Perspektif    

   Juni  2007

[ Index Politik ] [[ Home ]

 

 

 

 

 

 

 

 

Prospek Perundingan AS dan Iran

Sejak sekitar satu tahun yang lalu, para pejabat Irak di berbagai level, meminta kepada RII agar menanggapi posotif permintaan AS untuk berunding dengannya tentang Irak, guna menyelesaikan berbagai krisis Irak dan membantu menekan kesulitan-kesulitan yang menimpa rakyat negara ini. tahun lalu, AS juga menyampaikan permintaannya untuk berundingan dengan Iran mengenai Irak.

Dikarenakan permintaan terus menerus para pejabat Irak agar Iran bersedia berunding langsung dengan AS guna membicarakan masalah Irak, maka Iran pun pada akhirnya menyatakan kesediannya. Akan tetapi, setelah pemerintahan George Bush, berusaha memanfaatkan kesediaan Iran ini, dalam berbagai propagandanya, Iran pun menyatakan bahwa perundingan tersebut gagal. Setelah itu para pejabat As kembali mengajukan permintaan baru untuk perundingan tersebut. Kali ini mereka mengajukan permintaan dalam bentuk resmi dan tertulis, yang disampaikan ke Tehran, melalui Kedutaan Besar Swiss di ibu kota Iran ini. para pejabat Irak pun, sebagaimana tahun lalu, sangat menekankan agar menerima usulan AS.

Memperhatikan semua permasalahan ini, maka RII menyetujui untuk berunding dengan para wakil dari Irak dan AS, untuk mempelajari berbagai masalah Irak, terutama untuk mencari akar-akar penyebab ketidakamanan dan program rekonstruksi negara ini di segala bidang. Setelah pernyataan setuju dari Iran, Monouchehr Mottaki, Menlu RII, dalam pekan ini mengumumkan bahwa perundingan trilateral, Iran, Irak dan AS, akan dimulai di Bagdad pada tanggal 28 Mei di Bagdad. Setelah pernyataan kesediaan Iran untuk beruinding, Condoleezza Rice, Menlu AS, dengan terang-terangan menyatakan keinginan AS untuk berunding dengan Iran mengenai berbagai masalah Irak, bahkan konferensi Syarm el Syeikh pun sempat terpengaruh oleh pernyataan-pernyataan As tersebut.

Setelah Iran menyatakan kesediaannya untuk berunding dengan AS dan pemeirntah Irak untuk menyelesiakan berbagai krisis negara ini, AS kembali menggelar provokasi melalui berbagai media internasional, untuk menggambarkan bahwa melalui perundingan di Bagdad ini, Iran akan berusaha pula menyelesaikan krisis nuklirnya. Pernyataan-pernyataan para pejabat AS pun dalam masalah ini perlu diperhatikan. Dick Cheney, ketika berkunjung ke Timur Tengah dan Teluk Persia, setelah mengancam Iran dengan serangan militer, mengatakan bahwa tidak pertentangan antara pernyataan kerasnya tentang program nuklir Iran dan perundingan dengan negara ini tentang Irak. Karena dua masalah ini berdiri sendiri-sendiri. Tony Snow, salah satu jurubicara gedung putih juga mengatakan, bahwa perundingan yang telah diatur dengan Iran tentang Irak, tidak seharusnya dianggap sebagai langkah mundur Washington dari politiknya selama tiga dekade terakhir untuk mengisolasi Iran. Sean McCormac, Jubir Deplu AS juga mengungkapkan hal yang serupa itu.

Dari sini muncul pertanyaan, mengapa As dari satu sisi meminta secara resmi perundingan dengan Iran tentang Irak, tapi dari sisi lain ia berusaha memutar balik realitas dan tujuan-tujuan perundingan dan berusaha meyakinkan bahwa Iran ingin memperluas topik perundingan ini? Alasan adanya kontradiksi dalam diplomasi AS tentang Irak ini ialah bahwa pemerintah Bush, atau minimal, sayap neokonservatif dan kelompok ekstrim yang berkuasa di gedung putih, memandang pengakuan AS bahwa ia memerlukan bantuan Iran untuk menyelesaikan masalah Irak, sebagai langkah mundur Bush dari strategi barunya di Irak. Perundingan dengan para tetangga Irak, terutama RII dan Suriah, termasuk diantara usul kunci yang diajukan oleh komisi Baker – Hamilton kepada Bush. Tahun lalu, komisi yang terdiri dari para tokoh terkenal dari dua kubu Republiki dan Demokrat AS, dibentuk untuk mempelajari sebab-sebab kegagalan politik pemerintahan Bush dan mencari jalan-jalan keluar dari kebuntuan yang ada saat ini.

