Perspektif    

   Mei 2007

[ Index Politik ] [[ Home ]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kesediaan Eropa Untuk Berunding Dengan Iran

          Ankara, ibu kota Turki, pekan lalu menjadi tuan rumah perundingan Dr Ali Larijani, Sekretaris Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran, dan Javier Solana, Penanggung Jawab Politik Luar Negeri Uni Eropa. Ini adalah pertemuan pertama kedua belah pihak, sejak keluarnya resolusi DK PBB 1747 anti Iran.

         Resolusi 1747 dikeluarkan pada bulan Maret, dan berdasarkan resolusi politik dan ilegal ini, Iran diberi kesempatan hingga tanggal 23 Mei untuk menghentikan pengayaan uranium, atau jika tidak maka ada kemungkinan ia harus menghadapi sanksi-sanksi yang lebih luas dan lebih berat lagi. Putaran baru perundingan Iran dan Uni Eropa, berkenaan dengan masalah nuklir, dimulai lagi berdasarkan usul dari Javier Solana. Iran dan Uni Eropa, sebelum memulai perundingan di Ankara, telah menjelaskan satu poin, yang bahwa tujuan perundingan kedua belah pihak ialah mencari kesepakatan Iran dan Eropa tentang kondisi-kondisi yang memungkinkan dimulainya secara resmi perundingan-perundingan Nuklir.

          Ali Larijani, Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran, sebelum berangkat ke Turki, menegaskan bahwa ia berharap pihak Uni Eropa akan mengajukan usul-usul baru berkenaan dengan masalah nuklir Iran. Para pejabat tinggi RII, setelah keluarnya resolusi 1747, berkali-kali menekankan bahwa aktifitas nuklir sipil Iran tidak mungkin ditarik ke belakang; dan jika Barat berminat menyelesaikan perselisihan ini lewat jalur diplomatik, maka mereka harus merevisi politik mereka berkenaan dengan masalah nuklir Iran. Melihat sikap Iran yang transparan dan tegas dalam masalah aktifitas nuklirnya, maka sudah pasti tidak dapat dikatakan bahwa dengan harapan terjadi perubahan dalam aktifitas nuklir Iran, Uni Eropa meminta perundingan kembali dengan Iran. Untuk dapat ditanyakan, dengan motifasi apakah, dengan untuk mencapai tujuan yang manakah, Uni Eropa meminta untuk kembali berundingan dengan Iran?

          Untuk mengenal alasan-alasan kecenderungan Uni Eropa untuk memulai kembali perundingan nuklir dengan Iran, harus diperhatikan suatu realitas, bahwa perundingan-perundingan yang telah berjalan selama hampir tiga tahun, antara Iran dan Troika Uni Eropa, yang terdiri dari Perancis, Jerman dan Inggris, yang sempat berjalan dengan baik, pada akhirnya membentur jalan buntu akibat usaha-usaha destruktif AS. Setelah itu pun, akibat tekanan-tekanan AS, berkas nuklir Iran diseret ke DK PBB. Dengan pengalaman ini Eropa memahami bahwa keterlibatan DK PBB ke dalam masalah nuklir Iran, bukan hanya tidak membantu sedikit pun penyelesaian masalah ini, bahkan semakin memperumit. Selain itu, Eropa yang merupakan pihak utama lawan runding Iran, kini telah termarginalkan, dan hanya menjadi penonton yang hanya harus bertepuk tangan, menyaksikan tingkah polah ilegal AS dalam menangani masalah nuklir Iran.

          Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tanpa perlu mengakui kesalahan langkahnya dalam menangani masalah nuklir Iran, Uni Eropa berusaha keluar dari tekanan-tekanan gedung putih dalam masalah ini, tanpa membuat marah negeri Paman Sam ini, dan menempatkan perundingan sebagai prioritas. Uni Eropa melihat dengan jelas bahwa AS secara lahiriyah mendukung penyelesaian masalah nuklir Iran lewat jalan damai. Akan tetapi, dengan menggunakan DK untuk mengeluarkan resolusi demi resolusi anti Iran, AS tengah berjalan menuju ke arah benturan-benturan yang semakin keras dengan Iran. Negara-negara Eropa memandang benturan-benturan nondiplomatik ini sebagai sesuatu yang berbahaya. Pandangan ini sepenuhnya logis, dan RII pun meyakini bahwa sikap-sikap keras dalam masalah nuklirnya, akanmerugikan semua pihak.

          Selain itu, Eropa, tentu saja kecuali Inggris, kini tengah mencemaskan dampak-dampak kontinyuitas penjajahan atas Irak oleh AS, dan menyadari bahwa segala macam serangan militer baru oleh AS di Timur Tengah dan Teluk Persia, terutama jika RII menjadi sasarannya, pasti akan mendatangkan dampak-dampak yang sangat tragis. Untuk itu, selain menyeru Iran untuk menerima resolusi-resolusi DK, Uni Eropa berusaha membuka jalan dialog dengan Iran. Ajakan Penanggung Jawab Politik Luar Negeri Uni Eropa kepada Lari Jani, Perunding Senior Masalah Nuklir Iran, untuk memulai lagi perundingan, merupakan bukti kebenaran pandangan tersebut. Terutama jika dilihat bahwa Solana tidak menyebut-nyebut penghentian atau penundaan pengayaan uranium sebagai prasyarat dimulainya perundingan.

