|
Eksekusi Saddam, Nasib Akhir Sang
Diktator
Di hari-hari terakhir tahun lalu, dunia
telah terbebas dari seorang diktator penumpah darah dan pengobar perang.
Saddam Husein, bekas penguasa Irak, yang memenuhi masa-masa kekuasannya
dengan kejahatan-kejahatan besar, setelah menjalani proses pengadilan
yang bertele-tele, akhirnya di jatuhi vonis mati di tiang gantung, yang
dilaksanakan pada pagi dini hari tanggal 30 Desember.
Saddam lahir ke dunia tahun 1937, dan sejak
masa kecil sudah terbiasa dengan kekerasan. Pada tahun 1957, Saddam
bergabung ke Partai Ba'ats, yang kemudian merancang dan melakukan teror
terhadap Abdulkarim Qasim pada tahun 1959, pemimpin Irak saat itu. Akan
tetapi aksi teror ini mengalami kegagalan. Menyusul kudeta Partai Ba'ats
tahun 1968, Saddam naik sebagai wakil pertama Ahmad Hasan Al-Bakr,
Presiden Irak saat itu. Selama 11 tahun duduk sebagai wakil presiden,
Saddam telah menunjukkan kemampuannya dalam melancarkan pembantaian,
pembunuhan, dan penciptaan suasana kritis di Irak. Akhirnya, pada tahun
1979, Saddam berhasil menyingkirkan Hasan Al-Bakr, dan duduk sebagai
gantinya.
Begitu memegang tampuk kekuasaan sebagai
presiden Irak, Saddam segera dan dengan sangat hebat, menyingkirkan para
pesaingnya dan melakukan pembersihan Partai Ba'ats di negara ini. Saddam
membunuhi sejumlahbesar anggota partai ini yang tidak ia percaya dan
siapa pun yang tidak menyetujui ambisi kekuasaannya. Dalam rangka
meyakinkan diri bahwa dialah satu-satunya penguasa dan pemerintah di
Irak, maka selain jabatan presiden, Saddam juga menguasai jabatan
sebagai pemimpin Partai Ba'ats, Panglima Militer, Ketua lembaga-lembaga
intelijen, dan jabatan-jabatan penting lainnya. Dengan demikian
tampillah Saddam sebagai diktator yang paling lengkap dan tanpa saingan
di Irak; yang siap setiap saat untuk menciptakan tragedi kemanusiaan
sebesar mungkin. Karena ketika kekuasaan tanpa batas dan tanpa kontrol
berada di tangan seorang lalim, maka ia hanya akan melahirkan kejahatan
dan tragedi mengerikan.
Para pemimpin diktator dan penumpah darah,
bukan hanya tidak memiliki tempat di tengah masyarakat, bahkan mereka
memandang masyarakatnya sendiri sebagai musuh. Saddam pun memiliki watak
seperti ini. Oleh karena itu, ia hanya menaruh kepercayaan kepada
sejumlah kecil orang-orang di sekitarnya. Di sepanjang kekuasaannya yang
hampir seperempat abad, sebagai raja di raja Irak, Saddam juga
menunjukkan bahwa ia sama sekali tidak menaruh kepercayaan dan
penghormatan kepada para pejabat tinggi negara ini. Dalam salah satu
sidang kabinet pemerintahan, Saddam menembak mati salah seorang
menterinya karena sang menteri ini mengungkapkan sejumlah hakekat yang
tidak disukai oleh Sang Diktator. Bahkan para menantu Saddam pun tidak
juga selamat dari kekejamannya, dan mereka dibunuh oleh para algojo
suruhan Saddam. Mahir Abdurrasyid, adalah salah seorang komandan tinggi
militer Irak, dan salah seorang pembantu Saddam yang terkenal, dalam
agresi rezim ini ke Iran. Akan tetapi, seusai perang, hanya karena
khawatir pejabat militer terkenal ini akan merebut kekuasaannya, Saddam
mengeluarkan perintah pembunuhannya.
Ketika kita ketahui Saddam sedemikian
bengisnya dalam memperlakukan orang-orang dekat bahkan keluarganya
sendiri, maka dapat kita bayangkan bagaimana perlakuannya terhadap
rakyat Irak, terutama mereka yang membencinya dan menentang kekuasaannya.
Sesungguhnyalah, Saddam merupakan manifestasi kekejaman dan kebengisan
di sepanjang masa kekuasaannya. Dalam pandangan Saddam, rakyat adalah
orang-orang yang harus sepenuhnya taat kepadanya, atau jika tidak,
mereka harus dienyahkan dari muka bumi ini. Menghadapi pemimpin diktator
seperti ini, rakyat Irak berkali-kali mengadakan perlawanan. Warga Irak
suku Kurdi, baik yang bermadzhab Sunni maupun Syiah, demikian pula warga
Syiah selain Kurdi yang secara keseluruhan merupakan mayoritas mutlak
penduduk Irak, adalah pihak yang paling sering berurusan dengan Saddam.
