|
Gerilya Propaganda AS Terhadap Iran
AS kembali berupaya menggalang kemufakatan
regional Timur Tengah untuk mendiskreditkan Republik Islam Iran. Meski
bukan tergolong kebijakan baru bagi AS untuk merangkul negara-negara
Arab Teluk Persia dan Timur Tengah untuk menentang program nuklir Iran,
namun kali ini Gedung Putih juga mencantumkan program dalam rangka
mereduksi peran Iran di Iran di kawasan. Oleh sebab itu, tak lama
setelah dirilisnya statemen bersama Uni Eropa dan Dewan Kerjasama Teluk
Persia (GCC) soal program nuklir Iran, Wakil Presiden AS, Dick Cheney,
langsung memulai lawatannya ke Timur Tengah selama sepekan. Cheney
secara mendadak berkunjung ke Irak dan Uni Emirat Arab, kemudian
melanjutkan lawatannya ke Arab Saudi. Sebelumnya memulai kunjungannya,
Cheney mengemukakan bahwa masalah program nuklir Iran dan prakarsa
perdamaian Arab untuk krisis di Palestina, akan menjadi prioritas dalam
perundingannya dengan para pejabat tinggi Irak, Uni Emirat Arab, Arab
Saudi, Mesir, dan Jordania.
Bersamaan dengan kunjungan Cheney ke
Baghdad, Irak, Presiden AS George W. Bush, dalam konferensi persnya di
Washington menyatakan, kunjungan Cheney dimaksudkan untuk mereduksi
peran Iran di Teluk Persia dan Timur Tengah. Bush juga menegaskan bahwa
Cheney membawa misi untuk memperkuat basis penentangan terhadap Iran.
Dikatakannya pula, AS dan sekutunya di kawasan menyadari dampak buruk
dari penggapaian senjata destruksi massal oleh Iran dan untuk mencegah
hal tersebut Gedung Putih meminta seluruh negara regional bergabung
dengan AS.
Adapun Cheney baru memaparkan tujuannya ke
kawasan seusai lawatannya ke Irak dan Uni Emirat Arab. Pernyataan Cheney
tidak berbeda dengan Bush hanya saja lebih ekstrim bahkan mengancam akan
menyerang Iran. Ancaman serangan itu dikemukakan Cheney di atas dek
sebuah kapal induk AS yang berpatroli di perairan Teluk Persia.
Tampaknya Cheney beranggapan bahwa ancamannya itu akan mengena sasaran
jika dikemukakan disampaikan di atas kapal tempur raksasa. Cara-cara
diplomasi seperti ini memang sudah sejak dahulu digalakkan politisi AS.
Hal serupa juga pernah dilakukan para politisi AS dalam krisis yang
terjadi di Amerika Latin. Cheney mengatakan kehadiran kapal induk AS di
perairan Teluk Persia merupakan pesan tegas bagi sahabat dan musuh AS di
kawasan.
Cheney mengklaim kehadirannya di kawasan
adalah dalam rangka memberikan ketenteraman kepada pihak yang tengah
menderita, melaksanakan keadilan bagi para musuh kebebasan, serta
mencegah penggapaian senjata destruksi massal oleh Iran. Penekanan
Cheney terhadap opsi militer dalam menghentikan program nuklir Iran,
menunjukkan propaganda baru Gedung Putih terhadap Iran. AS kian
meningkatkan gerilya propagandanya menjelang berakhirnya ultimatum dalam
resolusi Dewan Keamanan PBB nomor 1747 agar Teheran menghentikan
aktivitas pengayaan uraniumnya. Kini bukan hanya program nuklir saja
yang menjadi acuan AS melainkan kebijakan luar negeri Iran secara
keseluruhan untuk mengupayakan resolusi yang lebih ekstrim lagi terhadap
Iran.
Sebelum Cheney, sejumlah pejabat tinggi
Gedung Putih lainnya termasuk Menlu AS, Condoleezza Rice, juga berupaya
merangkul para pemimpin negara-negara Teluk Persia dan Timur Tengah
untuk mendukung politik AS terhadap Iran. Namun upaya tersebut kandas
karena negara-negara regional justeru mengkritik kebijakan AS di kawasan.
Bagi negara-negara Arab, pendudukan atas Irak dan konflik di Palestina
merupakan jantung krisis Timur Tengah. Menurut mereka, masalah yang
harus diwaspadai adalah upaya AS dan Rezim Zionis Israel untuk menggelar
perang baru di kawasan. Faktanya adalah bahwa AS gagal mencapai
targetnya di Irak sementara posisi pasukan koalisi pimpinan AS di
Afghanistan juga dinilai sangat rentan. Eskalasi aksi teror di Irak dan
bangkitnya kembali kekuatan Taleban di sejumlah wilayah Afghanistan,
merupakan sinyalemen kuat kegagalan militerismeAS di kawasan.
Rangkaian kegagalan AS di Timur Tengah
ditambah panjang dengan kekalahan Rezim Zionis dalam menghadapi serangan
para pejuang Lebanon. Para pengamat menilai, kemenangan gerakan
Hezbollah Lebanon dalam pertempuran selama 33 hari menghadapi agresi
militer Israel, sebagai kekalahan AS. Alasannya, selain mendukung Rezim
Zionis Israel, seperti yang dikemukakan Sekjen Hezbollah, Sayyid Hasan
Nasrullah, AS juga merupakan arsitek perang tersebut. Adapun propaganda
baru AS untuk mengesankan bahaya program nuklir dan kebijakan luar
negeri Iran, adalah untuk menutupi kegagalannya di kawasan dan
mengurangi kritikan terhadap kinerja pemerintahan Bush.
Dalam hal ini, AS mengemukakan klaim-klaim
infaktual bahwa Iran mencampuri urusan dalam negeri Irak. Sebulan
sebelum kunjungan Cheney ke Timur Tengah, Menteri Pertahanan AS, Robert
Gates, awal April lalu berkunjung ke kawasan dan berunding dengan
politisi Rezim Zionis Israel, Mesir, dan Jordania. Dikatakannya,
perundingan keamanan dengan dengan Jordania, Mesir, dan Israel,
difokuskan untuk menekan peningkatan peran regional Iran dan memonitor
aktivitas gerakan Hezbollah. Jaringan pemberitaan BBC 18 April 2007
melaporkan bahwa Raja Jordania mengharapkan dukungan AS terhadap
prakarsa perdamaian Arab untuk Palestina. Namun Robert Gates menyatakan
bahwa dukungan negaranya terhadap prakarsa perdamaian Arab sangat
bergantung pada dukungan Arab terhadap kebijakan regional AS.
AS sangat berharap klaim-klaim yang tak
pernah terbukti kebenarannya itu dapat menyudutkan Iran. Namun
masalahnya transformasi di Teluk Persia dan Timur Tengah sama sekali
tidak berpihak pada AS. Gelombang kebangkitan Islam juga telah melampaui
kawasan Timur Tengah. Pengalaman di Vietnam, Somalia, dan Afghanistan
menjunjukkan bahwa kehadiran pasukan AS tidak menghasilkan apapun
kecuali instabilitas dan ketidakamanan.
|