|
Muhammad
ElBaradei, Dirjen Badan Tenaga Atom Internasional, menyebarkan
laporannya berkenaan dengan aktifitas nuklir Iran, pekan lalu, di markas
Badan Tenaga Atom INternasional (IAEA) di Wina, juga di markas PBB di
New York. Laporan ini diserahkan ke Gewan Gubernur dan para anggota DK
PBB, 60 hari setelah ratifikasi resolusi ilegal nomor 1747, tentang
aktifitas nuklir damai Iran.
Dalam resolusi 1747 DK PBB, telah diminta
kepada Dirjen IAEA untuk memberikan laporan, setelah 60 hari sejak
keluarnya resolusi tersebut, dari hasil terakhir inspeksi para inspektor
lembaga atom ini di situs-situs nuklir Iran. Karena tekanan-tekanan AS,
DK meminta kepada RII agar menunda aktifitas-aktifitas nuklirnya,
terutama pengayaan uranium. Untuk itu, perhatian utama laporan ElBaradei
terpusat kepada pengayaan uranium di Iran. Tentu saja, dalam laporan
terbarunya ini, ElBaradei menuli sbahwa dalam pemeriksaannya yang
dilakukan berkali-kali di pusat-pusat aktifitas nuklir Iran, sama sekali
tidak ditemukan penyimpangan yang mengarah kepada kepentingan militer.
Penekanan Dirjen IAEA tentang bahwa tidak terdapat tanda-tanda
penyimpangan tersebut seharusnya merupakan dukungan dan pembenaran
status sipil seluruh aktifitas tersebut. Akan tetapi ElBaradei mengklaim
bahwa lembaganya tidak dalam posisi membenarkan status sipil aktifitas
nuklir Iran ini.
Kontradiksi semacam ini juga sering kali
terlihat dalam laporan-laporan ElBaradei sebelum ini. Terulangnya
masalah ini dalam laporan-laporan ElBaradei, bukanlah kebetulan, tapi
merupakan langkah yang telah diperhitungkan, dalam rangka membuka jalan
bagi AS dan para sekutunya agar dapat memberlakukan tekanan yang lebih
berat kepada Iran. Untuk itulah, segera setelah keluarnya laporan
ElBaradei ini, para pejabat AS telah memulai usahanya menggunakan
laporan tersebut sebagai jalan untuk mengesahan resolusi baru anti Iran.
Sehari setelah keluarnya laporan tersbeut, George Bush, Presiden AS,
mengulangi tuduhan bahayanya Iran setelah menguasai senjata-senjata
nuklir, dan meminta peningkatan sanksi-sanksi terhadap Iran. Tom Ceassy,
Jubir gedung putih juga berkata, masyarakat dunia harus memaksa Iran
menghentikan pengayaan uraniumnya dengan meningkatkan sanksi-sanksi
politik dan ekonomi. Zalmay Khalil Zad, Wakil AS di PBB mengakui bahwa
upaya-upaya AS untuk mencegah pengayaan uranium Iran tidak membuahkan
hasil. Untuk itu ia mengusulkan peningkatan tekanan terhadap Iran.
Tak satu pun dari para pejabat AS yang
menaruh perhatian kepada laporan ElBaradei yang menekankan status
nonmiliter esensi dan tujuan program-program nuklir RII. Bagi Barat,
satu kalimat dalam laporan ElBaradei yang berbunyi "Lembaga ini (yaitu
IAEA) tidak dapat memastikan status sipil aktifitas-aktifitas nuklir
Iran" sudah sangat cukup untuk mencari jalan pengesahan resolusi baru
anti Iran. Pengalaman membuktikan bahwa lembaga-lembaga dunia,
perjanjian dan peraturan-peraturan yang telah diakui di tingkat
internasional, akan dihormati oleh AS selama semua itu tidak bertabrakan
dengan ambisi-ambisi politik dan ekonomi negara ini. Pandangan sepihak
gedung putih ini mencakup pula IAEA dan Dirjennya. Berdasarkan pandangan
ini pula, maka dari seluruh laporan Dirjen IAEA yang mencapai empat
halaman itu, hanya sepotong kalimat itulah yang dipegang oleh AS dan
sekutunya untuk mengulang tuduhan bahayanya program nuklir Iran. AS
bahkan meminta kepada ElBaradei untuk tidak mengeluarkan
pernyataan-pernytaan tak resmi sekalipun, yang bertentangan dengan
upaya-upaya Washington untuk mencegah Iran dari hak legalnya
memanfaatkan energi nuklir untuk tujuan-tujuan damai.
