|
Sejak sekitar satu tahun
yang lalu, para pejabat Irak di berbagai level, meminta kepada RII agar
menanggapi posotif permintaan AS untuk berunding dengannya tentang Irak,
guna menyelesaikan berbagai krisis Irak dan membantu menekan
kesulitan-kesulitan yang menimpa rakyat negara ini. tahun lalu, AS juga
menyampaikan permintaannya untuk berundingan dengan Iran mengenai Irak.
Dikarenakan permintaan terus menerus para
pejabat Irak agar Iran bersedia berunding langsung dengan AS guna
membicarakan masalah Irak, maka Iran pun pada akhirnya menyatakan
kesediannya. Akan tetapi, setelah pemerintahan George Bush, berusaha
memanfaatkan kesediaan Iran ini, dalam berbagai propagandanya, Iran pun
menyatakan bahwa perundingan tersebut gagal. Setelah itu para pejabat As
kembali mengajukan permintaan baru untuk perundingan tersebut. Kali ini
mereka mengajukan permintaan dalam bentuk resmi dan tertulis, yang
disampaikan ke Tehran, melalui Kedutaan Besar Swiss di ibu kota Iran ini.
para pejabat Irak pun, sebagaimana tahun lalu, sangat menekankan agar
menerima usulan AS.
Memperhatikan semua permasalahan ini, maka
RII menyetujui untuk berunding dengan para wakil dari Irak dan AS, untuk
mempelajari berbagai masalah Irak, terutama untuk mencari akar-akar
penyebab ketidakamanan dan program rekonstruksi negara ini di segala
bidang. Setelah pernyataan setuju dari Iran, Monouchehr Mottaki, Menlu
RII, dalam pekan ini mengumumkan bahwa perundingan trilateral, Iran,
Irak dan AS, akan dimulai di Bagdad pada tanggal 28 Mei di Bagdad.
Setelah pernyataan kesediaan Iran untuk beruinding, Condoleezza Rice,
Menlu AS, dengan terang-terangan menyatakan keinginan AS untuk berunding
dengan Iran mengenai berbagai masalah Irak, bahkan konferensi Syarm el
Syeikh pun sempat terpengaruh oleh pernyataan-pernyataan As tersebut.
Setelah Iran menyatakan kesediaannya untuk
berunding dengan AS dan pemeirntah Irak untuk menyelesiakan berbagai
krisis negara ini, AS kembali menggelar provokasi melalui berbagai media
internasional, untuk menggambarkan bahwa melalui perundingan di Bagdad
ini, Iran akan berusaha pula menyelesaikan krisis nuklirnya.
Pernyataan-pernyataan para pejabat AS pun dalam masalah ini perlu
diperhatikan. Dick Cheney, ketika berkunjung ke Timur Tengah dan Teluk
Persia, setelah mengancam Iran dengan serangan militer, mengatakan bahwa
tidak pertentangan antara pernyataan kerasnya tentang program nuklir
Iran dan perundingan dengan negara ini tentang Irak. Karena dua masalah
ini berdiri sendiri-sendiri. Tony Snow, salah satu jurubicara gedung
putih juga mengatakan, bahwa perundingan yang telah diatur dengan Iran
tentang Irak, tidak seharusnya dianggap sebagai langkah mundur
Washington dari politiknya selama tiga dekade terakhir untuk mengisolasi
Iran. Sean McCormac, Jubir Deplu AS juga mengungkapkan hal yang serupa
itu.
Dari sini muncul pertanyaan, mengapa As dari
satu sisi meminta secara resmi perundingan dengan Iran tentang Irak,
tapi dari sisi lain ia berusaha memutar balik realitas dan tujuan-tujuan
perundingan dan berusaha meyakinkan bahwa Iran ingin memperluas topik
perundingan ini? Alasan adanya kontradiksi dalam diplomasi AS tentang
Irak ini ialah bahwa pemerintah Bush, atau minimal, sayap neokonservatif
dan kelompok ekstrim yang berkuasa di gedung putih, memandang pengakuan
AS bahwa ia memerlukan bantuan Iran untuk menyelesaikan masalah Irak,
sebagai langkah mundur Bush dari strategi barunya di Irak. Perundingan
dengan para tetangga Irak, terutama RII dan Suriah, termasuk diantara
usul kunci yang diajukan oleh komisi Baker – Hamilton kepada Bush. Tahun
lalu, komisi yang terdiri dari para tokoh terkenal dari dua kubu
Republiki dan Demokrat AS, dibentuk untuk mempelajari sebab-sebab
kegagalan politik pemerintahan Bush dan mencari jalan-jalan keluar dari
kebuntuan yang ada saat ini.
Komisi Baker – Hamilton mengusulkan kepada
Bush bahwa untuk berunding dengan para tetangga Irak guna mengakhiri
krisis AS di negara ini. akan tetapi Bush tidak menerima usul komisi ini.