Pada dasarnya Saddam adalah orang yang
menentang agama. Ia adalah pemimpin Partai Ba'ats yang beraliran komunis
dan sangat anti terhadap agama apa pun. Untuk itulah bekas diktator Irak
ini bersikap sangat memusuhi ulama dan pemuka agama. Ia banyak menangkap,
memenjarakan, menyiksa dan membunuh ulama. Diantara mereka itu dapat
kami sebutkan, Ayatullah Sayid Muhammad Baqir Shadr, Ayatullah Izzawi,
Ayatullah Burujerdi, Ayatullah Shadr dan masih banyak lagi. Perlu
diketahui bahwa sedemikian bencinya Saddam terhadap Sayid Muhammad Baqir
Shadr, sehingga setelah menyiksanya sedemikian hebat, Saddam sendiri
yang membunuh tokoh besar dunia Islam ini. Diantara bukti lain kebencian
Saddam terhadap agama ialah tekanan yang ia timpakan kepada semua
madrasah atau pesantren dan sekolah agama di kota Najaf; sehingga
pusat-pusat pendidikan agama ini mengalami kondisi yang sangat
memprihatinkan.
Kejahatan Saddam juga tidak terbatas pada
bangsa Irak. Dengan perintahnyalah maka Angkatan Bersenjata Irak
mengagresi dua negara muslim tetangganya, yaitu Iran dan Kuwait. Dalam
peperangan selama 8 tahun akibat agresi Irak ke Iran, yang dimulai dari
tahun 1980, sejumlah besar rakyat kedua negara ini menjadi korban. Dalam
perang ini Saddam melakukan berbagai macam kejahatan perang. Ia bahkan
menyerang Kereta Api dan pesawat sipil, dan secara terus menerus
menggempur kota-kota dengan bom dan rudal-rudal. Yang paling penting
dari semua itu ialah bahwa rezim Saddam menggunakan senjata-senjata
kimia yang diketahui merupakan bantuan dari negara-negara Barat. Dengan
senjata-senjata terlarang ini, ia menyerang bukan hanya tentara militer
Iran, tapi warga sipil Iran juga warga sipil Irak sendiri.
Pada tahun 1987, dengan perintah diktator
kejam tak berperikemanusiaan ini, tentara Irak menyerang kota Sardasyt,
di bagian barat Iran, dengan bom-bom kimia. Serangan kejam ini
mengakibatkan syahidnya ratusan warga sipil dan tak kurang pula yang
cidera akibat radiasi dan tercemar oleh bahan-bahan kimia. Pada bulan
maret tahunberikutnya, Saddam kembali mengeluarkan perintah serangan
kimia. Kali ini sebuah kota di Irak, yaitu Halabche, menjadi sasaran
kebengisan Fir'aun Irak ini, dan lebih dari 5000 orang tak berdosa gugur
syahid dengan sangat mengenaskan. Hingga kini pun, masih ada puluhan
ribu orang dari rakyat Irak dan Iran yang menderita berbagai penyakit
tak tersembuhkan, dan menanti ajal, akibat senjata-senjata pembunuh
masal ini.
Ajaran Al-Quran Al-Karim dengan tegas
mengatakan bahwa jika seseorang membunuh satu orang lain tanpa alasan
yang membenarkannya, maka pembunuh tersebut harus diqisas, agar menjadi
pelajaran bagi orang lain, dalam rangka menciptakan keamanan di tengah
masyarakat. Dalam Ayat 179 Surat Al-Baqarah, Allah swt berfirman, "Dan
terdapat kehidupan bagi kalian dalam qisas, hai orang-orang yang berakal,
agar kalian bertaqwa." Hukuman mati adalah hukum yang sangat kecil bagi
Saddam jika dibanding dengan kejahatan-kejahatannya yang sangat
mengerikan, yang telah membunuh ratusan ribu manusia tak berdosa, dan
dengan cara yang rata-rata sangat kejam dan bengis. Tak diragukan, di
dunia akherat pun, telah menunggunya serangkaian hukuman yang berat dan
pedih, yang setimpal bahkan lebih dahsyat, karena siksa akherat bersifat
kekal bagi manusia-manusia durjana seperti Saddam.
Saddam adalah seorang yang amat sombong dan
gila kekuasaan. Ia memiliki kekuasaan yang sedemikian besar, sehingga
dapat seenaknya membunuh dan menyiksa siapa pun yang ia kehendaki.
