|
Terpilihnya Abdullah Gul sebagai presiden baru Turki akhirnya berhasil
meredam krisis politik di negara ini yang sempat bergejolak selama empat
bulan. Abdullah Gul sukses terpilih sebagai Presiden Turki yang
kesebelas setelah melewati tiga tahap pungutan suara, dengan meraup
suara mayoritas sebanyak 339 suara anggota parlemen. Berdasarkan
konstitusi, presiden dipilih oleh parlemen maksimal dalam empat putaran
pungutan suara. Pada tahap awal dan kedua, perolehan dua per tiga suara
anggota parlemen merupakan syarat lazim yang harus dipenuhi. Namun dalam
tahap ketiga dan keempat, syarat yang dipatok cukup setengah plus satu
dari keseluruhan suara sebanyak 550, yaitu sebanyak 267 suara.
Pada bulan Mei sebelumnya, Abdullah Gul sebagai calon presiden dari
partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) gagal meraih kursi kepresidenan
lantaran upaya penggembosan yang dilakukan kalangan sekuler dan campur
tangan kubu militer dalam proses pemilihan presiden. Penafsiran mahkamah
konstitusi Turki terhadap batas kuorum anggota parlemen yang hadir dalam
putaran pertama pemungutan suara, akhirnya mengubah situasi yang ada.
Sehingga berhasil membatalkan putaran pertama pemungutan suara kali itu.
Karenanya, PM Turki, Receb Tayeb Erdogan terpaksa mereaksinya dengan
menggelar pemilu parlemen dini.
Pemilu parlemen dini tersebut digelar pada tanggal 22 Juli lalu, dan
kali ini diluar prediksi kalangan sekuler dan militer, partai Keadilan
dan Pembangunan ternyata berhasil meraih hampir dari separuh suara
keseluruhan. Kemenangan mutlak partai Keadilan dan Pembangunan sebagai
parpol Turki berhaluan Islam ini semakin mengokohkan posisinya di
kalangan rakyat Turki sekaligus sebagai unjuk kekuatan partai ini di
kancah politik Turki. Dengan dukungan suara tersebut, para pemimpin
partai Keadilan dan Pembangunan kembali memasang Abdullah Gul sebagai
calon presiden baru. Hasil pemilu dini parlemen ini, terpaksa membuat
kubu sekuler mengakhiri upaya penciptaan krisis politik yang digelarnya.
Sementara itu, kehadiran dua partai sekuler, semacam partai Gerakan
Nasional dan partai Demokrat Kiri serta partai rakyat demokratis Kurdi
dan sejumlah politis independen dalam pemilihan presiden kali ini, mampu
menggagalkan upaya boikut partai Republik Rakyat, pimpinan Deniz Baykal.
Dalam pemilihan sebelumnya, partai ini pun merupakan salah satu aktor
utama yang menciptakan krisis politik di Turki.
Dengan terpilihnya Abdullah Gul sebagai Presiden, tiga posisi utama
kekuasaan Turki, yaitu presiden, perdana menteri, dan ketua parlemen
berada di tangan partai Keadilan dan Pembangunan, dengan kata lain,
kekuasaan di negara ini telah didominasi oleh kekuatan partai Keadilan
dan Pembangunan yang notabene berhaluan Islam. Munculnya situasi semacan
ini, sejak dulu telah menjadi bahan kekhawatiran kalangan sekuler dan
militer Turki. Para pengamat politik menilai, bisa jadi dua kalangan
tersebut akan berupaya menciptakan krisis politik baru, sebagai upaya
untuk melemahkan posisi partai Keadilan dan Pembangunan. Apalagi,
masyarakat Turki sekarang berharap begitu banyak terhadap partai ini.