Karena itulah permintaan Bush sekarang untuk berunding dengan Iran,
dianggap sebagai langkah mundurnya dalam masalah ini. Muncul pula
pertanyaan, apakah Iran akan mengutus wakil-wakilnya untuk menghadiri
perundingan guna membantu penyelesaian krisis AS di Irak, yang oleh para
pejabat AS dipropagandakan sebagai dialog untuk membicarakan pula
masalah nuklir Iran?
Stetmen terbaru dari Ayatulah Udhma Sayid
Ali Khamenei, Rahbar Revolusi Islam, membongkar kebohongan klaim-klaim
dan propaganda para pejabat AS. Beliau menegaskan, bagaimana mungkin
kita bersedia berdialog dengan sebuah pemerintahan arogan, ekspansionis
dan imperialis seperti AS, yang saat ini dipimpin oleh para pejabat yang
congkak dan angkuh? Untuk itu, mereka yang menyangka bahwa RII akan
mengubah sikap politiknya yang kokoh, logis dan seratus persen dapat
dipertanggungjawabkan, dalam menolak perundingan dan menjalin hubungan
dengan AS, telah terjerumus ke dalam kekeliruan besar. Seraya
menyinggung berbagai isu yang ebredar tentang perundingan para wakil
Iran, AS dan Irak berkenaan dengan krisis negara ini, Sayid Ali Khamenei
memperingatkan bahwa sebagai negara penjajah Irak, AS tidak melaksanakan
tugas-tugasnya untuk menegakkan keamanan di negara ini. Bahkan bukan
hanya mengikat tangan pemerintahan sah Irak saat ini, bahkan AS secara
diam-diam mendukung para teroris dengan tujuan menggulingkan
pemerintahan Irak. Untuk itulah diambil keputusan bahwa dalam rangka
memenuhi permintaan pemerintahan Irak, Iran akan hadir dalam perundingan
langsung dengan AS, untuk menyampaikan kewajiban dan tanggung jawab
negara penjajah ini terhadap keamanan Irak, dan menyempurnakan hujjahnya
terhadap negara ini.
Rahbar Revolusi Islam juga menyinggung
adanya usaha para pejabat AS untuk memutar balik realitas tujuan-tujuan
perundingan mendatang diBagdad, dan mengatakan, bahwa menurut para
pejabat AS, selain masalah Irak tidak ada topik lain yang akan
dibicarakan. Akan tetapi kami katakan kepada mereka bahwa masalah Irak
pun tidak ada hubungannya dengan AS, dan perundingan akan terbatas hanya
pada kewajiban yang harus dilakukan para penjajah untuk menegakkan
keamanan di Irak. Sebagai tetangga Irak yang besar dan kuat, RII
menginginkan tegaknya keamanan dan stabilitas yang kokoh di negara ini,
sehingga peluang rekonstruksi Irak akan terbuka.
Lebih daripada negara lain, Iran menanggung
kerugian akibat berlanjutnya krisis di Irak. Untuk itu Iran sangat
mendukung usaha penangan krisis ini dari akar-akarnya. Dalam pandangan
Iran, seluruh krisis dan musibah yang menimpa rakyat muslimin Irak
selama beberapa tahun ini adalah akibat penjajahan atas negara ini oleh
AS dan Inggris dan sikap keras kepala mereka untuk tetap bercokol di
sana. Para penjajah Irak mengklaim bahwa kehadiran mereka di Irak adalah
sangat penting bahkan suatu keharusan, untuk memberantas terorisme. Akan
tetapi terdapat berbagai bukti dan saksi yang tak termungkiri, yang
menunjukkan adanya hubungan gelap antara lembaga-lembaga intelijen AS,
Inggris dan rezim zionis dengan para teroris Irak. Selain itu,
sebagaimana pengalaman di tahun-tahun lalu, AS dan Inggris adalah pihak
yang paling mendapat keuntungan dari berlanjutnya aksi-aksi ekekrasan
dan teror di Irak. Karena menurut mereka, inilah satu-satunya alasan
yang kuat untuk mempertahankan keberadaan pasukan militer mereka di
negara ini.
Jika AS dan Inggris masih tetap saja
bersikeras untuk bertahan menjajah Irak, maka segala macamperundingan
tidak akan ada gunanya, dan mereka akan semakin sempurna terjerumus ke
dalam jalan buntu dan krisis yang membelit mereka di Irak. Perundingan
tanggal 28 Mei di Bagdad, jika benar-benar terlaksana, akan membuktikan
apakah niat AS untuk membantu penyelesaian krisis rakyat Irak merupakan
niat yang jujur, ataukah perundingan ini hanya merupakan taktik dan akal
licik mereka untuk melanjutkan politik-politik sesat mereka di Irak.
|