          Ali Larijani, Sekretaris Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran, hari Rabu lalu, di awalkedatangannya di Ankara untuk berunding dengan Javier Solana, berkata, "Prasyarat-prasyarat tak logis, yang diajukan oleh Barat, dalam masalah nuklir Iran, telah memandulkan usaha-usaha diplomatik untuk penyelesaian masalah ini secara damai." Larijani juga berkata, bahwa ia datang ke Ankara untuk mendengarkan usulan-usulan baru Uni Eropa. Di akhir putaran pertama perundingan di Ankara, Larijani dan Solana menilai perundingan ini konstruktif, dan mengatakan bahwa dalamwaktu dua minggu mendatang, mereka akan menindaklanjuti perundingan ini.

          Ali Larijani dan Javier Solana, masih belum bersedia berbicara secara terperinci tentang perundingan mereka, sementara Solana hanya menyatakan harapannya bahwa perundingan nuklir Iran dan Uni Eropa ini akan semakin meningkat dari segi isinya. Sedangkan Larijani, dalamsebuah konferensi pers di Ankara, mengatakan, bahwa ia telah mencapai kesamaan pandangan dengan Solana dalam ebberapa masalah. Beliau mengatakan, pemberlakuan pengawasan Badan tenaga Atom Internasional (IAEA) terhadap aktifitas nuklir Iran, dan dialog dalam kerangka UU internasional, akan merupakan peluang yang ideal untukpenyatuan pandangan kedua belah pihak.

          Pernyataan-pernyataan Larijani mengandung makna yang jelas, yaitu jika UU internasional dijadikan sebagai tolok ukur, maka RII berhak melanjutkan semua aktifitas nuklir sipilnya, termasuk pengayaan uranium, di bawah pengawasan IAEA. Akan tetapi Uni Eropa dan AS, hingga kini masih mengambil jarak yang jauh dari sikap bersedia menerima Iran sebagai satu kekuatan nuklir serta mengakui hak legal Iran untuk mendayagunakan energi nuklir tujuan damai. Jika Uni Eropa berniat mengulangi pengalaman kegagalan 30 bulan perundingan tanpa hasil dengan Iran, maka jarak tersebut akan semakin melebar.

          Dalam jarak yang tidak lama setelah perundingan Larijani dan Solana di Ankara, berbagai media massa Barat dan sumber-sumber diplomatik yang pada umumnya tidak mau menyebutkan nama mereka, menebak-nebak isi perundingan kedua belah pihak. Kantor berita Perancis mengatakan bahwa dalam pertemuan dengan Larijani, Solana mengajukan usul berdasarkan rancangan Swiss. Baru-baru ini rancangan Swiss menjadi bahan pembahasan berbagai lembaga politik dan berita Barat. Dalam rancangan tersebut, diusulkan penundaan dua pihak selama 30 hari. Yang dimaksud ialah, bahwa selama 30 hari itu, Iran menunda pengembangan aktifitas nuklirnya, dan DK pun tidak akan menindaklanjuti peningkatan sanksi-sanksi terhadap Iran.

          Rancangan Swiss dibangun berdasarkan usulan Muhammad ElBaradei, Dirjen IAEA, beberapa waktu lalu. Dalam usulannya itu ElBaradei meminta agar Iran menghentikan pengayaan uraniumnya, dan imbalannya, kelompok 5+1 pun akan menunda pemebrlakuan sanks-sanksinya terhadap Iran. Menanggapi usulan ini, Iran menyebutnya sebagai permintaan sepihak dan menegaskan bahwa pihaknya tidak akan bersedia menerima rancangan apa pun yang memintanya menghentikan proses pengayaan uranium. Argumentasi Iran sangat jelas dan berpijak pada dasar yang sangat logis. Pendayagunaan energi nuklir tujuan damai, terutama pengayaan uranium, adalah hak legal Iran sebagai anggota NPT yang baik dan setia. Akan tetapi resolusi-resolusi DK PBB anti Iran, telah disusun dan disahkan berdasarkan pada tujuan-tujuan politik AS, yang ilegal jika dilihat dari sudut pandang UU internasional.

          Dengan demikian jelas sekali bahwa jika Uni Eropa menjadikan rancangan Swiss sebagai dasar untuk menggelar lagi perundingan dengan Iran, maka perundingan ini tidak akan menelurkan hasil-hasil yang diinginkan. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ali Larijani dan Javier Solana di Ankara, dari perundingan dua hari mereka ini masih belum dapat dicapai hasil yang menenutkan. Akan tetapi, secara umum, minat Uni Eropa untuk memulai perundingan guna menyelesaikan masalah nuklir, dapat dikatakan sebagai langkah pertama untuk mencegah politik-politik unilateral, atau mungkin militerisme AS, berkenaan dengan masalah nuklir ini. Upaya seperti ini, pada akhirnya, juga akan menguntungkan Uni Eropa.

 

 

 

[ Index Perspektif ]   [ Home ]