|
Keamanan Teluk Persia Tanpa Kehadiran
Asing |
Teluk Persia, adalah perairan penting di barat
daya Asia, dan terletak di kawasan Timur Tengah. Di masa lalu, Teluk Persia
mendapat perhatian lebih karena perannya sebagai jembatan yang tepat untuk
menjalin hubungan timur dan barat. Dalam kerangka ini para penjajah Barat
berusaha memasukkan Teluk Persia ke bawah kendali kekuasaannya. Akan tetapi,
dalam satu kurun lalu, dan setelah ditemukannya simpanan besar minyak di
negara-negara Teluk Persia, maka kawasan ini menjadi pusat perhatian dunia
dan memiliki posisi yang semakin penting, dikarenakan kekayaan simpanan
bakar fosilnya. Keperluan Barat kepada minyak dan produk-produk dari minyak,
telah membuat Eropa dan AS selalu menunjukkan sikap sensitif terhadap
sumber-sumber minyak dan alirannya yang tak kenal henti dari Teluk Persia.
Untuk itu mereka menempatkan pasukan militernya di kawasan ini.
Sebagai negara di bagian utara Teluk Persia,
Iran memiliki pantai yang terpanjang di antara 8 negara yang mengelilingi
teluk ini, sehingga Iran menaruh perhatian yang paling besar terhadap
masalah-masalah perairan ini. Untuk itulah hingga kini berbagai konferensi
dan seminar berkenaan dengan Teluk Persia telah dilaksanakan di Iran, dimana
konferensi yang ke-17, berjudul "Kemanan Teluk Persia Dalam Pandangan UU
Internasional" dilaksanakan pada tanggal 28 dan 29 Mei lalu di Tehran. Dalam
konferensi ini, para peserta dari 28 negara, mengirimkan 100 makalah, yang
menyoroti masalah keamanan jalur perairan yang fital ini dari berbagai sudut
pandang, terutama dari sudut pandang hukum.
Dalam pidato-pidato dan makalah-makalah para
peserta di konferensi Tehran, satu hal yang patut diperhatikan, bahwa
melihat pentingnya posisi strategis Teluk Persia, mereka meyakini harus
disusun sebuah sistim dan hukum yang terperinci dan kuat, untuk menjaga
keamanan kawasan ini. karena segala macam ketidakamanan dan ketegangan di
perairan ini akan memunculkan dampak-dampak negatif yang tak terkira bagi
seluruh dunia. Terutama karena pada saat ini, 62 persen simpanan minyak
dunia yang telah terdata, berada di Teluk Persia, dan sekitar sepertiga
keperluan minyak di seluruh dunia dikirimkan melalui kawasan perairan ini.
Dari sisi lain, meilhat proses meningkatnya konsumsi bahan bakar fosil,
diperkirakan bahwa di masa mendatang, ketergantungan dunia kepada minyak
Teluk Persia juga akan meningkat.
Sejak sejumlah negara asing menjejakkan kaki
mereka ke Teluk Persia, maka keamanan dan ketenangan kawasan ini telah
terganggu. Dengan perang dan kekuatan militer, negara imperialis Inggris
berhasil mencaplok sebagian besar lawasan selatan Teluk Persia, dan
menegakkan keamanan di kawasan ini untuk kepentingan mereka sendiri. Di
masa-masa terakhir, AS juga ikut menjejakkan kakinya di kawasan ini, dan
ikut pula berusaha menegakkan keamanan dalam rangka memperlancar
program-program imperialismenya, mengeruk kekayaan alami Teluk Persia. Di
akhir perang delapan tahun agresi rezim Saddam ke Iran, yaitu di paruh kedua
dekade 80, kehadiran AS di Teluk Persia, dengan alasan penegakan keamanan,
semakin meningkat. Setelah agresi militer rezim Saddam ke Kuwait di tahun
1990, AS dan beberapa negara Eropa, menegrahkan kapal-kapal perang lebih
banyak lagi ke kawasan ini.
Setelah kejatuhan Saddam dan penarikan mundur
tentara Irak dari Kuwait, para penguasa Teluk Persia Selatan, yang ketakutan
terhadap agresifisme penguasa diktator Irak, meneken perjanjian kerjasama
militer dengan AS, Inggris dan Perancis, dengan harapan menjamin keamanan
mereka. Dengan demikian, negara-negara imperialis Barat merasa berhak
mengirimkan peralatan perang yang lebih besar dan tentara yang lebih banyak
ke kawasan ini. Selain itu mereka juga mengeruk keuntungan miliaran Dolar,
dengan menjual senjata militer ke negara-negara bagian selatan Teluk Persia,
setelah negara-negara ini mereka pompa dengan isu persaingan senjata.
Sekarang ini, kembali AS menambah jumlah kapal
perangnya di Teluk Persia, dengan menjadikan masalah nuklir Iran sebagai
alasan. Sekitar 140 kapal perang milik negara-negara Barat
ber-"malang-melintang" di perairan ini, dan beberapa waktu lalu, dua kapal
induk AS juga bergabung dengan mereka. Dengan demikian, saat ini Teluk
Persia sudah padat dengan kapal perang besar dan kecil, yang sangat
mengancam keamanan kawasan ini. Dr Ali Khorram, mantan wakil Iran di Komisi
Perlucutan Senjata PBB, di Seminar Keamanan Teluk Persia di Tehran,
berbicara tentang langkah-langkah agitatif militer AS di kawasan ini. Ia
berkata, langkah kapal-kapal perang AS di Selat Hormoz dan tindakan mereka
melintas diantara pulau-pulau Iran di Teluk Persia, berlawanan dengan UU
ketiga kalutan kawasan ini. yangjelas, aksi kapal-kapal perang AS yang
sangat agitatif ini dilakukan dalam rangka menciptakan suasana tegang di
kawasan.