Mungkin, karena melihat bahwa sedemikian kuat kekuasaan yang ia miliki,
sehingga ia yakin bahwa ia tidak akan mungkin jatuh, dan tak ada siapa
pun yang akan mampu menuntutnya untuk mempertanggungjawabkan semua
kejahatannya. Akan tetapi telah kita saksikan, bahwa Allah swt,
berdasarkan sunnah-Nya yang tak pernah berubah, membiarkannya untuk
sementara waktu hingga mencapai puncak kekuasaan tertinggi, lalu secara
mendadak menjatuhkannya dari puncak ketinggian ke puncak kehinaan.
Tentu saja rakyat Irak telah membuktikan
bahwa mereka memberikan kesempatan kepada penguasa tiran ini untuk
membela diri di pengadilan. Akan tetapi kejahatannya yang sedemikian
besar dan nyata, sama sekali tidak memberi sedikit pun peluang baginya
untuk membela diri. Pada akhirnya, berdasarkan vonis pengadilan, sang
raja diraja Irak ini mati tercekik oleh tali tiang gantungan. Akibat
politik dan kekuasaannya yang despotik ini pula, kini Irak berada dalam
cengkeram an penjajah asing, dan rakyat pun masih saja menanggung
berbagai penderitaan. Akan tetapi, naiknya Saddam hingga ke puncak
kekuasaan, dan kejatuhannya ke dasar kehinaan, telah memberikan
pelajaran kepada para diktator, pendamba kekuasaan, pengobar perang,
yang merasa akan senantiasa berkuasa dan berada dan berada di puncak
kekuatan. Janji Allah mengatakan bahwa kekuasaan para pemimpin zalim
tidak akan bertahan lama.
وَسَيَعْلَمُ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَيَّ مُنقَلَبٍ
يَنقَلِبُونَ
"Dan orang-orang yang zalim akan mengetahui
ke mana mereka akan kembali"
(Asy-Syu'ara: 227)
***
Saddam Husein, diktator
Irak telah menemui ajalnya. Namun hukuman itu dijatuhkan hanya untuk
kasus pembantaian 148 warga desa Ad Dujail. Padahal kejahatan itu masih
tergolong relatif ringan dibandingkan dengan kejahatan Saddam lainnya.
Berdasarkan ketentuan yang ada, Saddam harus dieksekusi satu bulan
setelah hukumannya ditetapkan pengadilan. Namun, banyak tokoh politis
dan media massa yang berpendapat bahwa pengadilan terhadap penjahat
besar seperti Saddam tidak boleh berakhir hanya pada satu kasus sepele
saja. Karena Saddam melakukan berbagai pembantaian yang setiap satu
peristiwanya menyimpan banyak rahasia yang harus diungkap.
Ketika
Saddam dieksekusi, pengadilan terhadap kasus operasi Anfal tengah
berlangsung. Dalam operasi yang terjadi pada tahun 1988, militer Irak
atas instruksi Saddam membantai tak kurang dari 180 ribu warga Kurdi.
Proses pengadilan pun berjalan tanpa kehadiran Saddam, dan seluruh
tuduhan terhadapnya secara otomatis tidak diproses. Padahal masih banyak
lagi kekejaman Saddam di berbagai wilayah Irak seperti di wilayah utara
dan selatan pada tahun 1991. Bahkan Saddam belum sempat memberikan
keterangan tentang aksi penyiksaan dan pembunuhan para tahanan di
penjara-penjara menyeramkan Rezim Baath, salah satu di antaranya adalah
penjara Abu Ghuraib. Meski sudah ada upaya dari pemerintah Iran dan
Kuwait, pengadilan Irak juga tidak membuka berkas aneksasi Rezim Baath
ke dua negara tetangganya itu. Padahal di balik dua peperangan tersebut
khususnya dalam perang Iran-Irak yang berlangsung selama delapan tahun
itu, tersimpan banyak rahasia yang akan terungkap dari mulut Saddam.
Banyak
pengamat yang berpendapat bahwa salah satu alasan percepatan eksekusi
Saddam, adalah guna mencegah terkuaknya kerjasama negara-negara Barat
dengan Saddam dalam peperangan melawan Iran. Seorang penulis dan
jurnalis terkemuka Inggris, Robert Fisk, kepada koran Independent
menyebutkan pertemuan antara pejabat tinggi AS dan Saddam pasca perang
Iran-Irak tahun 1980. Ditambahkannya bahwa AS menyediakan
senjata-senjata kimia untuk militer Irak dan Gedung Putih mengetahui
penggunaan jenis senjata tersebut terhadap warga Iran. Fisk menegaskan
bahwa eksekusi Saddam telah mengamankan seluruh rahasia kebobrokan AS.
