal sebagai musuh Ali nomor satu, mengatakan, “Jika Ali memiliki dua
buah rumah yang satu terbuat dari emas dan yang satu lagi terbuat dari
kayu, dia akan bersedekah dengan rumah emas itu sampai tidak tersisa
sedikit pun darinya.”
4- Kezuduhan
Keutamaan lain Imam Ali as adalah kezuhudan
beliau. Sering Imam Ali menyatakan bahwa dirinya tidak akan bisa digoda
oleh kemewahan dunia. Dalam sebuah riwayat disebutkan, bahwa Imam Ali
mengatakan, “Wahai dunia, godalah orang selain aku. Aku telah menceraimu
dengan tiga kali talak. Tidak mungkin engkau akan kembali kepadaku.
Umurmu terlalu singkat dan kehidupanmu hina.”
Menu makanan Imam Ali setiap harinya hanya
sekerat roti kering dengan garam atau cuka. Beliau tidak pernah
membiarkan perutnya dipenuhi makanan atau minuman. Pakaian yang beliau
kenakan terbuat dari kain kasar. Meski duduk sebagai khalifah dan
memegang seluruh kekayaan negara atau baitul mal beliau tidak pernah
tergoda oleh gemerlap dinar yang ada di dalamnya. Diceritakan bahwa
ketika menghitung uang baitul mal untuk dibagikan kepada rakyat, beliau
bersujud kepada Allah sebagai tanda syukur karena tidak tergoda oleh
harta yang ada di hadapannya.
Suatu kali, ketika Ali mengerahkan pasukan
ke Basrah untuk memadamkan fitnah perang Jamal, sekelompok jemaah haji
mendirikan kemah di dekat kemah pasukan beliau. Mereka ingin bertemu
dengan khalifah. Ibnu Abbas yang meruapakan salah seorang sahabat dan
murid dekat Imam Ali bergegas memberitahu beliau. Saat itu Imam sedang
menjahit sepatunya. Setelah selesai, sambil menunjuk ke arah sepatu itu,
beliau bertanya kepada Ibnu Abbas, berapa harga sepasang sepatu ini?
Ibnu Abbas menjawab harga sepatu yang sudah
kumal seperti ini tidak lebih dari setengah Dirham. Imam Ali as
mengatakan, “Demi Allah, sepatu ini jauh lebih berharga bagiku dibanding
jabatan khilafah, kecuali jika dengan khilafah ini aku dapat menegakkan
keadilan dan menumpas kebatilan.”
5- Taqwa dan Keimanan yang Tinggi
Imam Ali bin Abi Thalib as juga dikenal
sebagai orang yang banyak beribadah. Malam hari merupakan saat yang
paling indah bagi beliau untuk bermunajat dan berkeluh kesah dengan
Tuhannya. Ketika sedang menunaikan salat tidak ada apa pun yang
dilihatnya kecuali kemuliaan dan keagungan Allah swt. Diceritakan bahwa
pada suatu malam di saat perang Shiffin berkecamuk, Imam Ali as
tenggelam dalam kekhusyukan ibadah. Mendadak sebuah panah menerjang dan
menancap di kaki beliau. Sahabat beliau yang menyaksikan kejadian itu,
menarik anak panah tersebut ketika Imam sedang dalam keadaan salat.
Karena kekhusyukannya, Imam Ali tidak merasakan sakit saat anak panah
itu menancap kemudian dicabut dari kakinya.
Munajat dan doa-doa yang diajarkan Imam Ali
kepada para sahabatnya telah dibadaikan dalam buku-buku riwayat Islam.
Doa-doa itu mengandung makna yang sangat dalam dan mengajarkan bagaimana
tata krama dan cara seorang hamba berdoa dan bermunajat dengan sang
Khaliq. Imam Ali juga mengajarkan bagaimana hendaknya seorang pecinta
sejati melantunkan pujian kepada Tuhannya. Bahkan Imam Ali Zainal Abidin
yang sepanjang sejarah dikenal sebagai orang yang paling banyak
beribadah mengatakan, “Tidak ada seorangpun yang bisa menandingi ibadah
Ali bin Abi Thalib as.”
|