Perspektif    

   Juni  2007

[ Index Politik ] [[ Home ]

 

 

 

 

 

 

 

 

Keamanan Teluk Persia Tanpa Kehadiran Asing

Teluk Persia, adalah perairan penting di barat daya Asia, dan terletak di kawasan Timur Tengah. Di masa lalu, Teluk Persia mendapat perhatian lebih karena perannya sebagai jembatan yang tepat untuk menjalin hubungan timur dan barat. Dalam kerangka ini para penjajah Barat berusaha memasukkan Teluk Persia ke bawah kendali kekuasaannya. Akan tetapi, dalam satu kurun lalu, dan setelah ditemukannya simpanan besar minyak di negara-negara Teluk Persia, maka kawasan ini menjadi pusat perhatian dunia dan memiliki posisi yang semakin penting, dikarenakan kekayaan simpanan bakar fosilnya. Keperluan Barat kepada minyak dan produk-produk dari minyak, telah membuat Eropa dan AS selalu menunjukkan sikap sensitif terhadap sumber-sumber minyak dan alirannya yang tak kenal henti dari Teluk Persia. Untuk itu mereka menempatkan pasukan militernya di kawasan ini.

Sebagai negara di bagian utara Teluk Persia, Iran memiliki pantai yang terpanjang di antara 8 negara yang mengelilingi teluk ini, sehingga Iran menaruh perhatian yang paling besar terhadap masalah-masalah perairan ini. Untuk itulah hingga kini berbagai konferensi dan seminar berkenaan dengan Teluk Persia telah dilaksanakan di Iran, dimana konferensi yang ke-17, berjudul "Kemanan Teluk Persia Dalam Pandangan UU Internasional" dilaksanakan pada tanggal 28 dan 29 Mei lalu di Tehran. Dalam konferensi ini, para peserta dari 28 negara, mengirimkan 100 makalah, yang menyoroti masalah keamanan jalur perairan yang fital ini dari berbagai sudut pandang, terutama dari sudut pandang hukum.

Dalam pidato-pidato dan makalah-makalah para peserta di konferensi Tehran, satu hal yang patut diperhatikan, bahwa melihat pentingnya posisi strategis Teluk Persia, mereka meyakini harus disusun sebuah sistim dan hukum yang terperinci dan kuat, untuk menjaga keamanan kawasan ini. karena segala macam ketidakamanan dan ketegangan di perairan ini akan memunculkan dampak-dampak negatif yang tak terkira bagi seluruh dunia. Terutama karena pada saat ini, 62 persen simpanan minyak dunia yang telah terdata, berada di Teluk Persia, dan sekitar sepertiga keperluan minyak di seluruh dunia dikirimkan melalui kawasan perairan ini. Dari sisi lain, meilhat proses meningkatnya konsumsi bahan bakar fosil, diperkirakan bahwa di masa mendatang, ketergantungan dunia kepada minyak Teluk Persia juga akan meningkat.

Sejak sejumlah negara asing menjejakkan kaki mereka ke Teluk Persia, maka keamanan dan ketenangan kawasan ini telah terganggu. Dengan perang dan kekuatan militer, negara imperialis Inggris berhasil mencaplok sebagian besar lawasan selatan Teluk Persia, dan menegakkan keamanan di kawasan ini untuk kepentingan mereka sendiri. Di masa-masa terakhir, AS juga ikut menjejakkan kakinya di kawasan ini, dan ikut pula berusaha menegakkan keamanan dalam rangka memperlancar program-program imperialismenya, mengeruk kekayaan alami Teluk Persia. Di akhir perang delapan tahun agresi rezim Saddam ke Iran, yaitu di paruh kedua dekade 80, kehadiran AS di Teluk Persia, dengan alasan penegakan keamanan, semakin meningkat. Setelah agresi militer rezim Saddam ke Kuwait di tahun 1990, AS dan beberapa negara Eropa, menegrahkan kapal-kapal perang lebih banyak lagi ke kawasan ini.

Setelah kejatuhan Saddam dan penarikan mundur tentara Irak dari Kuwait, para penguasa Teluk Persia Selatan, yang ketakutan terhadap agresifisme penguasa diktator Irak, meneken perjanjian kerjasama militer dengan AS, Inggris dan Perancis, dengan harapan menjamin keamanan mereka. Dengan demikian, negara-negara imperialis Barat merasa berhak mengirimkan peralatan perang yang lebih besar dan tentara yang lebih banyak ke kawasan ini. Selain itu mereka juga mengeruk keuntungan miliaran Dolar, dengan menjual senjata militer ke negara-negara bagian selatan Teluk Persia, setelah negara-negara ini mereka pompa dengan isu persaingan senjata.

Sekarang ini, kembali AS menambah jumlah kapal perangnya di Teluk Persia, dengan menjadikan masalah nuklir Iran sebagai alasan. Sekitar 140 kapal perang milik negara-negara Barat ber-"malang-melintang" di perairan ini, dan beberapa waktu lalu, dua kapal induk AS juga bergabung dengan mereka. Dengan demikian, saat ini Teluk Persia sudah padat dengan kapal perang besar dan kecil, yang sangat mengancam keamanan kawasan ini. Dr Ali Khorram, mantan wakil Iran di Komisi Perlucutan Senjata PBB, di Seminar Keamanan Teluk Persia di Tehran, berbicara tentang langkah-langkah agitatif militer AS di kawasan ini. Ia berkata, langkah kapal-kapal perang AS di Selat Hormoz dan tindakan mereka melintas diantara pulau-pulau Iran di Teluk Persia, berlawanan dengan UU ketiga kalutan kawasan ini. yangjelas, aksi kapal-kapal perang AS yang sangat agitatif ini dilakukan dalam rangka menciptakan suasana tegang di kawasan.

