Perspektif    

   Januari 2007

[ Index Politik ] [[ Home ]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SCO, Aliansi Tandingan bagi Gedung Putih Di Asia Tengah

Asia Tengah merupakan kawasan yang strategis, di mana berbagai peradaban dunia hidup dan berkembang di dalamnya, baik Islam, Kristen Hindu, maupun Konfusianis. Sebagaimana juga kawasan lain, kawasan Asia Tengah menjadi incaran AS dan kekuatan-kekuatan imperialis dunia. Namun, dengan munculnya Organisasi Kerjasama Shanghai (SCO), usaha AS untuk mendominasi kawasan ini telah menghadapi halangan.

Dalam sidangnya bulan Juni 2006 lalu, Organisasi kerjasama Shanghai (SCO) mengambil langkah kontroversial dengan mengundang Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad untuk menghadiri sidang tersebut. Di saat banyak negara besar dunia menuduh Iran sebagai negara sponsor terorisme, undangan dari SCO kepada Presiden Iran justru membuktikan bahwa bagi negara-negara lain, Iran justru negara cinta damai dan penentang terorisme. Terkait dengan hal ini, Menlu Cina Li Jaoxing menyatakan bahwa salah satu tujuan pembentukan SCO adalah memberantas terorisme, dan Iran diundang ke forum ini karena termasuk ke dalam barisan negara penentang terorisme.

Setelah peristiwa 11 September, kekuatan adidaya dunia terutama AS, melakukan strategi masif untuk menguasai kawasan Asia Tengah. Pada saat yang sama, AS dan sekutu-sekutunya tengah melancarkan Program Timur Tengah Raya. Dalam menghadapi situasi seperti ini, Cina sebagai kekuatan ekonomi terbesar di kawasan mencoba untuk menjalin kerjasama strategis dengan Rusia. Namun, meski terlihat berseberangan dengan AS, sesungguhnya interaksi Cina-AS di kawasan Asia Tengah merupakan interaksi yang asimetris, kompleks, dan terbuka. Meskipun Cina dan AS berkompetisi, namun kompromi dan kerjasama juga terus dilakukan di antara keduanya.

Gaya politik AS dalam mencapai tujuan-tujuannya di kawasan adalah dengan unilateralisme dan militerisme. Sebaliknya Cina bermain hati-hati dengan alat diplomasi, ekonom, dan budaya dalam konteks multilateral dan bilateral.  Dengan kata lain, Beijing menggunakan kekuatan lembut sedangkan Washington memakai kekuatan keras di Asia Tengah. Upaya Cina untuk mendirikan Organisasi Kerjasama Shanghai (SCO) bisa dibilang sebagai langkah diplomasi lembut Cina dalam menggalang kerjasama kawasan menghadapi hegemoni AS. Tak heran bila AS sangat mengkhawatirkan kemajuan ini.

Banyak pengamat politik menilai, melalui SCO, Cina diperkirakan bisa menetralisir pengaruh AS di kawasan. Organisasi ini berdiri tahun 1996 dan pertama kali dianggotai oleh Cina, Rusia, Kazakstan, Kyrgyzstan, dan Tajikistan. Tahun 2001, anggotanya bertambah dengan bergabungnya Uzbekistan. Negara-negara anggota SCO memiliki wilayah lebih dari 30 juta kilometer persegi atau sekitar tiga perlima wilayah Asia Tengah, dengan populasi lebih dari seribu empat ratus juta orang. Tujuan didirikannya SCO adalah memperkuat rasa saling percaya di antara negara-negara anggota, membangun kerjasama yang efektif di bidang politik, ekonomi, dan perdagangan, serta ilmu pengetahuan dan teknologi.

SCO bahkan berhasil terus eksis pada era serangan pre-emptive yang dilancarkan AS pasca 11 September. Bahkan kini, bidang perhatiannya telah semakin berkembang, yaitu ke arah ekonomi dan budaya. SCO juga memiliki anggota pengamat, yaitu India, Pakistan, Iran, dan Mongolia. Bila jumlah penduduk semua negara anggota itu dihitung, SCO bisa disebut sebagai organisasi regional paling kuat di dunia.

Melihat kepada sepak terjangnya, SCO bisa dipandang sebagai aliansi tandingan bagi Gedung Putih di kawasan Asia Tengah. Untuk menghalangi pengaruh militer AS di kawasan, pada Juli 2005 SCO telah mendesak kekuatan NATO di Afganistan agar menetapkan jadwal keluar NATO dari Kyrgyzstan dan Uzbekistan. Sejak itu, tentara AS telah meninggalkan markas militernya di Uzbekistan dan berusaha menjalin kerjasama bilateral dengan Kyrgyzstan. SCO bahkan berhasil unjuk gigi dengan mengadakan bebarapa putaran latihan bersama militer, yaitu tahun 2003 di Kazakhstan, tahun 2005, di Cina dan 2007 di Rusia. Uniknya, latihan militer bersama ini juga diberi nama anti terorisme. Hal ini seolah merupakan tandingan bagi langkah-langkah militerisasi Washington di berbagai penjuru dunia yang berkedok pemberantasan terorisme.

Kekuatan ekonomi Cina bisa disebut sebagai motor Organisasi Kerjasama Shanghai (SCO). Tahun lalu, Cina telah memberikan bantuan 900 juta dolar bagi negara-negara anggota untuk digunakan dalam pembangunan infrastruktur. Cina juga menjalin kerjasama dengan Kazakhstan untuk membuka jalur pipa minyak dengan kapasitas 200.000 barrel per hari. Kekuatan Cina di kawasan merupakan tantangan tersendiri bagi Gedung Putih. Gaya politik AS di kawasan adalah memecah-belah negara-negara dengan mengelompokkan ‘negara sekutu’ dan ‘negara musuh’. Namun, Cina lebih menyukai kerjasama yang menguntungkan dengan banyak negara. Hal ini terlihat pada kebijakan Cina untuk mendukung program nuklir damai Iran. Cina dan Iran juga menjalin kerjasama di berbagai bidang yang sangat menguntungkan bagi kedua pihak, misalnya dalam proyek minyak senilai 200 juta dolar.

Dalam sidang SCO Juni lalu, kekompakan anggota organisasi ini juga semakin meningkat. Pemimpin negara-negara anggota SCO menyatakan tekad meningkatkan kerja sama ekonomi dan keamanan. Kesepakatan dicapai setelah Presiden Ahmadinejad dalam pidatonya pada sidang tersebut, mengingatkan negara-negara anggota forum agar mewaspadai kekuatan-kekuatan asing yang berambisi mendominasi mereka. Organisasi ini kini memiliki keyakinan kuat bahwa mereka bisa memainkan peran yang penting dalam tatanan politik regional maupun global.

 

 

 

[ Index Perspektif ]   [ Home ]