Sementara itu negara-negara Barat, terutama
Washington, berusaha membesar-besarkan perselisihan diantara negara-negara
Teluk Persia, untuk menciptakan alasan bagi kehadirannya di kawasan ini.
Setelah menyingkirkan bahaya Saddam, gedung putih berusaha menampilkan Irak
sebagai sumber ancaman bagi keamanan negara-negara Teluk Persia Selatan.
Pada kenyataannya, Iran selalu membuktikan sikap damai dan niat baiknya
terhadap semua tetangganya. Dengan adanya usaha-usaha kekuatan asing seperti
ini, jelas sekali bahwa keamanan dan stabilitas tidak akan pernah tercipta
di kawasan ini. Sebaliknya, keberadaan mereka ini justru akan menciptakan
krisis keamanan.
Dr Mahmud Ahmadinejad, Presiden RII, dalam
pesannya yang dibacakan di upacara pembukaan Konferensi Keamanan Teluk
Persia, mengatakan, "Transformasi yang berlangsung di kawasan mebuktikan
bahwa kehadiran pasukan militer dari luar kawasan ini, dengan alasan apa
pun, bukan hanya tidak menciptakan stabilitas dan keamanan, bahkan telah
mengakibatkan semakin meningkatnya ketidakamanan, perpecahan dan munculnya
berbagai krisis baru di kawasan ini."
Dr Muhammad Reza Baqiri, Wakil Menlu RII bidang
Arab dan Afrika, dalam Konferensi Keamanan Teluk Persia, berkenaan dengan
penyebab ketidakefektifan sistim keamanan yang ada saat ini di kawasan,
berkata, "Alasan terpenting ketidakefektifan berbagai macam rancangan
keamanan kawasan Teluk Persia ialah bahwa rancangan-rancangan tersebut
diimpor dan dipaksanakan dari luar."
Tidak diragukan bahwa negara-negara asing, yang
mengirimkan peralatan militer dan pasukannya ke Teluk Persia dan
negara-negara sekitarnya, sebelum segala sesuatu, telah memikirkan pemenuhan
segala macam interes mereka. Dan jika terjadi perbenturan antara interes
mereka dan interes rakyat di kawasan ini, mereka pasti akan mendahulukan
interes ilegal mereka. Sing Harrison, Kepala Pusat Woodrow Willson di
Washington, yang hadir dalam Konferensi di Tehran ini, berkata, "Keamanan
Teluk Persia sudah mengalami krisis, karena kekuatan-kekuatan asing yang
berada di sana, labih banyak mengejar kepentingan mereka sendiri, daripada
kepentingan negara-negara pribumi kawasan ini."
Saat ini sistim keamanan Teluk Persia tengah
mengalami krisis serius, berupa kehadiran pasukan militer asing, sehingga
tidak mungkin memberikan keamanan yang kokoh bagi negara-negara di kawasan
ini. Untuk itu, baru-baru ini muncul perhatian untuk menciptakan sistim dan
UU keamanan kolektif, dimana RII merupakan salah satu penyampai usul
tersebut, dan pendukung utamanya. Rancangan keamanan kolektif di Teluk
Persia ditegakkan di atas dasar bahwa delapan negara sekitar Teluk Persia,
memiliki berbagai kesamaan dan berbagai kepentingan yang mendorong mereka
untuk menegakkan stabilitas dan ketenangan dengan saling bekerjasama di
kawasan ini. Dr Manouchehr Mottaki, Menlu RII, dalam Konferensi Keamanan
Teluk Persia, berkenaan dengan masalah ini mengatakan, "stabilitas politik,
keamanan dan kemajuan ekonomi, memiliki pengaruh yang kuat satu dengan yang
lain. Dan melihat adanya ikatan-ikatan kebudayaan, keagamaan, dan posisi
geopolitik negara-negara Teluk Persia, maka keamanan negara-negara kawasan
ini pun saling berkaitan satu dengan yang lain."
Sebagai pengusul dan pendukung sistinm keamanan
kolektif Teluk Persia ini, RII telah mengambil langkah-langkah yang
mendukungnya, termasuk dengan menjalin kerjasama keamanan dengan
negara-negara Teluk Persia Selatan. Selama beberapa bulan lalu, Dr
Ahmadinejad mengunjungi sebagian besar negara bagian selatan Teluk Persia,
dengan tujuan semakin memperkuat persahabatan dan kerjasama diantara mereka.
Diantara pesan beliau kepada Konferensi Keamanan Teluk Persia, ialah
penekanan bahwa RII siap untuk berpartisipasi dalam setiap program
pembangunan sikap saling percaya dan penegakan keamanan di tingkat regional
dan internasional, yang akan menjamin hak-hak setiap negara. RII meyakini
bahwa keamanan dan stabilitas yang kokoh akan tercipta di kawasan Teluk
Persia, hanya dengan kerjasama negara-negara setempat, tanpa campur tangan
negara-negara asing.
|