Sementara itu negara-negara Barat, terutama Washington, berusaha membesar-besarkan perselisihan diantara negara-negara Teluk Persia, untuk menciptakan alasan bagi kehadirannya di kawasan ini. Setelah menyingkirkan bahaya Saddam, gedung putih berusaha menampilkan Irak sebagai sumber ancaman bagi keamanan negara-negara Teluk Persia Selatan. Pada kenyataannya, Iran selalu membuktikan sikap damai dan niat baiknya terhadap semua tetangganya. Dengan adanya usaha-usaha kekuatan asing seperti ini, jelas sekali bahwa keamanan dan stabilitas tidak akan pernah tercipta di kawasan ini. Sebaliknya, keberadaan mereka ini justru akan menciptakan krisis keamanan.

Dr Mahmud Ahmadinejad, Presiden RII, dalam pesannya yang dibacakan di upacara pembukaan Konferensi Keamanan Teluk Persia, mengatakan, "Transformasi yang berlangsung di kawasan mebuktikan bahwa kehadiran pasukan militer dari luar kawasan ini, dengan alasan apa pun, bukan hanya tidak menciptakan stabilitas dan keamanan, bahkan telah mengakibatkan semakin meningkatnya ketidakamanan, perpecahan dan munculnya berbagai krisis baru di kawasan ini."

Dr Muhammad Reza Baqiri, Wakil Menlu RII bidang Arab dan Afrika, dalam Konferensi Keamanan Teluk Persia, berkenaan dengan penyebab ketidakefektifan sistim keamanan yang ada saat ini di kawasan, berkata, "Alasan terpenting ketidakefektifan berbagai macam rancangan keamanan kawasan Teluk Persia ialah bahwa rancangan-rancangan tersebut diimpor dan dipaksanakan dari luar."

Tidak diragukan bahwa negara-negara asing, yang mengirimkan peralatan militer dan pasukannya ke Teluk Persia dan negara-negara sekitarnya, sebelum segala sesuatu, telah memikirkan pemenuhan segala macam interes mereka. Dan jika terjadi perbenturan antara interes mereka dan interes rakyat di kawasan ini, mereka pasti akan mendahulukan interes ilegal mereka. Sing Harrison, Kepala Pusat Woodrow Willson di Washington, yang hadir dalam Konferensi di Tehran ini, berkata, "Keamanan Teluk Persia sudah mengalami krisis, karena kekuatan-kekuatan asing yang berada di sana, labih banyak mengejar kepentingan mereka sendiri, daripada kepentingan negara-negara pribumi kawasan ini."

Saat ini sistim keamanan Teluk Persia tengah mengalami krisis serius, berupa kehadiran pasukan militer asing, sehingga tidak mungkin memberikan keamanan yang kokoh bagi negara-negara di kawasan ini. Untuk itu, baru-baru ini muncul perhatian untuk menciptakan sistim dan UU keamanan kolektif, dimana RII merupakan salah satu penyampai usul tersebut, dan pendukung utamanya. Rancangan keamanan kolektif di Teluk Persia ditegakkan di atas dasar bahwa delapan negara sekitar Teluk Persia, memiliki berbagai kesamaan dan berbagai kepentingan yang mendorong mereka untuk menegakkan stabilitas dan ketenangan dengan saling bekerjasama di kawasan ini.  Dr Manouchehr Mottaki, Menlu RII, dalam Konferensi Keamanan Teluk Persia, berkenaan dengan masalah ini mengatakan, "stabilitas politik, keamanan dan kemajuan ekonomi, memiliki pengaruh yang kuat satu dengan yang lain. Dan melihat adanya ikatan-ikatan kebudayaan, keagamaan, dan posisi geopolitik negara-negara Teluk Persia, maka keamanan negara-negara kawasan ini pun saling berkaitan satu dengan yang lain."

Sebagai pengusul dan pendukung sistinm keamanan kolektif Teluk Persia ini, RII telah mengambil langkah-langkah yang mendukungnya, termasuk dengan menjalin kerjasama keamanan dengan negara-negara Teluk Persia Selatan. Selama beberapa bulan lalu, Dr Ahmadinejad mengunjungi sebagian besar negara bagian selatan Teluk Persia, dengan tujuan semakin memperkuat persahabatan dan kerjasama diantara mereka. Diantara pesan beliau kepada Konferensi Keamanan Teluk Persia, ialah penekanan bahwa RII siap untuk berpartisipasi dalam setiap program pembangunan sikap saling percaya dan penegakan keamanan di tingkat regional dan internasional, yang akan menjamin hak-hak setiap negara. RII meyakini bahwa keamanan dan stabilitas yang kokoh akan tercipta di kawasan Teluk Persia, hanya dengan kerjasama negara-negara setempat, tanpa campur tangan negara-negara asing.

 

[ Index Perspektif ]   [ Home ]