Di
sisi lain, upaya partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) untuk merevisi
konstitusi Turki, bisa jadi justru kian membuat ketegangan antara partai
AKP dengan puak-puak sekuler dan militer. Terlebih lagi, Erdogan dalam
pengumuman program kerjanya, menegaskan dibuatnya konstitusi baru
sebagai prioritas utama tugas pemerintahan barunya. Erdogan berharap,
dengan bermodal dominasi AKP di kekuasaan, dirinya bisa meretas jalan
yang lebih lebar untuk merevisi sejumlah undang-undang yang membatasi
kebebasan personal dan sosial masyarakat Turki. Karena itu, AKP melihat
bahwa pengubahan konstitusi1982 buatan militer merupakan sasaran tepat
untuk menerapkan gebrakan politiknya.
Namun demikian, para analis politik beranggapan bahwa implementasi
rencana tersebut bukanlah perkara yang mudah, dan kemungkinan besar akan
memunculkan perpecahan di kalangan kelompok-kelompok politik Turki.
Bahkan saat ini pun, kubu sekuler tengah berupaya memprovokasi kalangan
militer untuk bersikap keras terhadap rencana AKP tersebut. Tapi,
tampaknya Erdogan tak ingin melepas kesempatan yang ada, dan sudah
bersiap-siap menghadapi reaksi keras para lawan-lawan politiknya.
Di
kancah kebijakan luar negeri, salah satu prioritas utama pemerintahan
Erdogan adalah mengupayakan proses integerasi Turki ke dalam Uni Eropa.
Pada dasarnya, sebagian program reformasi yang dicanangkan Erdogan
adalah usaha harmonisasi dengan Uni Eropa. Meski demikian, persoalan
Cyprus tetap menjadi faktor penghambat utama kemajuan proses perundingan
Turki dengan Uni Eropa dan bisa jadi di masa yang akan datang persoalan
ini akan terus membayangi-bayangi proses integerasi Turki ke dalam
persekutuan negara-negara Eropa ini.
Di
lain pihak, apa yang menarik dari nasib hubungan Ankara-Washington saat
ini adalah ketidakpedulian Turki terhadap kebijakan Pemerintahan Bush.
Terlebih lagi, baik pemerintah maupun rakyat Turki melihat invasi AS ke
Irak sebagai ancaman terhadap keamanan nasional negaranya. Sikap abai
Washington atas permintaan bekali-kali Ankara yang menuntut ditumpasnya
anasir gerakan separatis Kurdi PKK, tentu saja akan memberikan efek
khusus terhadap pandangan makro Ankara mengenai hubungannya dengan
Washington. Track record AKP selama empat setengah tahun terakhir
mengindikasikan bahwa pemerintahan Erdogan tengah berupaya
merealisasikan peran aktifnya di tingkat regional dan menyambut positif
penguatan hubungan dengan negara-negara tetanggnya dan Timur Tengah,
termasuk dengan Republik Islam Iran. Bahkan diprediksikan juga, volume
kerjasama ekonomi antara Ankara dan Tehran akan semakin meningkat tajam.
Tentu saja upaya Turki untuk memperluas hubungan regionalnya, tak bisa
dilepas begitu saja dari pengaruh situasi Irak terhadap kepentingan
keamanan dan politis negara ini. Terus berlanjutnya gerakan separatis
Kurdi PKK di utara Irak, dan persoalan pelik lainnya semacam di Karkuk,
karuan saja membuat kekhawatiran ekstra bagi para petinggi Turki,
sehingga perkembangan di wilayah Kurdistan Irak menjadi salah satu
permasalahan utama politik luar negeri Turki.
Tegasnya, dengan kian stabilnya situasi politik di Turki dan semakin
kokohnya dukungan rakyat terhadap pemerintahan baru, semakin meyakinkan
Erdogan untuk lebih proaktif menerapkan kebijakan luar negerinya dan
merealisasikan program-program reformasinya, termasuk upaya peningkatan
kesejahteraan rakyat Turki di tingkat internal. Namun demikian, dominasi
AKP di tampuk kekuasaan Turki, bukan berarti akan memupuskan segala
bentuk aksi destruktif dan penciptaan krisis baru yang dilancarkan oleh
kalangan sekuler dan militer terhadap program kerja pemerintahan baru.
|