Dalam sebuah wawancara dengan koran AS New
York Times, Dirjen IAEA berkata, Barat harus bertindak logis menghadapi
realitas bahwa Iran telah berhasil menguasai teknologi pengayaan
uranium. Menurut ElBaradei, dengan telah dioperasikannya instalasi
pengayaan uranium di Iran, maka tuntutan Barat agar Iran dicegah dari
teknologi ini, telah kehilangan obyektifitasnya; dan yang seharusnya
dilakukan sejak saat ini ialah upaya mencegah Iran untuk mencapai
produksi bahan bakar nuklir skala industri. Segera setelah wawancara
ElBaradei dengan New York Times ini, wakil-wakil AS, Inggris dan
Perancis, menyatakan bahwa pernyataan-pernyataan Dirjen IAEA itu tidak
ada gunanya, dan dalam pertemuan dengannya, mereka meminta penjelasan
dari ElBaradei. Reaksi cepat para pejabat Barat terhadap pernyataan
ElBaradei mengindikasikan bahwa AS dan sejumlah negara Eropa
menginginkan penghentian sepenuhnya aktifitas nuklir Iran, dan
menjadikan tuduhan bahayanya aktifitas nuklir Iran ini sebagai alasan
untuk menyukseskan tujuan mereka.
Dr Ali Larijani, Sekretaris Dewan Tinggi
Keamanan Nasional Iran, yang juga berperan sebagai juru runding senior
dalam masalah nuklir Iran, dalam reaksinya terhadap laporan Dirjen IAEA,
mengatakan, bahwa laporan ini mendukung kenyataan bahwa aktifitas nuklir
Iran berada dalam kerangka UU internasional dan tidak ditemukan bukti
apa pun yang menunjukkan adanya penyimpangan. Seraya menyinggung
penekanan laporan Dirjen IAEA tentang status nonmiliter aktifitas nuklir
Iran, Larijani berkata, penemuan-penemuan para investigator IAEA
menjelaskan bahwa langkah DK PBB dalam menghadapi masalah nuklir Iran
bersifat tendensius dan politis, yang mengabaikan pandanan-pandangan
yang ebrsifat spesialis dan teknis. Sebagaimana disebutkan dalam laporan
ElBaradei, IAEA dapat melanjutkan tugasnya mengawasi aktifitas nuklir
Iran dengan kerjasama negara ini dan hingga kini pun para petugas
lembaga ini selalu meperoleh kerjasama Iran yang transparan serta jujur.
Ali Asghar Sulthaniyeh, Wakil Iran di IAEA
juga menilai laporan ElBaradei meliputi poin-poin positif, yang jika
dieprhatikan akan dapat membuka jalan penyelesaian masalah nuklir Iran.
Menurutnya, laporan ElBaradei menekankan realitas bahwa seluruh
aktifitas nuklir Iran berjalan di bawah pengawasan IAEA, dan
pemeriksaan-pemeriksaan oleh para ahli lembaga ini di pusat-pusat nuklir
Iran tidak pernah terhenti. Setelah menyebarnya laporan ElBaradei,
diumumkan bahwa para wakil kelompok 5+1 (yaitu lima negara anggota tetap
DK PBB ditambah Jerman) akan segera memulai pertemuan-pertemuannya untuk
membahas masalah nuklir Iran. Dikatakan bahwa dalam sidang mendatang
G-8, yaitu delapan negara industri maju, di Jerman, juga akan
membicarakan masalah nuklir ini. Sementara itu, Uni Eropa, yang
merupakan pihak berpengaruh dalam diplomasi Barat berkenaan dengan
aktifitas nuklir Iran, memusatkan pandangannya kepada perundingan
larijani dan Solana.
Ali Larijani, Sekretaris Dewan Tinggi
Keamanan Nasional Iran, dan Javier Solana, Ketua Politik Luar Negeri Uni
Eropa, akan bertemu pada tanggal 31 Mei. Tempat pertemuan hingga kini
belum dipastikan. Akan tetapi ada kemungkinan Madrid, ibu kota Spanyol,
akan menjadi tuan rumah putaran baru pertemuan Larijani dan Solana.
Berbagai lembaga berita dan politik Barat mengatakan bahwa Uni Eropa
menunda pengambilan keputusan mereka untuk langkah selanjutnya dalam
masalah ini, hingga setelah jelasnya hasil-hasil perundingan mendatang,
Larijani dan Solana ini. Untuk itu kedua belah pihak berharap bahwa
perundingan mereka nanti akan meberikan hasil-hasil positif.
Sikap Iran berkenaan dengan masalah nuklir
sangat jelas dan transparan, berdasarkan UU yang berlaku. Iran meyakini
bahwa keanggotaan suatu negara dalam NPT, telah memberikan hak-hak
kepada negara tersebut, sekaligus beberapa kewajiban. As dan beberapa
negara Barat meminta kepada Iran agar memenuhi janji-janjinya yang
tertuang dalam NPT, akan tetapi Iran juga harus melepaskan hak-haknya
yang telah ditetapkan dalam perjanjian ini. permintaan Barat dari Iran
ini adalah bukti nyata adanya diskriminasi atau aprtheid dalam masalah
nuklir. Sudah barang tentu, jika tekanan-tekanan AS menghasilkan
keluarnya resolusi baru lagi anti Iran, di DK, maka Iran tidak akan
menerimanya.
|