|
SCO, Aliansi Tandingan bagi Gedung Putih Di Asia Tengah
Asia
Tengah merupakan kawasan yang strategis, di mana berbagai peradaban
dunia hidup dan berkembang di dalamnya, baik Islam, Kristen Hindu,
maupun Konfusianis. Sebagaimana juga kawasan lain, kawasan Asia Tengah
menjadi incaran AS dan kekuatan-kekuatan imperialis dunia. Namun, dengan
munculnya Organisasi Kerjasama Shanghai (SCO), usaha AS untuk mendominasi kawasan ini telah
menghadapi halangan.
Dalam sidangnya bulan Juni 2006
lalu, Organisasi kerjasama Shanghai (SCO) mengambil langkah
kontroversial dengan mengundang Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad untuk
menghadiri sidang tersebut. Di saat banyak negara besar dunia menuduh
Iran sebagai negara sponsor terorisme, undangan dari SCO kepada Presiden
Iran justru membuktikan bahwa bagi negara-negara lain, Iran justru
negara cinta damai dan penentang terorisme. Terkait dengan hal ini,
Menlu Cina Li Jaoxing menyatakan bahwa salah satu tujuan pembentukan SCO
adalah memberantas terorisme, dan Iran diundang ke forum ini karena
termasuk ke dalam barisan negara penentang terorisme.
Setelah peristiwa 11 September,
kekuatan adidaya dunia terutama AS, melakukan strategi masif untuk
menguasai kawasan Asia Tengah. Pada saat yang sama, AS dan
sekutu-sekutunya tengah melancarkan Program Timur Tengah Raya. Dalam
menghadapi situasi seperti ini, Cina sebagai kekuatan ekonomi terbesar
di kawasan mencoba untuk menjalin kerjasama strategis dengan Rusia.
Namun, meski terlihat berseberangan dengan AS, sesungguhnya interaksi
Cina-AS di kawasan Asia Tengah merupakan interaksi yang asimetris,
kompleks, dan terbuka. Meskipun Cina dan AS berkompetisi, namun kompromi
dan kerjasama juga terus dilakukan di antara keduanya.
Gaya politik AS dalam mencapai
tujuan-tujuannya di kawasan adalah dengan unilateralisme dan militerisme.
Sebaliknya Cina bermain hati-hati dengan alat diplomasi, ekonom, dan
budaya dalam konteks multilateral dan bilateral. Dengan kata lain,
Beijing menggunakan kekuatan lembut sedangkan Washington memakai
kekuatan keras di Asia Tengah. Upaya Cina untuk mendirikan Organisasi
Kerjasama Shanghai (SCO) bisa dibilang sebagai langkah diplomasi lembut
Cina dalam menggalang kerjasama kawasan menghadapi hegemoni AS. Tak
heran bila AS sangat mengkhawatirkan kemajuan ini.
Banyak pengamat politik menilai,
melalui SCO, Cina diperkirakan bisa menetralisir pengaruh AS di kawasan.
Organisasi ini berdiri tahun 1996 dan pertama kali dianggotai oleh Cina,
Rusia, Kazakstan, Kyrgyzstan, dan Tajikistan. Tahun 2001, anggotanya
bertambah dengan bergabungnya Uzbekistan. Negara-negara anggota SCO
memiliki wilayah lebih dari
30 juta kilometer persegi atau sekitar tiga perlima wilayah Asia Tengah,
dengan populasi lebih dari seribu empat ratus juta orang. Tujuan
didirikannya SCO adalah memperkuat rasa saling percaya di antara
negara-negara anggota, membangun kerjasama yang
efektif di bidang politik, ekonomi, dan perdagangan, serta ilmu
pengetahuan dan teknologi.
SCO bahkan berhasil terus eksis
pada era serangan pre-emptive yang dilancarkan AS pasca 11 September.
Bahkan kini, bidang perhatiannya telah semakin berkembang, yaitu ke arah
ekonomi dan budaya. SCO juga memiliki anggota pengamat, yaitu India,
Pakistan, Iran, dan Mongolia. Bila jumlah penduduk semua negara anggota
itu dihitung, SCO bisa disebut sebagai organisasi regional paling kuat
di dunia.
Melihat kepada sepak terjangnya,
SCO bisa dipandang sebagai aliansi tandingan bagi Gedung Putih di
kawasan Asia Tengah. Untuk menghalangi pengaruh militer AS di kawasan,
pada Juli 2005 SCO telah mendesak kekuatan NATO di Afganistan agar
menetapkan jadwal keluar NATO dari Kyrgyzstan dan Uzbekistan. Sejak itu,
tentara AS telah meninggalkan markas militernya di Uzbekistan dan
berusaha menjalin kerjasama bilateral dengan Kyrgyzstan. SCO bahkan
berhasil unjuk gigi dengan mengadakan bebarapa putaran latihan bersama
militer, yaitu tahun 2003 di Kazakhstan, tahun 2005, di Cina dan 2007 di
Rusia. Uniknya, latihan militer bersama ini juga diberi nama anti
terorisme. Hal ini seolah merupakan tandingan bagi langkah-langkah
militerisasi Washington di berbagai penjuru dunia yang berkedok
pemberantasan terorisme.
Kekuatan ekonomi Cina bisa disebut
sebagai motor Organisasi Kerjasama Shanghai (SCO). Tahun lalu, Cina
telah memberikan bantuan 900 juta dolar bagi negara-negara anggota untuk
digunakan dalam pembangunan infrastruktur. Cina juga menjalin kerjasama
dengan Kazakhstan untuk membuka jalur pipa minyak dengan kapasitas
200.000 barrel per hari. Kekuatan Cina di kawasan merupakan tantangan
tersendiri bagi Gedung Putih. Gaya politik AS di kawasan adalah
memecah-belah negara-negara dengan mengelompokkan ‘negara sekutu’ dan
‘negara musuh’. Namun, Cina lebih menyukai kerjasama yang menguntungkan
dengan banyak negara. Hal ini terlihat pada kebijakan Cina untuk
mendukung program nuklir damai Iran. Cina dan Iran juga menjalin
kerjasama di berbagai bidang yang sangat menguntungkan bagi kedua pihak,
misalnya dalam proyek minyak senilai 200 juta dolar.
Dalam sidang SCO Juni lalu,
kekompakan anggota organisasi ini juga semakin meningkat. Pemimpin
negara-negara anggota SCO menyatakan tekad meningkatkan kerja sama
ekonomi dan keamanan. Kesepakatan dicapai setelah Presiden Ahmadinejad
dalam pidatonya pada sidang tersebut, mengingatkan negara-negara anggota
forum agar mewaspadai kekuatan-kekuatan asing yang berambisi mendominasi
mereka. Organisasi ini kini memiliki keyakinan kuat bahwa mereka bisa
memainkan peran yang penting dalam tatanan politik regional maupun
global.
|