Komisi Baker – Hamilton mengusulkan kepada Bush bahwa untuk berunding dengan para tetangga Irak guna mengakhiri krisis AS di negara ini. akan tetapi Bush tidak menerima usul komisi ini. Karena itulah permintaan Bush sekarang untuk berunding dengan Iran, dianggap sebagai langkah mundurnya dalam masalah ini. Muncul pula pertanyaan, apakah Iran akan mengutus wakil-wakilnya untuk menghadiri perundingan guna membantu penyelesaian krisis AS di Irak, yang oleh para pejabat AS dipropagandakan sebagai dialog untuk membicarakan pula masalah nuklir Iran?

Stetmen terbaru dari Ayatulah Udhma Sayid Ali Khamenei, Rahbar Revolusi Islam, membongkar kebohongan klaim-klaim dan propaganda para pejabat AS. Beliau menegaskan, bagaimana mungkin kita bersedia berdialog dengan sebuah pemerintahan arogan, ekspansionis dan imperialis seperti AS, yang saat ini dipimpin oleh para pejabat yang congkak dan angkuh? Untuk itu, mereka yang menyangka bahwa RII akan mengubah sikap politiknya yang kokoh, logis dan seratus persen dapat dipertanggungjawabkan, dalam menolak perundingan dan menjalin hubungan dengan AS, telah terjerumus ke dalam kekeliruan besar. Seraya menyinggung berbagai isu yang ebredar tentang perundingan para wakil Iran, AS dan Irak berkenaan dengan krisis negara ini, Sayid Ali Khamenei memperingatkan bahwa sebagai negara penjajah Irak, AS tidak melaksanakan tugas-tugasnya untuk menegakkan keamanan di negara ini. Bahkan bukan hanya mengikat tangan pemerintahan sah Irak saat ini, bahkan AS secara diam-diam mendukung para teroris dengan tujuan menggulingkan pemerintahan Irak. Untuk itulah diambil keputusan bahwa dalam rangka memenuhi permintaan pemerintahan Irak, Iran akan hadir dalam perundingan langsung dengan AS, untuk menyampaikan kewajiban dan tanggung jawab negara penjajah ini terhadap keamanan Irak, dan menyempurnakan hujjahnya terhadap negara ini.

Rahbar Revolusi Islam juga menyinggung adanya usaha para pejabat AS untuk memutar balik realitas tujuan-tujuan perundingan mendatang diBagdad, dan mengatakan, bahwa menurut para pejabat AS, selain masalah Irak tidak ada topik lain yang akan dibicarakan. Akan tetapi kami katakan kepada mereka bahwa masalah Irak pun tidak ada hubungannya dengan AS, dan perundingan akan terbatas hanya pada kewajiban yang harus dilakukan para penjajah untuk menegakkan keamanan di Irak. Sebagai tetangga Irak yang besar dan kuat, RII menginginkan tegaknya keamanan dan stabilitas yang kokoh di negara ini, sehingga peluang rekonstruksi Irak akan terbuka.

Lebih daripada negara lain, Iran menanggung kerugian akibat berlanjutnya krisis di Irak. Untuk itu Iran sangat mendukung usaha penangan krisis ini dari akar-akarnya. Dalam pandangan Iran, seluruh krisis dan musibah yang menimpa rakyat muslimin Irak selama beberapa tahun ini adalah akibat penjajahan atas negara ini oleh AS dan Inggris dan sikap keras kepala mereka untuk tetap bercokol di sana. Para penjajah Irak mengklaim bahwa kehadiran mereka di Irak adalah sangat penting bahkan suatu keharusan, untuk memberantas terorisme. Akan tetapi terdapat berbagai bukti dan saksi yang tak termungkiri, yang menunjukkan adanya hubungan gelap antara lembaga-lembaga intelijen AS, Inggris dan rezim zionis dengan para teroris Irak. Selain itu, sebagaimana pengalaman di tahun-tahun lalu, AS dan Inggris adalah pihak yang paling mendapat keuntungan dari berlanjutnya aksi-aksi ekekrasan dan teror di Irak. Karena menurut mereka, inilah satu-satunya alasan yang kuat untuk mempertahankan keberadaan pasukan militer mereka di negara ini.

Jika AS dan Inggris masih tetap saja bersikeras untuk bertahan menjajah Irak, maka segala macamperundingan tidak akan ada gunanya, dan mereka akan semakin sempurna terjerumus ke dalam jalan buntu dan krisis yang membelit mereka di Irak. Perundingan tanggal 28 Mei di Bagdad, jika benar-benar terlaksana, akan membuktikan apakah niat AS untuk membantu penyelesaian krisis rakyat Irak merupakan niat yang jujur, ataukah perundingan ini hanya merupakan taktik dan akal licik mereka untuk melanjutkan politik-politik sesat mereka di Irak.

 

[ Index Perspektif ]   [ Home ]