|
Saddam dan Amerika
Setelah
eksekusi terhadap Saddam, banyak media yang memposisikan Saddam sebagai
pahlawan, dengan alasan bahwa dia telah berjuang melawan agresi Amerika.
Berbagai media juga merilis surat terakhir Saddam yang mengaku dirinya
adalah syuhada yang berkorban demi rakyat Irak. Namun, bila kita dengan
cermat meneliti segala sepak terjang Saddam selama hidup, kita tidak
akan tertipu oleh propaganda seperti itu. Bahkan, kita akan menemukan
justru Saddam dan Amerika pernah menjadi dua sekutu dekat yang saling
membantu dalam berbagai kejahatan perang dan kejahatan kemanusiaan.
Saddam Husein lahir pada tahun
1937di Tikrit. Pada usia 20 tahun ia terjun dalam dunia politik dengan
bergabung dalam Partai Baath. Saddam memainkan peran penting dalam
kudeta yang dilakukan Partai Baath terhadap Presiden Irak saat itu,
Abdul Rahman Arif pada tahun 1968. Kudeta tersebut dipimpin oleh ketua
Partai Baath, Hasan Al Bakr, yang setelah kudeta mengangkat diri sebagai
presiden. Saddam pun diangkat sebagai wakil Hasan Al Bakr dan menduduki
posisi itu selama 15 tahun. Selama itu pula, Saddam melakukan berbagai
aksi represif terhadap rakyat Irak. Setelah semakin berkuasa, Sadam pun
menyingkirkan Hasan Al Bakr dan merebut posisi sebagai presiden dan
pemimpin Partai Baath.
Tak lama setelah Sadam menjadi
pemimpin partai Baath, dia melakukan pembersihan besar-besaran dalam
tubuh partai. Para penentangnya dibunuh. Para ulama penentang Saddam
juga dibunuh atau disiksa dalam penjara. Selama 35 tahun menjadi
pemimpin Partai Baath, dia melakukan berbagai pembunuhan massal terhadap
rakyat Kurdi di utara Irak dan rakyat Syiah di selatan Irak.
Sebagian sejarawan meyakini, sejak
sebelum kudeta tahun 1968, sesungguhnya Saddam sudah menjalin hubungan
dengan AS. Menurut mereka, Saddam setelah pembunuhan terhadap Abdul
Karim Qasim tahun 1959 melarikan ke Mesir dan di negara ini dia menjalin
hubungan dengan agen-agen CIA. Empat tahun kemudian, Saddam pun kembali
ke Irak.
Pelayanan penuh Saddam terhadap
Gedung Putih mulai terlihat mencolok di hadapan opini umum sejak dia
menjadi wakil presiden Hasan Al Bakr. Setelah dia menyingkirkan Hasan Al
Bakr yang tak lain sepupunya sendiri, dan meraih tampuk kepresidenan,
Saddam semakin meningkatkan kerjasamanya dengan Gedung Putih. Pelayanan
terbesar yang dilakukan Saddam terhadap kehendak para penguasa AS adalah
invasinya ke Iran pada tahun 1980, segera setelah kemenangan revolusi
Islam Iran. Revolusi Islam Iran telah menumbangkan raja boneka Amerika,
Shah Pahlevi. AS juga tidak bisa lagi mengeksploitasi kekayaan alam Iran
sebagaimana yang telah dilakukannya selama era pemerintahan Pahlevi. Itulah sebabnya AS mendalangi serangan Saddam
terhadap Iran.
Selain memberikan bantuan politik dan dana,
negara-negara Barat itu juga membantu Saddam dalam memproduksi senjata
pembunuh massal yang digunakan dalam menyerang Iran. Menurut data,
selama era perang itu, AS dan negara-negara Barat lain, serta
negara-negara Arab, telah memberikan bantuan sebesar 120 milyar dollar
kepada Saddam. Periode perang delapan tahun Irak-Iran adalah periode
keemasan hubungan antara Saddam dan AS. Donald Rumsfeld pada tahun 1983
datang ke Irak untuk berjumpa dengan Saddam dan menjanjikan bantuan
keuangan. Robert Fisk wartawan terkemuka dari AS menulis, “Pada zaman
ketika Irak membeli gas kimia dari AS, saya dengan mata kepala sendiri
melihat bahwa Rumsfeld bersalaman dengan Saddam.