Bantuan militer secara diam-diam, tak logis, dan untuk jangka waktu yang
lama dari AS dan Inggris kepada Saddam, adalah dongeng menyeramkan yang
tidak boleh diketahui masyarakat dunia.
Oleh
sebab itu, Gedung Putih merasa lega setelah Saddam dieksekusi. Mantan
Penasehat Keamanan Nasional AS pada era pemerintahan Jimmy Carter, dalam
wawancaranya dengan CNN menyatakan, sebelum dieksekusi, Saddam berada di
bawah pengawasan militer AS. Dan ini berarti AS bertanggung jawab atas
eksekusi Saddam. Koran Humanite terbitan Perancis menulis, tidak
diragukan lagi bahwa kekhawatiran AS atas keterlibatannya dalam berbagai
kejahatan Saddam merupakan faktor utama percepatan eksekusi Saddam.
Koran tadi juga menyebutkan bahwa AS dan sejumlah negara Eropa
bertanggung jawab atas penggunaan dan pengembangan senjata kimia dan
biologi oleh Rezim Baath terhadap warga Iran dan Irak. Banyak rahasia
besar yang dibawa Saddam ke liang kubur. Sebenarnya, jika Saddam
terpaksa menjawab seluruh tuduhan atas tindak kejahatan yang
dilakukannya, maka pengadilan Irak akan menjadi ajang peradilan
negara-negara Barat atas dukungan mereka terhadap Rezim Saddam. Karena
Barat pula yang mencegah ratifikasi resolusi anti-Saddam oleh Dewan
Keamanan PBB.
Hal lain yang menarik
yang dapat kita cermati adalah reaksi yang muncul pasca eksekusi Saddam.
Banyak tanggapan yang muncul khususnya dari warga Irak, Iran, dan Kuwait
yang merupakan korban kekejaman Saddam. Sementara sejumlah negara dan
kelompok Arab menilai negatif eksekusi terhadap mantan diktator Irak
tersebut. Penilaian logis terhadap seseorang harus didasarkan pada
perilaku lahiriahnya, dan apa yang dilakukan oleh Saddam menunjukkan
bahwa ia memang layak mendapat ganjaran setimpal. Namun, sejumlah negara
Barat menentang eksekusi Saddam karena mereka pada dasarnya menentang
vonis mati.
Sayang
sekali, sejumlah negara dan media massa Arab memanfaatkan eksekusi
Saddam sebagai senjata untuk menyulut perpecahan di antara kaum Syiah
dan Sunni. Propaganda ini secara tidak langsung disuntikkan oleh pihak
Barat kepada media massa Arab. Dalam skenario ini, Barat menampilkan
Saddam sebagai sosok religius Sunni yang tewas di tangan orang-orang
Syiah. Padahal, yang menjadi korban kejahatannya bukan hanya orang Syiah
melainkan pihak manapun yang menentang kebijakan ambisiusnya. Televisi
AlJazeera misalnya, berupaya menampilkan Saddam sebagai sosok pahlawan.
Bahkan televisi yang berbasis di Qatar itu, menyetarakan kematian Saddam
dengan kesyahidan Isa Masih dan Imam Husain as.
Yang lebih mengejutkan
adalah pernyataan sejumlah negara Arab yang sangat menyayangkan eksekusi
Saddam. Padahal negara-negara tersebut pada era kekuasaan Saddam, merasa
tidak aman dari kebijakan konfrontatif Rezim Baath. Bahkan tak sedikit
negara Arab yang meminta bantuan dari AS agar tak diusik Saddam. Namun
yang pasti, penentangan tersebut tidak akan dapat menutupi seluruh
kebiadaban Saddam di masa lalu. Poin penting dari fenomena tadi adalah
keseriusan AS dalam upayanya menciptakan perpecahan dan konflik antara
kaum Syiah dan Sunni di timur Tengah. Dalam hal ini, Washington berupaya
mengesankan bahwa berkuasanya kaum Syiah di Lebanon, Bahrain, dan Irak,
merupakan ancaman bagi kaum Sunni.
Kembali
pada eksekusi Saddam, kini muncul pertanyaan apakah yang akan terjadi di
Irak pasca hukuman mati terhadap mantan diktator negara ini? Sejumlah
pengamat berpendapat bahwa eksekusi Saddam akan mencuatkan amarah
kelompok ekstrim dan teroris. Namun tak sedikit pula pengamat yang
berpendapat bahwa instabilitas di Irak akibat eksekusi Saddam tidak akan
berlangsung lama. Ada yang berpendapat bahwa pasca eksekusi Saddam,
kondisi di Irak akan relatif aman dan hal ini sudah terbukti. Namun, hal
ini bukan berarti AS akan menghentikan seluruh propagandanya.
|