Selama perang delapan tahun Iran-Irak itu, bangsa
Iran telah kehilangan nyawa puluhan ribu warganya, mengalami kerugian
materil ratusan milyar dollar, dan mengalami ketertinggalan pembangunan
selama bertahun-tahun. Selama perang, Saddam juga
menggunakan senjata dan bom kimia yang menyebabkan kematian puluhan ribu
orang. Hari ini, terdapat sekitar 45.000 orang Iran yang masih hidup
dengan menanggung berbagai penyakit akibat terkontaminasi senjata kimia.
Setiap tahunnya, pemerintah Iran mengeluarkan dana 37 juta dollar AS
untuk merawat para korban senjata kimia itu, namun tiap tahun pula
banyak di antara mereka yang akhirnya gugur syahid. Namun, berkat
perlindungan Tuhan dan kegigihan bangsa Iran dalam membela tanah air
mereka, usaha Saddam dan negara-negara Barat untuk menganeksasi Iran
akhirnya menemui kegagalan.
Setelah kalah dalam usahanya untuk
menguasai Iran, Saddam pun mulai dikhianati oleh sekutunya itu. Atas
lampu hijau dari AS, pada tahun 1991 Saddam menyerang Kuwait dengan
tujuan menguasai ladang-ladang minyak di negeri itu. Namun, segera
setelah serbuan Saddam ke Kuwait, AS malah menggalang pasukan
multinasional untuk membela Kuwait. Tentu saja, pasukan Saddam yang
memang sudah lemah karena delapan tahun bertempur dengan Iran, dengan
mudah bisa dipukul mundur oleh AS dan sekutu-sekutunya. Kelemahan
posisi Saddam dimanfaatkan oleh sebagian bangsa Irak untuk memberontak
dari diktator yang selama ini sudah menyengsarakan mereka itu. Namun,
lagi-lagi, Saddam berkonspirasi dengan AS. Tiba-tiba serangan pasukan AS
terhadap Saddam dihentikan sehingga Saddam bisa berkonsentrasi merepresi
warganya yang memberontak.
Namun tak lama kemudian, AS
memimpin gerakan internasional untuk mengembargo Irak. Tentu saja, yang
sengsara akibat embargo ini adalah rakyat kecil. Mereka kekurangan makan
dan obat-obatan sementara Saddam dan para penguasa tetap hidup
sejahtera. Setelah 12 tahun menderita akibat embargo itu, rakyat Irak
pada tahun 2003 menghadapi penderitaan baru lagi, yaitu agresi AS ke
wilayah mereka dengan alasan untuk menggulingkan Saddam. Setelah Saddam
terguling pun, hingga hari ini AS dan Inggris tetap bercokol di negeri
itu dan menimpakan penderitaan tak terkira bagi rakyat Irak.
Berbagai aksi AS ini, baik ketika
mendukung Saddam dalam Perang Iran-Irak, membela Kuwait dalam Perang
Teluk, lalu kembali mendukung Saddam dalam menghentikan pemberontakan
warga Irak, kemudian datang ke Irak untuk menggulingkan Saddam,
menunjukkan jatidiri para penguasa AS. Mereka sama sekali tidak
memikirkan apapun selain kepentingan mereka sendiri. Dalam Perang Teluk,
misalnya, AS berbalik memusuhi Saddam dengan tujuan menekan
negara-negara Teluk. Akibat perang Teluk, negara-negara Teluk banyak
yang membeli senjata dari AS karena takut diserang Saddam. Kuwait pun
dipaksa membiayai peralatan perang yang didatangkan AS. Semua itu
menunjukkan bahwa AS sengaja mendorong Saddam menyerang Kuwait demi
keuntungan pabrik-pabrik senjata milik AS.
Demi meraih keuntungan pribadi, para penguasa AS
menggunakan berbagai macam cara, dan salah satunya, mencari sekutu
seperti Saddam Husein. Saddam Husein yang dibutakan oleh hawa nafsu dan
ambisinya, tunduk patuh melayani keinginan AS. Kemudian, setelah Saddam
dianggap tidak berguna lagi, AS pun berusaha mencari simpati rakyat Irak
dengan menggulingkannya. Namun, ketika situasi di Irak menjadi semakin
tidak terkontrol oleh AS, AS pun melakukan langkah lain, dengan menuduh
Iran di balik segala kekacauan di Irak. Eksekusi Saddam pun dimanfaatkan
untuk menekan Iran. Saddam diposisikan sebagai pahlawan Arab dan dengan
cara itu, sentimen antar mazhab dan anti Iran dibesar-besarkan. Melalui
cara ini, AS berharap bisa terjadi perang saudara di Irak dan AS dengan
mudah bisa menguasai negara itu. Namun, tentu saja,
rakyat Irak dan opini dunia yang sadar dan waspada, tidak akan termakan
propaganda AS ini.
|